Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ومُبلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اَتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى؛
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
وَتَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا
عَمَلٌ بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ رَجَاءَ
ثَوَابِ
اللهِ،
وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى نُوْرٍ
مِنَ اللهِ
خِيْفَةَ
عَذَابِ
اللهِ .
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Manusia
hidup di dunia ini telah ditentukan ajalnya, telah dijatah lama kehidupannya.
Dengan berjalannya hari-hari, berlalunya bulan demi bulan, dan bergantinya
tahun-tahun, maka sesungguhnya semua itu mendekatkan manusia kepada ajalnya.
Ironisnya, mayoritas manusia tidak memperhatikan itu, bahkan kebanyakan sibuk
dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan dunia yang fana dan melalaikan
akhirat yang kekal selamanya.
Allah
Azza wa Jalla
berfirman,
بَلْ
تُؤْثِرُونَ
الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا ﴿١٦﴾
وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ
وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan
duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. al-A’la: 16-17).
Jika
manusia mau mengamati orang-orang yang hidup di sekitarnya, banyak orang yang
dikenalnya telah mendahuluinya menuju alam baka. Di antara kita sudah ditinggal
mati oleh kakek atau neneknya, ayah atau ibunya, kakak atau adiknya, suami atau
istrinya, bahkan anak atau cucunya. Demikian juga tetangganya, kawan
sekolahnya, teman bermainnya, atau kawan kerjanya. Sebagian sudah mendahului
pergi.
Sahabat
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu telah memberikan nasihat sangat berharga, sebagaimana
disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya:
ارْتَحَلَتْ
الدُّنْيَا
مُدْبِرَةً
وَارْتَحَلَتْ
الْآخِرَةُ
مُقْبِلَةً
وَلِكُلِّ
وَاحِدَةٍ
مِنْهُمَا
بَنُونَ
فَكُونُوا
مِنْ
أَبْنَاءِ
الْآخِرَةِ
وَلَا تَكُونُوا
مِنْ
أَبْنَاءِ
الدُّنْيَا
فَإِنَّ الْيَوْمَ
عَمَلٌ وَلَا
حِسَابَ
وَغَدًا حِسَابٌ
وَلَا عَمَلٌ
“Dunia telah berjalan menjauhi, sedangkan akhirat telah
berjalan mendekati. Dunia dan akhirat memiliki orang-orang (yang memburunya),
maka hendaklah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) akhirat, janganlah kamu
menjadi orang-orang (yang memburu) dunia. Karena sesungguhnya hari ini (di
dunia) ada amal, dan belum ada hisab (perhitungan amal), sedangkan besok
(akhirat) ada hisah dan tidak ada amal.” (HR Bukhari).
Sahabat
yang mulia ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu , telah berkata benar, telah memberikan nasihat kepada
umat, maka siapakah orang beruntung yang mau mengambil nasihatnya ?
Ibadallah,
Banyak
faktor yang menjadi penyebab kematian menghadang manusia. Salah satu di
antaranya pasti menimpanya, tidak ada pilihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberitakan hakikat ini dalam banyak hadits, diantaranya:
عَنْ
مُطَرِّفِ
بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ
الشِّخِّيرِ
عَنْ أَبِيهِ
قَالَ قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مُثِّلَ
ابْنُ آدَمَ
وَإِلَى
جَنْبِهِ
تِسْعَةٌ
وَتِسْعُونَ
مَنِيَّةً
إِنْ
أَخْطَأَتْهُ
الْمَنَايَا
وَقَعَ فِي
الْهَرَمِ
Dari
Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir, dari bapaknya, ia berkata: Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Telah diciptakan di dekat anak Adam
sembilan puluh sembilan musibah (sebab kematian). Jika dia tidak terkena semua
musibah itu, dia pasti mengalami ketuaan. (HR Tirmidzi).
Kandungan
dari “sembilan puluh sembilan” dalam hadits ini memiliki maksud
yang sangat banyak, bukan membatasi dengan jumlah sembilan puluh sembilan saja.
Sedangkan “maniyyah”, artinya ialah musibah atau kematian, wallahu a’lam.
Ada
dua makna yang disebutkan Ulama tentang hadits ini.
Pertama:
Sangat banyak faktor-faktor yang menjadi penyebab kematian manusia. Seandainya
manusia itu berulang kali selamat dari sebab-sebab kematian yang berupa
penyakit, kelaparan, tenggelam, terbakar, dan lainnya, niscaya dia pasti
mengalami ketuaan sampai meninggal dunia.
Kedua:
Asal penciptaan manusia tidak terlepas dari musibah, bencana dan penyakit.
Sebagaimana dikatakan oleh sebuah ungkapan:
اَلْبَرَايَا أَهْدَافُ الْبَلَايَا
“Semua
makhluk adalah sasaran musibah.”
Atau
seperti dikatakan Ibnu Atha rahimahullah:
مَا
دُمْتَ فِيْ
هَذِهِ
الدَّارِ لَا
تَسْتَغْرِبْ
وُقُوْعَ
الْأَكْدَارِ
“Selama engkau berada di dunia ini, jangan heran
terjadinya kesusahan-kesusahan.”
Jika
seseorang tidak tertimpa semua muisbah itu, dan ini sangat jarang terjadi,
pasti akan ditimpa penyakit paling ganas yang tidak ada obatnya, yaitu ketuaan.
Intinya, dunia adalah penjara seorang mukmin dan surga orang kafir. Sehingga
sepantasnya seorang Mukmin bersabar menghadapi keputusan Allah, ridha terhadap
yang ditakdirkan dan diputuskan Allah.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam memberitakan, semua penyakit ada obatnya kecuali ketuaan
yang membawa kepada kematian.
عَنْ
أُسَامَةَ
بْنِ شَرِيكٍ
أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ
تَدَاوَوْا
عِبَادَ
اللَّهِ فَإِنَّ
اللَّهَ
عَزَّ
وَجَلَّ لَمْ
يُنَزِّلْ
دَاءً إِلَّا
أَنْزَلَ
مَعَهُ
شِفَاءً
إِلَّا
الْمَوْتَ
وَالْهَرَمَ
Dari
Usamah bin Syarik, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kamu berobat,
wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit
kecuali menurunkan obat bersamanya, kecuali kematian dan ketuaan”. (HR
Ahmad).
Di
dalam hadits lain disebutkan:
عَنْ أَبِيِ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً أَوْ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ أَوْ خَلَقَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلَّا السَّامَ قَالُوْا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَا السَّامُ؟ قَالَ : الْمَوْتُ
Dari
Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu
‘anhu , bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak
menurunkan penyakit atau tidak menciptakan penyakit kecuali menurunkan atau
menciptakan obat untuknya. Orang yang telah mengetahuinya dia mengetahui, orang
yang tidak mengetahuinya dia tidak mengetahuinya, kecuali as-saam”. Para
sahabat bertanya, “Apakah as-saam itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, “Kematian”. (HR al-Hakim).
Ibadallah,
Manusia
memiliki beraneka angan-angan sesuai dengan keyakinannya, atau orang-orang
sekitarnya yang mempengaruhinya, atau lainnya. Banyak orang yang memiliki
angan-angan tentang dunia dan kemewahannya; Pekerjaan mudah, rumah dan mobil
mewah, dan perkara wah lainnya. Namun kebanyakan tidak menyadari bahwa
sesungguhnya kematian lebih dekat dari angan-angan.
Oleh
karena itu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam banyak mengingatkan kepada umatnya tentang
masalah ini. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan masalah tersebut dengan
membuat gambar yang dituliskan, sehingga hal itu lebih menjadikan gamblang dan
menyentuh hati orang-orang yang memperhatikan. Hal ini sebagaimana disebutkan
di dalam hadits shahih di bawah ini:
عَنْ
عَبْدِ
اللَّهِ z
قَالَ خَطَّ
النَّبِيُّ
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
خَطًّا
مُرَبَّعًا
وَخَطَّ
خَطًّا فِي
الْوَسَطِ
خَارِجًا
مِنْهُ وَخَطَّ
خُطَطًا
صِغَارًا
إِلَى هَذَا
الَّذِي فِي
الْوَسَطِ
مِنْ
جَانِبِهِ
الَّذِي فِي الْوَسَطِ
وَقَالَ
هَذَا
الْإِنْسَانُ
وَهَذَا
أَجَلُهُ
مُحِيطٌ بِهِ
أَوْ قَدْ
أَحَاطَ بِهِ
وَهَذَا
الَّذِي هُوَ
خَارِجٌ أَمَلُهُ
وَهَذِهِ
الْخُطَطُ
الصِّغَارُ
الْأَعْرَاضُ
فَإِنْ
أَخْطَأَهُ
هَذَا
نَهَشَهُ
هَذَا وَإِنْ
أَخْطَأَهُ
هَذَا
نَهَشَهُ
هَذَا
Dari
Abdullah, ia berkata: “Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menggambar persegi empat dan membuat garis
yang keluar darinya di tengahnya. Beliau juga membuat garis-garis kecil ke arah
garis yang berada di tengah tersebut dari arah sampingnya. Beliau bersabda,
‘Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajalnya,
mengelilinginya atau telah mengelilinginya. Sedangkan (garis) yang keluar ini
adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika
ia tidak terkena ini (suatu jenis musibah, Pen), dia pasti terkena ini (suatu
jenis musibah, Pen). Jika dia tidak terkena ini, dia pasti terkena
ini’.” (HR. al- Bukhari).
Ya,
manusia tidak akan selamat dari kematian, dan kematiannya itu lebih dekat dari
angan-angannya.
