Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ)) ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً)) ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً))
أَمَّا
بَعْدُ :
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Ma’asyiral
mukminin,
Rab
kita, Allah Jalla wa
‘Ala berfirman,
هَلْ
أُنَبِّئُكُمْ
عَلَى مَن
تَنَزَّلُ
الشَّيَاطِينُ*تَنَزَّلُ
عَلَى كُلِّ
أَفَّاكٍ
أَثِيمٍ
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa
setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak
dosa.” (QS. Asy-Syu’ara: 221-222).
Setan
telah membentuk pasukannya di muka bumi ini dari kalangan penyihir dan dukun.
Mereka adalah orang-orang yang memainkan peranan kekufuran. Setan telah
“menjelma” dalam diri mereka. Berbicara dengan lisan mereka. Oleh
karena itu, kita lihat setan sangat cenderung pada jiwa-jiwa seseorang yang
mempelajari ilmu perdukunan atau sihir ini. Karena mereka telah berbaur dengan
kejelekan dan ridha dengannya. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman,
وَإِنَّ
الشَّيَاطِينَ
لَيُوحُونَ
إِلَىٰ
أَوْلِيَائِهِمْ
لِيُجَادِلُوكُمْ
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya
agar mereka membantah kamu.” (QS. Al-An’am: 121).
Dan
sungguh mereka telah merelakan diri mereka terjerembab di jalan kesesatan. Para
dukun dan tukang sihir itu ridha kalau jiwa mereka telah terkotori dengan dosa
dan kesyirikan. Mereka telah berkubang dengan perbuatan najis. Dan
mempraktikkannya di tempat-tempat yang kotor pula. Mereka benci mendengar
Alquran dan lari dari tempat-tempat yang dibacakan Alquran. Mereka menyembelih
hewan dengan menyebut nama selain Allah ‘Azza
wa Jalla. Mereka tidak bersuci apalagi berwudhu. Mereka disifati
dengan pandir dan sesat, dusta dan penipu. Setiap praktik sihir yang mereka
lakukan pasti sebelumnya mereka mempersembahkan sesuatu bentuk ibadah kepada
setan. Mereka cemari diri mereka dengan sesuatu yang kotor dan merusak. Mereka
hinakan pribadi mereka dengan kejelekan dan musibah. Semakin hari, semakin
bertambahlah kecintaan mereka terhadap kejelekan. Akhirnya mereka pun kian jauh
dari Allah. Allah Ta’ala
berfirman,
سَمَّاعُونَ
لِلْكَذِبِ
أَكَّالُونَ
لِلسُّحْتِ
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita
bohong.” (QS. Al-Maidah: 42).
Bagi
mereka kehinaan dan kerendahan.
Di
dalam syariat kita, terdapat ayat dan hadits yang menjelaskan tentang ancaman
keras terhadap perdukunan. Di dalam syariat, dukun dikenal dengan dua jenis.
Ada yang namanya ‘arraf,
yaitu mereka yang mengaku mengetahui sesutu yang gaib yang telah terjadi, namun
tidak diketahui orang. Misalnya ketika ditanyakan kepada mereka siapa yang
mencuri barang ini, maka mereka akan menjawab fulan yang mencurinya. Dan ada
pula yang namanya kahin
yaitu mereka yang mengaku mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok.
Kahin
adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang jahat. Mereka mengabdikan diri,
bertanya, dan meminta pendapat para jin. Ketika menghadapi suatu persoalan,
maka mereka meminta petuah para jin. Dan jin pun memberikan masukan kepada para
kahin ini.
Sebelum
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam diutus, sangat banyak terdapat dukun. Di
antara mereka ada yang mengaku bahwa mereka adalah pengikut jin dan jin itu
memberi kabar kepada mereka. Di antara mereka ada yang mengaku mengetahui
perkara-perkara yang telah terjadi di masa yang lalu, dan juga tahu
penyebab-penyebab terjadinya. Mereka inilah yang disebut ‘arraf. Mereka mengaku
mengetahui pencurian, tempat-tempat rahasia, dll.
Setelah
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul, kesaktian para
‘arraf ini
berkurang. Berita-berita dari jin yang mereka dapatkan tidak lagi sehebat
sebelumnya. Karena Allah Tabaraka
wa Ta’ala menjaga langit dengan bintang-bintang pelontar.
Dahulu jin mendengar kabar dari langit kemudian mengabarkannya kepada para
dukun. Kemudian jin-jin itu dilempari dengan bintang-bintang pelontar itu
sehingga sedikit kabar yang sampai kepada para dukun.
