Khutbah
Pertama:
إنَّ
الـحَمْدَ
لِلّهِ
نَـحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُورِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ،
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا
هَادِيَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَلاَّ
إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُـحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا
كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Segala
puji bagi Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dan mentakdirkannya, Dia
menutup malam atas siang dan menutup siang atas malam, menundukkan matahari dan
bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan, ingatlah Dialah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Kita
memuji Rob kita dan aku bersyukur kepada-Nya serta aku bertaubat kepada-Nya,
aku beristighfar kepada-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan
yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada syarikat bagi-Nya, Maha Esa lagi
Maha Perkasa, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba-Nya
dan utusan-Nya yang terpilih, semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat,
salam dan keberkahan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya yang baik
dan bertakwa.
Kaum
muslimin rahimani warahimakumullah,
Alhamdulillah
dipenghujung Ramadhan ini KPU telah memutuskan presiden periode kedepan.
Keputusan tersebut juga dikuatkan oleh putsan Mahkamah Konstitusi (MK)
baru-baru ini. Betapapun banyak polemik berbagai pihak kita berharap keadaan
tetap aman. Siapapun presidennya, orang Islam wajib taat.
Imam
Ahmad menyatakan satu kaidah terkait penyelenggaran negara,
وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ اَلْبِرُّ وَالْفَاجِرُ وَمَنْ وَلِيُّ الخِلَافَةِ وَاجْتَمِعُ النَّاسِ عَلَيْهِ وَرَضُوْا بِهِ وَمَنْ عَلَيْهِمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيْفَةً وَسُمِّيِ أَمِيْرُ المُؤْمِنِيْنَ
Wajib
mendengar dan taat kepada pemimim kaum mukminin, dia orang baik maupun orang
fasik, atau kepada orang yang memegang tampuk khilafah, disepakati masyarakat,
dan mereka ridha kepadanya, atau kepada orang yang menguasai mereka dengan
paksa, sehingga dia menjadi khalifah dan dinobatkan sebagai kaum muslimin
(Ushul Sunah, no. 15).
Dalam
nukilan yang lain dari Imam Ahmad, dinyatakan,
وَمَنْ
غَلَبَ
عَلَيْهِمْ،
يَعْنِي:
اَلْوَلَاةُ
بِالسَّيْفِ
حَتَّى صَارَ
خَلِيْفَةً
وَسُمِّي
أَمِيْرُ
المُؤْمِنِيْنَ،
فَلَا
يَحِلُّ
لِأَحَدٍ
يُؤْمِنُ
بِاللهِ وَاليَوْمِ
الآخِرِ أَنْ
يَبِيْتَ
وَلَا يَرَاهُ
إِمَاماً
برَّاً كَانَ
أَوْ فَاجِراً
(wajib taat kepada) orang yang menguasai mereka dengan pedang
sehingga menjadi khalifah dan disebut amirul mukminin. Tidak halal bagi
seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melewati waktu
malamnya, sementara dia tidak mengetahui keberadaan pemimpin, baik dia pemimpin
yang adil ataukah pemimpin yang zalim. (Thabaqat Hanabilah, Abu Ya’la,
1/241. Muamalah al-Hukkam, hlm. 25).
Pernyataan
Imam Ahmad di atas berdalil dengan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,
bahwa beliau mengatakan,
وَأُصَلِّيْ
وَرَاءَ مَنْ
غَلَبَ
“Saya shalat di belakang pemimpin yang menang.”
(Disebutkan dalam al-Ahkam as-Sulthoniyah, hlm. 23 dari riwayat Abul Harits
dari Ahmad)
Di
zaman Ibnu Umar, ada dua khalifah yang berkuasa. Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma
dan Abdul Malik bin Marwan. Hingga Abdul Malik mengirim pasukan untuk menyerang
wilayah Abdullah bin Zubair. Ketika itu, Ibnu Umar tidak mengambil sikap dalam
bentuk baiat kepada siapapun. Setelah Abdul Malik menang, beliau membaiat Abdul
Malik.
