بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ.
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيباً
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً
أما
بعد
Jamaah Jumat rahimakumullah
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang
diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Kaum
muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Musibah
demi musibah datang silih berganti, terkadang berupa kemarau panjang, angin
ribut, banjir besar, gempa bumi, gunung meletus, kebakaran dan lain-lain.
Namun
sangat disayangkan, manusia memandang hal tersebut dengan sebelah mata, mereka
mengira musibah itu hanyalah bencana alam biasa, sehingga yang terlintas di benak
mereka hanyalah kata-kata “Cara menangatasi musibah ini adalah dengan
membuat ini atau itu” dsb.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ اْلأَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka terhadap
(kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)
Mereka
tidak melihat di balik semua itu dan tanpa menjadikannya sebagai pelajaran,
sehingga masih saja tetap berada di atas maksiat dan penyimpangan –wal ‘iyaadz billah-.
Padahal, musibah yang menimpa sebabnya adalah karena maksiat yang dikerjakan,
karena meninggalkan petunjuk Allah Rabbul
‘Alamin, beralih mengerjakan larangan-larangannya dan melanggar
batasan-batasannya. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَمَآأَصَابَكُم
مِّن
مُّصِيبَةٍ
فَبِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِيكُمْ
وَيَعْفُوا
عَن كَثِيرٍ
Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS. Asy Syuuraa: 30)
Sesungguhnya
dalam musibah itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah agar manusia kembali
kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
yang selama ini mereka kerjakan seperti syirik (peribadatan kepada selain
Allah) dan maksiat-maksiat besar lainnya, misalnya meninggalkan shalat, enggan
membayar zakat, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali silaturrahim,
merajalelanya zina, perjudian, riba, meminum minuman keras, mengurangi takaran
dan timbangan, mengumbar aurat bagi wanita, dsb. Ingat! jika sudah seperti ini
keadaannya, dan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk merubahnya enggan
merubahnya berarti negeri tersebut sudah siap menerima kehancuran baik dari
langit, dari bawah bumi, atau dengan dijadikan musuh menjajah negeri. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
قُلْ
هُوَ
الْقَادِرُ
عَلَى أَن
يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ
عَذَابًا
مِّن
فَوْقِكُمْ
أَوْ مِنْ
تَحْتِ
أَرْجُلِكُمْ
أَوْ
يَلْبِسَكُمْ
شِيَعًا وَيُذِيقَ
بَعْضَكُمْ
بَأْسَ
بَعْضٍ
Katakanlah:
“Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu
atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan
(yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan
sebahagian yang lain.” (QS.
Al An’aam: 65)
Mujahid
menjelaskan tentang tafsir ayat ini,
Katakanlah:
“Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu, yaitu (seperti) halilintar, hujan
batu, dan angin topan.
Sedangkan ayat “atau dari bawah
kakimu”,yaitu (seperti) gempa dan tanah longsor.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلىَ يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ
“Sesungguhnya jika masyarakat melihat
orang yang melakukan kezhaliman, namun tidak mereka cegah, Allah bisa segera
menimpakan siksa kepada mereka secara merata.” (HR. Tirmidzi,
dan tercantum dalam Ash Shahiihah)
Jamaah
Jumat rahimakumullah
Perlu
diketahui, bahwa Allah tidaklah membinasakan suatu negeri melainkan karena
penduduknya berlaku zhalim. Allah berfirman:
وَمَاكَانَ
رَبُّكَ
لِيُهْلِكَ
الْقُرَى بِظُلْمٍ
وَأَهْلُهَا
مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak
akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang
yang berbuat kebaikan.” (QS.