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ
خَطَّ
النَّبِيُّ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
خُطُوطًا فَقَالَ
هَذَا
الْأَمَلُ
وَهَذَا
أَجَلُهُ فَبَيْنَمَا
هُوَ
كَذَلِكَ
إِذْ جَاءَهُ
الْخَطُّ
الْأَقْرَبُ
Dari
Anas, ia berkata: “Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menggaris beberapa garis, lalu bersabda,
‘Ini angan-angan (manusia), dan ini ajalnya. Ketika ia dalam keadaan
demikian (mengejar angan-angannya), tiba-tiba datang kepadanya garis yang
terdekat (ajalnya)’.” (HR. al-Bukhari).
Dalam
riwayat lain disebutkan:
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ
جَمَعَ
رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
أَنَامِلَهُ
فَنَكَتَهُنَّ
فِي
الْأَرْضِ
فَقَالَ
هَذَا ابْنُ
آدَمَ
وَقَالَ
بِيَدِهِ خَلْفَ
ذَلِكَ
وَقَالَ
هَذَا
أَجَلُهُ
قَالَ وَأَوْمَأَ
بَيْنَ
يَدَيْهِ
قَالَ
وَثَمَّ
أَمَلُهُ
ثَلَاثَ مِرَارٍ
Dari
Anas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengumpulkan jari-jarinya, lalu
menurunkannya ke tanah, lalu beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ini anak Adam,’ lalu
beliau menggerakkan tangannya di belakangnya itu sambil mengatakan, ‘Ini
ajalnya,’ kemudian beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam mengisyaratkan ke arah depan sambil
bersabda, ‘Dan di sana angan-angannya,’ tiga kali”. (HR
Ahmad).
Bahkan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam juga menerangkan kedekatan ajal pada
manusia itu dengan isyarat-isyarat dengan anggota badan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عن
أَنَسٍ بْنِ
مَالِكٍ
قَالَ قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
هَذَا ابْنُ
آدَمَ
وَهَذَا
أَجَلُهُ وَوَضَعَ
يَدَهُ
عِنْدَ
قَفَاهُ
ثُمَّ بَسَطَهَا
فَقَالَ
وَثَمَّ
أَمَلُهُ
وَثَمَّ أَمَلُهُ
وَثَمَّ
أَمَلُهُ
Dari
Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,’Ini adalah anak Adam, dan ini adalah ajalnya,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
meletakkan tangannya pada tengkuknya, lalu beliau menyebarkannya lalu bersabda,
“Dan disana adalah angan-angannya, dan disana adalah
angan-angannya’.” (HR Tirmidzi).
Demikianlah
antara kita dan kematina –kaum muslimin rahimakumullah-. Di antara kita
ada yang malas mengingatnya, walaupun dia tidak memungkiri itu akan menimpa
dirinya. Di antara kita ada yang tidak suka mendengarkannya, padahal bisa jadi
hal itu sudah sangat dekat dengannya.
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
هُدَاكَ وَأَصْلِحْ
لَنَا
شَأْنَنَا
كُلَّهُ،
وَوَفِّقْنَا
لِكُلِّ
خَيْرٍ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ.
أَقُوْلْ
هَذَا
الْقَوْلَ
وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
Ibadallah,
Semoga
sedikit keterangan ini mengingatkan kita tentang pentingnya persiapan
menghadapi kematian, masalah besar yang dihadapi setiap insan. Demikianlah yang
paling penting sebagaimana diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
عَنْ
الْبَرَاءِ
قَالَ كُنَّا
مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ n فِي
جِنَازَةٍ
فَجَلَسَ
عَلَى
شَفِيرِ الْقَبْرِ
فَبَكَى
حَتَّى بَلَّ
الثَّرَى ثُمَّ
قَالَ يَا
إِخْوَانِي
لِمِثْلِ
هَذَا فَأَعِدُّوا
Dari
al-Bara’, di berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pada suatu jenazah, lalu beliau duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis
sehingga tanah menjadi basah, lalu beliau bersabda,’Wahai
saudara-saudaraku! Untuk semisal ini, maka persiapkanlah!’.” (HR
Ibnu Majah).
Terakhir
kami katakan: “Wahai saudara-saudaraku! Persiapkanlah dirimu menghadapi
kematian!” Wallahu al-Musta’an.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
– رَحمَاكُمُ
اللهُ – عَلَى
مُحَمَّدِ
ابْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وقال صلى الله
عليه وسلم :
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
وَاحِدَةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَ الإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّق
جَمِيْعَ
وُلَاةِ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِكُلِّ
قَوْلٍ سَدِيْدٍ
وَعَمَلٍ
رَشِيْدٍ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّورِ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا.
اَللَّهُمَّ
وَأَصْلِحْ
لَنَا
شَأْنَنَا كُلَّهُ
وَلَا
تَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا
ذُنثوْبَنَا
وَاجْعَلْ
عَمَلَنَا فِي
رِضَاكَ،
وَوَفِّقْنَا
لِطَاعَتِكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
رَبَّنَا
إِنَّا ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وإنْ لَمْ
تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الخَاسِرِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتَ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
(Disalin dari tulisan Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari
al-Atsari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVI/1433H/2012M.
www.KhotbahJumat.com