بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ
الْحَمْدَ
للهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
اتَّقُواْ
اللّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ”.
“يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُم
مِّن نَّفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيراً
وَنِسَاء وَاتَّقُواْ
اللّهَ
الَّذِي
تَسَاءلُونَ
بِهِ
وَالأَرْحَامَ
إِنَّ اللّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيباً”.
“يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلاً
سَدِيداً .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَن يُطِعْ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً
عَظِيماً”
أما
بعد
Mari
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala
dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang
diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya
dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.
كُلُّ
نَفْسٍ
ذَآئِقَةُ
الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa akan
merasakan mati.” (QS.
Ali Imraan: 185)
Saudaraku,
apa alasan Anda untuk tidak beramal padahal setiap jiwa pasti akan merasakan mati?
Apakah
karena melihat bahwa diri Anda dapat meloloskan diri dari maut?
Tidakkah
Anda mendengar firman Allah:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di
mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam
benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisaa’: 78)
Atau
apakah karena Anda merasa yakin bahwa kematian
masih jauh???
Tidakkah
Anda menyaksikan bahwa maut datang tanpa melihat orang yang dijemput; masih
muda atau sudah tua, anak kecil atau orang dewasa, orang yang sakit atau yang
sehat!
Apakah
termasuk hal yang mustahil jika ternyata besoknya atau lusanya atau pekan depan
atau bulan depan maut datang menjemput Anda?
Tentu
tidak mustahil. Dan bukankah Allah Ta’ala
berfirman:
اْلأَرْحَامِ وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Tidak
ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana
dia akan mati.” (QS.
Luqman: 34)
Jika
demikian, apa alasan Anda untuk tidak beramal?
Inginkan
Anda -ketika maut datang menjemput- disambut oleh malaikat dengan kata-kata:
يَاأَيَّتُهَا
النَّفْسُ
الْمُطْمَئِنَّةُ
{27} ارْجِعِي
إِلىَ
رَبِّكِ
رَاضِيَةً
مَرْضِيَةً {28}
“Hai jiwa yang
tenang–Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al Fajr: 27-28)
Atau
Anda lebih memilih disambut oleh malaikat dengan kata-kata:
“Wahai
jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”
Itu
terserah Anda,
قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Sesungguhnya
telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (QS. Al Baqarah: 256)
Jika
Anda memilih pilihan yang kedua, maka penyesalan yang harus Anda terima:
حَتَّى
إِذَا جَآءَ
أَحَدَهُمُ
الْمَوْتَ قَالَ
رَبِّ
ارْجِعُونِ ●
لَعَلِّي
أَعْمَلُ
صَالِحًا
فِيمَا تَرَكْتُ
“Hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia)– Agar aku berbuat amal saleh yang telah aku
tinggalkan.”
(QS. Al Mu’minuun: 99-100)
Namun,
وَلَن
يُؤَخِّرَ
اللهُ
نَفْسًا
إِذَا جَآءَ
أَجَلُهَا
وَاللهُ
خَبِيرٌ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
“Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan
Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munaafiquun: 11)
Jika
Anda tidak ingin memilih yang kedua, dan lebih memilih pilihan pertama, maka
persiapkan amalan sebelum maut datang menjemput.
Amalan
yang perlu Anda siapkan sebelum maut datang menjemput
Saudaraku,
betapa pun besar dosa yang Anda lakukan, Allah tetap membuka pintu taubat
selama nyawa masih di kandung badan dan matahari belum terbit dari barat. Allah
berfirman,
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah,
“Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
(QS. Az Zumar: 53)
Jangan
nodai tauhid Anda dengan kesyirikan. Jangan sekali-kali Anda beribadah kepada
selain Allah, seperti berdoa dan memohon kepada selain Allah, berkurban kepada
selain Allah (seperti menyembelih binatang sebagai tumbal atau membuat sesaji).
Demikian juga janganlah beribadah agar dipuji manusia (riya), mengerjakan
ibadah agar mendapatkan dunia, memakai jimat, penangkal maupun susuk.
Jangan
pula percaya dengan ramalan bintang, dukun, paranormal, peramal, dan
orang-orang yang mengaku mengetahui yang ghaib. Termasuk syirk pula adalah
bersumpah dengan nama selain Allah (baik dengan nama nabi maupun nama lainnya).
Jangan Anda ber-tabarruk
(ngalap berkah) dengan barang-barang tertentu seperti mencari keberkahan dari
pohon, batu, dan benda-benda yang dikeramatkan. Jangan pula mempelajari sihir,
apalagi mempraktikkannya. Jangan pula percaya dengan hari-hari sial, bulan
sial, dsb. Semua ini
adalah syirk.
Saudaraku,
jika Anda menjaga diri Anda dari syirk, maka Allah akan memasukkan Anda ke
surga. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ
“Barangsiapa yang menghadap Allah dalam
keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu (menjaga tauhid), maka ia akan
masuk surga, dan barangsiapa yang menghadap-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya
dengan sesuatu (berbuat syirk), maka ia akan masuk neraka.”
