Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، فَبَلَّغَ الرِسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَسْأَلُ اللهَ – تَعَالَى – بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنِ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ، إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Ibadallah,
Khotib
wasiatkan kepada jamaah sekalian dan diri khotib sendiri untuk bertakwa kepada
Allah. Allah Ta’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
إِنَّ
الصَّلَاةَ
تَنْهَىٰ
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
ۗ وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ ۗ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. al Ankabut: 45).
Pembicaraan
tentang shalat membutuhkan pengingatan dan pengulangan, tidak boleh ada
kebosanan untuk mendengarkannya. Karena shalat merupakan kewajiban yang paling
besar pengaruhnya, paling agung penjelasan dan kebaikannyan dan yang paling
berbahaya apabila ditinggalkan. Shalat merupakan tiang agama dan kunci surga
Allah. Barangsiapa yang menjaga shalat, berarti dia telah berpegang dengan
syariat Islam dan mengambil pondasinya. Barangsiapa yang melalaikan shalat,
berarti dia telah melalaikan agamanya dari pondasinya.
Shalat
juga merupakan obat yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit hati, kejelekan
jiwa dan penyakit-penyakitnya; bagaikan cahaya yang menghilangkan pekatnya
dosa-dosa dan kemaksiatan. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan permisalan dalam sabdanya:
أَرَأَيْتُمْ
لَوْ أَنَّ
نَهْرًا
بِبَابِ
أَحَدِكُمْ
يَغْتَسِلُ
مِنْهُ كُلَّ
يَوْمٍ
خَمْسَ
مَرَّاتٍ
هَلْ يَبْقَى مِنْ
دَرَنِهِ
شَيْءٌ
قَالُوا لَا
يَبْقَى مِنْ
دَرَنِهِ
شَيْءٌ قَالَ
فَذَلِكَ
مَثَلُ
الصَّلَوَاتِ
الْخَمْسِ
يَمْحُو
اللَّهُ
بِهِنَّ
الْخَطَايَا
“Apa pendapat kalian, seandainya ada sungai di depan pintu
salah seorang dari kalian, dia mandi disungai itu lima kali sehari; apakah ada
kotoran/daki yang tersisa?” Mereka menjawab,”Tidak akan ada kotoran
yang tersisa sedikitpun.” Nabi berkata,”Demikianlah permisalan
shalat lima waktu. Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dengan sebab
shalat.” (HR Muslim)
Hal
ini juga dikuatkan oleh hadits tentang keutamaan wudhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
فَإِنْ
هُوَ قَامَ
فَصَلَّى
فَحَمِدَ
اللَّهَ
وَأَثْنَى
عَلَيْهِ
وَمَجَّدَهُ
بِالَّذِي
هُوَ لَهُ
أَهْلٌ
وَفَرَّغَ
قَلْبَهُ
لِلَّهِ
إِلَّا انْصَرَفَ
مِنْ
خَطِيئَتِهِ
كَهَيْئَتِهِ
يَوْمَ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ
“Apabila dia berdiri untuk mengerjakan shalat, kemudian
memuji dan mengagungkan Allah dengan pujian yang pantas bagi Allah, dia
mengkhusyu’kan hatinya untuk Allah, kecuali dia berpisah dengan
kesalahannya sebagaimana keadaannya pada hari dilahirkan oleh ibunya.”
(HR Muslim).
Seperti
inilah buah dari ibadah, dan sedemikian besar hasil dari pelaksanaan ibadah
shalat ini, sehingga pantas untuk diperhatian dan ditegakkan. Mari kita jadikan
shalat sebagai penghias hidup kita dan bisikan hati kita.
Allahu
Akbar; Hayya ‘alash shalat; Hayya ‘alal falah (mari kita kerjakan
shalat, mari menuju kebahagiaan), panggilan yang bergema di segenap penjuru,
adzan yang menembus telinga untuk membangunkan jasad yang bercahaya dengan
keimanan dan hati yang khusyu’.
قَدْ
أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ
فِي
صَلَاتِهِمْ
خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al Mukmin: 1-2).
Dengan
khusyu’, seseorang yang shalat dapat menyatukan antara kebersihan
lahiriyah dan kebersihan batiniyah, ketika dia berkata dalam ruku`nya :
خَشَع
لَكَ َ
سَمْعِي
وَبَصَرِي
وَمُخِّي وَعَظْمِي
وَعَصَبِي
“Khusyu’ kepadaMu pendengaranku, penglihatanku,
otakku, tulangku dan otot-ototku.” (HR. Muslim).
Sedangkan
dalam riwayat Ahmad :
وَمَا
اسْتَقَلَّتْ
بِهِ قَدَمِي
“Dan ketika terangkatnya kedua kakiku untuk Allah.”
