إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْهُ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
Jama’ah
Jum’ah yang Berbahagia …
Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan
sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada
tubuh. Allah berfirman, artinya:
أَوَمَنْ
كَانَ
مَيْتًا
فَأَحْيَيْنَاهُ
وَجَعَلْنَا
لَهُ نُورًا
يَمْشِي بِهِ
فِي النَّاسِ
كَمَنْ
مَثَلُهُ فِي
الظُّلُمَاتِ
لَيْسَ
بِخَارِجٍ
مِنْهَا
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian
dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya
itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang
yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar
dari padanya." (Al-An'am : 122)
Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami
hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari
kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi'at dasarnya ia pasti menghindar,
membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak
dapat membedakan yang baik dan yang buruk.
Jama’ah
Jum’ah yang Berbahagia …
Dua Bentuk Penyakit Hati:
Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat
dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman:
فَلَا
تَخْضَعْنَ
بِالْقَوْلِ
فَيَطْمَعَ
الَّذِي فِي
قَلْبِهِ مَرَضٌ
"Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada
penyakit dalam hatinya. " (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.
Allah juga berfirman,
فِي
قُلُوبِهِمْ
مَرَضٌ
فَزَادَهُمُ
اللَّهُ
مَرَضًا
artinya:"Dalam
hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya..."
(Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman,:
وَأَمَّا
الَّذِينَ
فِي
قُلُوبِهِمْ
مَرَضٌ
فَزَادَتْهُمْ
رِجْسًا
إِلَى
رِجْسِهِمْ
"Dan adapun orang yang didalam hati mereka
ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping
kekafirannya (yang telah ada)." (At-Taubah : 125)
Penyakit di sini adalah penyakit syubhat.
Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat
masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan
penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya
dengan limpahan rahmat-Nya.
Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun
pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui
cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan
terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati.
Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari
berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak
mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. "Luka,
tak akan dapat membuat sakit orang mati." *). Terkadang ia
juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya
obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin
sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal
yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih
bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi
kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu,
keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan
angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia
bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan
kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau
kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu
menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الَّذِيْ
هَدَانَا لِهَذَا
وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ
لَوْ لاَ أَنْ
هَدَانَا اللهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ.
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَل
لَّهُ
مَخْرَجًا.
وَمَن
يَتَّقِ
اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ
وَيُعْظِمْ
لَهُ أَجْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia …
Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi
dan Obat:
Gejala penyakit hati adalah, ketika ia
menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya
dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang
berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling
berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah
Al-Qur'an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan
(penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang
paling bodoh dan sesat.
Sesungguhnya Allah berfirman:
قُلْ
هُوَ
لِلَّذِينَ
آمَنُوا
هُدًى وَشِفَاءٌ
وَالَّذِينَ
لَا
يُؤْمِنُونَ
فِي آذَانِهِمْ
وَقْرٌ
وَهُوَ
عَلَيْهِمْ
عَمًى
أُولَئِكَ
يُنَادَوْنَ
مِنْ مَكَانٍ
بَعِيدٍ
"Katakanlah: "Al-qur'an itu adalah
petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak
beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur'an itu suatu kegelapan
bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat
jauh." (Fushshilat : 44)
Al-qur'an adalah obat sempurna untuk segala
penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun
tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur'an sebagai obat. Kalau si sakit
mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan
penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat
dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin
penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di
atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan
terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur'an
cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya.
Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.
*) [Penggalan akhir bait sya'ir Al-Mutanabbi,
yang mana penggalan awalnya adalah: "Orang yang hina, akan mudah
mendapat kehinaan"]
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ
سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَارْحَمْهُمَا
كَمَا
رَبَّيَانَا
صِغَارًا. اَللَّهُمَّ
مُصَرِّفَ
الْقُلُوبِ
صَرِّفْ
قُلُوبَنَا
عَلَى
طَاعَتِكَ،
يَامُقَلِّبَ
الْقُلُوبِ
ثَـبِّتْ
قُلُوبَنَا
عَلَى
دِيْنِكَ. رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبِ
الْعَالَمِيْنَ.
Dikutip dari: Abdul Akhir Hammad Alghunaimi, "Tahdzib
Syarh Ath-Thahawiyah Dasar-dasar 'Aqidah Menurut Ulama Salaf",
penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani, Pustaka At-Tibyan, buku 2, Cetakan I,
2000, hal 264-266.
Pengantar:
Untuk sedikit menambah pengetahuan kita tentang penyakit hati, berikut ini
akan saya kutipkan risalah dari buku "Tahdzib Syarh
Ath-Thahawiyah..." karya Syeikh Abdul Akhir Hammad Alghunaimi. Akan
tetapi, barangkali risalah itu sendiri lebih tepat disebut karya Al-Imam Ibnu
Abil 'Izzi, karena beliaulah yang menulisnya sebagai syarh (penjelasan) dari
kitab Aqidah yang disusun oleh Imam Ath-Thahawi yang dikenal dengan kitab
"Aqidah Thahawiyah". Sedang Syeikh Abdul Akhir Hammad Alghunami
adalah yang melakukan tahdzib (penataan ulang). Semoga bermanfaat.