Huud: 117)
Oleh
karena itu, sebelum musibah datang Allah mengingatkan agar orang-orang yang
terpandang di masyarakat melakukan nahi mungkar:
فَلَوْلاَ
كَانَ مِنَ
الْقُرُونِ
مِن قَبْلِكُمْ
أُوْلُوا
بَقِيَّةٍ
يَنْهَوْنَ
عَنِ
الْفَسَادِ
فِي
اْلأَرْضِ إِلاَّ
قَلِيلاً
مِّمَّنْ
أَنجَيْنَا
مِنْهُمْ
وَاتَّبَعَ
الَّذِينَ
ظَلَمُوا
مَآأُتْرِفُوا
فِيهِ
وَكَانُوا
مُجْرِمِينَ
“Maka mengapa tidak ada dari
umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang
dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara
orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (QS. Huud: 116)
Ingatlah,
sebelumnya orang yang tertimpa musibah sebenarnya telah melihat
saudara-saudaranya yang lain terkena musibah, tetapi musibah yang menimpa
saudaranya itu tidak membekas apa-apa di hatinya, ia menganggap bahwa musibah
yang menimpa saudaranya itu tidak mungkin menimpanya, karena menyangka
tempatnya aman dan tidak rawan musibah. Namun ternyata anggapannya keliru, dan
musibah pun datang menimpa dirinya. Perhatikanlah ayat berikut:
أَفَأَمِنَ
أَهْلُ
الْقُرَى أَن
يَأْتِيَهُم
بَأْسُنَا
بَيَاتًا
وَهُمْ
نَآئِمُونَ {97}
أَوْأَمِنَ
أَهْلُ
الْقُرَى أَن
يَأْتِيَهُمْ
بَأْسُنَا
ضُحًى وَهُمْ
يَلْعَبُونَ
{98}
أَفَأَمِنُوا
مَكْرَ اللهِ
فَلاَيَأْمَنُ
مَكْرَ اللهِ
إِلاَّ
الْقَوْمُ
الْخَاسِرُونَ
{99}
“Maka apakah penduduk
negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di
malam hari di waktu mereka sedang tidur?—Atau apakah penduduk negeri-negeri
itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari
sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?—Maka apakah mereka
merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa
aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raaf: 97-99)
Oleh
karena itu, wahai orang yang bermaksiat kepada Allah, bertaubatlah kepada-Nya
sebelum maut datang menjemput, kalau pun Anda tidak tertimpa musibah di dunia,
namun di depan Anda ada kubur yang bisa menjadi nikmat atau azab bagi Anda, dan
setelahnya lebih dahsyat lagi –nas’alullahas
salaamah wal ‘aafiyah-. Kalaupun Anda terhindar dari bencana,
namun tidak ada yang dapat menghindarkan diri Anda dari malapetaka hari kiamat
yang ketika itu manusia bagai anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung
seperti bulu yang dihambur-hamburkan,
يَآأَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمْ
إِنَّ
زَلْزَلَةَ
السَّاعَةِ
شَىْءٌ عَظِيمٌ
{1}يَوْمَ
تَرَوْنَهَا
تَذْهَلُ
كُلُّ مُرْضِعَةٍ
عَمَّآ
أَرْضَعَتْ
وَتَضَعُ كُلُّ
ذَاتِ حَمْلٍ
حَمْلَهَا
وَتَرَى
النَّاسَ
سُكَارَى
وَمَاهُم
بِسُكَارَى
وَلَكِنَّ
عَذَابَ اللهِ
شَدِيدٌ {2}
Wahai
manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan (gempa) hari kiamat
itu adalah suatu kejadian yang sangat besar–pada hari kamu melihat goncangan
itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan
gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam
keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah
itu sangat keras. (QS.
Al Hajj: 1-2)
Ketahuilah
bahwa tidak ada tempat melarikan diri dari azab-Nya kecuali dengan kembali
kepada-Nya,
فَفِرُّوا
إِلَى اللهِ
إِنِّي لَكُم
مِّنْهُ
نَذِيرٌ
مُّبِينٌ {50}
وَلاَتَجْعَلُوا
مَعَ اللهِ
إِلَهًا
ءَاخَرَ
إِنِّي لَكُم
مِّنْهُ
نَذِيرٌ
مُّبِينٌ {51}
“Maka larilah kamu kepada
Allah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepadamu”- Janganlah
kamu adakan sesembahan lain selainNya, sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan kepadamu” (QS.
Adz Dzaariyaat 50-51)
Jamaah
Jumat yang dirahmati Allah
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
menurunkan musibah dan Dia-lah pula yang Maha Bijaksana, al-Hakiim, yang
memberikan jalan keluar dari musibah tersebut.
Dalam
Alquran Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al
A’raaf: 96)
Jelas
sekali, bahwa jika suatu negeri ingin diberikan keberkahan, hujannya
menumbuhkan tanaman dan menyuburkan tanah, kampungnya menjadi tempat tinggal
yang nyaman, aman dan tentram, jalan keluarnya adalah TAQWA; mengerjakan
perintah Allah yang selama ini ditinggalkan dan menjauhi larangan Allah yang
selama ini dikerjakan.
