Khutbah
Pertama :
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَ يَرَاهُ .
ثُمَّ أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
Ibdallah,
Kaum
muslimin diliputi oleh ujian-ujian yang berat, dikepung oleh berbagai macam
fitnah, tidak ada yang bisa melindungi dari itu semua kecuali berlindung kepada
Allah disertai dengan taubat yang tulus dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah berfirman
وَمَنْ
يَتَّقِ
اللَّهَ
يَجْعَلْ
لَهُ مَخْرَجًا
(٢)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Tholaaq: 2).
Maka
dengan mewujudkan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka Allah akan menghilangkan bencana dan petaka dari kaum muslimin, Allah akan
menghindarkan kerusakan dan fitnah-fitnah dari mereka. Karenanya telah shahih
dalam Shahih Muslim
sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam
الْعِبَادَةُ
فِي
الْهَرْجِ
كَالْهِجْرَةِ
إِلَيَّ
“Ibadah di masa fitnah seperti berhijrah kepadaku.”
Saudara-saudaraku,
dalam kondisi seperti ini, semakin ditekankan keharusan untuk berpegang teguh
kepada pokok Islam yang agung, yaitu kewajiban untuk berkumpul dalam kebenaran,
saling bekerja sama dalam kebaikan, dan bersatu dalam segala hal yang
bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ
اللَّهِ
جَمِيعًا
وَلا
تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imron : 103).
Sungguh
di setiap masyarakat muslim kita sangat butuh agara menjadi cerminan terhadap
bentuk yang diinginkan oleh Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ
فِيْ
تَوَادِّهِمْ
وَتَرَاحُمِهِمْ
وَتَعَاطُفِهِمْ
مَثَلُ
الْجَسَدِ
إِذَا
اثْتَكَى
مِنْهُ عُضْوٌ
تَدَاعَى
لَهُ سَائِرُ
الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ
وَالْحُمى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai,
saling menyayangi, saling lembut di antara mereka, seperti tubuh yang satu,
jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad akan ikut merasakan
sakit sehingga begadang dan demam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Juga
sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah
وَالْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ
بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ
بَعْضٍ
يَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,
sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka
menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.” (QS
At-Taubah: 71).
Dan
sesungguhnya termasuk dari bentuk penentangan terhadap maqoshid (tujuan) dan
pengarahan Islami adalah terpecah belahnya kaum muslimin dan berselisihnya
hati-hati mereka, serta saling menjauh arah mereka dengan perkara-perkara yang
memalingkan mereka dari manhaj
yang terang yang telah diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya:
وَأَنَّ
هَذَا
صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ
وَلا
تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang
lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.” (QS.
Al-An’aam : 153).
Maka
perpecahan adalah adzab/penderitaan dan kehancuran, perselisihan adalah
kehinaan dan ketercelaan, serta pertikaian adalah kelemahan dan kerugian. Allah
berfirman,
وَأَطِيعُوا
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
وَلا تَنَازَعُوا
فَتَفْشَلُوا
وَتَذْهَبَ
رِيحُكُمْ
وَاصْبِرُوا
إِنَّ
اللَّهَ مَعَ
الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu
dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.
Al-Anfaal: 46).
Maka
tidak ada keselamatan bersama perpecahan, tidak ada keselamatan bersama
tercerai berainya persatuan, serta tidak ada kejayaan dan ketinggian bersama hilangnya
kasih sayang dan persaudaraan keimanan.
