بسم الله الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ
ِللهِ
الَّذِيْ
يَقْضِيْ
بِالْحَقِّ
وَالْعَدْلِ
وَيَهْدِيْ
مَنْ يَشَاءُ
إِلَى
صِرَاطٍ
مُسْتَقِيْمٍ
، يُقَدِّرُ
اْلأُمُوْرَ
بِحِكْمَةٍ ،
وَيَحْكُمُ
بِالشَّرَائِعِ
لِحِكْمَةٍ
وَهُوَالْحَكِيْمُ
اْلعَلِيْمُ
، أَرْسَلَ
الرُّسُلَ
مُبَشِّرِيْنَ
وَمُنْذِرِيْنَ،
وَأَنْزَلَ
مَعَهُمُ
اْلكِتَابَ
لِيَحْكُمَ
بَيْنَ
النَّاسِ
فِيْمَااخْتَلَفُوْافِيْهِ
،
وَلِيَقُوْمَ
النَّاسُ
بِالْقِسْطِ
وَيُؤْتُوْا
كُلَّ ذِيْ
حَقٍّ
حَقَّهُ مِنْ
غَيْرِغُلُوٍّوَلاَتَقْصِيْرٍ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ، لَهُ
الْمُلْكُ
وَلَهُ
الْحَمْدُ وَهُوَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيْرٌ ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
أَلِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
وَسَلَمَ
تَسْليمًا
Jamaah Jumat rahimakumullah
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan
oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Jamaah
Jumat rahimani wa
rahimakumullah
Mungkin
Anda mengira bahwa musafir di sini adalah setiap orang yang sedang melakukan
perjalanan jauh. Tetapi, itu bukanlah yang dimaksud. Bahkan musafir di sini
adalah setiap manusia
yang tinggal di dunia. Mengapa kita sebut sebagai
“musafir”? Hal itu, karena hidup manusia di dunia hanya sementara
dan akan pergi meninggalkannya seperti halnya seorang musafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ اْلأَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
“Sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat
Itulah negeri yang kekal.” (QS.
Ghaafir: 39)
Namun
sayang seribu sayang, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa hidupnya di dunia
hanya sementara. Padahal hal ini merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi
dan kepastian yang tidak disangsikan lagi. Pernahkah Anda melihat ada orang
yang hidup kekal di dunia dan tidak mati? Kalau pun ia diberi usia yang
panjang, cobalah perhatikan akhirnya, ia akan tetap mati juga. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِنَّكَ
مَيِّتٌ
وَإِنَّهُم
مَّيِّتُونَ
“Sesungguhnya kamu akan mati
dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az Zumar: 30)
Al-Fudhail
pernah berkata kepada seseorang: “Sudah berapa lama kamu menjalani
hidup?” ia menjawab: “Enam puluh tahun.” Fudhail berkata:
“Sudah enam puluh tahun Anda mengadakan perjalanan menuju Tuhanmu, dan
sebentar lagi kamu akan sampai”, orang itu berkata: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji’uun“, Fudhail berkata: “Tahukah Anda maksud
ucapan “Innaa lillahi
wa innaa ilaihi raaji’uun“? sesungguhnya barangsiapa
yang mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya,
maka hendaknya ia meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan. Siapa saja yang
meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan, maka hendaknya ia mengetahui bahwa
dirinya akan ditanya, maka persiapkanlah jawaban terhadap pertanyaan
itu.”
Orang
itu pun bertanya: “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” Fudhail
menjawab: “Mudah” orang itu bertanya, “Apa itu?”
Fudhail menjawab, “Kamu perbaiki amalmu sekarang, niscaya amalmu di masa
lalu akan diampuni. Hal itu, karena jika kamu malah memperburuk amalmu di masa
sekarang, maka kamu akan diberi hukuman berdasarkan amal burukmu yang dahulu
dan yang sekarang, dan amalan yang diperhatikan adalah amalan di akhir
hayatnyaan amalan yang diperhatikan adalah akhirnya.”nya raaji’uun
Fudhail berkata: “Tahukah Anda maksud ucapan “Innaa lillahi wa innaa
ilaihi raaji’uun”? sesungguhnya barangsiapa yang mengetahui bahwa
dirinya adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya ia
meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan.
Siapa
saja yang meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan, maka hendaknya ia mengetahui
bahwa dirinya akan ditanya, maka persiapkanlah jawaban terhadap pertanyaan
itu.” Orang itu pun bertanya: “Lalu bagaimana jalan
keluarnya?” Fudhail menjawab: “Mudah” orang itu bertanya,
“Apa itu?” Fudhail menjawab, “Kamu perbaiki amalmu sekarang,
niscaya amalmu di masa lalu akan diampuni.
Hal
itu, karena jika kamu malah memperburuk amalmu di masa sekarang, maka kamu akan
diberi hukuman berdasarkan amal burukmu yang dahulu dan yang sekarang, dan
amalan yang diperhatikan adalah amalan di akhir hayatnya.” Jika demikian,
sudahkah Anda mempersiapkan amalan?
Pentingnya
Muhasabah
Kaum
muslimin yang dirahmati oleh Allah
Muhasabah
atau mengoreksi diri dan menghitung-hitung kesalahan adalah sesuatu yang sangat
penting, Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS.
Al Hasyr: 18)
Saudaraku,
pernahkah Anda menyempatkan diri untuk berpikir sejenak tentang dirimu, apa
saja ucapan yang Anda lontarkan dan apa saja perbuatan yang Anda lakukan?
Pernahkah Anda menyempatkan diri untuk memperhatikan amal perbuatanmu apakah
yang Anda lakukan merupakan amal shalih atau kemaksiatan? Jika maksiat,
sudahkah Anda menutupinya dengan taubat dan istighfar? dan sudahkah Anda
memperbaikinya dengan amal shalih?
إِنَّ
الْحَسَنَاتِ
يُذْهِبْنَ
السَّيِّئَاتِ
ذَلِكَ
ذِكْرَى
لِلذَّاكِرِينَ
“Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114)
Cobalah
berpikir sejenak dan sempatkanlah untuk itu sebelum tiba hari di mana saat itu
tidak berguna lagi penyesalan:
وَهُمْ
يَصْطَرِخُونَ
فِيهَا
رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا
نَعْمَلْ
صَالِحًا
غَيْرَ الَّذِي
كُنَّا
نَعْمَلُ
أَوَلَمْ
نُعَمِّرْكُم
مَّايَتَذَكَّرُ
فِيهِ مَن
تَذَكَّرَ
وَجَآءَكُمُ
النَّذِيرُ
فَذُوقُوا
فَمَا
لِلظَّالِمِينَ
مِن نَّصِيرٍ
“Ya Tuhan Kami, keluarkanlah
kami (dari neraka) niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berbeda dengan
yang telah kami kerjakan”. dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu
dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah
tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (QS. Faathir: 37)
Umar
bin Khaththab radhiallahu
‘anhu berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab
dan timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang.”
Keadaan
Orang-Orang Terdahulu dengan Orang-Orang Sekarang
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61}
“Sesungguhnya
orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka—Dan
orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,—Dan orang-orang
yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),—Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan
mereka—Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan
merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minuun: 57-61)
Aisyah
radhiallahu ‘anha
pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang ayat di atas, ujarnya:
“Apakah orang tersebut adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum
khmar, namun dirinya takut kepada Allah ‘Azza
wa Jallla?” Beliau menjawab: “Tidak, wahai puteri Abu Bakar, puteri Ash Shiddiq.
Akan tetapi, dia adalah orang yang melakukan shalat, berpuasa dan bersedekah
sedangkan diri mereka takut kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR.
Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Yakni
mereka takut kalau seandainya ibadah mereka tidak diterima.
Seperti
itulah keadaan kaum salaf yang terdahulu, mereka beribadah kepada Allah dengan
rasa takut dan harap. Tidak seperti keadaan kta saat ini, hati kita takut
tetapi masih tetap berbuat maksiat, hati kita berharap ingin masuk surga tetapi
tidak mau beramal, sungguh jauh berbeda.
Ibnul
Qayyim berkata, “Barang siapa yang memperhatikan para sahabat, dia akan
mendapatkan mereka dalam keadaan banyak beramal dengan rasa takut yang tinggi.
Adapun kita, kita menggabungnya dengan kurang beramal, bahkan kurang beramal
dengan rasa aman.”
Dengarkan
kata hati yang paling dalam!
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
“Allah memberikan perumpamaan berupa
jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding.
Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di
atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan
terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian
semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’
Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu
mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu
yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celaka kamu, jangan
sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk
kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan
batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah
hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu
adalah Kitabullah (Alquran) ‘Azza wa Jalla. Sedangkan penyeru dari atas
shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap hati seorang
mukmin.” (HR. Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani)
Khalid
bin Ma’dan radhiallahu
‘anhu berkata: “Tidak ada seorang hamba pun kecuali
memiliki dua mata di wajahnya, di mana dengan keduanya dia memandang dunia. Ada
lagi dua mata yang ada di hatinya, di mana dengan keduanya dia memAndang
akhirat. Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, maka Allah
akan membuka dua mata yang ada di hatinya, ia pun melihat janji Allah yang
masih ghaib, dan apabila Allah menghendaki selain itu, maka Allah akan
membiarkan keadaannya”, kemudian ia membaca ayat:
أَمْ
عَلَى
قُلُوبٍ
أَقْفَالُهَآ
“Ataukah hati mereka
terkunci?” (QS.
