Artikel Buletin An-Nur : Kamis, 04 Agustus 05
Pintu-Pintu Masuknya Syetan
Imam Ibnul Qayyim menyebutkan empat macam pintu
masuknya syetan untuk menjerumuskan manusia. Empat pintu tersebut adalah; lahazhat
(pandangan mata), khatharat (angan-angan), lafzhat (ucapan
lisan), dan khuthuwat (langkah kaki). Beliau rahimahullah telah
menjelaskan betapa bahayanya jika kita meremeh kan dan tidak waspada terhadap
empat hal ini. Selain itu, beliau juga menjelaskan bagaimana cara untuk menjaga
diri darinya agar seseorang selamat dari tipu daya dan gangguan syetan.
Di antaranya beliau mengatakan, "Karena sumber kemaksiatan itu dimulai
dari pandangan, maka Allah subhanahu wata’ala mendahulukan perintah
menundukkan pandangan daripada perintah menjaga kemaluan. Karena berbagai
kejadian buruk itu dimulai dari padangan, sebagaimana api yang besar berasal
dari percikan yang kecil. Maka dimulai dari pandangan, lalu menjadi
angan-angan, lalu langkah kaki dan terakhir melakukan dosa. Berikut ini
penjelasan ringkas tentang empat hal di atas, semoga bermanfaat.
Lahazhat (Pandangan Mata)
Yang dimaksudkan lahazhat adalah mengikuti hawa nafsu dan memberi kebebasan
kepadanya. Padahal menjaganya adalah pangkal terjaganya kemaluan. Maka siapa
yang dengan bebas melemparkan pandangan dan mengikuti hawa nafsunya, berarti
dia telah menjerumuskan dirinya dalam kehancuran.
Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam telah
mengingatkan kita, sebagaimana sabdanya,
لَا
تُتْبِعْ
النَّظَرَ
النَّظَرَ
فَإِنَّ
الْأُولَى
لَكَ
وَلَيْسَتْ
لَكَ الْأَخِيرَةُ
"Janganlah engkau ikuti padangan dengan padangan berikutnya, karena untukmu adalah padangan yang pertama, sedangkan selanjutnya bukan untukmu." (HR. Ahmad)
Beliau juga melarang duduk-duduk di pinggir jalan. Maka para shahabat bertanya, "Bagaimana jika kondisi mengharuskan untuk itu (duduk di pinggir jalan)?” Maka beliau menjawab,
فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ
"Jika engkau memang harus melakukan itu, maka
berikanlah hak jalan." Para shahabat bertanya, "Apakah hak jalan
itu?” Beliau menjawab, "Menahan pandangan, tidak mengganggu orang dan
menjawab salam." (Muttafaq 'alaih)
Pandangan adalah sumber berbagai bencana yang banyak menimpa manusia, karena
pandangan akan melahirkan angan-angan, lalu angan-angan melahirkan pemikiran,
pemikiran melahirkan syahwat, dan syahwat memunculkan keinginan, lalu keinginan
itu makin menguat hingga menjadi azam (tekad), akhirnya terjadilah
perbuatan, jika tidak ada yang menghalangi. Maka dikatakan bahwa bersabar untuk
menahan pandangan lebih ringan dibanding bersabar menahan derita setelahnya.
Pandangan seperti anak panah yang meluncur terus dan tidak akan sampai pada
sasaran sebelum orang yang memandang menyediakan tempat untuknya di dalam hati.
Kemudian setelah itu pandangan tersebut menggoreskan luka dalam hati, lalu
disusul lagi dengan luka yang lain sebagai tambahan atas luka yang sebelumnya.
Akhirnya pedihnya luka pun tak dapat terhindarkan lagi karena pandangan yang terulang
terus menerus tiada henti.
Khatharat (Angan-angan)
Angan-angan urusannya lebih sulit lagi, karena ia merupakan awal terjadinya
kebaikan atau keburukan. Dari angan-angan lahir keinginan dan kemauan serta
azam (tekad). Maka siapa yang memelihara angan-angannya berarti dia telah
memegang kendali dirinya, telah menundukkan hawa nafsunya. Dan siapa yang
dikalahkan oleh angan-angannya maka hawa nafsu akan mengendalikannya. Siapa
yang meremehkan angan-angan, maka angan-angannya akan menggiring nya menuju
kehancuran.
Angan-angan seseorang berkisar pada empat hal pokok, yaitu; Pertama,
angan-angan yang memberikan manfaat keduniaan; Ke dua, angan-angan yang
mendatangkan madharat keduniaan; Ke tiga, angan-angan yang memberikan
maslahat akhirat; Ke empat, angan-angan yang mendatang kan madharat
akhirat.
Maka hendaknya seseorang selalu melihat kepada apa yang dia angankan, dia
pikirkan, dan dia inginkan lalu menimbangnya dengan empat hal di atas. Lalu
memilih yang terbaik, mendahulukan mana yang terpenting, mengakhirkan yang
kurang penting.
Khayalan dan angan-angan kosong adalah sesuatu yang berbahaya bagi manusia,
karena ia hanya akan melahirkan rasa lemah, malas, dan akhirnya sikap
meremehkan dan tidak perhatian terhadap waktu lalu berujung pada kerugian dan
penyesalan.
