Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَ يَرَاهُ .
ثُمَّ أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Apa
rahasia kehebatan tauhid, sehingga mampu menghapus segala dosa, sebesar apapun?
Seorang Umar bin Khathab radhiyallahu
anhu misalnya, tokoh yang sebelum masuk Islam terkenal paling
menentang ajaran Islam dan terkenal dengan kekafirannya serta pernah mengubur
putrinya hidup-hidup. Namun dengan masuk Islam, mentauhidkan peribadatan hanya
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala saja, maka terhapuslah segala dosa dan kesalahannya yang
menggunung. Bahkan menjadi tokoh paling mulia di sisi Allah sesudah Abu Bakar radhiyallahu anhu.
Apalagi
jika kesalahan seseorang lebih kecil, tentu akan lebih mudah terhapus dengan
tauhid. Bahkan jika kesalahan serta kekufurannya lebih besar dari Umar radhiyallahu anhu
sekalipun, tetap semua itu akan hapus dan sirna dengan tauhid.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, bahwa Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
“…وَمَنْ
لَقِيَنِي
بِقُرَابِ
الْأَرْضِ خَطِيْئَةً
لاَيُشْرِكُ
بِي شَيْئًا،
لَقِيْتُهُ
بِمِثْلِهَا
مَغْفِرَةً”
رواه مسلم
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan
sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka
Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula”. (HR.
Muslim).
Dalam
Sunan Tirmidzi, dari Anas radhiyallahu
anhu , beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, Allah Tabaraka wa
Ta’ala berfirman :
يَاابْنَ
آدَمَ!
إِنَّكَ لَوْ
أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ
الْأرْضِ
خَطَايَا،
ثُمَّ
لَقِيْتَنِي
لاَتُشْرِكُ
بِي شَيْئًا
لَأَتَيْتُكَ
بِقُرَابِهَا
مَغْفِرَةً
Wahai
anak Adam! Sesungguhnya jika engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa
kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku dalam
keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Ku, maka Aku akan datang
kepadanya dengan membawa ampunah sepenuh bumi pula.
Syaikh
Abdur Rahman bin Hasan Aal asy-Syaikh (wafat th. 1285 H) menyebutkan bahwa
al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah
mengatakan, “Barangsiapa yang datang dengan membawa tauhid (kepada
Allah), meskipun memiliki kesalahan sepenuh bumi, niscaya Allah akan menemuinya
dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula”.
Maksudnya,
hadits di atas menegaskan bahwa siapa yang bertauhid dengan sempurna, maka bisa
mendapat ampunan dari dosa-dosanya meskipun dosa-dosa itu memenuhi bumi. Bukan
hanya itu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa orang yang sempurna
tauhidnya, tidak akan diadzab oleh Allah di akhirat.
Dalam
hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
anhu tentang hak dan kewajiban hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
حَقُّ
اللهِ عَلَى
الْعِبَادِ
أَنْ يَعْبُدُوا
اللهَ
وَلاَيُشْرِكُوْا
بِهِ شَيْئاً،
وَحَقُّ
الْعِباَدِ
عَلَى اللهِ :
أَنْ لاَ
يُعَذِّبَ
مَنْ لاَ
يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئاً.
قُلْتُ:
ياَرَسُوْلَ
اللهِ، أَفَلاَ
أُبَشِّر
الناَّسَ؟
قَالَ :
لاَتُبَشِّرْهُمْ
فَيَتَّكِلُوْا.
أخرجاه
Hak
Allah yang menjadi kewajiban para hamba ialah agar mereka beribadah kepada
Allah saja dan tidak mempersekutukan sesuatupun (syirik) dengan Allah.