Diriwayatkan
oleh Bukhari dalam shahihnya dari Abdullah bin Dinar bahwa setelah Abdul Malik
menang, beliau menulis surat kepada Abdul Malik,
إِنِّي
أُقِرُّ
بِالسَمْعِ
وَالطَّاعَةِ
لِعَبْدِ
اللهِ؛
عَبْدِ
المَلِكِ
أَمِيْرُ
المُؤْمِنِيْنَ،
عَلَى
سُنَّةِ
اللهِ وَسُنَّةِ
رَسُوْلِهِ
مَا
اسْتَطَعْتُ،
وَإِنَّ
بُنَيَّ قَدْ
أُقِرُّوْا
بِمِثْلِ ذَلِكَ
Saya
siap untuk mendengar dan taat kepada hamba Allah, Abdul Malik, Amirul Mukminin,
sesuai sunah Allah dan sunah Rasul-Nya, semampuku. Dan keturunanku juga
mengakui hal ini. (HR. Bukhari 7203).
Memahami
keterangan di atas, siapapun yang terpilih sebagai pemimpin dari proses
penentuan presiden Indonesia wajib untuk kita akui bersama, dan kita harus
melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat, mendengar dan taat sebagaimana ajaran
Alquran dan sunnah, selagi tidak memerintahkan kepada maksiat. Jika
memerintahkan kemaksiatan maka tidak boleh untuk didengar dan ditaati namun
tetap kita tidak boleh memberontak kepemimpinannya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berpesan,
أُوْصِيْكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ وَ
اْلسَّمْعِ وَ
اْلطَّاعَةِ
وَ إِنْ كَانَ
عَبْدًا حَبَشِيًّا
“Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada
Allah dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah
budak Habsyi (orang hitam)” (HR. Ahmad 17144, Abu Dawud 4607,
Turmudzi 2676 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Beliau
juga mengingatkan,
عَلىَ
الْمَرْءِ
الْمُسْلِمِ
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ
فِيْمَا
أَحَبَّ
وَكَرِهَ إِلاَّ
أَنْ
يُؤْمَرَ
بِمَعْصِيَةٍ
فَإِنْ أَمَرَ
بِمَعْصِيَةٍ
فَلاَ سَمْعَ
وَلاَ طَاعَةَ
“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat
(kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila
diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu
mendengar dan taat.” (HR. Bukhari 7144 & Muslim 1839)
Siapapun
pilihan anda, sesungguhnya presiden Indonesia telah ditulis dalam catatan
taqdir, 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Karena itu,
apapun hasilnya, hendaknya kita mengambil sikap yang tepat, sesuai panduan yang
diberikan Allah dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Jangan
lupakan untuk mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan negeri ini. Semoga
Allah menjaga dan melindungi kita semua dari segala hal yang tidak diinginkan.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ , وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
.
Ibadallah,
Ada
sebuah prinsip yang mulia yang dijaikan sebagai acuan dalam syariat, yaitu:
الشَّارِعُ
لاَ يَأْمُرُ
إِلاَّ بِمَا
مَصْلَحَتُهُ
خَالِصَةٌ
أَوْ
رَاجِحَةٌ
وَلاَ
يَنْهَى
إِلاَّ
عَمَّا
مَفْسَدَتُهُ
خَالِصَةٌ
أَوْ
رَاجِحَةٌ
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
Dan Rasul-Nya, Tidaklah Memerintahkan Sesuatu Kecuali Yang Murni Mendatangkan
Maslahat Atau Maslahatnya Dominan. Dan Tidaklah Melarang Sesuatu Kecuali
Perkara Yang Benar-Benar Rusak Atau Kerusakannya Dominan.
Perhatikanlah
prinsip ini dengan seksama, seluruh perintah yang terdapat dalam syariat adalah
baik semuanya, baik secara mutlak atau keseluruhan atau dominan kebaikannya.
