Khutbah
Pertama:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَتُوْبُ
إِلَيْهِ ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
، مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ لَهُ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
وَصَفِيُّهُ
وَخَلِيْلُهُ
وَأَمِيْنُهُ
عَلَى
وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ
النَّاسِ
شَرْعِهِ؛
فَصَلَوَاتُ
اللهُ
وَسَلَامُهُ
عَلَيْهِ
وَعَلى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى
اللهَ
تَعَالَى ؛
فَإِنَّ
تَقْوَى اللهَ
جَلَّ
وَعَلَا هِيَ أَسَاسُ
السَّعَادَةِ
وَسَبِيْلُ
الفَوْزِ
وَالفَلَاحِ
فِي
الدُنْيَا
وَالآخِرَةِ .
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah dan waspadailah tipu daya setan, berlindunglah kepada Allah dari
bisikan dan hembusannya. Ketauhilah wahai hamba Allah, sesungguhnya setan
adalah musuh bagi kita, maka jadikanlah ia dia musuh. Setan dan bala tentaranya
mengajak kita agar kita bersama-sama mereka menjadi penghuni neraka
sa’ir. Allah Jalla wa
‘Ala memerintahkan kita untuk berlindung dari gangguan musuh
ini dengan kembali kepada Allah ‘Azza
wa Jalla dan berpegang teguh kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِمَّا
يَنْزَغَنَّكَ
مِنَ
الشَّيْطَانِ
نَزْغٌ
فَاسْتَعِذْ
بِاللَّهِ
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka
mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36)
Firman-Nya
juga
قُلْ
أَعُوذُ
بِرَبِّ
النَّاسِ (1)
مَلِكِ النَّاسِ
(2) إِلَهِ
النَّاسِ (3)
مِنْ شَرِّ
الْوَسْوَاسِ
الْخَنَّاسِ
(4) الَّذِي
يُوَسْوِسُ فِي
صُدُورِ
النَّاسِ (5)
مِنَ الْجِنَّةِ
وَالنَّاسِ
Katakanlah:
“Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa
bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari
(golongan) jin dan manusia. (QS. An-Nas)
Dalam
ayat lainnya,
وَقُلْ
رَبِّ
أَعُوذُ بِكَ
مِنْ
هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ(97)
وَأَعُوذُ
بِكَ رَبِّ
أَنْ يَحْضُرُونِ
Dan
katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan
syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan
mereka kepadaku”. (QS. Al-Mukminun: 97-98)
Dan
dalam ayat,
وَقُلْ
لِعِبَادِي
يَقُولُوا
الَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ
إِنَّ
الشَّيْطَانَ
يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
Dan
katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan
yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di
antara mereka…” (QS. Al-Isra: 53)
Dan
masih banyak ayat semakna dengan ayat-ayat di atas.
Ibadallah,
Setan
memiliki jalan-jalan yang ia tempuh untuk mempengaruhi seorang muslim lalu
menghalangi mereka dari agama Allah, melalaikan dari ketaatan, dan
memalingkannya dari jalan yang benar dan diridhai. Jalan masuk setan tersebut
adalah jalan syubhat dan jalan syahwat.
Pertama, jalan masuk syahwat yaitu apabila
setan melihat seorang muslim condong dan mencintai kemaksiatan, lalu setan
menghiasi maksiat tersebut dihadapan sang hamba agar ia memperturutkan syahwat
hawa nafsunya dan memalingkan dari ketaatan kepada Rabbnya.
Kedua, jalan masuk syubhat yaitu apabila
setan melihat seseorang yang berpegang teguh terhadap agama, semangat
menjalankan ketaatan kepada Rabbnya, jauh dari perkara syahwat dan maksiat,
maka setan akan masuk melalui jalan syubhat. Ia jadikan orang tersebut
berlebih-lebih dalam agama, keras dan kaku. Lalu ia pun keluar dari jalan yang
lurus, dari ketaatan kepada Allah Tabaraka
wa Ta’ala. Syubhat menjadikan seseorang berlebih-lebihan dan
kaku dalam beragama, akan tetapi pelakunya menyangka menjaga ketaatan di jalan
Allah Tabaraka wa
Ta’ala.
Dan
setan senantiasa memalingkan seseorang dari jalan Allah yang lurus, dan musuh
kita ini tidak peduli kita terjerembab dalam jalan syubhat atau syahwat. Kedua
cara ini akan mereka tempuh, yang penting manusia bisa dipalingkan dari
ketaatan menuju kemaksiatan dan dari jalan yang benar menuju penyimpangan.