Sedangkan hak hamba yang akan diperoleh dari Allah ialah bahwa Allah tidak akan
mengadzab siapapun yang tidak mempersekutukan (syirik) sesuatu dengan
Allah.” Aku (mu’adz) berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah
kabar gembira ini aku sampaikan kepada orang banyak ?’ Beliau menjawab,
“Jangan engkau kabarkan kepada mereka, sebab mereka akan bergantung
(dengan mengatakan: yang penting tidak syirik-pen) (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits
ini menunjukkan, orang yang sama sekali tidak berbuat syirik dalam beribadah
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala , ia tidak akan di adzab.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda pula :
مَنْ
قَالَ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
وَحْدَهُ
لاَشَرِيْكَ
لَهُ، وَأَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
وَأَنَّ
عِيْسَى
عَبْدُ اللهِ
وَابْنُ
أَمَتِهِ،
وَكَلِمَتُهُ
أَلْقَاهَا
إِلَى
مَرْيَمَ
وَرُوْحٌ
مِنْهُ،
وَأَنَّ
الْجَنَّةَ
حَقٌّ وَأَنَّ
النَّارَ
حَقٌّ،
أَدْخَلَهُ
الله مِنْ أَيِّ
أَبْوَابِ
الْجَنَّةِ
الثَّمَانِيَةِ
شَاءَ(وفى
رواية:
أَدْخَلَهُ
الْجَنَّةَ
عَلَى مَا
كَانَ مِنَ
الْعَمَلِ).
أخرجاه
Siapa
yang berkata: Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali
Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya, juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan anak hamba
(perempuan) Allah, ia adalah manusia yang dicipta dengan kalimat-Nya, lalu
dimasukkan ke dalam diri Maryam, dan ia adalah ruh yang dicipta oleh Allah.
Juga bersaksi bahwa sorga adalah benar adanya, dan nerakapun benar adanya, maka
Allah pasti akan memasukannya ke dalam sorga, melalui pintu mana saja yang dia
kehendaki dari pintu-pintunya yang delapan. (Dalam riwayat lain: maka Allah
pasti akan memasukannya ke dalam sorga, sesuai dengan amal perbuatan yang
dilakukannya). (HR. Bukhari dan Muslim).
Masih
banyak nash lain yang menceritakan kehebatan tauhid. Apa Rahasianya?
Di
sini perlu dikaji beberapa hal di antaranya:
Pengertian
Tauhid
Tauhid
ialah meng-Esakan Allah ‘Azza
wa Jalla dengan hanya memberikan peribadatan kepada-Nya saja.[6]
Artinya, agar orang beribadah (menyembah) hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla saja
serta tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya (tidak syirik kepada-Nya).
Dia beribadah hanya kepada Allah ‘Azza
wa Jalla dengan mencurahkan kecintaan, pengagungan, harapan dan
rasa cemas.
Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah
menerangkan bahwa kata tauhid merupakan mashdar dari wahhada, yuwahhidu,
artinya menjadikan sesuatu menjadi satu-satunya. Dan ini tidak akan terjadi
kecuali dengan menggabungkan antara nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan).
Meniadakan (peribadatan) dari selain yang di Esakan, serta menetapkan
(peribadatan) hanya pada yang di Esakan.
Sementara
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
mengatakan, “Tauhid yang di bawa Rasul Allah sebagai ajarannya tidak lain
berisi penetapan bahwa sifat Uluhiyah (berhak disembah) hanyalah milik Allah ‘Azza wa Jalla saja.
Yaitu, ikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah ‘Azza wa Jalla ,
tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia, tidak diserahkan sikap tawakal
kecuali hanya kepada-Nya, tidak ada kecintaan kecuali karena-Nya, tidak
dilakukan permusuhan kecuali karena-Nya dan tidak dilakukan amal perbuatan
kecuali dalam rangka ridha-Nya. Dan itu semua mencakup penetapan nama-nama
serta sifat-sifat-Nya sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkannya sendiri bagi
diriNya”.
Selanjutnya
beliau rahimahullah
mengatakan, “Bukanlah tauhid yang dimaksud sekedar Tauhid Rububiyah.
Yaitu meyakini bahwa Allah adalah pencipta alam semesta satu-satunya”.
Itulah
hakikat tauhid yang menjadi intisari dakwah serta ajaran setiap Rasul Allah,
yaitu yang berisi dua hal pokok: Pertama, penolakan terhadap setiap sesembahan
selain Allah, dan kedua, penetapan bahwa sesembahan yang benar hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla saja.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Sesungguhnya
Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap umat untuk menyeru kepada umat
masing-masing, “Beribadahlah kalian kepada Allah saja, dan jauhilah
thaghut. [an-Nahl/16:36]
Dan
banyak firman Allah yang senada dengan ayat ini.