إِنَّ
الَّذِينَ
فَرَّقُوا
دِينَهُمْ
وَكَانُوا
شِيَعًا
لَسْتَ
مِنْهُمْ فِي
شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan
mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada
mereka.” (QS. Al-An’aam: 159).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ
وَإِيَّاكُمْ
وَالْفُرْقَةَ
فَإِنَّ
الشَّيْطَانَ
مَعَ
الْوَاحِدِ
وَهُوَ مِنَ
الاِثْنَيْنِ
أَبْعَدُ
وَمَنْ
أَرَادَ
بِحَبْحَةِ
الْجَنَّةِ
فَعَلَيْهِ
بِالْجَماعَةِ
“Hendaknya kalian melazimi jamaah (persatuan), dan
berhati-hatilah dari perpecahan, sesungguhnya setan bersama seorang yang
sendiri, dan setan lebih jauh dari dua orang. Barang siapa yang ingin pemberian
surga maka hendaknya ia melazimi jamaah.” (Dishahihkan oleh Al-Hakim dan
disetujui oleh Adz-Dzahabi)
Wahai
para pemuda umat ini…
Kalian
adalah tonggak umat ini dan generasi masa depan umat ini, karenanya kalian
menjadi pusat perhatian untuk dijadikan target, maka berhati-hatilah terhadap seluruh
jalan yang mengantarkan kepada perpecahan barisan, terkoyaknya persatuan, dan
hancurnya bangunan. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnah dan
jamaah, jauhilah sikap menyendiri dan perpecahan. As-Syathibi rahimahullah berkata,
إِذَا
ابْتَدَعُوْا
تَجَادَلُوْا
وَتَخَاصَمُوْا
وَتَفَرَقُوْا
وَكَانُوْا
شِيَعًا
“Jika mereka berbuat bid’ah, maka mereka akan
berdebat dan bermusuhan serta berpecah, maka merekapun
berkelompok-kelompok.”
Syaikhul
Islam berkata,
“Semua yang keluar dari seruan Islam dan Alquran baik
berupa nasab atau negeri atau suku atau madzhab atau toriqoh maka merupakan
seruan jahiliyah.”
Ketahuilah
bahwasanya di antara sebab-sebab kesesatan dan faktor tergelincir dalam
kesesatan adalah terjerumus dalam sikap terburu-buru dalam perkara yang sangat
berbahaya, bencana yang besar, yang telah tergelincir padanya banyak penulis,
dan tersesat padanya banyak orang dan karenanya pula terjatuh banyak kaum.
Bahaya tersebut adalah bermudah-mudahan dalam mengkafirkan ahlul kiblat (kaum
muslimin) dan para pengucap Laa ilaah illallah Muhammad Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
يَا
كَافِرُ،
فَقَدْ بَاءَ
بِهَا
أَحَدُهُمَا؛
إِنْ كَانَ
كَمَا قَالَ،
وَإِلَّا رَجَعَتْ
عَلَيْهِ
“Barang siapa yang berkata kepada saudaranya “Wahai
si kafir” maka perkataannya itu akan kembali kepada salah satu diantara
keduanya, jika memang saudaranya adalah kafir (maka tidak mengapa), akan
tetapi jika ternyata saudaranya tidak kafir maka akan kembali kepadanya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau
juga bersabda,
مَنْ
رَمَى
مُؤْمِنًا
بِكُفْرٍ
فَهُوَ كَقَتْلِهِ
“Barang siapa yang menuduh seorang mukmin dengan kekafiran
maka seperti telah membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari).
Sesungguhnya
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya dengan
peringatan yang keras tentang hal ini, yaitu mudah mengkafirkan tanpa ada
argument yang lebih terang daripada matahari, serta tanpa terikat dengan
kaidah-kaidah Alquran dan As-Sunnah. Karenanya para ulama berkata,
“Kesalahan dalam meninggalkan seribu orang kafir sehingga dibiarkan hidup
masih lebih ringan daripada kesalahan dalam menumpahkan darah seorang
muslim”
Wahai
para pemuda Islam…
Sesungguhnya
orang yang paling tulus kepadamu, yang paling ingin kebaikan bagimu, serta yang
paling cinta kepadamu adalah kedua orang tuamu. Mereka mendahulukan
kemaslahatanmu daripada kepentingan mereka berdua, mereka mengorbankan diri
mereka demi engkau, maka teruslah berbakti kepada mereka berdua. Berjihadlah
dalam menaati mereka, jadilah engkau orang yang lembut terhadap mereka,
ta’at terhadap arahan mereka, mengambil faedah dari nasehat mereka.
Sungguh mereka adalah orang yang paling tulus dalam menyampaikan nasehat dan
pengarahan kepadamu, maka janganlah engkau menjauh dari mereka, dan janganlah
engkau menyembunyikan perkaramu –baik yang kecil maupun besar- dari
mereka.