Dengan
kekhusyu’an, akan diampuni dosa-dosa dan dihapus kesalahan-kesalahan, dan
ditulislah shalat di timbangan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam Shahih
Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا
مِنِ امْرِئٍ
مُسْلِمٍ
تَحْضُرُهُ
صَلَاةٌ
مَكْتُوبَةٌ
فَيُحْسِنُ
وُضُوءَهَا
وَخُشُوعَهَا
وَرُكُوعَهَا
إِلَّا
كَانَتْ
كَفَّارَةً لِمَا
قَبْلَهَا
مِنَ
الذُّنُوبِ
مَا لَمْ يُؤْتِ
كَبِيرَةً
وَذَلِكَ
الدَّهْرَ
كُلَّهُ
“Tidaklah seorang muslim mendapati shalat wajib, kemudian
dia menyempurnakan wudhu`, khusyu’ dan ruku’nya, kecuali akan
menjadi penghapus bagi dosa-dosanya yang telah lalu, selama tidak melakukan
dosa besar; dan ini untuk sepanjang masa.” (HR. Muslim).
Shalat,
apabila dihiasi dengan khusyu’ dalam perkataan, dan gerakannya dihiasi
dengan kerendahan, ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh,
ia akan bisa menahan pelakunya dari kekejian dan kemungkaran. Hatinya bersinar,
keimanannnya meningkat, kecintaannya semakin kuat untuk melaksanakan kebaikan,
dan keinginannya untuk berbuat kejelekan akan sirna. Dengan khusyu’,
bertambahlah munajat seseorang kepada Rabb-nya, demikian pula kedekatan
Rabb-nya kepadanya. Ahmad, Abu Dawud dan Nasaa-i meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا
يَزَالُ
اللَّهُ
عَزَّ
وَجَلَّ
مُقْبِلًا
عَلَى
الْعَبْدِ َ
فِي
صَلَاتِهِ
مَا لَمْ
يَلْتَفِتْ
فَإِذَا
الْتَفَتَ
انْصَرَفَ
عَنْه
“Senantiasa Allah ‘Azza
wa Jalla menghadap hambaNya di dalam shalatnya, selama dia (hamba)
tidak berpaling. Apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun berpaling
darinya.
Khusyu’
memiliki kedudukan yang sangat besar. Ia sangat cepat hilangnya, dan jarang
sekali didapatkan. Terlebih lagi pada jaman kita sekarang ini. Tidak bisa
menggapai khusyu’ dalam shalat merupakan musibah dan penyakit yang paling
besar. Rasulullah juga merasa perlu berlindung darinya, sebagaimana beliau
berdoa:
اللَّهُمَّ
إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ
مِنْ قَلْبٍ
لَا يَخْشَعُ
“Ya, Allah. Aku berlindung kepadaMu dari hati yang tidak
khusyu.” (HR. Tirmidzi).
Dan
tidaklah penyimpangan moral menimpa sebagian kaum Muslimin, kecuali karena
shalat mereka bagaikan bangkai tanpa ruh, dan sebatas gerakan belaka. Ath
Thabrani dan selainnya meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
أَوَّل
مَا يُرْفَعُ
مِن هَذِهِ
الأُمَّةِ الْخُشُوعُ
حَتَّى َلَا
تَرَى فِيهَا
رَجُلًا
خَاشِعًا
“Yang pertama kali diangkat dari umatku adalah
khusyu’, sehingga engkau tidak akan melihat seorang pun yang
khusyu’.”
Sahabat
Hudzaifah radhiyallahu anhu
berkata : “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’,
dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang
seseorang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampir-hampir engkau masuk
masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorang pun yang khusyu’”.
Shalat
adalah penenang seorang muslim dan hiburannya, puncak tujuan dan cita-citanya.
Rasulullah berkata kepada Bilal: “Tenangkan kami dengan shalat”.
Beliau bersabda:
وَجُعِلَتْ
قُرَّةُ
عَيْنِي فِي
الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.” (HR.
Nasaa-i dan Ahmad).
Shalat
menjadi penyejuk hati, kenikmatan jiwa dan surga hati bagi seorang muslim di
dunia. Seolah-olah ia senantiasa berada di dalam penjara dan kesempitan, sampai
akhirnya masuk ke dalam shalat, sehingga baru bisa beristirahat dari beban
dunia dengan shalat. Dia meninggalkan dunia dan kesenangannya di depan pintu
masjid, dia meninggalkan di sana harta dunia dan kesibukannya untuk membuka
lembaran yang dia sebutkan di dalam hatinya. Masuk masjid dengan hati yang
penuh rasa takut karena mengagungkan Allah mengharapkan pahala-Nya.