Tujuan
Diciptakan Manusia
Adalah
sangat naif dan dangkal jika orang berprasangka bahwa hidup di dunia ini
hanyalah untuk tujuan dunia, untuk membangun dunia dengan segala gebyar serta
teknologinya, dan untuk melakukan kebaikan-kebaikan duniawi hanya demi kebaikan
serta kesejahteraan dunia.
Orang
hidup pasti akan mati dan meninggalkan dunia fana ini menuju kehidupan lain.
Dan pasti akan ada pertanggung jawaban dalam kehidupan lain itu. Karenanya
Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjelaskan, bahwa hidup di dunia ini memiliki tujuan
agung yang bukan sekedar hidup, kemudian mati, lalu selesai. Tujuan agung itu
adalah peribadatan kepada Allah ‘Azza
wa Jalla . Firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Aku
tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu.
[adz-Dzariyat/51:56]
Ibadah
yang dimaksud adalah ibadah murni yang tidak terkotori dengan peribadatan
kepada selain Allah ‘Azza
wa Jalla . Jika seseorang dalam peribadatannya melakukan
perbuatan syirik, mempersekutukan makhluk dengan Allah, maka pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan murka dan tidak akan ridha.
Di
antara dalilnya ialah, firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala :
إِنَّ
اللَّهَ لَا
يَغْفِرُ
أَنْ
يُشْرَكَ بِهِ
وَيَغْفِرُ
مَا دُونَ ذَٰلِكَ
لِمَنْ
يَشَاءُ ۚ
وَمَنْ
يُشْرِكْ
بِاللَّهِ
فَقَدِ
افْتَرَىٰ
إِثْمًا
عَظِيمًا
Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia
mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki.
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa
yang sangat besar. [an-Nisa’/4:48]
Juga
firman-Nya :
إِنَّ
الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ
عَظِيمٌ
Sesungguhnya
(dosa) syirik (mempersekutukan Allah), benar-benar merupakan kezaliman yang
sangat besar. [Luqman/31:13]
Demikian
pula firman-Nya :
وَأَنَّ
الْمَسَاجِدَ
لِلَّهِ
فَلَا تَدْعُوا
مَعَ اللَّهِ
أَحَدًا
Dan
sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah, maka janganlah kamu memohon
di dalamnya kepada siapapun, di samping kepada Allah. [al-Jin/72:18]
Jadi,
bagaimana mungkin Allah ‘Azza
wa Jalla tidak murka jika Dia Yang Maha Perkasa dan Sempurna
disejajarkan dengan makhluk-Nya yang serba lemah dan kurang. Karena itulah,
larangan terbesar dalam Islam adalah syirik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ
وَلَا
تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا
Dan
beribadahlah kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun
[An-Nisa/4:36]
Demikian
juga maksud diturunkannya kitab-kitab Allah ‘Azza
wa Jalla serta diutusnya para rasul ialah agar para manusia
beribadah hanya kepada Allah ‘Azza
wa Jalla saja. Dalilnya sangat banyak, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَمَا
أَرْسَلْنَا
مِنْ
قَبْلِكَ
مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا
نُوحِي
إِلَيْهِ
أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ
إِلَّا أَنَا
فَاعْبُدُونِ
Dan
kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan
kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan aku”. [Al-Anbiya’/21:25]
Nah,
agar orang tidak kecewa kelak dalam kehidupan di alam lain, ia harus tunduk
pada aturan yang ditetapkan oleh Penciptanya. Dan Penciptanya ini telah
menunjuk utusan kepercayaan-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya. Ia adalah
Rasulullah, utusan-Nya.
Semoga
Allah menganugerahkan kita pemahaman tauhid yang benar dan memberi taufik
kepada kita untuk mengamalkannya.
بَارَكَ
اللهُ لِي وَ
لَكُمْ فِي
القُرْآنِ
الكَرِيْمِ
وَنَفَعْنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ .
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى ،
Kaumu
muslimin rahimani wa rahimakumllah,
Bagaimana
Cara Bertauhid?