(HR. Muslim: 270)
Jagalah
shalat yang lima waktu dan kerjakanlah dengan berjamaah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
صَلَاةُ
أَحَدِكُمْ
فِي
جَمَاعَةٍ
تَزِيدُ
عَلَى
صَلَاتِهِ
فِي سُوقِهِ
وَبَيْتِهِ بِضْعًا
وَعِشْرِينَ
دَرَجَةً
وَذَلِكَ بِأَنَّهُ
إِذَا
تَوَضَّأَ
فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ
ثُمَّ أَتَى
الْمَسْجِدَ
لَا يُرِيدُ
إِلَّا
الصَّلَاةَ
لَا
يَنْهَزُهُ
إِلَّا
الصَّلَاةُ
لَمْ يَخْطُ
خَطْوَةً
إِلَّا
رُفِعَ بِهَا
دَرَجَةً
أَوْ حُطَّتْ
عَنْهُ بِهَا
خَطِيئَةٌ…
“Shalat
salah seorang di antara kamu dengan berjamaah melebihi shalat (sendiri) di
pasar maupun di rumahnya dengan 20 derajat lebih (yakni 27 derajat). Hal itu
karena apabila di antara kamu berwudhu, lalu memperbagus wudhunya, kemudian
mendatangi masjid untuk shalat, hanya untuk shalat saja ia datang, tidaklah ia
melangkah satu langkah kecuali akan ditinggikan satu derajat atau digugurkan
satu dosa…dst.” (HR. Bukhari)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَا
مِنْ صَاحِبِ
ذَهَبٍ وَلَا
فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّيْ
مِنْهَا
حَقَّهَا
إِلاَّ إِذَا
كاَنَ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ
صُفِّحَتْ
لَهُ
صَفَائِحُ مِنْ
نَارٍ
فَأُحْمِيَ
عَلَيْهَا
فِيْ نَارِ
جَهَنَّمَ
فَيُكْوَى
بِهَا
جَنْبُهُ وَجَبِيْنُهُ
وَظَهْرُهُ
كُلَّمَا
بَرَدَتْ أُعِيْدَتْ
لَهُ فِي
يَوْمٍ كَانَ
مِقْدَارُهُ
خَمْسِيْنَ أَلْفَ
سَنَةٍ
حَتَّى
يُقْضَى
بَيْنَ اْلعِبَادِ
“Tidaklah
pemilik emas maupun perak yang enggan membayar zakatnya kecuali pada hari
kiamat akan dibuatkan untuknya lempengan-lempengan dari api, lalu dipanaskan
kemudian dibakar dahi, lambung dan punggungnya dengannya. Setiap kali menjadi
dingin, maka diulangi lagi dalam sehari yang lamanya 50.000 tahun sampai
diputuskan masalah di kalangan manusia.” (HR. Muslim)
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُهُ
العَظِيْمَ
الجَلِيْلَ
لِيْ
وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
لحَمْدُ
لِلّهِ
الوَاحِدِ
القَهَّارِ،
الرَحِيْمِ
الغَفَّارِ،
أَحْمَدُهُ
تَعَالَى
عَلَى
فَضْلِهِ
المِدْرَارِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
الغِزَارِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا
إِلَهَ
إِلَّا الله
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
العَزِيْزُ
الجَبَّارُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى
المُخْتَار،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ الطَيِّبِيْنَ
الأَطْهَار،
وَإِخْوَنِهِ
الأَبْرَارِ،
وَأَصْحَابُهُ
الأَخْيَارِ،
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
مَا
تُعَاقِبُ
اللَيْلَ
وَالنَّهَار
Rasulullah
shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
صَامَ
رَمَضَانَ
إِيمَاناً
وَاحْتِسَاباً
غُفِرَ لَهُ
مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
فِيهِ
ءَايَاتٌ
بَيِّنَاتٌ
مَّقَامُ
إِبْرَاهِيمَ
وَمَن
دَخَلَهُ كَانَ
ءَامِنًا
وَللهِ عَلَى
النَّاسِ
حِجُّ الْبَيْتِ
مَنِ
اسْتَطَاعَ
إِلَيْهِ
سَبِيلاً
وَمَن كَفَرَ
فَإِنَّ
اللهَ
غَنِيٌّ عَنِ
الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan haji adalah
kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan
perjalanan ke Baitullah, barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta
alam.” (QS.
Ali Imraan: 97)
Jabir
bin Abdullah radhiallahu
‘anhu meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam:
أَرَأَيْتَ
إِذَا
صَلَّيْتُ
الْمَكْتُوْبَاتِ,
وَصُمْتُ
رَمَضَانَ
وَأَحْلَلْتُ
الْحَلاَلَ ,
وَحَرَّمْتُ
الْحَرَامَ
وَلَمْ
أَزِدْ عَلَى
ذَلِكَ
شَيْاً
أَأَدْخُلُ
الْجَنَّةَ ؟
قَالَ –
نَعَمْ
“Bagaimana
pendapatmu, jika aku mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan,
menghalalkan yang halal dan menjauhi yang haram dan tidak menambah lebih dari
itu (yakni tanpa mengerjakan amalan yang sunat), apakah aku bisa masuk
surga?” Beliau menjawab: “Ya.” (HR. Muslim)
Tidak
disebutkan dalam hadis di atas kewajiban zakat dan hajji serta ajaran Islam
lainnya, karena sudah termasuk ke dalam kata-kata “menjauhi yang haram”.