Abu
Bakar ash Shiddiq radhiyallahu
anhu, apabila sedang dalam keadaan shalat, seolah-olah ia seperti
tongkat yang ditancapkan. Apabila mengeraskan bacaannya, isakan tangis
menyesaki batang lehernya. Sedangkan ‘Umar al Faruq radhiyallahu anhu, apabila
membaca, orang yang di belakangnya tidak bisa mendengar bacaannya karena
tangisannya. Demikian juga ‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, apabila
dalam keadaan shalat, seolah-olah ia seperti tongkat kayu. Sedangkan ‘Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu anhu,
apabila datang waktu shalat, bergetarlah ia dan berubah wajahnya. Tatkala
ditanya, dia menjawab: “Sungguh sekarang ini adalah waktu amanah yang
Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, mereka enggan untuk memikulnya
dan takut dengan amanah ini, akan tetapi aku memikulnya”.
Di
antara manusia ada yang shalat dengan badan dan seluruh persendiannya,
menggerakkan lisannya dengan ucapan, menundukkan punggung mereka untuk ruku`,
turun ke bumi untuk sujud, akan tetapi, hati mereka tidak bergerak ke arah
Allah Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Mereka menampakkan ketundukan, sedangkan
hatinya lari menjauh. Mereka membaca al Qur`an, akan tetapi tidak meresapinya.
Mereka bertasbih, akan tetapi tidak memahaminya. Mereka berdiri di hadapan
Allah dan di dalam rumahNya, akan tetapi, sebenarnya pandangannya ke arah
pekerjaan mereka, tinggal bersama ruh mereka di tempat tinggal mereka.
Begitulah keadaannya, seseorang telah mengerjakan shalat dalam waktu yang lama,
akan tetapi ia tidak pernah menyempurnakan shalatnya, meskipun hanya sehari
saja; karena ia tidak menyempurnakan ruku’nya, sujudnya dan
khusyu’nya. Barangsiapa keadaannya seperti ini, sungguh ia tidak bisa
mengambil manfaat dari shalatnya, sehingga kadang-kadang ia memakan harta
manusia dengan batil, melakukan kerusakan di antara manusia, melaksanakan
amalan yang bertentangan dengan agama dan akhlak, bahkan dia menjadikan shalat
hanya untuk mendapatkan pujian manusia, untuk menutupi kejahatan kedua tangan
dan kakinya.
Saudaraku
seiman, hadits berikut ini sebagai renungan, sikapilah dirimu dengan jujur,
agar mampu melihat posisi kita masing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
“Sesungguhnya
seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali
sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya,
seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahya.”
Diriwayatkan
oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiah radhiyallahu anhu berkata :
“Sesungguhnya ada dua orang berada dalam satu shalat, akan tetapi
perbedaan keutamaan (pahala) antara keduanya bagaikan langit dan bumi”.
Wahai
orang yang shalat, sesungguhnya shalat adalah kobaran api pertempuran bersama
setan, pertempuran was-was dan bisikan-bisikan, karena kita berdiri pada tempat
yang agung, paling dekatnya kedudukan (dengan Allah) dan paling dibenci setan.
Kemudian setan menghiasi di depan pandangamu dengan kesenangan, menawarkan
keindahan dan godaan. Dia juga mengingatkan yang engkau lupakan, sehingga dia
merasa senang ketika shalatmu rusak, sebagaimana baju yang usang, rusak, tidak
mendapatkan pahala dan tidak pula mendapatkan keutamaan.
Wahai
orang yang shalat, barangsiapa yang menempuh metode Nabi dan meniti jalan Nabi
dalam shalatnya, niscaya dia dapat memperoleh kekhusyu’an. Untuk bisa
meraih khusyu` ada beberapa hal yang bisa membantunya. Yaitu orang yang akan
shalat, hendaknya segera menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, ia
telah membersihkan pakaiannya, mensucikan badannya, mengkosongkan hatinya dari
kesibukan dunia, semerbak harum badannya, meluruskan barisan dan menutup celah
dalam barisan, dan ia tidak mengangkat kepalanya ke langit saat shalat, karena
hal ini terlarang dan bisa menghilangkan kekhusyu’an.
Termasuk
yang juga bisa menolong untuk khusyu’ dalam shalat, yaitu tidak
mengganggu orang lain dengan bacaan al Qur`an, tidak shalat dengan pakaian atau
baju yang ada gambarnya, tulisannya, ataupun baju berwarna-warni yang bisa
mengganggunya, dan mengganggu orang lain. Begitu juga suara-suara yang berasal
dari handphone yang mengganggu kaum Muslimin, sehingga merusak
kekhusyu’an. Oleh karena itu janganlah membawa suara musik yang
berdendang di dalam rumah-rumah Allah tercampur dengan kalam Allah. Kita
meminta kepada Allah salamah dan ‘afiyah dari dosa dan kesalahan.
