Artikel Buletin An-Nur : Kamis, 01 Juni 06
Sang Pengunjung Terakhir
Saudaraku, tahukah kamu siapa pengunjung
terakhirmu? Tahukah kamu apa tujuan ia berkunjung dan menemuimu? Apa saja yang
dimintanya darimu?
Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung
makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu
memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak
mampu ia lakukan sendiri.!!
Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah
terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu
menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!
Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di
benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan
penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk
untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!
Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian
terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi
bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat
ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi
melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!
Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak
bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan
perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk
mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu!
Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan
menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak
membuatnya mundur dari tujuannya!
Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu
seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan
mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat
maut!!!
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
قُلْ
يَتَوَفَّاكُمْ
مَلَكُ
الْمَوْتِ الَّذِي
وُكِّلَ
بِكُمْ ثُمَّ
إِلَى
رَبِّكُمْ
تُرْجَعُونَ
“Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk
(mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu
akan dikembalikan.” (QS. As-Sajadah: 11)
Dan firman-Nya,
حَتَّى
إِذَا جَاءَ
أَحَدَكُمُ
الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ
رُسُلُنَا
وَهُمْ لَا
يُفَرِّطُونَ
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah
seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan
malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An'am:
61)
Kereta Usia
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti?
Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir
hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti?
Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan 'kereta usia'
sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan
seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh,
kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah
sampai ke tempat tinggalnya?”
Berhati-hatilah!
Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan,
فَكَيْفَ
إِذَا
تَوَفَّتْهُمُ
الْمَلَائِكَةُ
يَضْرِبُونَ
وُجُوهَهُمْ
وَأَدْبَارَهُمْ
“Bagaimanakah
(keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul
muka mereka dan punggung mereka?” (QS. Muhammad: 27)
Atau firman-Nya,
الَّذِينَ
تَتَوَفَّاهُمُ
الْمَلَائِكَةُ
ظَالِمِي
أَنْفُسِهِمْ
فَأَلْقَوُا
السَّلَمَ
مَا كُنَّا
نَعْمَلُ
مِنْ سُوءٍ
بَلَى إِنَّ
اللَّهَ
عَلِيمٌ
بِمَا
كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ،
فَادْخُلُوا
أَبْوَابَ
جَهَنَّمَ خَالِدِينَ
فِيهَا
فَلَبِئْسَ
مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
“(Yaitu)
orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim
kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami
sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab),
“Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka
masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat
buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS. An-Nahl:
28-29)
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu?
Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?
Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan
satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka'at? Tidak dapat membaca
satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil,
bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari?
Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan
umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?
‘Kontrak' amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan
pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
حَتَّى
إِذَا جَاءَ
أَحَدَهُمُ
الْمَوْتُ قَالَ
رَبِّ
ارْجِعُونِ، لَعَلِّي
أَعْمَلُ
صَالِحًا
فِيمَا تَرَكْتُ
كَلَّا
إِنَّهَا
كَلِمَةٌ
هُوَ قَائِلُهَا
وَمِنْ
وَرَائِهِمْ
بَرْزَخٌ
إِلَى يَوْمِ
يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku
berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak.
Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka
ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Persiapkan Dirimu!
Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong
huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di
Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan
lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah
Al-Jabbar?
Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alihi wasallam bersabda,
مَا
مِنْكُمْ
أَحَدٌ
إِلَّا
سَيُكَلِّمُهُ
رَبُّهُ
لَيْسَ
بَيْنَهُ
وَبَيْنَهُ
تُرْجُمَانٌ
فَيَنْظُرُ
أَيْمَنَ
مِنْهُ فَلَا يَرَى
إِلَّا مَا
قَدَّمَ مِنْ
عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ
أَشْأَمَ
مِنْهُ فَلَا
يَرَى إِلَّا
مَا قَدَّمَ
وَيَنْظُرُ
بَيْنَ
يَدَيْهِ
فَلَا يَرَى
إِلَّا
النَّارَ
تِلْقَاءَ وَجْهِهِ
فَاتَّقُوا
النَّارَ
وَلَوْ
بِشِقِّ
تَمْرَةٍ، وَلَوْ
بِكَلِمَةٍ
طَيِّبَةٍ
“Tidak
seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat,
tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih
beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya
dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang
telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain
neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau
pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.”
(Muttafaqun 'alaih)
Berhitunglah Atas Dirimu!
Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa
cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa
luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu
pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.
Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu
dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk
orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang
tidak akan memberikan toleransi padamu! (Abu Shofiyyah)
Sumber: Az-Zâ'ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih