Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ تَقَدَّسَتْ أَسْمَاؤُهُ وَصِفَاتُهُ، تَعَالَى مَجْدُهُ وَعَظَمَتُهُ وَتَمَّتْ كَلِمَاتُهُ، أَحْمَدُ رَبِّيْ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ أَضَاءَتْ بَرَاهِيْنُ وَحْدَانِيَتُهُ وَعَظُمَتْ أَيَاتُهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ تَوَاتَرَتْ مُعْجِزَتُهُ وَكَرُمَتْ أَخْلَاقُهُ وَصِفَاتُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّابَعْدُ..
فَاتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ
التَّقْوَى،
وَتَمَسَّكُوْا
مِنَ
الإِسْلَامِ
بِالعُرْوَةِ
الوُثْقَى:
فَمَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ الشُّرُوْرَ
وَالْمُهْلِكَاتِ،
وَمَنِ اتَّبَعَ
هَوَاهُ
وَعَصَى
رَبَّهُ
وَكَفَرَ بِهِ
أَدْرَكَهُ
الشَقَاءُ
وَأَرْدَاهُ
فِي الدَّرَكَاتِ
Ibadallah,
Waktu
adalah salah satu nikmat yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia.
Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal
mungkin untuk amal shalih.
Allah
Ta’ala
telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ
﴿١﴾ إِنَّ
الْإِنْسَانَ
لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾
إِلَّا
الَّذِينَ
آمَنُوا
وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr:1-3).
Di
dalam surat yang mulia ini Allah Subhanahu
wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan
pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di
dalam masa terjadi kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan
kemiskinan. Jika seseorang menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat
sia-sia, bahkan kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya,
dengan taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna
sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia betul-betul
mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah sedikit masa
taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allah Ta’ala, tidak ada
cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak memanfaatkannya.
Ibadallah,
Nabi
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan
waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dari
Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan
manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR
Bukhari).
Hadits
yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang besar dari
Allah Ta’ala,
tetapi banyak manusia tertipu dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.
Di
antara bentuk kerugian ini adalah:
Pertama: Seseorang tidak mengisi waktu
luangnya dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya
dengan amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang
lebih utama.
Kedua: Dia tidak mengisi waktu luangnya
dengan amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau
dunianya. Namun kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak
berpahala.
Ketiga: Dia mengisinya dengan perkara yang
haram, ini adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan
kesempatan memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu,
bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada
hukuman Allah di dunia dan di akhirat.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Urgensi
waktu dan kewajiban menjaganya merupakan perkara yang disepakati oleh
orang-orang yang berakal. Berikut adalah diantara point-point yang menunjukkan
urgensi waktu.
Pertama: Waktu Adalah Modal Manusia.
Imam
al-Hasan al-Bashri rahimahullah
berkata:
اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai
Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu
hari berlalu, hilang sebagian dirimu.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam
Hilyatul-Auliya).
Diriwayatkan
bahwa Umar bin Abdul-Aziz rahimahullah
berkata:
إِنَّ
اللَّيْلَ
وَالنَّهَارَ
يَعْمَلَانِ
فِيْكَ
فَاعْمَلْ
فِيْهِمَا
“Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka
beramalah pada malam dan siang itu.”
Kedua: Waktu Sangat Cepat Berlalu.
Seseorang
berkata kepada ‘Amir bin Abdul-Qais rahimahullah,
salah seorang tabi’i: “Berbicaralah kepadaku!” Dia menjawab:
“Tahanlah jalannya matahari!”
Imam
Ahmad rahimahullah
berkata: “Aku tidak menyerupakan masa muda kecuali dengan sesuatu yang
menempel di lengan bajuku, lalu jatuh”.
Abul-Walid
al-Baji rahimahullah
berkata: “Jika aku telah mengetahui dengan sangat yakin, bahwa seluruh
hidupku di dunia ini seperti satu jam di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil
dengan waktu hidupku (untuk melakukan perkara yang sia-sia, Pen.), dan hanya
kujadikan hidupku di dalam kebaikan dan ketaatan”.