Dari
Abu Qatadah radhiyallahu
anhu berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا قَالَ لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا أَوْ قَالَ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُود
“Sejelek-jelek
pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya”. Mereka
bertanya,”Wahai, Rasulullah. Bagaimana seseorang mencuri
shalatnya?” Rasulullah menjawab,”Dia tidak menyempurnakan ruku` dan
sujudnya,” atau ia (Rasulullah) berkata : “Tidak menegakkan tulang
punggungnya ketika ruku’ dan sujud”. (Diriwayatkan oleh Ahmad).
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
أَنْ تُعِيْنَنَا
عَلَى
أَدَاءِ
الْأَمَانَةِ،
وَأَنْ
تُعِيْنَنَا
عَلَى
أَنْفُسِنَا
بِالْخُضُوْعِ
لِأَوَامِرِكَ
وَاتِّبَاعِهَا
عَلَى
الوَجْهِ
الَّذِيْ تَرْضَاهُ،
وَاجْتِنَابِ
مَحَارِمِكَ
وَالْاِبْتِعَادِ
عَنْهَا يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
إِنَّكَ
جَوَادٌ
كَرِيْمٌ،
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ،
وَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَى
نَبِيِّنَا
محمد،
خَاتِمِ
النَّبِيِّيْنَ
وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ،
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
وَكَفَى،
وَسَلَامٌ عَلَى
عِبَادِهِ
الَّذِيْنَ
اصْطَفَى،
وَأَشْهَدُ
أَلَّا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، لَهُ
الْحَمْدُ
فِي الآخِرَةِ
وَالأُوْلَى،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
المُصْطَفَى،
وَخَلِيْلُهُ
الْمُجْتَبَى،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ بِهُدَاهُمُ
اهْتَدَى،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْراً.
أَمَّا
بَعْدُ:
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Alah dengan sebenar-benarnya takwa, dan tanamkan perasaan kedekatan
Allah pada diri kalian, saat sendirian maupun ketika bersama manusia.
Termasuk
hal terbesar untuk bisa tenang dan khusyu’ dalam shalat, yaitu merenungi
dan meresapi makna. Ketika mengucapkan Allahu Akbar, maka renungkanlah kedalaman
pemahamannya dan petunjuknya. Allah Maha Besar dari setan yang menipunya di
dunia. Allah Maha Besar dari nafsu syahwat, harta, kedudukan dan anak. Maka
mantapkan dan tanamkan ke dalam hati, kemudian laksanakan segala
konsekwensinya.
Juga
renungkanlah pahala yang besar pada setiap bacaan al Fatihah, bacaan
ruku`ataupun bacaan-bacaan shalat lainnya. Renungkanlah pahala yang besar, di
antaranya apabila imam mengucapkan
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(bukan
jalannya orang-orang yang Engkau murkai, bukan pula jalannya orang-orang yang
sesat), maka para malaikat mengucapkan “Amiin”. Barangsiapa yang
ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, niscaya diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. Begitu pula renungkanlah pahala-pahala yang
agung, serta keutamaan-keutamaan besar lainnya saat berdiri, duduk,
dzikir-dzikir ruku’ dan sujud. Barangsiapa yang merenunginya, dia akan
yakin dengan rahmat Allah, sesembahannya.
Termasuk
yang bisa mengantarkan kepada khusyu’, yaitu wasiat Rasulullah yang kekal
: “Shalatlah dengan shalat orang yang akan berpisah (dengan
dunia)”.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَلَى
الأَرْبَعَةِ
الخُلَفَاءِ
الأَئِمَّةِ
الحُنَفَاءِ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
وَارْضَ
عَنَّا مَعَهُمْ
بِعَفْوِكَ
وَرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمُ
الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَكَ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،.
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي دَوْرِنَا
وَأَوْطَانِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ وَتَرْضَى
وَأَصْلِحْ
بِطَانَتَهُ
يَارَبَّ
العَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ ؛
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ ،
سِرَّهُ
وَعَلَنَهُ .
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا
وَمَا
أَخَّرْنَا وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا
وَمَا
أَسْرَفْنَا
، وَمَا
أَنْتَ
أَعْلَمُ بِهِ
مِنَّا ،
أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ .
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
وَخُذْ
بِنَوَاصِيْنَا
لِلْبِرِّ
وَالتَّقْوَى
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، ﴿إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
(90) وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنْقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمُ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ﴾
[النحل: 90-91]،
واذكروا الله
العظيم
الجليل يذكركم،
واشكروه على
نِعَمِهِ
يزِدْكم، ﴿وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ﴾
[العنكبوت: 45]
(Diangkat berdasarkan khuthbah Jum’at Syaikh Abdul Bari
ats Tsubaiti di Masjid Nabawi, Madinah al Munawwarah, pada tanggal 16 Rajab
1426 H).
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428/2007M).
www.KhotbahJumat.com