Artikel Buletin An-Nur : Jumat, 17 Februari 06
Renungan Kejujuran (4) Kisah Teladan dan Fenomena Hilangnya Kejujuran
Kisah Ke Satu
Bilal radhiyallahu ‘anhu meminangkan seorang wanita bangsa Quraisy untuk
saudara-nya, maka dia berkata kepada keluarga wanita tersebut, "Kami
adalah orang yang telah anda ketahui dan anda kenal, dahulu kami adalah budak,
lalu Allah subhanahu wata’ala memerdekakan kami, dahulu kami orang yang
sesat, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan petunjuk dan kami dahulu
adalah orang yang fakir, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan kami
kecukupan. Maka aku meminang kepada anda si Fulanah untuk saudaraku ini, jika
kalian mau menikahkan, maka segala puji hanya milik Allah dan jika kalian
menolak, maka Allah Maha Besar.
Maka sebagian mereka saling melihat kepada sebagian yang lain, kemudian salah
seorang dari mereka berkata, "Bilal adalah orang yang telah kalian ketahui
latar belakangnya, kedekatan dan kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, maka nikahkanlah saudaranya itu. Maka mereka pun akhirnya
menerima lamaran itu dan menikahkan saudara Bilal dengan wanita tersebut.
Ketika seluruh urusan sudah selesai, berkatalah saudara Bilal kepadanya,
"Semoga Allah mengampunimu, adapun engkau maka engkau hanya menyebutkan
latar belakangmu dan kebersamaanmu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dan tidak menyebutkan selainnya. Maka Bilal radhiyallahu ‘anhu
berkata, "Oh iya, engkau benar, maka sekarang aku nikahkan kamu dengan
kejujuran." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ke Dua
Diriwayatkan dari Sahl bin Aqil rahimahullah dia berkata, "Suatu
ketika Ismail ’alaihis salam membuat janji untuk datang ke rumah
seseorang. Maka datanglah Ismail, tetapi orang tersebut lupa. Maka beliau pun
menunggu dan bermalam di tempat itu sehingga datang orang tersebut dari
kepergiannya kemarin.” Oleh karena itu di dalam al-Qur'an beliau disebut
sebagai "shadiqul wa'di" (orang yang menepati janji),
sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala,
وَاذْكُرْ
فِي
الْكِتَابِ
إِسْمَاعِيلَ
إِنَّهُ كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ
وَكَانَ
رَسُولًا نَبِيًّا
artinya: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail
(yang tersebut) di dalam al-Qur'an. Sesungguh-nya ia adalah seorang yang benar
janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.”(QS. Maryam:54)
Kisah Ke Tiga
As'ad bin Ubaidillah al-Makhzumi rahimahullah berkata, "Abdul Malik
bin Marwan rahimahullah memerintahkan aku agar mengajari anak-anaknya
kejujuran, sebagaimana aku mengajari mereka al-Qur'an."
Kisah Ke Empat
Ismail bin Ubaidillah rahimahullah berkata, "Ketika ayahku sudah
dekat ajalnya, dia mengumpulkan seluruh anak-anaknya lalu berkata kepada
mereka," Wahai anak-anakku! Wajib atas kalian semua taqwa kepada Allah,
membaca al-Qur'an dan merutinkannya. Dan wajib atas kalian untuk jujur walaupun
jika salah seorang dari kalian membunuh seseorang lalu ada salah satu
kerabatnya yang bertanya. Demi Allah aku tidak pernah berdusta sama sekali
semenjak aku membaca al-Qur'an."
Kisah Ke Lima
Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu, beliau lebih dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq rahimahullah
karena kejujurannya di dalam berbicara.
Fenomena Hilangnya kejujuran
Orang yang memperhatikan kondisi manusia di masa ini, maka akan mendapati
betapa telah terabaikannya sisi kejujuran ini. Di antara sebabnya adalah karena
lemahnya keimanan di dalam hati kaum muslimin, tersebarnya kemaksiatan di
setiap tempat serta ber-lebihan di dalam mencintai kehidupan dunia. Maka rasa
takut terhadap sesama manusia telah mendominasi sehingga menyebabkan hilangnya
kejujuran dalam ucapan, perbuatan dan segala kondisi mereka.
Dalam hadits disebutkan bahwa kejujuran merupakan ketenangan, maka jika
kejujuran telah hilang akan hilang pula ketenangan dalam kehidupan dan
pergaulan antar sesama. Sehingga yang tersebar adalah rasa gelisah dan saling
curiga sebagai ganti dari rasa tenang.