Setelah
mengetahui pengertian tauhid dan bahwa ia adalah alasan mengapa Allah mengutus
para rasul-Nya. Timbul pertanyaan, bagaimanakah cara bertauhid kepada Allah.
Adalah jelas bahwa Islam dibangun berdasarkan pondasi tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
قُلْ
إِنَّمَا
يُوحَىٰ
إِلَيَّ
أَنَّمَا
إِلَٰهُكُمْ
إِلَٰهٌ
وَاحِدٌ ۖ
فَهَلْ
أَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
Katakanlah
(Muhammad), “Sesungguhnya apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwasanya
sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa, maka apakah kamu telah Islam
(berserah diri) kepada-Nya”? [al-Anbiya’/21:108]
Maka
agar keislaman seseorang itu benar dan diterima di sisi Allah ‘Azza wa Jalla , ia
harus bertauhid dengan benar, yaitu hanya memberikan peribadatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla
dengan ikhlas dan tidak memberikan sedikitpun dari macam-macam ibadah kepada
selain Allah Subhanahu wa
Ta’ala . Tidak berdoa dan tidak memohon kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
, hal-hal yang hanya menjadi kekuasaan Allah untuk memberinya; tidak kepada
malaikat, tidak kepada Nabi, tidak kepada wali, tidak kepada ‘orang
pintar’, tidak kepada pohon, batu, matahari, bulan, kuburan dan lain
sebagainya.
Jadi
dalam bertauhid, orang harus menolak dan menyingkiri segala yang disembah
selain Allah ‘Azza wa
Jalla , dan hanya mengakui, menetapkan serta menjalankan bahwa
peribadatan hanya merupakan hak Allah saja, Pencipta alam semesta.
Bertauhid
bukan sekedar mengikrarkan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi
rizki, Pengatur serta Pemilik alam semesta. Sebab tauhid semacam ini telah
diikrarkan pula oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tetapi bertauhid harus direalisasikan dengan memberikan peribadatan hanya
kepada Allah ‘Azza wa
Jalla , permohonan, doa dan kegiatan-kegiatan lain yang semakna,
hanya kepada Allah saja.
Dengan
demikian, agar tauhid berfungsi menghapus segala dosa dan menghalangi masuk
neraka, maka seseorang harus memurnikan tauhidnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta
berupaya menyempurnakannya. Ia harus memenuhi syarat-syarat tauhid, baik dengan
hati, lidah maupun anggauta badannya. Atau –minimal- dengan hati dan
lidahnya pada saat meninggal dunia.
Intinya,
menyerahkan peribadatan, kehidupan dan kematian hanya kepada Allah,
meninggalkan segala bentuk kemusyrikan serta segala pintu yang dapat
menjerumuskan ke dalam kemusyrikan, sebagaimana telah diterangkan dalam
ayat-ayat atau hadits-hadits di atas.
Demikian
secara sangat ringkas gambaran tentang kehebatan tauhid yang memiliki daya
hapus luar biasa terhadap dosa-dosa. Karena itu mengapa orang tidak tertarik
memanfaatkan kesempatan ini ? yaitu dengan bertaubat, kembali bertauhid serta
memurnikan tauhidnya kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala ? Dan mengapa tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ?
Perlu
disadari oleh setiap insan, bahwa kelak masing-masing akan datang sendiri dan
mempertanggung jawabkan dirinya sendiri dihadapan Allah yang Maha adil
keputusan hukumNya.
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
Dan
setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari
Kiamat. [Maryam/19:95]
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Mudah-mudahan
khutbah yang singkat ini dapat membuka sedikit wawasan kita tentang tauhid dan
mengenalkan kita kepada inti dari ajaran Islam ini. Kita memohon kepada-Nya
agar menjadikan kita ahlut tauhid.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا يُعْجِزُوْنَكَ
،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ اللَّهُمَّ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَّاصِحَةَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِكُلِّ قَوْلٍ
سَدِيْدٍ
وَعَمَلٍ
رَشِيْدٍ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَ بَارَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِ
اللهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Ustadz
Ahmas Faiz Asifuddin
Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV/1432H/2011.
www.KhotbahJumat.com