Oleh
karena itu, banyak dalil dari Alquran dan sunnah yang memperingatkan manusia
agar jangan berlebihan dalam beragama dan juga melalaikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ
“Janganlah
kalian berbuat ghuluw (berlebih-lebihan dalam agama), karena yang membinasakan
orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam masalah agama.”
Dalam
sabdanya yang lain,
هَلَكَ
الْمُتَنَطِّعُونَ
“Binasalah al-mutanaththi’un.”
Al-mutanaththi’un
adalah orang-orang yang keras dalam permasalahan yang semestinya dia tidak
bersikap keras.
Sikap
ghuluw, keras, dan kaku dalam agama Allah merupakan jalan setan untuk
menyesatkan hamba-hamba Allah yang beriman dan taat kepada-Nya. Musuh-musuh
Allah senantiasa akan memancangkan tali-tali mereka, menggalang
penghalang-penghalang, dan menguatkan barisan tentara mereka untuk menghadapi
orang-orang yang beriman.
Ibdallah,
Renungkanlah
sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban
dalam Sahihnya dengan sanad yang kuat, dari Abu Musa al-Asy’ari
radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَصْبَحَ إِبْلِيسُ بَثَّ جُنُودَهُ ، فَيَقُولُ: مَنْ أَضَلَّ الْيَوْمَ مُسْلِمًا أَلْبَسْتُهُ التَّاجَ، قَالَ: فَيَخْرُجُ هَذَا، فَيَقُولُ: لَمْ أَزَلْ بِهِ حَتَّى طَلَّقَ امْرَأَتَهُ، فَيَقُولُ: أَوْشَكَ أَنْ يَتَزَوَّجَ، وَيَجِيءُ هَذَا فَيَقُولُ: لَمْ أَزَلْ بِهِ حَتَّى عَقَّ وَالِدَيْهِ، فَيَقُولُ: أَوْشَكَ أَنْ يَبَرَّ، وَيَجِيءُ هَذَا، فَيَقُولُ: لَمْ أَزَلْ بِهِ حَتَّى أَشْرَكَفَيَقُولُ: أَنْتَ أَنْتَ، وَيَجِيءُ، فَيَقُولُ: لَمْ أَزَلْ بِهِ حَتَّى زَنَى فَيَقُولُ: أَنْتَ أَنْتَ، وَيَجِيءُ هَذَا، فَيَقُولُ: لَمْ أَزَلْ بِهِ حَتَّى قَتَلَ فَيَقُولُ: أَنْتَ أَنْتَ، وَيُلْبِسُهُ التَّاجَ
“Apabila
tiba pagi hari, Iblis menyeru para serdadunya dengan mengatakan,
‘Barangsiapa yang berhasil menyesatkan seorang muslim pada hari ini, maka
akan aku berikan mahkota’. Salah seorang pengikut Iblis mengatakan,
‘Aku senantiasa bersama seorang muslim, hingga ia menceraikannya’.
Iblis menjawab, ‘Dia bisa menikah lagi’. Pasukannya yang lain
mengatakan, ‘Aku bersama seorang muslim hingga dia durhaka kepada kedua orang
tuanya’. Iblis menjawab, ‘Dia bisa kembali berbakti’. Yang
lain mengatakan, ‘Aku senantiasa bersama seorang muslim hingga ia berbuat
syirik’. Iblis berkata, ‘Kamu kamu’. Pasukannya yang lain
mengatakan, ‘Saya bersamanya hingga dia berzina’. Iblis menanggapi,
‘Kamu, kamu’. Pasukan lainnya lagi mengatakan, ‘Aku
senantiasa bersamanya hingga ia membunuh’. Iblis menjawab, ‘Kamu,
kamu’. Ia pun menyematkan mahkota tersebut.”
Lihatlah
wahai hamba Allah, bagaimana pasukan-pasukan Iblis itu berlomba-lomba mewujudkan
ambisi mereka, menghalangi manusia dari agama Allah dan memalingkan mereka dari
ketaatan, baik dengan bentuk durhaka kepada orang tua, memutus silaturahim,
membuat kerusakan dan kesesatan, membunuh dan melakukan kekacauan, atau
perbuatan-perbuatan rusak lainnya yang mereka hiasi di mata manusia.
Ibadallah,
Memang
ketika eksekusi menghilangkan nyawa orang bisa jadi sarana mendekatkan diri
kepada Allah dengan cara berjihad, namun akal dan agama mana yang menyatakan
bahwa membunuh seseorang yang terlindungi darahnya lalu dikatakan ini adalah
wujud mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya atas nama jihad?
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ
“Barangsiapa
yang keluar, lalu membunuh umatku yang baik-baik atau yang fajirnya serta tidak
hati-hati terhadap orang yang berimannya dan tidak menepati perjanjian kepada
yang membuat perjanjian dengan mereka, maka dia bukanlah dari golonganku dan
aku bukan dari golongannya.”
