Artikel Buletin An-Nur : Senin, 10 Juli 06
Tahap-Tahap
Penyesatan Syetan
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ. أَمَّا
بَعْدُ؛
Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia …
Syaithan adalah musuh sejati Bani Adam, maka hendaklah
manusia berhati-hati serta waspada terhadap segala tipu daya yang mereka
lancarkan untuk menyesatkan manusia. Di antara jurus dan tipu daya yang mereka
lancarkan ialah melalui celah perbuatan dosa dan maksiat dengan berbagai
tingkatannya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya Madaarijus Saalikin
telah menjelaskan beberapa jurus dan tipu daya syaitan dalam menjerumuskan manusia.
Berikut ini langkah-langkah syaitan dalam menyesatkan manusia:
Pertama: Kekufuran dan Kesyirikan
Yaitu ajakan syaitan kepada manusia agar kufur kepada Allah subhanahu
wata’ala, keluar dari agama-Nya dan mengingkari sifat-sifat-Nya. Di antara
bentuk kekufuran yang terkadang masih samar bagi kebanyakan manusia adalah
ajakan berbuat kesyirikan.
Syirik merupakan ajakan dan tipu daya syaitan yang terbesar untuk menyesatkan
manusia, karena syaitan menyadari dosa syirik tidak akan di ampuni oleh Allah subhanahu
wata’ala.
Apabila syaitan itu menang dan mampu menggelincirkan manusia dalam langkah ini,
maka permusuhan antara dia dengan manusia akan berkurang. Dia akan menjadikan
bani Adam yang menyambut ajakan dan seruannya tersebut sebagai bala tentaranya
(agen-agen syaitan), akan tetapi di hari Kiamat nanti syaitan akan berlepas
diri dari tanggung jawabnya terhadap manusia.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَقَالَ
الشَّيْطَانُ
لَمَّا
قُضِيَ الْأَمْرُ
إِنَّ
اللَّهَ
وَعَدَكُمْ
وَعْدَ الْحَقِّ
وَوَعَدْتُكُمْ
فَأَخْلَفْتُكُمْ
وَمَا كَانَ
لِيَ
عَلَيْكُمْ
مِنْ
سُلْطَانٍ
إِلَّا أَنْ
دَعَوْتُكُمْ
فَاسْتَجَبْتُمْ
لِي فَلَا
تَلُومُونِي
وَلُومُوا
أَنْفُسَكُمْ
مَا أَنَا
بِمُصْرِخِكُمْ
وَمَا
أَنْتُمْ
بِمُصْرِخِيَّ
إِنِّي
كَفَرْتُ
بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ
مِنْ قَبْلُ
إِنَّ
الظَّالِمِينَ
لَهُمْ
عَذَابٌ
أَلِيمٌ
“Dan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan,
syaitan berkata, “Sesung-guhnya Allah telah menjanjikan kepada-mu janji yang
benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya.
Sekali-kali tiada kekuasaan bagiku terhadapmu, melain-kan (sekedar) aku menyeru
kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku,
akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan
kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan
perbuatanmu menjadikan aku sekutu (bagi Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya
hamba-hamba yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22)
Akan tetapi, jika manusia selamat dan tidak tertipu dengan tipu dayanya ini
karena mendapatkan ilmu dan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala, maka
syaitan akan berusaha menempuh langkah berikutnya:
Jama’ah
Jum’ah yang Berbahagia …
Ke Dua: Berbuat Bid’ah
Apabila syetan gagal menyesatkan manusia dengan cara yang pertama, yakni
kemusyrikan maka dia akan berusaha menyesatkan manusia dengan cara yang lain,
yaitu melalui celah kebid'ahan. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim
mengetahui perbedaan antara sunnah dengan bid'ah. Bujukan dan ajakan syaitan dalam
langkah yang ke dua ini, bisa dengan cara meyakini sesuatu yang berlawanan
dengan kebenaran yang dengan hal itu Allah subhanahu wata’ala telah
mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, yaitu dengan cara
membujuk manusia tersebut agar beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala
dengan cara-cara yang tidak diizinkan oleh-Nya.
Dalam hal ini Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,
الْبِدْعَةُ
أَحَبُّ
إِلَى
إِبْلِيْسَ
مِنَ
الْمَعْصِيَةِ،
اِلْمَعَصِيَةُ
يُتَابُ
مِنْهَا
وَالْبِدْعَةُ
لاَيُتَابُ
مِنْهَا.
“Bid'ah lebih disenangi oleh Iblis daripada perbuatan
maksiat, karena pelaku maksiat biasanya bertaubat, sedangkan pelaku bid'ah
tidak bertaubat.”
