Artikel Buletin An-Nur : Sabtu, 12 Februari 05
Sifat Jahiliyah
Masa jahiliyah seperti yang pernah terjadi di
jazirah Arab belasan abad yang silam memang telah berlalu, namun demikian pada
dasarnya pemikiran akan selalu ada dan setiap kaum itu ada pewarisnya. Maka
meskipun Abu Jahal dan Abu Lahab serta antek-anteknya telah tiada, akan tetapi
tidak menutup kemungkinan gaya dan karakter mereka masih melekat pada sebagian
ummat yang hidup di masa ini.
Syaikh Muhammad at-Tamimi, seorang imam dakwah tauhid di masanya, telah
menyebutkan lebih dari seratus karakteristik jahiliyah yang kita semua
diperintahkan untuk menyelisihinya. Karena keterbatasn tempat maka dalam
kesempatan ini hanya kami sebutkan sebagiannya saja. Di antara yang terpenting
untuk diketahui adalah sebagai berikut:
1.Syirik Dalam Beribadah
Orang-orang jahiliyah melakukan syirik atau penyekutuan di dalam beribadah dan
berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala. Di samping memohon kepada Allah subhanahu
wata’ala mereka juga memohon kepada orang orang shaleh yang telah mati,
mereka meminta syafaatnya di sisi Allah dengan persangkaan bahwa Allah dan
orang-orang shalih tersebut menyintai hal itu. Allah subhanahu wata’ala
telah berfirman,
وَيَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ
اللَّهِ مَا
لَا
يَضُرُّهُمْ
وَلَا
يَنْفَعُهُمْ
وَيَقُولُونَ
هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا
عِنْدَ
اللَّهِ
artinya, “Dan mereka menyembah selain daripada
Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak
pula kemanfa'atan, dan mereka berkata, "Mereka itu adalah pemberi syafa'at
kepada kami di sisi Allah". (QS.Yunus:18).
Di dalam ayat lain disebutkan,
وَالَّذِينَ
اتَّخَذُوا
مِنْ دُونِهِ
أَوْلِيَاءَ
مَا
نَعْبُدُهُمْ
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا
إِلَى
اللَّهِ
زُلْفَى
artinya, “Dan orang-orang yang mengambil
pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan
supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya".
(QS.az-Zumar:3)
Kemusyrikan semacam ini merupakan masalah paling besar yang diingkari oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau mengajarkan
keikhlasan (pemurnian/tauhid) dalam beribadah hanya kepada Allah subhanahu
wata’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
memberitahukan bahwa agama yang beliau bawa adalah agama seluruh rasul, dan
Allah subhanahu wata’ala tidak akan menerima kecuali orang yang ikhlas.
Juga menjelaskan bahwa siapa saja yang melakukan kesyirikan dengan dasar istihsan
(menganggap baik) maka Allah subhanahu wata’ala mengharamkan baginya
surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
Masalah inilah yang menjadi garis pemisah antara seorang muslim dengan seorang
kafir, dan dengan sebab itulah terjadi perseteruan antara tauhid dengan syirik.
Dan untuk inilah (memerangi kesyirikan) Allah subhanahu wata’ala
mensyari'atkan jihad, sebagaimana difirmankan,
وَقَاتِلُوهُمْ
حَتَّى لَا
تَكُونَ
فِتْنَةٌ
وَيَكُونَ الدِّينُ
كُلُّهُ
لِلَّهِ
artinya, “Dan perangilah mereka, supaya jangan
ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. al-Anfal:39)
2.Bercerai Berai Dalam Agama
Di antara sifat jahiliyah adalah bercerai berai (tafarruq) dalam agama,
sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala,
وَلَا
تَكُونُوا
مِنَ
الْمُشْرِكِينَ،
مِنَ الَّذِينَ
فَرَّقُوا
دِينَهُمْ
وَكَانُوا
شِيَعًا
كُلُّ حِزْبٍ
بِمَا
لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
artinya, “Dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah
agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa
bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum 30:31-32)
Demikian pula dalam urusan dunia, mereka juga berpecah belah, dan masing-masing
memandang diri mereka yang paling benar. Maka datanglah Islam menyeru untuk
bersatu dalam agama, sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wata’ala,
شَرَعَ
لَكُمْ مِنَ
الدِّينِ مَا
وَصَّى بِهِ
نُوحًا
وَالَّذِي
أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ
وَمَا وَصَّيْنَا
بِهِ
إِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَى وَعِيسَى
أَنْ
أَقِيمُوا
الدِّينَ
وَلَا تَتَفَرَّقُوا
فِيهِ
artinya, “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu
tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, “Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura:13)
Kita dilarang untuk meniru-niru mereka dan dilarang berpecah belah. Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
وَلَا
تَكُونُوا
كَالَّذِينَ
تَفَرَّقُوا
وَاخْتَلَفُوا
مِنْ بَعْدِ
مَا
جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
وَأُولَئِكَ
لَهُمْ عَذَابٌ
عَظِيمٌ
artinya, “Dan janganlah kamu menyerupai
orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang
jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”
(QS.Ali Imran:105)
Dalam ayat sebelumnya disebutkan,
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ
اللَّهِ
جَمِيعًا
وَلَا
تَفَرَّقُوا
artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada
tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran:103)
3.Tidak Menaati Ulil Amri
Menurut mereka, menyelisihi ulul amri (pemegang urusan ummat, red) dan tidak
menaati mereka merupakan keutamaan dan kemuliaan. Sedangkan mendengarkan dan
taat kepada waliyul amri adalah kerendahan dan kehinaan. Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mendengarkan dan taat kepada ulul
amri,bersabar atas kezhaliman penguasa dan memberikan nasehat kepada mereka.