Ketiga: Waktu Yang Berlalu Tidak Pernah
Kembali.
Abu
Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu
anhu berkata:
إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ
“Sesungguhnya
Allah memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam.
Dan Allah juga memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di
waktu siang.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).
Dengan
demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya pada waktunya,
dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga akan memberatkan dirinya
sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf lebih mahal dari pada uang.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah
berkata:
أَدْرَكْتُ
أَقْوَامًا
كَانَ
أَحَدُهُمْ أَشَحَّ
عَلَى
عُمْرِهِ
مِنْهُ عَلَى
دَرَاهِمِهِ
وَدَنَانِيْرِهِ
“Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap
umurnya (waktu) daripada terhadap dirham dan dinarnya.”
Sebagian
penyair berkata:
وَالْوَقْتُ
أَنْفَسُ مَا
عَنَيْتَ
بِحِفْظِهِ …
وَأَرَاهُ
أَسْهَلَ مَا
عَلَيْكَ يُضَيَّعُ
Waktu
adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga, tetapi
aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya.
Keempat:
Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.
Oleh
karena itu Allah Ta’ala
banyak memerintahkan untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Demikian juga
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan
amal-amal shalih. Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak
menunda-nunda amalan. Al-Hasan berkata:
اِبْنَ
آدَمَ
إِيَّاكَ
وَالتَّسْوِيْفَ
فَإِنَّكَ
بِيَوْمِكَ
وَلَسْتَ
بِغَدٍّ فَإِنْ
يَكُنْ غَدٌّ
لَكَ فَكُنْ
فِي غَدٍّ كَمَا
كُنْتَ فِيْ
الْيَوْمَ
وَإِلَّا
يَكُنْ لَكَ
لَمْ
تَنْدَمْ
عَلَى مَا
فَرَّطْتَ فِيْ
الْيَوْمِ
“Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda
(amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok
pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka
lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika
engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang
menyia-nyiakan hari ini.”
Ibadallah,
Realitanya,
orang-orang terbagi-bagi dalam menyikapi waktu. Mereka juga berbeda paham akan
urgensi waktu tersebut. Di antara mereka ada orang-orang yang amalan shalih
mereka lebih banyak daripada waktu mereka.
Diriwayatkan
bahwa Syaikh Jamaluddin al-Qashimi rahimahullah
melewati warung kopi. Dia melihat orang-orang yang mengunjungi warung kopi
tenggelam dalam permainan kartu dan dadu, meminum berbagai minuman, mereka
menghabiskan waktu yang lama. Maka Syaikh berkata, “Seandainya waktu bisa
dibeli, sungguh pasti aku beli waktu mereka!”
Di
antara mereka pula ada orang-orang yang menghabiskan waktu mereka dalam
mengejar perkara yang tidak berfaidah, baik berupa ilmu yang tidak bermanfaat,
atau urusan-urusan dunia lainnya.
Imam
Ibnul-Qayyim rahimahullah
menyebutkan seorang laki-laki yang menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan dan
menumpuk harta. Ketika kematian mendatanginya, dikatakan kepadanya,
“Katakanlah la ilaha illa Allah,” namun ia tidak mengucapkannya,
bahkan ia mulai mengucapkan, “Satu kain harganya 5 dirham, satu kain
harganya 10 dirham, ini kain bagus”. Dia selalu dalam keadaan demikian
sampai ruhnya keluar.
Ada
pula orang-orang yang tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan terhadap
waktu.
Seorang
ulama zaman dahulu berkata:
Aku
telah melihat kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan cara yang aneh. Jika
malam panjang, mereka habiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, atau
membaca buku percintaan dan begadang. Jika waktu siang panjang, mereka habiskan
untuk tidur. Sedangkan pada waktu pagi dan sore, mereka di pinggir sungai
Dajlah, atau di pasar-pasar. Aku ibaratkan mereka itu dengan orang-orang yang
berbincang-bincang di atas kapal, kapal itu terus berjalan membawa mereka dan
berita mereka. Aku telah melihat banyak orang yang tidak memahami arti kehidupan.