Maka
kewajiban kita ketika musibah datang adalah dengan meminta ampun kepada Allah
dan bertaubat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dan meminta keselamatan kepada-Nya,
serta memperbanyak dzikr dan istighfar, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَاكَانَ
اللهُ
لِيُعَذِّبَهُمْ
وَأَنتَ
فِيهِمْ
وَمَاكَانَ
اللهُ مُعَذِّبَهُمْ
وَهُمْ
يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan tidaklah Allah akan
mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun (QS. Al Anfal: 33)
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ
العَظِيْمَ
الجَلِيْلَ
لِيْ
وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
اَلحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ، الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى
فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا
إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا
تُعَاقِبُ
اللَيْلَ
وَالنَّهَار
Pentingnya
Amr ma’ruf – Nahy munkar
Kaum
muslimin jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman
فَلَمَّا
نَسُوا
مَاذُكِّرُوا
بِهِ أَنجَيْنَا
الَّذِينَ
يَنْهَوْنَ
عَنِ السُّوءِ
وَأَخَذْنَا
الَّذِينَ
ظَلَمُوا بِعَذَابٍ
بِئْسٍ بِمَا
كَانُوا
يَفْسُقُونَ
{165} فَلَمَّا
عَتَوْا عَن
مَّانُهُوا
عَنْهُ
قُلْنَا
لَهُمْ
كُونُوا
قِرَدَةً
خَاسِئِينَ {166}
“Dan (ingatlah) ketika suatu
umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah
akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat
keras?” Mereka menjawab, “Agar Kami mempunyai alasan (pelepas
tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa—Maka ketika
mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan
orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada
orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat
fasik. (QS. Al
A’raaf: 164-165)
Jika
Anda ingin diselamatkan Allah ketika adzab datang, lakukanlah Amr Ma’ruf
– Nahy Mungkar, perhatikanlah ayat tersebut: “Kami selamatkan orang-orang yang
melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim
siksaan yang keras.”
Sikap
kita
Ketika
musibah datang menimpa, sikap dan pandangan yang selayaknya dimiliki seorang
muslim adalah:
Sungguh
sangat disayangkan sebagian orang menghadapi musibah ini dengan
perbuatan-perbuatan yang sebenarnya mendatangkan musibah baru, seperti syirik
(baik syirik dalam rububiyyah maupun dalam uluhiyyah) dan maksiat.
Contoh
syirik dalam rububiyyah adalah seperti yang kita saksikan ada sebagian orang
yang sudah terkena musibah, masih saja mengira karena penguasa laut pantai ini
atau itu sedang marah, padahal penguasa pantai ini atau itu dan alam semesta
secara keseluruhan adalah Allah, Maha Suci Allah dari keyakinan yang rusak ini.
Akhirnya mereka membuat sesaji dan kurban yang merupakan syirik syirik dalam
uluhiyyah.
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim mendapatkan
kelelahan, sakit, kesedihan dan kegelisahan bahkan duri yang mengenainya,
kecuali Allah akan menghapuskan dengan itu dosa-dosanya.”
(HR. Bukhari)
فَأَمَّا
عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا
فِي
اْلأَرْضِ
بِغَيْرِ
الْحَقِّ
وَقَالُوا
مَنْ أَشَدُّ
مِنَّا
قُوَّةً
أَوَلَمْ
يَرَوْا
أَنَّ اللهَ
الَّذِي خَلَقَهُمْ
هُوَ أَشَدُّ
مِنْهُمْ
قُوَّةً
Adapun
kaum ‘Aad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar
dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan
apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka
adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? (QS. Fushshilat: 15)
فَكُلاًّ
أَخَذْنَا
بِذَنبِهِ
فَمِنْهُم مَّنْ
أَرْسَلْنَا
عَلَيْهِ
حَاصِبًا وَمِنْهُم
مَّنْ
أَخَذَتْهُ
الصَّيْحَةُ
وَمِنْهُم
مَّنْ
خَسَفْنَا
بِهِ
اْلأَرْضَ وَمِنْهُم
مَّنْ
أَغْرَقْنَا
وَمَاكَانَ
اللهُ
لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَكِن
كَانُوا أَنفُسَهُمْ
يَظْلِمُونَ
Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya, di
antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara
mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur
(halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam
bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan,
dan Allah sekali-kali tidak hendak
menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya
diri mereka sendiri. (QS. Al ‘Ankabut: 40)
Maka
siapakah yang mau mengambil pelajaran?”
Dalam
hal ini, semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengambil pelajaran dari
apa yang telah menimpa orang lain dan bukan orang yang menjadi pelajaran bagi
orang lain.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ
نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Abu
Yahya Marwan
Maraaji’: Nashiihah
Haulaz Zalaazil (Syaikh bin Baz), az-Zilzaal ‘ibrah wa ‘izhah (Syaikh
M. bin Abdillah Al Hadban), Tafsir
Ibnu Katsir dll.