Beliau sangat menekankan itu, menjelaskannya serta mengulang-ulanginya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
artinya, "Sesungguhnya Allah ridha pada
kalian dalam tiga hal; "Jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak
menyekutukan dengan sesuatu apapun; Jika kalian berpegang teguh dengan tali
Allah dan tidak berpecah belah; dan jika kalian saling memberi nasehat kepada
orang yang diserahi oleh Allah untuk memegang urusan kalian." (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
Berbagai problem yang dihadapi manusia baik dalam masalah agama ataupun
keduniaan tidak lain disebabkan karena adanya masalah dalam tiga hal ini, atau
salah satu dari ketiganya.
3.Membangun Agama di Atas Taqlid
Bahwa agama orang jahiliyah sebagian besarnya dibangun di atas landasan taqlid
(ikut-ikutan), dan ini merupakan kaidah terbesar seluruh orang kafir baik yang
dulu maupun di masa kini, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala,
وَكَذَلِكَ
مَا
أَرْسَلْنَا
مِنْ
قَبْلِكَ فِي
قَرْيَةٍ
مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا
قَالَ مُتْرَفُوهَا
إِنَّا
وَجَدْنَا
آبَاءَنَا
عَلَى
أُمَّةٍ
وَإِنَّا
عَلَى
آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
artinya, “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus
sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguh nya kami
mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh nya kami adalah
pengikut jejak-jejak mereka". (QS.az-Zukhruf:23)
Dalam ayat lainnya disebutkan,
وَإِذَا
قِيلَ لَهُمُ
اتَّبِعُوا
مَا أَنْزَلَ
اللَّهُ
قَالُوا بَلْ
نَتَّبِعُ
مَا وَجَدْنَا
عَلَيْهِ
آبَاءَنَا
أَوَلَوْ كَانَ
الشَّيْطَانُ
يَدْعُوهُمْ
إِلَى عَذَابِ
السَّعِيرِ
artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka,
"Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab, "(Tidak),
tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakan
nya".Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun
syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS.
Lukman 31:21)
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan
menyerukan firman Allah subhanahu wata’ala,
قُلْ
إِنَّمَا
أَعِظُكُمْ
بِوَاحِدَةٍ
أَنْ تَقُومُوا
لِلَّهِ
مَثْنَى
وَفُرَادَى
ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
مَا
بِصَاحِبِكُمْ
مِنْ جِنَّةٍ
artinya, “Katakanlah, "Sesungguhnya aku
hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap
Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan
(tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.” (QS.Saba':46)
Juga firman Allah subhanahu wata’ala,
اتَّبِعُوا
مَا أُنْزِلَ
إِلَيْكُمْ
مِنْ
رَبِّكُمْ وَلَا
تَتَّبِعُوا
مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ
قَلِيلًا مَا
تَذَكَّرُونَ
artinya, “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu
dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Nya. Amat sedikitlah
kamu mengambil pelajaran (dari padanya).” (QS. Al-A'raf:3)
5. Bangga dengan Banyaknya Pengikut
Di antara prinsip yang dipegang olah kaum jahiliyah adalah merasa bangga dan
terlena dengan banyaknya jumlah mereka, dan mereka menjadikanya sebagai hujjah
atas kebenaran sesuatu. Dan sebaliknya mereka berhujjah bahwa yang batil adalah
segala sesuatu yang asing bagi mereka dan sedikit pengikutnya.
6. Mengukur Kebatilan dengan Orang Lemah
Orang jahiliyah menganggap bahwa segala sesuatu yang pengikut nya orang-orang
lemah adalah kebatilan. Mereka mengatakan sebagaimana di dalam firman Allah subhanahu
wata’ala,
قَالُوا
أَنُؤْمِنُ
لَكَ
وَاتَّبَعَكَ
الْأَرْذَلُونَ
artinya, “Mereka berkata, "Apakah kami akan
beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang
hina?" (Asy Syu'araa', 111)
Mereka juga menggunakan qiyas yang keliru dan mengukur kebatilan dengan
kecerdasan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
فَقَالَ
الْمَلَأُ
الَّذِينَ
كَفَرُوا
مِنْ قَوْمِهِ
مَا نَرَاكَ
إِلَّا
بَشَرًا
مِثْلَنَا وَمَا
نَرَاكَ
اتَّبَعَكَ
إِلَّا
الَّذِينَ
هُمْ
أَرَاذِلُنَا
بَادِيَ
الرَّأْيِ
"Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang
kafir dari kaumnya, "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang
manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti
kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya
saja ." (QS.Hud:27)
Sumber: “Masailul Jahiliyyah Allati Khalafa fiha Rasulullah Ahlal
Jahiliyyah” Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. (KM)