Di
antara mereka, ada orang yang telah diberi kecukupan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, ia
tidak butuh bekerja karena hartanya yang sudah banyak, namun kebanyakan
waktunya padai siang hari ia habiskan dengan nongkrong di pasar (kalau zaman
sekarang di mall dan sebagainya, Pen.) melihat orang-orang (yang lewat).
Alangkah banyaknya keburukan dan kemungkaran yang melewatinya.
Di
antara mereka ada yang menyendiri bermain catur. Di antara mereka ada yang
menghabiskan waktu dengan kisah-kisah kejadian tentang raja-raja, tentang harga
yang melonjak dan turun, dan lainnya.
Maka
aku mengetahui bahwa Allah tidak memperlihatkan urgensi umur dan kadar waktu
kesehatan kecuali kepada orang-orang yang Allah berikan taufiq dan bimbingan
untuk memanfaatkannya. Allah berfirman:
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat
yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan
tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang
besar.” (QS. Fushilat: 35).
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعْنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الأَيَاتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِهَدْيِ
سَيِّدِ
المُرْسَلِيْنَ
وَقَوْلِهِ
القَوِيْمِ،
أَقُوْلُ
قَوْلِي هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
مُعِزُّ مَنْ
أَطَاعَهُ
وَاتَّقَاهُ،
وَمُذِلُّ
مَنْ خَالَفَ
أَمْرَهُ
وَعَصَاهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ لَا
إِلَهَ
سِوَاهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ
نَبِيَّنَا
وَسَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اِصْطَفَاهُ
رَبُّهُ
وَاجْتَبَاهُ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوْتُنَّ
إِلَّا وَ
أَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ.
Ibadallah,
Adapun
yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam menyikapi waktu, kembali
kepada tiga perkara berikut.
Sebab
pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena itu, seorang muslim wajib
mengetahui bahwa tujuan Allah menciptakannya adalah untuk beribadah kepada-Nya,
sebagaimana firman-Nya:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).
Dia
harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan
main-main, sebagaimana firman-Nya:
أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ
عَبَثًا
وَأَنَّكُمْ
إِلَيْنَا
لَا
تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115).
Dunia
adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam kebaikan di dunia ini, maka
engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat nanti. Jika engkau menanam
keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik siksaan pedih di akhirat
nanti.
Namun
demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh bersenang-senang dengan perkara
yang Allah ijinkan di dunia ini, karena Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَاللَّهِ
إِنِّي
لَأَخْشَاكُمْ
لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ
لَهُ
لَكِنِّي
أَصُومُ وَأُفْطِرُ
وَأُصَلِّي
وَأَرْقُدُ
وَأَتَزَوَّجُ
النِّسَاءَ
فَمَنْ
رَغِبَ عَنْ
سُنَّتِي
فَلَيْسَ
مِنِّي
Demi
Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa di
antara kamu kepada Allah, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan
tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia
bukan dariku. (HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401)
Sebab
kedua, tidak megentahui nilai dan urgensi waktu.
Sebab
ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.
Banyak
orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui perkara-perkara
bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi karena
lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya. Maka seorang muslim
wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba melaksanakan
amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kemudian
bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.
Jika
kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar memahami nilai
waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara yang akan menjadikan
ridha Penguasa kita, Allah Subhanahu
wa Ta’ala . Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan
yang lurus. Amin.
أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، اِعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُوْرَ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّيْنِ بِدْعَةُ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، فَعَلْيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَهِيَ: اَلْإِجْتِمَاعُ عَلَى دِيْنِكُمْ؛ أَنْ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ، أَنْ تَكُوْنُوْا أُمَّةً وَاحِدَةً، قَلْبٌ وَاحِدٌ وَهَدْفٌ وَاحِدٌ وَعَمَلٌ وَاحِدٌ مَبْنيٌّ عَلَى الإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَالاِتِّبَاعِ لِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ؛ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب: 56] .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ،
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا
مَحَبَّتَهُ
وَاتَّبَاعَهُ
ظَاهِرًا
وَبَاطِنًا،
اَللَّهُمَّ
تَوَفَّنَا
عَلَى
مِلَّتِهِ،
اَللَّهُمَ
احْشُرْنَا
فِي
زَمْرَتِهِ،
اَللَّهُمَّ
أَسْقِنَا
مِنْ
حَوْضِهِ،
اَللَّهُمَّ
أَدْخِلْنَا
فِي
شَفَاعَتِهِ،
اَللَّهُمَّ
اجْمَعْنَا
بِهِ فِي جَنَّاتِ
النَّعِيْمِ
مَعَ
الَّذِيْنَ
أَنْعَمْتَ
عَلَيْهِمْ
مِنَ
النَّبِيِّيْنَ،
وَالصِّدِّيْقِيْنَ،
وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
ارْضَ عَنْ
خُلَفَائِهِ
اَلرَّاشِدِيْنَ
وَعَنْ
زَوْجَاتِهِ
أُمَّهَاتِ
المُؤْمِنِيْنَ
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ .
اَللَّهُمَّ
ارْضَ عنَّا
مَعَهُمْ
وَأَصْلِحْ
أَحْوَالَنَا
كَمَا
أَصْلَحْتَ
أَحْوَالَهُمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وُلَاةَ
أُمُوْرِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وُلَاةَ
أُمُوْرِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وُلَاةَ
أُمُوْرِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
رَعْيَتَهُمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ .
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِأَنَّا نَشْهَدُ
أَنَّكَ
أَنْتَ اللهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ،
يَا
مَنَّانُ،
يَا بَدِيْعُ
السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضِ،
نَسْأَلُكَ
اللَّهُمَّ
أَنْ
تُنَزَّلَ
بِالصَّرْبِ
الظَّالِمِيْنَ
بَأْسَكَ
الَّذِيْ لَا
يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ
المُجْرِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ
بِهِمْ
بَأسَكَ
الَّذِيْ لَا
يُرَدُّ عَنِ
الْقَوْمِ المُجْرِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَنْزِلْ بِهِمْ
بَأْسَكَ
الَّذِيْ لَا
يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ
المُجْرِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ اشْدُدْ
وَطَأتكَ
عَلَيْهِمْ،
اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ
بِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ
بِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ
بِهِمْ؛ فَإِنَّهُمْ
لَا يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ أَنْ
تَجْعَلَهُمْ
عِبْرَةً
لِلنَّاسِ فِي
الذِلِّ
وَالخِزْيِ
وَالعَارِ
يَا أَرْحَمُ
الرَّاحِمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِأَنَّا نَشْهَدُ
أَنَّكَ
أَنْتَ اللهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
يَا
مَنَّانُ،
يَا بَدِيْعَ
السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضِ،
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ،
نَسْأَلُكَ
اللَّهُمَّ
أَنْ تَنْصُرَ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ،
اَللَّهُمَّ
امْنِحْهُمْ
رِقَابَ أَعْدَائِهِمْ
وَأَوْرَثَهُمْ
دِيَارَهُمْ
وَنِسَاءَهُمْ
وَأَمْوَالَهُمْ
وَذُرِّيَّاتَهُمْ،
إِنَّكَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٍ .
اَللَّهُمَّ
انْصُرْهُمْ
عَلَى
عَدُوِّهِمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ، ﴿رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالإِيمَانِ
وَلا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلاً
لِلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ رَءُوفٌ
رَحِيمٌ﴾
[الحشر: 10] .
عباد
الله،﴿إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
(90) وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنْقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمُ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ﴾[النحل:
90-91]، واذكروا
الله العظيم
الجليل
يذكركم،
واشكروه على
نِعَمِهِ
يزدكم﴿وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ﴾[العنكبوت:
45] .
(Diadaptasi dari tulisa Ustadz Abu Isma’il Muslim
al-Atsari di majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M).
www.KhotbahJumat.com