Artikel Buletin An-Nur : Kamis, 02 Februari 06
Renungan Kejujuran (1)
Berikut ini beberapa renungan seputar kejujuran,
kami memandang penting untuk disampaikan agar ia menjadi jalan hidup
orang-orang yang jujur dan perilaku orang-orang beriman. Betapa butuhnya kita
untuk merenung-kan aib diri kita, serta kekurangan kita dalam hal kejujuran
ini. Sisi kejujuran yang begitu penting telah menjadi fenomena kelemahan
manusia di masa ini, sehingga telah tersebar di kalangan mereka lawan dari
sikap jujur (dusta). Maka saya (penulis) dengan rasa senang hati menyusun tulisan
ini -atas izin Allah - agar menjadi bahan renungan untuk kita semua.
Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana
bait berikut:
Kejujuran adalah satu keharusan atasmu
Walaupun dirimu terbakar oleh panasnya janji
Carilah olehmu keridhaan al-Maula
Celakalah orang yang membuat murka Allah dan mencari ridho manusia
Renungan Pertama (Tentang Definisi)
Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu
sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata "rajulun shaduq
(sangat jujur)", yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq
(jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu,
sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan
orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan.
Di dalam al-Qur'an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa),
وَأُمُّهُ
صِدِّيقَةٌ
"Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah."
(Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. (Lisanul
Arab 10/193-194)
Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan
menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati
kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran
akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga
dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar
(orang baik), dan dengannya akan men-dapatkan keselamatan dari api neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin
(jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy
sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam
juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
يُوسُفُ
أَيُّهَا
الصِّدِّيقُ
(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia
berseru),"Yusuf, hai orang yang amat dipercaya." (QS.Yusuf:46)
Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini
(ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu
perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan
tertinggi sifat jujur adalah "ash-shiddiqiyah" Yakni tunduk
terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara
sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah subhanahu wata’ala).
Imam Ibnu Katsir berkata, "Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji,
oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan
kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran
merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka
barang siapa jujur dia akan beruntung. (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)
Renungan ke Dua (Al-Qur'an dan Kejujuran)
Al-Qur'an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada
kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa. Di antara
ayat-ayat tersebut adalah:
1.
Firman Allah subhanahu wata’ala
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا
مَعَ
الصَّادِقِينَ
artinya, "Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS.
At-Taubah:119)
Maksudnya ialah; "Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang
jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka
adalah orang-orang yang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada
lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari
tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik. (Tafsir
Ibnu Sa’di hal 355)
2. Firman Allah subhanahu wata’ala
لِيَجْزِيَ
اللَّهُ
الصَّادِقِينَ
بِصِدْقِهِمْ
artinya, "Supaya Allah memberikan balasan
kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya." (QS. al-Ahzab:24)
Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan,
keadaan dan interaksi mereka dengan Allah subhanahu wata’ala, serta
kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya.( Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)
3. Firman Allah subhanahu wata’ala
قَالَ
اللَّهُ
هَذَا يَوْمُ
يَنْفَعُ
الصَّادِقِينَ
صِدْقُهُمْ
لَهُمْ
artinya, "Allah berfirman, "Ini adalah
suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." (QS.
al-Maidah:119)
Kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari
Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari
Kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali
kejujuran.
4. Firman Allah subhanahu wata’ala
وَبَشِّرِ
الَّذِينَ
آمَنُوا
أَنَّ لَهُمْ
قَدَمَ
صِدْقٍ
عِنْدَ
رَبِّهِمْ
artinya, "Dan gembirakanlah orang-orang
beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi
Rabb mereka." (QS.Yunus:2)
Maksudnya yaitu keimanan yang benar (jujur), bahwasannya mereka kelak akan
mendapatkan "qadama shidqin" yakni balasan yang tak terhingga,
pahala yang amat banyak di sisi Rabb mereka dengan sebab apa yang dulu pernah
mereka lakukan berupa amal shalih dan kebenaran (jujur). (Tafsir Ibnu Sa’di
hal 661)
Ibnu Abbas z berkata, "Qadama shiqin" maknanya adalah rumah
kejujuran (di surga, red)," dan diriwayatkan darinya juga, "Pahala
yang baik karena perbuatan mereka dahulu (di dunia) yang baik." (Al-Jami’
Liahkamil Qur’an 8/306)
5. Firman Allah subhanahu wata’ala
وَالَّذِي
جَاءَ
بِالصِّدْقِ
وَصَدَّقَ
بِهِ أُولَئِكَ
هُمُ
الْمُتَّقُونَ
artinya, "Dan orang yang membawa kebenaran
(Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS.
