Artikel Buletin An-Nur : Senin, 13 Februari 06
Renungan Kejujuran (3) Macam dan Buah
Kejujuran
Kejujuran ada bermacam-macam dan bukan hanya satu
macam saja. Oleh karena itu merupakan kekeliruan jika ada orang yang
berkeyakinan bahwa jujur itu hanya terbatas pada lisan saja. Yang benar adalah
kejujuran itu ada dalam ucapan, perbuatan dan segenap keadaan. Imam Ibnul
Qayyim berkata, "Orang yang jujur adalah orang yang segala urusannya
adalah kejujuran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaannya.”
Penjelasan secara global dari tiga macam kejujuran ini yaitu:
1. Jujur dalam ucapan ialah lurusnya lisan di dalam berbicara sebagaimana
sesuainya ranting dengan batang pohon.
2. Jujur dalam perbuatan yaitu kesesuaian perbuatan dengan perintah dan mutaba'ah
(selaras) sebagaimana kesesuaian kepala dengan badan.
3. Jujur dalam keadaan yaitu kesesuaian perbuatan hati dan anggota badan dengan
keikhlasan, dengan memanfaat-kan kesempatan dan mencurahkan kemampuan secara
maksimal.
Dengan ini semua maka seorang hamba akan tergolong sebagai hamba yang jujur
dengan sebenarnya. Dengan melaksanakan segala macam kejujuran tersebut secara
utuh dan terus menegakkannya, maka akan diperoleh predikat "shiddiqiyyah".
Oleh karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat gelar as-Shiddiq
secara mutlak dan beliau telah meraih puncak kejujuran (shiddiqiyyah)
yang tertinggi. (Madarij as-Salikin 2/270). Ke tiga macam kejujuran di
atas dapat dijelaskan secara lebih terinci sebagai berikut:
Jujur Dalam Ucapan
Yaitu wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisannya, dan tidak berbicara
kecuali dengan jujur dan benar. Karena Allah subhanahu wata’ala akan
meminta pertanggung-jawaban atas ucapan lisan, sebagaimana firman-Nya,
يَوْمَ
تَشْهَدُ
عَلَيْهِمْ
أَلْسِنَتُهُمْ
وَأَيْدِيهِمْ
وَأَرْجُلُهُمْ
بِمَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
artinya: "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan
kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka
kerjakan.” (QS.An-Nur:24)
Dan selayaknya seorang muslim menjauhi kata-kata kiasan atau sindiran kecuali
dalam kondisi diperlukan dan akan mendatangkan maslahat (manfaat). Umar Ibnul
Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, "Sesungguhnya dalam kalimat
kiasan tidak terdapat unsur dusta." (Az-Zuhd, Hinad bin As-Sirri 2/636)
Masuk kategori jujur dalam ucapan adalah jujur dalam menyampaikan berita, dan
termasuk juga menepati janji yang diucapkan.
Jujur Dalam Perbuatan
Yaitu kesesuaian antara yang terlihat dan yang tersembunyi, atau lahirnya tidak
ada perbedaan dengan batinnya. Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri berkata,
"Hasan al-Bashri apabila beliau memerintahkan manusia dengan sesuatu, maka
dia adalah orang yang paling giat dalam melaksanakannya. Dan apabila beliau
melarang manusia dari sesuatu, maka dia adalah orang yang paling menjauhinya.
Dan aku tidak pernah melihat seseorang yang paling sama antara yang tersembunyi
dengan yang tampak melebihi dia."
Dan berkata Mutharrif, "Apabila seorang hamba sesuai antara yang
tersembunyi dengan yang tampak, maka Allah subhanahu wata’ala akan
berkata, "Ini adalah hamba-Ku yang sebenarnya."
Jujur dalam Segala Keadaan
Ini adalah tingkatan jujur yang tertinggi, seperti jujur dalam niat yang ikhlas
dan dalam rasa takut, dalam bertaubat, pengharapan, zuhud, cinta, tawakkal dan
selainnya. Oleh karena itu segala amalan hati pada dasarnya bermuara dalam
kejujuran, sehingga kapan saja seorang hamba jujur dalam seluruh kondisi
tersebut, maka dia akan terangkat dan tinggi kedudukannya di sisi Allah. Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ
آمَنُوا
بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ
ثُمَّ لَمْ
يَرْتَابُوا
وَجَاهَدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنْفُسِهِمْ
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ
أُولَئِكَ هُمُ
الصَّادِقُونَ
artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian
mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada
jalan Allah mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat:15)
Al Imam Ibnul Qayyim berkata, "Abu bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu
telah mencapai puncak kejujuran (shiddiqiyyah), dan beliau disebut
sebagai ash-Shiddiq secara mutlak, yang maknanya lebih mendalam daripada ash-Shaduq,
ash-Shuduq atau ash-Shaadiq. Maka puncak tertinggi sifat jujur adalah
ash-shiddiqiyyah yaitu ketundukan yang sempurna terhadap utusan Allah subhanahu
wata’ala (rasul) disertai sempurnanya keikhlasan terhadap Pengutusnya. (Madarij
as-Salikin 2/270))
BUAH KEJUJURAN
1. Masuk Surga
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang amal yang dapat
memasukkan ke dalam surga, maka beliau menjawab, "Kejujuran." (HR.