Di
zaman sekarang, para dukun dan tukang sihir ini sering berpenampilan seorang
yang agamis. Mereka disebut wali, kiyai, atau ustadz. Banyak orang-orang yang
tertipu dengan penampilan mereka ini. Orang-orang awam menyangkanya seorang
wali Allah, padahal mereka sejatinya adalah wali setan. Sebagaimana firman
Allah ‘Azza wa Jalla,
وَيَوْمَ يِحْشُرُهُمْ جَمِيعاً يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الإِنسِ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ الإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ
“Dan
(ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah
berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan
manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat
kesenangan dari sebahagian (yang lain).” (QS. Al-An’am: 121).
Dalam
sebuah hadits, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengancam para dukun. Beliau menjelaskan
ganjaran bagi mereka. Karena mereka telah lancang menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal gaib yang hanya Allah Jalla wa ‘Ala saja
yang mengetahuinya. Hukuman bagi mereka yang bertanya adalah tidak dihitung
pahala shalatnya selama 40 hari. Sementara para dukun dan penyihir ini, hukuman
mati untuk mereka. Oleh karena itu, para dukun dan tukang sihir ini harus
menjadi musuh bersama. Tidak boleh mendatangi mereka.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ
أَتَى
كَاهِناً
أَوْ عَرَّافاً
فَصَدَّقَهُ
بِمَا
يَقُولُ
فَقَدْ كَفَرَ
بِمَا
أُنْزِلَ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi kahin atau ‘arraf dan
membenarkan apa yang yang ia katakan maka sungguh telah kafir terhadap apa yang
diturunkan kepada Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad).
Di
dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjelaskan sebuah ancaman yang berat bagi
mereka yang mendatangi para dukun, bertanya kepada mereka tentang hal-hal gaib,
kemudian membenarkannya merupakan sebuah bentuk kekufuran terhadap wahyu yang
diturunkan kepada beliau. Karena wahyu telah menjelaskan bahwasanya hanya Allah
saja yang mengetahui perkara-perkara gaib.
Wajib
bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk mencegah peraktik sihir dan
perdukunan ini untuk melakukan segala daya dan upaya agar perbuatan ini
dihentikan, terutama bagi mereka yang duduk di pemerintahan.
Dari
Imran bin Hushain radhiallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ
تَطَيَّرَ
أَوْ تُطُيِّرَ
لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ
أَوْ
تُكُهِّنَ
لَهُ أَوْ
سَحَرَ أَوْ
سُحِرَ لَهُ
وَمَنْ أَتَى
كَاهِنًا
فَصَدَّقَهُ
بِمَا
يَقُوْلُ
فَقَدْ
كَفَرَ بِمَا
أُنْزِلَ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
صلى الله عليه
و سلم
“Bukan dari golongan kami, orang yang percaya kepada nasib
sial dan yang minta diramal tentang nasib sialnya atau yang melakukan praktik
dukun dan yang didukuni atau yang menyihir atau yang meminta bantuan sihir, dan
barang siapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka
sesungguhnya ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Al Bazzar).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan sebuah ancaman yang keras bagi mereka yang
berpaling dari syariat Allah ‘Azza
wa Jalla. Seperti berkeyakinan sial atau hoki dan mendatangi dukun
serta membenarkan ucapannya. Atau siapa saja yang mengaku mengetahui yang gaib,
baik dinamakan wali, kiyai, ustadz. Tidak ada yang mengetahui hal gaib kecuali
Allah
Ada
pula di antara orang-orang yang menulis hurfuf-huruf dan angka-angka untuk
meramalkan sesuatu.
Menulis
huruf atau angka hukumnya dibagi menjadi dua:
Pertama:
diperbolehkan. Jika hal itu dipelajari untuk menghitung.
Kedua:
diharamkan. Apabila mempelajari angka-angka tersebut hanya bertujuan untuk
mempelajari dan mengaku mendapat ilmu gaib. Menghitung-hitung pergerakan
bintang kemudian menentukan nasib dan kejadian yang akan terjadi di bumi. Yang
demikian masuk ke dalam hukum mempelajari ilmu perdukunan.
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
هُدَاكَ وَأَصْلِحْ
لَنَا
شَأْنَنَا
كُلَّهُ،
وَوَفِّقْنَا
لِكُلِّ
خَيْرٍ يَا
ذَا
الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
أَقُوْلْ
هَذَا
الْقَوْلَ
وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Ma’asyiral
muslimin,
Kita
lihat para tokoh-tokoh sihir, pengaruh sihir mereka akan berdampak pada
orang-orang yang lemah hatinya. Atau yang jiwanya cenderung kepada syahwat.