Saudaraku,
kerjakanlah perintah-perintah yang wajib dahulu, kemudian tambahkan dengan
perintah yang sunat untuk memperbanyak pahala (seperti mengerjakan shalat sunat
dan puasa sunat).
Saudaraku,
amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dikerjakan meskipun
sedikit. Misalnya mengerjakan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu berikut:
أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ
“Kekasihku (Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam) berpesan kepadaku agar berpuasa tiga hari dalam setiap
bulan, mengerjakan dua rak’at Dhuha dan berwitir sebelum tidur.”
(HR. Muslim)
Dan
hindarilah larangan, dari mulai dosa-dosa besar kemudian dosa-dosa kecil.
Ketahuilah bahwa dosa-dosa besar adalah penyebab utama seseorang binasa di
akhirat, sedangkan dosa-dosa kecil bila sering dilakukan akan mengarah kepada
dosa-dosa besar dan banyaknya dosa-dosa kecil yang dilakukan tanpa diiringi
dengan istighfar dan taubat akan menjadikan hati tertutup. Di antara dosa besar
adalah seperti yang disebutkan dalam hadis berikut:
اجْتَنِبُوا
السَّبْعَ
الْمُوبِقَاتِ
قَالُوا يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
وَمَا هُنَّ
قَالَ
الشِّرْكُ
بِاللَّهِ
وَالسِّحْرُ
وَقَتْلُ
النَّفْسِ
الَّتِي
حَرَّمَ
اللَّهُ
إِلَّا
بِالْحَقِّ
وَأَكْلُ الرِّبَا
وَأَكْلُ
مَالِ
الْيَتِيمِ
وَالتَّوَلِّي
يَوْمَ
الزَّحْفِ
وَقَذْفُ
الْمُحْصَنَاتِ
الْمُؤْمِنَاتِ
الْغَافِلَاتِ
“Jauhilah oleh kalian tujuh
dosa yang membinasakan”,
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa sajakah itu?” Beliau
menjawab, “Syirk kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang
diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba,
memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh berzina wanita
mukminah yang baik-baik yang tidak tahu-menahu.” (HR. Bukhari)
Abu
Hurairah radhiallahu
‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sebab yang paling
banyak memasukkan ke surga, Beliau menjawab:
تَقْوَى
اللَّهِ
وَحُسْنُ
الْخُلُق
“Yaitu
takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi dan
dihasankan oleh Syaikh Al Bani)
Ulama
menjelaskan tentang ciri orang berakhlak mulia, yaitu:
Sangat
pemalu, sedikit sekali mengganggu, banyak kebaikannya, jujur lisannya, sedikit
bicara, banyak bekerja, sedikit tergelincir, tidak berlebihan terhadap sesuatu
(selain yang bernilai ibadah), berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali
silaturrahim, sabar, suka berterima kasih, rela, santun (tidak lekas marah),
suka menepati janji, tidak suka melaknat, memaki dan mengadu domba, tidak
tergesa-gesa, tidak pendendam, tidak bakhil (kikir), tidak hasad (dengki),
wajahnya berseri-seri dan senang, cinta karena Allah dan benci pun karena
Allah.
Rasulullah
shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, maka berkata-katalah yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hindarilah
banyak bicara, karena banyak bicara adalah kunci pembuka pintu dusta, ghibah
(menggunjing), dan namimah (mengadu domba) serta pintu-pintu maksiat lisan
lainnya. Pergunakanlah lisan untuk kebaikan, di antaranya adalah dengan menggunakannya
untuk membaca Alquran , berdzikr, beramr ma’ruf (menyuruh mengerjakan
perintah Allah) dan bernahy munkar (melarang orang mengerjakan maksiat),
bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, memberi nasehat, berdoa kepada Allah dsb.
Rasulullah
shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita menjaga shalat
yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan menaati
suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu
mana saja yang kamu suka.” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani)
Demikianlah
di antara amalan yang perlu kita siapkan, semoga Allah membantu kita semua
untuk dapat mengerjakannya serta dapat tetap istiqamah hingga akhir hayat. Aamin yaa Rabbal ‘aalamiin.
إِنَّ
اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَآأَيُّهَا
الَّذِينَ
ءَامَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اللهم
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللهم
بَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ،
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم
اغْـفِـرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْـفِـرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
اللهم إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْهُدَى
وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ
وَالْغِنَى.
اللهم إِنَّا
نَعُوْذُ
بِكَ مِنْ
زَوَالِ نِعْمَتِكَ
وَتَحَوُّلِ
عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ
وَجَمِيْعِ
سَخَطِكَ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلى الله
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Marwan
bin Musa
Maraji’: Az Zaa’irul Akhir (Khalid A.
Shaliih), Akhthaa’ fil ‘Aqidah (Syaikh Ibnu Baz), Syarh Al
Arba’in (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin) dll.