Az-Zumar:33)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Kejujuran saja belum cukup
bagimu, bahkan merupakan keharusan untuk membenarkan (mempercayai) orang-orang
yang jujur. Amat banyak manusia yang jujur namun dia menolak untuk membenarkan
(mempercayai) orang lain yang jujur, entah karena sombong atau karena hasad
atau selain keduanya." (Madarij as-Salikin 1/306)
6. Allah subhanahu wata’ala menyifati Diri-Nya dengan kejujuran dan
kebenaran, sebagaimana firman-Nya
قُلْ
صَدَقَ
اللَّهُ
artinya, "Katakanlah, "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". (QS. Ali Imran:95). Dan juga firman-Nya,
وَمَنْ
أَصْدَقُ
مِنَ اللَّهِ
حَدِيثًا
"Dan siapakah yang lebih benar
perkataan(nya) daripada Allah." (QS. An-Nisa':87)
7. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang "qadama
shidqin", "lisana shidiqin", "maq'ada shidqin" dan
juga "mudkhala/mukhraja shidqin". Penjelasannya adalah
sebagai berikut,
1.
Firman Allah subhanahu wata’ala
وَبَشِّرِ
الَّذِينَ
آمَنُوا
أَنَّ لَهُمْ
قَدَمَ
صِدْقٍ
عِنْدَ
رَبِّهِمْ
artinya, "Dan gembirakanlah orang-orang
beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi
Rabb mereka". (QS.Yunus:2)
Ibnu Abbas berkata radhiyallahu ‘anhu (sebagai-mana tersebut di atas), "Makna
qadama shidqin ialah rumah kejujuran, disebabkan oleh perbuatan mereka yang
telah lalu (di dunia)."
2. Firman Allah subhanahu wata’ala
وَوَهَبْنَا
لَهُمْ مِنْ
رَحْمَتِنَا
وَجَعَلْنَا
لَهُمْ
لِسَانَ
صِدْقٍ
عَلِيًّا
artinya, "Dan Kami anugerahkan kepada
mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik
lagi tinggi (lisana shidqin)." (QS. Maryam:50)
Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas i]radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna firman
Allah "lisana shidqin" adalah pujian-pujian yang baik.
3. Firman Allah subhanahu wata’ala
إِنَّ
الْمُتَّقِينَ
فِي جَنَّاتٍ
وَنَهَرٍ، فِي
مَقْعَدِ
صِدْقٍ
عِنْدَ
مَلِيكٍ
مُقْتَدِرٍ
artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang
bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi
(maq'adi shidqin) di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa.” (QS. 54:54-55)
Makna "maq'adi shidqin" yaitu majlis (tempat duduk) yang haq
yang tidak ada kesia-siaan dan ucapan kotor di dalamnya yakni surga. (Al-Jami’liahkam
Al-Qur’an 17/150)
4. Firman Allah subhanahu wata’ala
وَقُلْ
رَبِّ
أَدْخِلْنِي
مُدْخَلَ
صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي
مُخْرَجَ
صِدْقٍ
artinya, "Dan katakanlah, "Ya Rabb-ku,
masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara
keluar yang benar." (QS. Al-Israa': 80)
Artinya adalah "Jadikan permulaan (mulai) dan pengakhiran (selesai) dari
segala sesuatu adalah dalam rangka ketaatan kepada-Mu, dan dalam
keridhaan-Mu." Ini disebabkan karena memuat keikhlasan dan kesesuaian dengan
apa yang diperintahkan. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 465)
Imam Ibnul Qayyim berkata, "Kelima macam ini (yang tersebut di atas, red)
merupakan hakikat kejujuran, yaitu kebenaran yang berkesinambungan, terhubung
dengan Allah subhanahu wata’ala dan sampai kepada-Nya, yaitu segala sesuatu
yang sesuai dengan perintah Allah dan dilakukan karena-Nya berupa ucapan dan
perbuatan.” Maka balasan dari semua itu di dunia dan di akhirat adalah (taufik
untuk) masuk (mulai) perbuatan dengan benar dan keluar (selesai) darinya dengan
benar, yaitu dari awal hingga akhirnya adalah haq, eksist, dan dengan petunjuk
Allah serta dalam rangka mencari keridhaan-Nya. (Madarij as-Salikin 2/270).
Wallahu a'lam.
Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1420, oleh Syaikh Sulthan
Fuad Al-Thubaisyi. bagian ke 1 dari 4 edisi.