Muhammad: 24).”
Ya,
أَفَلاَ
يَتَدَبَّرُونَ
الْقُرْءَانَ
أَمْ عَلَى
قُلُوبٍ
أَقْفَالُهَآ
“Apakah mereka tidak
memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ
فِيْ الْقُرْانِ
الْعَظِيْمِ ,
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
اْلأَيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ ,
أَقُوْلُ قَوْلِيْ
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
الله َلِيْ وَلَكُمْ
وَلِكَافَةِ
الْمُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ ,
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
اَلحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ،
الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا
إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا
تُعَاقِبُ
اللَيْلَ
وَالنَّهَار
Cara
Muhasabah
Ibnul
Qayyim menjelaskan cara memuhasabah diri yaitu sbb:
Pertama, melihat amalan fardhu, jika
dilihatnya ada yang kurang, maka ia berusaha mengejarnya.
Kedua, melihat larangan, jika dilihatnya
bahwa dirinya mengerjakan larangan, maka ia tutupi dengan taubat dan istighfar
serta mengiringinya dengan amal saleh yang memang dapat menghapusnya.
Ketiga, melihat sikap lalai pada dirinya,
maka disusul dengan dzikr dan mendekatkan diri kepada Allah.
Keempat, melihat tindakan yang dilakukan
anggota badan, ucapan yang dilontarkan oleh lisan, langkah yang dilakukan oleh
kaki, gerakan yang dilakukan oleh tangan, pandangan yang dilihat oleh mata dan
pendengaran yang dilakukan oleh telinga untuk apa semua dilakukan? Karena siapa
melakukannya dan bagaimana bentuk yang dilakukannya?
Jangan
Hilangkan Pahala Amal dengan Kemaksiatan
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
« أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ » . قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ . فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ » .
“Tahukah
kamu siapakah orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab: “Menurut kami,
orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham dan harta
benda.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di
antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat,
puasa, zakat dan amal saleh lainnya, namun ia pernah memaki si fulan, menuduh
si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, memukul badan si
fulan. Lalu untuk membayar perlakukannya, dibayarlah dengan amal salehnya yang
akan diberikan ke si fulan dan si fulan. Sehingga ketika amal salehnya habis
padahal belum selesai pembayaran dari amal salehnya, maka dosa-dosa orang lain
diambil dan diletakkan kepada dirinya sehingga ia pun dilempar ke
neraka.” (HR. Muslim)
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ فِيْ
مَقَامِنَا
هَذَا وَفِيْ
انْتِظَارِفَرِيْضَةٍ
مِنْ
فَرَائِضِكَ
اَّلتِيْ مَنَنْتَ
بِفَرْضِهَا
عَلَيْنَا
نَسْأَلُكَ بِأَنْ
نَشْهَدَ
أَنَّكَ
أَنْتَ اللهُ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ
أَنْتَ
اْلأَحَدُ
الصَّمَدُ
الَّذِيْ
لَمْ يَلِدْ
وَلَمْ
يُوْلَدْ وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا
أَحَدٌ , يَا
مَنَّانُ ياَ
بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ
وَاْلأَرْضِ,
يَا
ذَاالْجَلاَلِ
وَاْلإِكْرَامِ
, يَا حَيُّ
يَا قَيُّوْمُ,
نَسْأَلُكَ
أَنْ
تُحَبِّبْ
إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ
وَتُزَيِّنْهُ
فِيْ قُلُوْبِنَا
وَتُرَسِّخْهُ
فِيْهَا
وَأَنْ تُكْرِهْ
إِلَيْنَا اْلكُفْرَ
وَالْفُسُوْقَ
وَالْعِصْيَانَ
وَتُبَاعِدْهَا
عَنَّا
وَأَنْ
تُهَيِّئْ لِْلأَمَّةِ
اْلإِسْلاَمِيَّةِ
مِنْ أَمْرِهَا
رُشْدًا
وُلاَةً
صَالِحِيْنَ
يَقْضُوْنَ
بِالْحَقِّ
وَبِهِ
يَعْدِلُوْنَ
لاَ
يَخَافُوْنَ
فِيْ اللهِ
لَوْمَةَ
لاَئِمٍ لاَ
يُحَابُّوْنَ
قَرِيْبًا
لِقُرْبِهِ
وَلاَ
قَوِيًّا
لِقُوَّتِهِ ,
وَأَنْ
تَحْفَظَ
عَلَيْنَا
دِيْنَنَا
وَتُثْبِتَنَا
عَلَيْهِ
إِلَى الْمَمَاتِ
إِنَّكَ
جَوَادٌ
كَرِيْمٌ
Marwan bin Musa