Di antara fenomena yang tersebar di tengah masyarakat yang mengindikasikan
lemahnya kejujuran adalah sebagai berikut:
1. Tersebarnya Ucapan Dusta
Bahkan bukan hanya ucapan dusta, tetapi termasuk juga amalan dan segala
kondisi, padahal ia merupakan salah satu dosa besar. Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
ثُمَّ
نَبْتَهِلْ
فَنَجْعَلْ
لَعْنَتَ اللَّهِ
عَلَى
الْكَاذِبِينَ
artinya: "Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita
minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."
(QS. Ali Imran:61)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
"Tiga hal, barang siapa
yang pada dirinya terdapat ketiganya maka dia adalah orang munafik. Yaitu jika
berbicara dusta, jika berjanji menyelisihi dan jika dipercaya berkhianat."(HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
2. Fenomena Ingkar Janji
Ingkar janji sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas merupakan salah
satu ciri kemunafikan. Kini ingkar janji telah menjadi hal yang lumrah bagi
sebagian orang, bahkan di antara mereka ada yang dikenal dengan manusia ingkar
janji.
Di antara bentuk ingkar janji yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan
manusia adalah:
Terlambat atau mengundur keda-tangan dengan tanpa ada alasan, seperti seseorang
yang berjanji akan datang jam delapan tetapi dia baru datang jam sembilan,
dengan tanpa alasan yang dibenarkan. Termasuk juga orang tua yang mengingkari
janji terhadap anak-anaknya untuk membelikan sesuatu atau memberinya sesuatu.
Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Dusta itu tidak layak baik dalam
bergurau atau sungguh-sungguh, dan janganlah seseorang di antara kalian
berjanji terhadap anaknya dengan sesuatu lalu tidak melaksanakannya." (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
3. Mengkhianati Amanah
Amat banyak manusia yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya,
misalnya seorang pegawai tidak melakukan hal-hal atau pekerjaan yang seharusnya
dituntut dan menjadi tugasnya. Di antara contohnya adalah terlambat datang di
tempat kerja, dan jika datang bukannya melaksanakan pekerjaan dan tugasnya
tetapi menelpon ke sana-sini bukan untuk urusan kerja, membaca majalah atau
koran dalam jam kerja, atau nonton acara televisi dan lain sebagianya.
Demikian juga mengambil cuti sakit padahal tidak sakit, dan dia lupa bahwa
dirinya dengan demikian telah memakan harta orang lain dengan tanpa bekerja.
Apa hak dia mengambil upah secara utuh sementara hari kerja yang seharusnya dia
masuk bekerja dikurangi dengan tanpa alasan yang dibenarkan?
4. Menipu Dalam Jual Beli
Di antara bentuknya adalah dengan menyembunyikan cacat barang dagangan, padahal
si penjual ini mengetahui bahwa dagangannya cacat, tetapi dia tidak
memberitahukan kepada si pembeli. Dia beralasan bahwa itu salah pembeli sendiri
mengapa tidak meneliti dahulu barang yang akan dia beli. Menyembunyikan aib
barang dagangan merupakan sebab hilangnya barakah, sebagaimana diriwayatkan
dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
الْبَيِّعَانِ
بِالْخِيَارِ
مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
فَإِنْ
صَدَقَا
وَبَيَّنَا بُورِكَ
لَهُمَا فِي
بَيْعِهِمَا
وَإِنْ كَذَبَا
وَكَتَمَا
مُحِقَ
بَرَكَةُ
بَيْعِهِمَا
"Penjual dan pembeli
melakukan khiyar (pilih barang dan tawar menawar) selagi mereka belum berpisah.
Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat) maka diberkahi keduanya dan jika
keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta maka dihapus keberkahannya."
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
5. Berpura-pura Fakir
Yaitu mengaku dirinya orang miskin dan butuh bantuan padahal sebenarnya
kecukupan, dan dia meminta bantuan hanya sekedar untuk memperbanyak atau
menumpuk harta benda. Diriwa-yatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barang-siapa
yang meminta-minta harta benda kepada orang lain untuk memperbanyak
kepemilikannya, maka sesungguhnya dia sedang meminta bara api."
(Tarikh Dimasyq 14/373, Al-Mustathraf 2/15)
6. Menyembunyikan Aib Pelamar atau Wanita yang Dilamar
Yakni masing-masing dari pelamar atau wanita yang sedang dilamar menutup-nutupi
kekurangannya baik dalam masalah fisik atau akhlaknya. Masing-masing hanya
menonjolkan kebaikan dan kelebihannya saja, serta berlebih-lebihan di dalam
memberi pujian, padahal ini dapat menghilangkan berkah pernikahan.
Sumber: “Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1426, oleh
Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi. bagian ke 4 dari 4 edisi.