Jalan-jalan
demikian dihiasi oleh setan dan termasuk berlebih-lebihan dalam agama Allah dan
penyimpangan dari jalan yang lurus.
Ibadallah,
Orang-orang
yang melakukan perbuatan demikian merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan
yang baik. Mereka sangka mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan,
padahal mereka adalah para pengrusak. Ini bukanlah jihad di jalan Allah, yang
demikian adalah perbuatan dosa yang dihias-hiasi oleh setan. Mereka telah
memberikan kesan buruk terhadap agama Allah, merusak dakwah, dan merugikan
orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, hendaknya orang-orang yang cerdas
bersabar dan orang-orang beriman mengambil pelajaran bahwa yang demikian adalah
perbuatan ghuluw.
Di
antara ciri orang-orang yang menyerukan demikian adalah mereka biasanya
merupakan gerakan yang tersembunyi tidak tampil terang-terangan, padahal Islam
adalah agama yang tampak tidak sembunyi-sembunyi. Mereka melakukan dakwah
secara rahasia, tidak menjalin hubungan dengan para ulama dan tidak mengambil
manfaat dari ilmu mereka. Padahal Allah memerintahkan untuk bertanya kepada
orang yang berilmu.
Seandainya
mereka menanyakan perihal-perihal yang mereka gelisahkan tersebut kepada para
ulama, niscaya mereka akan mendapati langkah dan sikap yang tepat untuk
dilakukan. Ketika Ibnu Abbas radhiallahu
‘anhuma berdiskusi dengan para Khawarij, beliau menjelaskan
kepada mereka tentang agama Allah, menghilangkan syubhat yang ada pada mereka,
hingga hanya dalam beberapa saat saja ribuan dari mereka bertaubat dari jalan
yang menyimpang.
Inilah
dampaknya seandainya mereka mau berkonsultasi dengan para ulama, akan tampak
kebenaran dan hidayah, akan tetapi mereka lebih memperturutkan keinginan
mereka, menempuh jalan-jalan yang dibuat setan sebagai perangkap, mereka pun
tergelincir dari jalan yang benar.
Kita
memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar member petunjuk kepada umat Islam yang
menyimpang dari jalan-Nya.
اَللَّهُمَّ
اهْدِ ضَالَّ
المُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
اهْدِ ضَالَّ
المُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
رَدَّهُمْ
إِلَى الْحَقِّ
رَدّاً
جَمِيْلَا ،
اَللَّهُمَّ رَدَّهُمْ
إِلَى
الْحَقِّ
رَدّاً
جَمِيْلَا ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِاتِّبَاعِ سَبِيْلِكَ
وَلُزُوْمِ
سُنَّةِ
نَبِيِّكَ
محمد صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ،
وَأَعَذَّنَا
مِنَ الْفِتَنِ
كُلِّهَا مَا
ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ ،
اَللَّهُمَّ
وَاحْفَظْ
عَلَيْنَا
أَمْنَنَا
وَإِيْمَانَنَا
، اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَنَا
فِي رِضَاكَ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ يَا
ذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّىاللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
Ketahuilah
bahwasanya manusia itu terbagi dua: (1) kelompok yang menjadi pembuka kebaikan
dan menutup kejelekan dan (2) kelompok yang menjadi pembuka kejelekan dan
menutup kebaikan. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, mohon
pertolongan kepada-Nya agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang membuka
pintu kebaikan dan menutup pintu kejelekan. Bertakwalah kepada Allah dalam
keadaan sepi maupun di tengah keramaian, dalam keadaan menyendiri maupun diawasi.
Ibadallah,
Bershalawat
dan ucapkanlah salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana Allah telah memerintahkan yang demikian dalam firman-Nya
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman ucapkanlah shalawat dan salam
kepadanya.”
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ
صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka
Allah akan membalas shalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.”
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ .
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
، اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعَفَةَ
وَالغِنَى ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى وَالسَّدَادَ
،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ لَنَا
دِيْنَنَا
اَلَّذِي
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَاشُنَا ،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا ،
وَاجْعَلْ
الحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ الخَيْرِ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ
مَا عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
الشَرِّ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ، اَللهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الجَنَّةَ وَمَا
يُقَرِّبُ
إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ
أَوْ عَمَلٍ ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
النَّارِ وَمَا
قَرَّبَ
إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ
أَوْ عَمَلٍ .
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ،
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
، اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا
وَمَا أَخَّرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا ،
أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ
. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ
، اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ
، وَاغْفِرْ
لَنَا
أَجْمَعِيْنَ
، وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari khutbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com