Dengarlah
nasehat ini yang mengantarkanmu ke surga dan mendatangkan keridoan Ar-Rahman,
dan dalil-dalil tentang hal ini terlalu banyak.
Wahai
para pemuda Islam…
Kalian
adalah tiang umat ini setelah Allah, loloskan lah diri kalian dari keinginan
musuh-musuh Islam yang menghendaki keburukan bagi umat ini serta merusak citra
agama ini. Maka bentengilah diri kalian dengan ketakwaan kepada Allah.
Gunakanlah akal dan hikmah, dan jangan terburu-buru, serta bersikap rahmat,
kasih sayang dan kelembutan. Tunjukan kepada dunia ini akan keindahan Islam,
berdakwalah kepada Allah dengan menampilkan akhlak Islami yang agung dan
tunjukkanlah besarnya kasih sayang Islam serta keindahan-keindahannya yang
tiada habisnya.
Kepada
para ulama, para dai, dan para cendekiawan…
Wajib
bagi kalian untuk mengarahkan para pemuda kepada apa yang bermanfaat bagi
mereka di dunia dan di akhirat, dan berhati-hatilah kalian dari seluruh perkara
yang bisa menyebabkan mereka (para pemuda) terjerumus kepada perkara yang buruk
kesudahannya dan tidak diketahui ujungnya dan tidak sesuai dengan bentuk
“Meraih kemaslahatan bagi umat dan menolak kerusakan dari umat”,
sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ
“Sesungguhnya
seorang hamba berkata dengan suatu perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah
yang ia tidak memperdulikan perkataan tersebut maka menyebabkan ia jatuh dalam
neraka.” (HR. Al-Bukhari).
Mengamati
pendapat-pendapat, perbuatan-perbuatan, serta tindakan-tindakan merupakan
kaidah yang besar di sisi para ulama Islam, terutama di masa-masa munculnya
fitnah dan ujian. Betapa banyak fatwa tentang perkara-perkara kontemporer
umat ini yang tidak ditelurkan dari hasil pembahasan yang matang, pengamatan
terhadap hikmah dan tidak terburu-buru, akhirnya mengakibatkan fitnah yang
membuta, menimbulkan beragam mala petaka. Maka dalam berfatwa membutuhkan
adanya ketenangan, tidak tergesa-gesa, kecerdasan, ketelitian, dan ketajaman
pandangan, terutama jika perasaan telah ikut menyala dan berkobar.
Wahai
umat Islam…
Agungkanlah
hak-hak persaudaraan Islam, jauhilah dari sikap mengganggu kaum muslimin dengan
gangguan apapun, besar maupun kecil, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah bersabda :
يَآيُّهَا
النَّاسُ
إِنَّ
دِمَاءَكُمْ
وَأَمْوَالَكُمْ
وَأَعْرَاضَكُمْ
بَيْنَكُمْ
حَرَامٌ
كَحُرْمَةِ
يَوْمِكُمْ
هَذَا فِي
شَهْرِكُمْ
هَذَا فِي
بَلَدِكُمْ
هَذَا
“Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian, harta kalian,
dan harga kalian adalah haram untuk kalian langgar, sebagaimana haramnya
(terhormatnya) hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan negeri kalian ini.”
Wahai
umat Islam…
Bertakwalah
kalian kepada Allah dalam menjaga tali persaudaraan Islam, yang di mana
pengarahan dan petunjuk Alquran dan nasehat-nasehat Nabi yang penuh rahmat
adalah untuk melarang seluruh perkara yang bisa mengotori tali persaudaraan ini,
mencegah sebab yang bisa memutuskan talinya. Hingga jadilah menjaga tali
persaudaraan (ukhuwwah islamiyah) merupakan perkara yang sangat agung di sisi
Nabi dan tujuan Nabi yang paling penting dalam kehidupan ini.
Dan
di antara kaidah sunnah adalah :
لَا
يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ
حَتَّى
يُحِبَّ لِأَخِيْهِ
مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ
“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia
menghendaki bagi saudaranya apa yang ia suka untuk dirinya.”