Sedangkan yang dilarang adalah hal yang berbahaya bagi para makhluk. Allah Ta’ala, Rabb yang
menciptakan alam semesta ini mengetahui mana yang baik untuk manusia dan mana
yang buruk. Walaupun terkadang manusia lebih mengedepankan hawa nafsunya dan
mempertanyakan perintah Allah yang bersebrangan dengan pendapat mereka, sulit
diterima oleh rasio dan pemikiran mereka, serta tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang telah mereka ketahui sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ ۚ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).
Karena
ini merupakan takdir Allah Ta’ala,
hendaknya kita selalu berprasangka baik kepada Allah.
وَعَسَىٰ
أَنْ
تَكْرَهُوا
شَيْئًا
وَهُوَ
خَيْرٌ لَكُمْ
ۖ وَعَسَىٰ
أَنْ
تُحِبُّوا
شَيْئًا
وَهُوَ شَرٌّ
لَكُمْ ۗ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ
وَأَنْتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:
216).
Dia
juga berfirman,
مَا
يُرِيدُ اللَّهُ
لِيَجْعَلَ
عَلَيْكُمْ
مِنْ حَرَجٍ
وَلَٰكِنْ
يُرِيدُ
لِيُطَهِّرَكُمْ
وَلِيُتِمَّ
نِعْمَتَهُ
عَلَيْكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak
membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu
bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6).
Sedangkan
di dalam hadit, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa hubungan
antara rakyat dan pemimpin bukanlah hubungan timbale balik. Tidak menjadi
syarat pemimpin harus baik terlebih dahulu, baru rakyat taat. Tidak demikian!
Rakyat tetap diwajibkan taat walaupun pemimpinnya adalah pemimpin yang zalim.
Kecuali ketika diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh
menaatinya. Sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam,
إِنَّهَا
سَتَكُونُ
بَعْدِى
أَثَرَةٌ
وَأُمُورٌ
تُنْكِرُونَهَا
قَالُوا يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
كَيْفَ تَأْمُرُ
مَنْ
أَدْرَكَ
مِنَّا
ذَلِكَ قَالَ
تُؤَدُّونَ
الْحَقَّ
الَّذِى
عَلَيْكُمْ
وَتَسْأَلُونَ
اللَّهَ
الَّذِى
لَكُمْ
“Sesungguhnya setelahku akan terjadi monopoli hak dan
perkara-perkara (pada penguasa-pen) yang kamu akan mengingkarinya. Para sahabat
bertanya, “Apakah yang anda perintahkan kepada orang di antara kami yang
mendapati hal itu?” Beliau menjawab, “Kamu tunaikan kewajibanmu dan
kamu meminta hakmu kepada Allah”. (Muttafaq ‘alaihi).
Demikian,
walaupun pilihan Anda kalah dalam pemilu kemarin kemudian Anda melihat
kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin terpilih, tetaplah bersabar, jangan
melakukan provokasi terlebih lagi pemberontakan. Karena yang demikian tidaklah
mendatangkan manfaat sama sekali.
Sudah
terlalu banyak pelajaran, negeri-negeri yang pemimpinnya zalim dan dictator
kemudian diberontak, yang ada hanyalah kehancuran. Lihatlah Irak, bagaiman
pasca Sadam Husein atau lihatlah Libiya bagaiman keadaan engeri tersebut pasca
digulingkannya Muamar Kadafi. Kalau dahulu ketidak-amanan hanya pada beberapa
titik, namun sekarang ketidak-amanan merata di seluruh negeri tersebut,
na’udzubillah min dzalik.
Doakanlah
pemimpin kita berikutnya, agar Allah selalu membimbing dan memberinya taufik
kepada kebaikan. Karena kebaikan yang mereka dapatkan juga akan dirasakan oleh
rakyat seluruh negeri termasuk kita sendiri.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ
بَيْنَنَا
وَبَيْنَ قَوْمِنَا
بِالحَقِّ
وَأَنْتَ
خَيْرُ
الفَاتِحِيْنَ
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و مَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com