|
Buletin Al Hujjah, Risalah No: 54
/ Thn IV / Rabiul Awal |
Salah
seorang ulama salaf pernah berkata: “Seorang yang ujub akan tertimpa dua
kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di
mata manusia.”
Salah seorang ahli hikmah berkata: “Ada
seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan
karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat
kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan
dirinya, maka Imam Syafi’i pun membantahnya seraya berseru di hadapan khalayak
ramai: “Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan,
niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjatuhkan martabatnya.”
Defenisi
Ujub
Orang yang terkena penyakit ujub akan
memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin
lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam
sebuah hadits:
إِنَّ
الْمُؤْمِنَ
يَرَى
ذُنُوبَهُ
كَأَنَّهُ
قَاعِدٌ
تَحْتَ
جَبَلٍ
يَخَافُ أَنْ
يَقَعَ
عَلَيْهِ
وَإِنَّ
الْفَاجِرَ
يَرَى ذُنُوبَهُ
كَذُبَابٍ
مَرَّ عَلَى
أَنْفِهِ
“Orang
yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya,
dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang
mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap
menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)
Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai
berikut: “Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang
remeh amalan orang lain.”
Barangkali gejala paling dominan yang
tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak
dan menyepelekan orang lain.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas
defenisi ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri
hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal
boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi
saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang
dirinya!”
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
“Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara
ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa
terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua
perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam
karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub?
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan
أَنَّ
رَجُلًا
قَالَ
وَاللَّهِ
لَا يَغْفِرُ
اللَّهُ
لِفُلَانٍ
وَإِنَّ
اللَّهَ تَعَالَى
قَالَ مَنْ
ذَا الَّذِي
يَتَأَلَّى عَلَيَّ
أَنْ لَا
أَغْفِرَ
لِفُلَانٍ
فَإِنِّي
قَدْ
غَفَرْتُ
لِفُلَانٍ
وَأَحْبَطْتُ
عَمَلَكَ" أو
كما قال
bahwa seorang lelaki berkata: “Allah tidak
akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berfirman:“Siapakah
yang lancang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh
Aku telah mengampuninya dan menghapus amalanmu!” (HR. Muslim)
Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya
yang terkadang padam bila dihembus angin ujub!
Sebab-Sebab Ujub
1. Faktor Lingkungan dan
Keturunan
Yaitu keluarga dan lingkungan tempat
seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan
tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau
salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu
menganggap diri suci dll.
2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan
etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang
disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu
berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri.
Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.
3. Bergaul Dengan Orang yang
Terkena Penyakit Ujub.
Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan
melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri
bersabda:
مَثَلُ
الْجَلِيسِ
الصَّالِحِ
وَالسَّوْءِ
كَحَامِلِ
الْمِسْكِ
وَنَافِخِ
الْكِيرِ
“Perumpamaan
teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman
dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Teman akan membawa pengaruh yang besar
dalam kehidupan seseorang.
4. Kufur Nikmat dan Lupa
Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Begitu banyak nikmat yang diterima seorang
hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya
nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia
membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;
قَالَ
إِنَّمَا
أُوتِيتُهُ
عَلَى عِلْمٍ
عِنْدِي
“Qarun
berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada
padaku”. (Al-Qashash: 78)
5. Menangani Suatu Pekerjaan
Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan Belum Terbina Dengan Sempurna
Demi Allah, pada hari ini kita banyak
mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai
pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar
persis seperti kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’. Berapa banyak orang
yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang
lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia
tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak
permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya
terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya
kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya
seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala
mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang
lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil
segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak
seraya berkata: “Aku tidak tahu!”
Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan
sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya
beberapa orang yang bersepakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka
menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan
acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun.
Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrokannya. Mengapa!? Sebab
perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa
yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa
mereka telah tertipu!
6. Jahil dan Mengabaikan
Hakikat Diri (Lupa Daratan)
Sekiranya seorang insan benar-benar
merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh menjadi manusia
sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya.
Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang ditujukan kepada
orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:
“Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina. Sekiranya manusia
merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang
yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.Apakah ada
anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?Namun demikian, lima macam
kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur. Hai bani Adam yang
berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah, tahanlah dirimu (dari
kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.
Penyair ini mengingatkan kita pada asal
muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup
mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia
berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor
sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.
7. Berbangga-bangga Dengan
Nasab dan Keturunan
Seorang insan terkadang memandang mulia
diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya
lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun
berkepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi,
ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.
Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan
Umar radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk
Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf,
tanpa sengaja seorang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang
Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya
memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun
melapor kepada Umar radhiyallahu ‘anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar
radhiyallahu ‘anhu pun memanggil Jabalah lalu berkata kepadanya: “Engkau harus
diqishash wahai Jabalah!” Jabalah membalas: “Apakah engkau menjatuhkan hukum
qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan sedangkan ia (Arab badui) orang
pasaran!” Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Islam telah menyamaratakan antara
kalian berdua di hadapan hukum!”
Tidakkah engkau ketahui bahwa:
Islam telah meninggikan derajat Salman
seorang pemuda Parsi
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab karena syirik yang dilakukannya.
Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih
untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: “Berikan aku waktu untuk
berpikir!” Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa
Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya
itu. Wal ‘iyadzubillah
8. Berlebih-lebihan Dalam
Memuliakan dan Menghormati
Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri
menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda
“Barangsiapa
yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk
menempati tempatnya di Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, beliau
katakan: hadits ini hasan)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang
seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka.” (HR.
Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)
9. Lengah Terhadap Akibat
yang Timbul dari Penyakit Ujub
Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia
hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari
bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa
bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam:
”Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat
bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” Ada seseorang yang bertanya:
“Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya
bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya
Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak
kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu) awal hadits berbunyi: “Tidak akan masuk Surga orang
yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).
Dampak ujub
1. Jatuh dalam jerat-jerat
kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
2. Dijauhkan dari pertolongan
Allah. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:
وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا
فِينَا
لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا
“Orang-orang yang berjihad (untuk mencari
keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami.” (Al-Ankabut: 69)
3. Terpuruk dalam menghadapi
berbagai krisis dan cobaan kehidupan.
Bila cobaan dan musibah datang menerpa,
orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: ‘Oii teman-teman,
carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang-orang yang
teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tidak akan melanggar
rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Siapakah yang mampu lari dari hari
kematian?
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetapkan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
4. Dibenci dan dijauhi
orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia
memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik,
niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
وَإِذَا
حُيِّيتُمْ
بِتَحِيَّةٍ
فَحَيُّوا
بِأَحْسَنَ
مِنْهَا أَوْ
رُدُّوهَا
“Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau
balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)
Namun seseorang kerap kali meremehkan orang
lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu
saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah ‘Jika
engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu’
5. Azab dan pembalasan cepat
ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan
pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan
mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada
dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi
sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)
Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat
sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas
amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang
seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni,
ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya
sendiri.
Dengan begitu kita harus berhati-hati dari
sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang
terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka
dan menyepelekan amal orang lain.