Kaum
muslimin sekalian…
Dengan
hidup aman maka akan terwujudkan kehidupan yang baik, ketenangan pikiran, serta
ketenteraman. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
أَصْبَحَ
مِنْكُمْ
آمِنًا فِي
سِرْبِهِ ،
مُعَافًى فِي
جَسَدِهِ ،
عِنْدَهُ
قُوتُ
يَوْمِهِ ،
فَكَأَنَّمَا
حِيزَتْ لَهُ
الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian yang di pagi hari sehat
tubuhnya, aman di rumahnya, dan di sisinya ada makanan untuk hari tersebut maka
seakan-akan telah didatangkan baginya dunia.”
Maka
wajib bagi anggota masyarakat Islam untuk bersatu dalam menolak bahaya dan
kemudhorotan dari komunitas mereka. Hendaknya mereka menjadi satu shaf yang
kokoh dalam mewujudkan sebab-sebab yang dengannya Allah menolak keburukan dan
bahaya, serta timbulnya keamanan dan ketenteraman, serta mendatangkan
kebahagiaan. Allah berfirman
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى
الْبِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَلا
تَعَاوَنُوا
عَلَى
الإثْمِ
وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2).
بَارَكَ
اللهُ لِي وَ
لَكُمْ فِي
القُرْآنِ
الكَرِيْمِ
وَنَفَعْنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ .
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى ،
Keamanan
merupakan kenikmatan yang besar, dan hilangnya keamanan merupakan petaka yang
besar. Maka wajib bagi kita seluruhnya untuk menjaga atas nikmat dan anugrah
Allah ini. Yaitu dengan istiqomah di atas manhaj yang syar’i, dengan
mewujudkan ketakwaan dalam segara urusan dalam kehidupan kita. Maka dengan
demikian akan terwujudkanlah keamanan yang menyeluruh dari segala bahaya, dan
ketenteraman yang sempurna yang selamat dari segala hal yang dibenci.
Allah
berfirman,
الَّذِينَ
آمَنُوا
وَلَمْ
يَلْبِسُوا
إِيمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ
أُولَئِكَ
لَهُمُ الأمْنُ
وَهُمْ
مُهْتَدُونَ (٨٢)
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman
mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan
mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.
Al-An’aam: 82).
Saudaraku
sekalian…
Di
antara amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat dan bersalam kepada Nabi
yang termulia, Yaa Allah curahkanlah shalawat dan salamMu kepadanya dan
keluarganya serta para sahabatnya.
Ya
Allah perbaikilah kondisi kami keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah
kesedihan, angkatlah penderitaan, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu kaum
muslimin dari segala fitnah dan bencana, Ya Allah hancurkanlah musuh-musuh kaum
muslimin, sesungguhnya musuh-musuh tersebut tidaklah bisa melemahkanMu, Ya
Allah jagalah saudara-saudara kami dimanapun mereka berada, Ya Allah jadilah
Engkau Penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat. Ya Allah
berilah taufiqMu kepada Khodimul Haramain (Pelayan dua kota suci yang mulia)
kepada perkara yang Engkau cintai dan Ridho, Ya Allah tolonglah agama ini
dengan sebabnya, tinggikanlah kekuatan kaum muslimin dengan sebabnya.
Ya
Allah ampunilah kaum muslimin, kaum muslimat, baik yang hidup maupun yang telah
meninggal, Ya Allah anugerahkan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat dan lindungilah kami dari siksaan neraka.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
، وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ
،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ
شُرُوْرِهِمْ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ عَمَلَهُ
فِي رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى طَاعَتِكَ
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةَ
الصَّالِحَةَ
النَّاصِحَةَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ جَمِيْعَ
وُلَاةَ أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِكُلِّ
قَوْلٍ سَدِيْدٍ
وَعَمَلٍ
رَشِيْدٍ .
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ
وَصَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
وَ بَارَكَ
وَأَنْعَمَ
عَلَى عَبْدِ
اللهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Husain bin Abdil Aziz Alu As-Syaikh hafizohulloh
(Imam Al-Masjid An-Nabawi dan Hakim di Pengadilan kota Madinah)
Penerjemah:
Abu Abdil Muhsin Firanda