Maka seorang yang berakal, angan-angannya berkisar pada hal-hal yang baik,
penting dan perlu. Dan untuk itulah syariat datang. Karena kebaikan dunia dan
akhirat tidak akan dicapai kecuali dengan mengikuti syariat itu. Pikiran dan
angan-angan yang paling mulia adalah segala yang ditujukan untuk Allah subhanahu
wata’ala dan negri akhirat, di antara contohnya adalah:
·
Memikirkan ayat-ayat Allah subhanahu
wata’ala dan berusaha memahaminya, sebab Allah subhanahu wata’ala
menurunkan al-Qur'an bukan hanya sekedar untuk dibaca.
·
Memikirkan ayat-ayat yang
dapat kita saksikan (ayat kauniyah) dan mengambil pelajaran darinya.
·
Memikirkan pemberian Allah subhanahu
wata’ala, kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya yang beraneka ragam kepada segenap
makhluk, keluasan rahmat Allah subhanahu wata’ala, kesantunan dan
ampunan-Nya.
· Memikirkan kewajiban-kewajiban kita terhadap waktu, tugas-tugas yang harus ditunaikan dan mendata berbagai rencana kerja. Seorang yang bijak menjadi anak dari waktunya. Jika waktu disia-siakan maka hilanglah kebaikan, karena kebaikan itu dengan memanfaatkan waktu, kalau waktu sudah lewat maka tak mungkin untuk diraih kembali.
Lafzhat (Ucapan Lisan)
Cara untuk memelihara ucapan adalah dengan menjaganya agar tidak berbicara yang
sia-sia, tidak berbicara kecuali yang diharapkan memberi keuntungan dan manfaat
dalam agama. Jika ingin berbicara maka hendaknya melihat, apakah ucapan itu
memberi kan keuntungan dan faidah atau tidak? Jika tidak memberi keuntungan
maka perlu ditinjau lagi.
Jika engkau ingin tahu apa yang ada dalam hati seseorang, maka perhatikanlah
gerakan mulutnya, karena mulutnya akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada di
dalam hatinya. Yahya bin Muadz berkata, "Hati itu ibarat periuk yang
sedang mendidih, sedangkan lisan ibarat gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang
ketika berbicara, karena lisannya sedang menciduk untukmu apa yang ada dalam
hatinya, manis atau pahit, tawar atau asin, dan lain sebagai nya. Dan cidukan
lisannya akan menje- laskan kepadamu rasa hati orang itu.”
Dalam sebuah hadits marfu' dari Anas disebutkan,
لَا
يَسْتَقِيمُ
إِيمَانُ
عَبْدٍ
حَتَّى يَسْتَقِيمَ
قَلْبُهُ
وَلَا
يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ
حَتَّى
يَسْتَقِيمَ
لِسَانُهُ
"Tidak lurus keimanan seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang sebelum lurus lisannya." (HR. Ahmad, dan ada penguatnya)
وَسُئِلَ
عَنْ
أَكْثَرِ مَا
يُدْخِلُ
النَّاسَ
النَّارَ
فَقَالَ
الْفَمُ
وَالْفَرْجُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam
ketika ditanya tentang sesuatu yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam
neraka, maka beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan." (HR.
at-Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih)
Khuthuwat (Langkah Kaki)
Langkah kaki, cara menjaganya adalah dengan tidak mengangkat telapak kaki,
kecuali untuk sesuatu yang diharapkan pahala dan kebaikannya. Jika sekiranya
langkah kaki tidak menambah pahala, maka duduk adalah lebih baik. Dan mungkin
juga melangkah kepada hal yang mubah (boleh), namun diniatkan untuk qurbah
(pendekatan diri) semata-mata karena Allah subhanahu wata’ala, maka
langkah kaki akan dinilai sebagai qurbah.
Dalam hal ketergelinciran langkah kaki dan lisan, maka ada ayat yang
menjelaskan bahwa antara keduanya ada saling keterkaitan, sebagaimana firman
Allah subhanahu wata’ala,
وَعِبَادُ
الرَّحْمَنِ
الَّذِينَ
يَمْشُونَ
عَلَى الْأَرْضِ
هَوْنًا
وَإِذَا
خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ
قَالُوا
سَلَامًا
“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha
Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati
dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata
(yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al furqon 25:63)
Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala menyifati ibadur Rahman di
antaranya adalah istiqamah (lurus) dalam ucapan dan langkah kaki mereka.
Sebagaimana juga Allah subhanahu wata’ala mengaitkan antara lahazhat
(pandangan) dengan khatharat (angan-angan) dalam firman-Nya,
يَعْلَمُ
خَائِنَةَ
الْأَعْيُنِ
وَمَا
تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al Mu’min 40:19).
Wallahu a’lam bish shawab. (Kholif)
Sumber: Madakhil asy-Syaithan li ighwa’ al-Insan, min kalam al-Imam Ibnu
Qayyim al-Jauziyah dengan memotong dan meringkas, Qism Ilmi Darul Wathan.