Karena itulah, umumnya orang-orang yang terkena pengaruh sihir adalah mereka
yang lemah agama dan tawakalnya kepada Allah ‘Azza
wa Jalla. Mereka yang tidak ambil bagian dalam perkara-perkara
ilahi. Atau mereka yang jauh dari tuntunan dzikir-dzikir nabawi.
Dan
sihir itu tidak akan berpengaruh kepada seseorang kecuali atas izin dan
kehendak dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَا
هُم
بِضَآرِّينَ
بِهِ مِنْ
أَحَدٍ إِلاَّ
بِإِذْنِ
اللّهِ
“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan
sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah:
102).
Mereka
para tukang sihir dan dukun menyembah sesuatu yang lemah, yang tidak bisa
membuka pintu yang tertutup dan tidak pula mampu membuka bejana yang tertutup.
Mereka menyembah sesuatu yang lari terbirit-birit tatkala mendengar adzan dan
dzikrullah ‘Azza wa
Jalla.
Tukang
sihir dan dukun itu telah menghinakan diri mereka kepada setan. Mereka telah
merusak diri mereka. Menggelapkan hati mereka. Dan menghancurkan pondasi akhlak
yang mereka miliki. Mereka lakukan itu semua dengan bersungguh-sungguh melewati
rintangan kesulitan. Padahal apa yang mereka usahakan itu adalah jalannya
setan, merendahkan diri padanya, dan mencari ridha setan tersbut. Di sisi Allah
kelak mereka akan mendapatkan kerugian dan penyesalan. Yang mereka temui
hanyalah musibah dan bencana. Allah ‘Azza
wa Jallan telah menafikan mereka dari kemenangan dengan firman-Nya,
وَلَا
يُفْلِحُ
السَّاحِرُ
حَيْثُ أَتَى
“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia
datang.” (QS. Thaha: 69).
Mereka
tidak akan menang dan berhasil dari sisi manapun mereka datang.
Kemampuan
tukang sihir itu sangat terbatas. Mereka tidak bisa memberhentikan matahari,
menjatuhkan bintang, tidak juga mampu mengeluarkan apa yang ada di muka bumi.
Wajib bagi seorang muslim untuk terus memperkokoh keimanan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dari segala syubhat dan hal-hal yang membuatnya ragu. Melepaskan diri mereka
dari segala khurofat. Menyingkirkan awan kelam yang meragukan.
Jangan
sampai seorang hamba tertipu oleh setan. Jangan sampai setan berhasil
menghembuskan keraguan kepada mereka. Apalagi sampai gandrung dengan penyakit
sihir ini. Seseorang dalam kehidupan ini akan berhadapan dengan berbagai
penyakit yang menimbulkan keraguan pada imannya. Mereka bisa saja terperosok ke
dalamnya karena dosa-dosa yang mereka lakukan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
وَمَا
أَصَابَكُم
مِّن
مُّصِيبَةٍ
فَبِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِيكُمْ
وَيَعْفُو
عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar
(dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS: Asy-Syura: 30).
Wajib
bagi seseorang untuk mengumpulkan tekad yang kuat sehingga ia bisa bertaubat
dan kembali beramal shaleh. Menjadikan penguasa timur dan barat, Allah Ta’ala, sebagai
tempat berserah diri. Bermunajat kepada-Nya di akhir malam dan diujung siang.
Kemudian meneladani Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Meniti jejak
para hamba yang shaleh dalam bertawakal kepada Allah, kembali kepada-Nya, dan
memohon kebutuhan dari-Nya. Tidak lupa kita menempuh usaha-usaha yang
dibenarkan dalam setiap hal yang kita inginkan. Inilah jalan kesuksesan dunia
dan akhirat.
Kita
memohon kepada Allah ‘Azza
wa Jalla keselamatan dan penjagaan dari-Nya.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
– رَحمَاكُمُ
اللهُ – عَلَى
مُحَمَّدِ
ابْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وقال صلى الله
عليه وسلم :
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
وَاحِدَةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَ الإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّق
جَمِيْعَ
وُلَاةِ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِكُلِّ
قَوْلٍ
سَدِيْدٍ
وَعَمَلٍ
رَشِيْدٍ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا،
وَأَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّورِ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتَ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ .(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Oleh
timm KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com