Apabila manusia itu selamat dari bujukan dan tipu daya yang ke dua ini dan dia
mampu melawannya dengan cahaya Sunnah, berpegang teguh dengannya, mengikuti dan
berjalan di atas manhaj salaf yaitu generasi terbaik dari ummat ini dari
kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka
syaitan akan menempuh langkah yang selanjutnya (ke tiga).
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia …
Ke Tiga: Dosa Besar
Apabila syaitan merasa gagal menjerumuskan manusia lewat jalan kebid'ahan dalam
agama, maka dia akan menempuh cara yang lain yaitu mengajak manusia untuk
berbuat dosa besar. Syaitan sangat bernafsu untuk menjatuhkan seorang insan ke
dalam dosa besar. Jika dia seorang alim yang menjadi panutan ummat, maka nantinya
dosa yang dia perbuat tersebar di kalangan ummat, sehingga ummat akan lari dan
tidak lagi mau mengambil ilmu darinya. (Tafsir Qayyim hal. 613)
Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Dosa besar
adalah setiap dosa yang Allah tutup akhirnya dengan ancaman neraka, murka,
laknat dan adzab-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari 5/41).
Maka sudah semestinya setiap muslim untuk menjauhi dosa-dosa besar, agar
selamat dari laknat Allah dan ancaman adzab-Nya. Perhatikanlah firman Allah subhanahu
wata’ala berikut ini,
إِنْ
تَجْتَنِبُوا
كَبَائِرَ
مَا تُنْهَوْنَ
عَنْهُ
نُكَفِّرْ
عَنْكُمْ
سَيِّئَاتِكُمْ
وَنُدْخِلْكُمْ
مُدْخَلًا
كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara
dosa-dosa yang dilarang untuk mengerjakannya, niscaya Kami hapus
kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat
yang mulia(surga).” (QS. An-Nisa`: 31)
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan, “Berdasarkan nash ini, Allah
menjamin akan memberikan jaminan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar
untuk memasukkannya ke dalam surga.” (Al-Kabaair tahqiq Sayyid Ibrahim, hal 13)
Orang mukmin yang melakukan dosa besar adalah orang mukmin yang keimanannya
sedang menurun. Apabila dia meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari
dosanya, maka perkaranya dikembalikan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Jika Allah berkehendak mengadzabnya, maka Dia akan mengadzabnya sesuai dengan
dosa yang dia perbuat, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Jika Allah subhanahu
wata’ala berkehendak mengampuni, maka Dia akan mengampuni dan tidak
menyiksanya.
Inilah langkah ke tiga yang ditempuh oleh syaitan, apabila dengan cara ini dia
tidak mampu menjerumuskan manusia, maka syaitan itu akan mengambil langkah yang
ke empat, yaitu melakukan dosa-dosa kecil.
Jama’ah
Jum’ah yang Berbahagia …
Ke Empat: Dosa Kecil
Apabila syaitan telah putus asa untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa
besar, maka dia akan membujuknya untuk melakukan dosa-dosa kecil yang apabila
terkumpul pada diri manusia, maka dapat membinasa-kannya. (Tafsir Qayyim hal.
613)
Banyak sekali hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang
memberikan peringatan akan bahaya dosa-dosa kecil. Diriwayatkan dari Ummul
Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam pernah berkata kepadaku,
“Wahai 'Aisyah, waspadalah dari meremehkan
amalan-amalan, karena ssungguhnya amalan itu akan dituntut
pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.” (HR. Abu Dawud, Darimi, Ibnu
Hibban, Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Dosa-dosa kecil apabila banyak
dan dilakukan terus menerus bisa menjadi besar.” (Fathul Bari 11/337)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Setan akan senantiasa membujuk
manusia untuk melakukan dosa kecil hingga dia menganggap enteng dosa tersebut,
maka orang berbuat dosa besar dengan rasa takut masih lebih baik ketimbang
orang yang meremehkan dosa walaupun kecil.” (Tafsir Qayyim hal. 613).
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang mukmin hendaklah
menyikapi dosanya bagaikan orang yang sedang duduk di bawah gunung besar yang
nyaris menimpanya, sedangkan orang yang fajir melihat dosanya bagaikan lalat
yang hinggap di hidungnya sekali kibas ia akan terbang.” (riwayat al-Bukhari)
Bilal Bin Sa'id rahimahullah berkata, “Janganlah engkau melihat kecilnya
dosa, tapi perhatikanlah kepada siapa engkau berbuat maksiat.” (At-Tahzir Minal
Muharramat)
Wallahu a’lam…
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا.
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبِ الْعَالَمِيْنَ.
(Isnen Azhar, Lc)