Ahmad). Dan juga pada hari Kiamat tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan
menyelamatkan dari adzab selain kejujuran.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
قَالَ
اللَّهُ
هَذَا يَوْمُ
يَنْفَعُ
الصَّادِقِينَ
صِدْقُهُمْ
لَهُمْ
جَنَّاتٌ تَجْرِي
مِنْ
تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ
فِيهَا
أَبَدًا
رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ
وَرَضُوا
عَنْهُ
ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
artinya, "Ini adalah suatu hari yang
bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah
ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadap-nya. Itulah keberuntungan
yang paling besar". (QS. Al-Maidah:119)
2. Mendapatkan Taufik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata kepada Ka'ab bin
Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang yang tidak ikut berperang dalam
Perang Tabuk yang secara jujur mengakui kesalahannya dan tidak membuat alasan
dusta, "Adapun dia, maka sungguh telah berlaku jujur." (HR.
Al-Bukhari dan Muslim). Sehingga turun ayat pengampunan untuknya.
3. Memperoleh Keselamatan
Kejujuran akan mendatangkan keselamatan, melepaskan dari kesempitan dan
bencana, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari
tentang sekelompok orang yang terjebak dalam gua yang pintunya tertutup oleh
batu besar. Salah satu dari mereka berkata,
لَا
يُنْجِيكُمْ
إِلَّا
الصِّدْقُ
فَليَدْعُ
كُلُّ رَجُلٍ
مِنْكُمْ
بِمَا
يَعْلَمُ أَنَّهُ
قَدْ صَدَقَ
فِيهِ
"Tidak
ada yang dapat menyelamatkan kalian selain kejujuran, maka hendaklah
masing-masing berdo’a dangan suatu amalan yang diketahui bahwa dia telah jujur
dalam amalan tersebut." (HR. Al-Bukhari)
4. Baiknya Batin
Barang siapa yang jujur dalam amalan yang lahir dan tampak maka itu menunjukkan
bahwa batinnya adalah baik.
5. Memperoleh Maslahat
Kejujuran akan mendatangkan manfaat dan maslahat di dunia dan di akhirat,
sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat al-Maidah 119 di
atas.
6. Mendatangkan Ketenangan
Kejujuran akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan, sebagai-mana sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam,
فَإِنَّ
الصِّدْقَ
طُمَأْنِينَةٌ
وَإِنَّ
الْكَذِبَ
رِيبَةٌ
"Kejujuran adalah ketenangan sedangkan
dusta adalah kege-lisahan dan keraguan." (HR. At-Tirmidzi, dan berkata
hadits hasan shahih)
7. Ketegaran
Seorang yang jujur akan selalu tegar dan tidak goyah di dalam menghadapi
berbagai ujian kehidupan.
8. Jujur Pangkal Kebaikan
Pokok seluruh kebaikan adalah kejujuran dan sebaliknya pangkal seluruh
keburukan adalah dusta, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dalam awal pembahasan dari bab ini.
9. Terlepas Dari Kemunafikan
Seorang yang selalu jujur, maka akan terbebas dari sifat kemunafikan,
sebagaimana disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
"Tiga
perkara yang jika terdapat pada seseorang maka dia adalah seorang munafik.
(Yaitu); Apabila berbicara dusta; Apabila berjanji menyelisihi; Dan apabila
dipercaya berkhianat."
آيَةُ
الْمُنَافِقِ
ثَلَاثٌ
إِذَا حَدَّثَ
كَذَبَ
وَإِذَا
وَعَدَ
أَخْلَفَ وَإِذَا
اؤْتُمِنَ
خَانَ
"Tanda-tanda orang munafik ada tiga (l)
Apabila berbicara ia berdusta (2) Apabila berjanji ia mengingkari (3) Apabila
diberi amanat ia berkhianat" [dari Abu Hurairoh]editor
10. Turunnya Malaikat
Malaikat turun kepada orang yang jujur sedangkan syetan turun kepada orang yang
dusta. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
هَلْ
أُنَبِّئُكُمْ
عَلَى مَنْ
تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ،
تَنَزَّلُ
عَلَى كُلِّ
أَفَّاكٍ
أَثِيمٍ
"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada
siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi
yang banyak dosa." (QS. Asy-Syu'ara': 221-222)
11. Orang yang jujur akan diberikan firasat yang benar.
12. Orang yang jujur dalam mengemukakan pendapat akan menang hujjahnya,
sebab Allah subhanahu wata’ala akan meneguhkan orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh dan kuat di dunia dan di akhirat.
13. Orang yang jujur berhak mendapatkan pujian dari manusia, sebagaimana
firman Allah subhanahu wata’ala ketika menyebutkan para nabi,
وَوَهَبْنَا
لَهُمْ مِنْ
رَحْمَتِنَا
وَجَعَلْنَا
لَهُمْ
لِسَانَ
صِدْقٍ
عَلِيًّا
artinya, Dan Kami anugerahkan kepada mereka
sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi
tinggi.” (QS. Maryam:50)
14. Jujur dalam mu'amalah dan jual beli akan mendatangkan keber-kahan,
sedangkan dusta dan menyembunyikan cacat akan menghalangi barakah.
Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1426, oleh
Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi. bagian ke 3 dari 4 edisi.