Artikel Buletin An-Nur : Jumat, 10 Februari 06
Renungan Kejujuran (2) Penjelasan
Sunnah dan Bersama Salaf
Penjelasan As-Sunnah
Banyak sekali hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang
membicarakan keutamaan jujur, di antaranya adalah:
1. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata,
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
"Wajib atas kalian semua untuk jujur,
karena jujur akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke
surga. Seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran sehingga dia
ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta,
karena dusta akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menyeret ke
neraka. Seorang hamba senantiasa berdusta, dan dia memilih kedustaan, sehingga
ditulis di sisi Allah sebagi pendusta." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
(11)
Al Munawi rahimahullah tatkala menjelaskan hadits di atas mengatakan:
(Wajib atas kalian jujur), yaitu ucapan yang benar (haq), dan kadang
pula mencakup pada perbuatan anggota badan, misalnya jika seseorang yang jujur
dalam berperang, maka tentu dia akan menunaikan hak-haknya.
(Sesungguhnya kejujuran akan membimbing kepada kabaikan), yaitu kepada
amal shalih yang murni, sedang al-birr maknanya adalah sebuah sebutan untuk
sesuatu yang mencakup segala macam kebaikan.
(Kebaikan akan membimbing ke surga), yakni akan mengantarkan masuk ke
dalam surga.
Ibnul Arabi rahimahullah berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam menjelaskan bahwa kejujuran adalah pangkal segala macam kebaikan.
Karena seseorang jika telah menjatuhkan pilihan pada kejujuran maka dia tidak
akan bermaksiat kepada Allah. Sebab -misalnya- dia ingin meminum khamer, atau
berzina, atau menyakiti orang maka dia akan takut dicap sebagai peminum atau
pezina. Sebab jika dia ditanya tentang perbuatan itu, maka kalau diam berarti
dia dalam keraguan, jika menjawab tidak maka dia berdusta, dan kalau dia jujur
menjawab ya, maka jatuhlah kehormatan dan harga dirinya. Dan akhirnya dia pun
me-milih untuk menjauhi perbuatan itu.
(Seseorang senantiasa jujur), maksudnya jujur dalam ucapannya.
(Memilih kejujuran), yakni berusaha maksimal dalam melaksanakan
kejujuran itu.
(Sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang jujur), yakni dia dihukumi
dengan kejujuran itu dan berhak menyandang predikat sebagai orang yang jujur.
(Jauhilah dusta), yaitu berhati-hatilah darinya.
(Karena dusta akan mengantarkan kepada keburukan), yakni dia akan
mengajak untuk condong dari jalan yang lurus serta akan membangkit-kan
kemaksiatan.
(Dan dusta akan mengantarkan ke neraka), yakni menjadikan pelakunya
terjerumus di dalamnya.
(Seseorang selalu berusta dan memilih dusta sehingga ditulis di sisi Allah I
sebagai pendusta), yakni dia dihukumi sebagai orang pendusta, dan berhak
mendapatkan julukan tersebut berikut berbagai konsekuensinya. (12)
Diriwayatkan dari Ubadah Ibnu ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
"Berilah aku jaminan dengan enam perkara, maka aku akan menjamin untuk
kalian dengan surga. (Yaitu) jujurlah kamu jika berbicara, tepatilah jika kamu
berjanji, tunaikanlah amanat jika engkau diberi kepercayaan, jagalah kemaluan
kalian, tundukkan pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian (jangan
mengganggu atau menyakiti)." (HR. Ahmad) (13)
Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
"Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di dalam surga bagi orang
yang meninggalkan dusta, meskipun hanya senda gurau. " (HR.
al-Baihaqi) (14)
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallambeliau bersabda,
"Seorang mukmin dikenali dengan sikap rendah hatinya, kelembutan
ucapannya dan kejujuran ucapannya." (15)
Renungan Ke Empat, Bersama Para Salaf
Terdapat banyak ungkapan tentang kejujuran dan hakikatnya yang disampaikan oleh
para salaf, di antaranya sebagai berikut:
1. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kalian wajib untuk jujur,
meskipun membawamu kepada kematian."
2. Dan perkataan beliau yang lainnya, "Kejujuran yang membuatku menjadi
terhina lebih aku sukai daripada kedustaan yang mengangkat kedudukanku."
3. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Jika engkau ingin
menjadi orang-orang yang benar (jujur) maka wajib atasmu sikap zuhud dalam
urusan dunia dan menahan diri dari menyakiti ahlul millah (sesama
muslim)."
4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, "Seandainya
kejujuran diletakkan pada luka, maka tentu luka itu akan sembuh."
5. Abu Sa'id al Qurasyi rahimahullah berkata, "Orang jujur adalah
orang yang siap menghadapi kematian dan dia tidak malu terhadap keburukan
dirinya seandainya tersingkap, sebagaimana firman Allah,
قُلْ
إِنْ كَانَتْ
لَكُمُ
الدَّارُ
الْآخِرَةُ
عِنْدَ
اللَّهِ
خَالِصَةً مِنْ
دُونِ
النَّاسِ
فَتَمَنَّوُا
الْمَوْتَ
إِنْ
كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
"Katakanlah,
"Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu
di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu
memang benar." (QS. Al-Baqarah:94)
6. Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata, "Jujur adalah
menepati janji terhadap Allah dengan beramal."
7. Bisyar al-Haafi rahimahullah mengatakan, "Barang siapa yang
bermuamalah dengan Allah I secara jujur maka dia akan merasa sepi dari manusia.
Dan juga dikatakan, "Jujur adalah kesesuaian antara yang tersembunyi
dengan yang terucap."
8. Dikatakan juga bahwa jujur adalah kesamaan antara yang disembunyikan dengan
yang tampak. Artinya bahwa orang yang berdusta adalah orang yang menampakkan
kebaikan tetapi batinnya menyembunyikan keburukan seperti halnya orang munafik
yang secara lahir adalah seperti orang yang baik padahal batinnya tidak
demikian.
9. Ada sebagian yang mengatatakan, "Kejujuran adalah mengucapkan kebenaran
dalam kondisi yang membahayakan."
10. Ada pula yang lain mengatakan, " Jujur adalah berkata benar di hadapan
orang yang kau takuti dan kau harapkan." (16)
11. Ada pula seseorang yang berkata, "Barang siapa yang tidak melakukan
kewajiban yang kontinyu, maka tidak akan dapat melaksanakan kewajiban yang
temporer. Ditanyakan, "Apakah kewajiban yang kontinyu itu? Lalu dijawab,
"Jujur."
12. Dikatakan pula, "Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan
jujur maka Allah akan memberikan kepadanya cermin yang dengannya dia bisa
melihat yang haq dan yang batil.
13. Juga dikatakan, "Wajib atasmu berlaku jujur meskipun engkau khawatir
bahwa jujur itu akan memberikan madharat kepadamu, padahal sesungguhnya dia
akan memberikan manfaat kepadamu. Dan tinggalkan dusta meskipun engkau melihat
bahwa dusta itu memberimu manfaat, sebab ia jutru akan mendatangkan madharat
kepadamu.
Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1426, oleh Syaikh
Sulthan Fuad Al-Thubaisyi, bagian ke 2 dari 4 edisi.