الْحَمْدُ
لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
خَلَقَ
الْإِنْسَانَ
فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيْمٍ،
وَفَضَّلَهُ
عَلَى
كَثِيْرٍ
مِمَّنْ خَلَقَ
بِالْإِنْعَامِ
وَالتَّكْرِيْمِ،
فَإِنِ
اسْتَقَامَ عَلى
طَاعَةِ
اللهِ
اسْتَمَرَّ
لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ
فِي جَنَّاتِ
النَّعِيْمِ،
وَإِلاَّ
رُدَّ فِي
الْهَوَانِ
وَالْعَذَابِ
الْأَلِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ
وَهُوَ
الْخَلاَّقُ
الْعَلِيْمِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
شَهِدَ لَهُ
رَبُّهُ
بِقَوْلِهِ:
{وَإِنَّكَ
لَعَلى خُلُقٍ
عَظِيْمِ}
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
الَّذِيْنَ
سَارُوْا
عَلَى
النَّهْجِ
القَوِيْمِ
وَالصِّرَاطِ
المُسْتَقِيْمِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا، أَمَّ
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اتَّقُوْا
اللهَ تَعَالىَ
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
سُبْحَانَهُ
لاَ يَنْظُرُ
إِلَى
صُوَرِكُمْ،
وَإِنَّمَا
يَنْظُرُ
إِلَى
قُلُوْبِكُمْ
وَأَعْمَالِكُمْ.
Jamaah
shalat Jumat yang dirahmati Allah.
Sebagaimana
kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini banyak bermunculan nabi-nabi palsu yang mengaku mendapatkan wahyu dari
Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Sebenarnya pengakuan seperti itu bukanlah hal yang
aneh, karena sejak dulu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menginformasikan akan ada para nabi-nabi palsu setelah beliau.
Namun
hal yang sangat mengherankan banyak manusia yang tertipu dan rela menadi
korbannya. Bahkan sebagian orang yang dianggap tokoh pun ikut menjadi pejuang
dan pembela nabi-nabi palsu. Lebih anehnya lagi, tatkala ada
seorang nabi palsu menyatakan taubat dari klaim dustanya
tersebut, sang pembela tetap mempertahankan perjuangan semunya.
Dari
sinilah, masalah yang sebenernya sudah jelas menjadi kabur bagi sebagian orang.
Maka, melalui khutbah ini dan di atas mimbar ini, sedikit kami akan membahas
tentang kedustaan nabi-nabi palsu setelah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jamaah
shalat Jumat yang dirahmati Allah.
Kenabian
adalah suatu nikmat, anugerah dan keutamaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenabian juga merupakan pilihan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagian hamba yang
dikehendaki-Nya untuk mengemban syariat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepada
Musa ‘alaihissalam,
قَالَ يَامُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَآءَاتَيْتًكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ
“Hai Musa, sesungguhnya aku memilih
(melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku
dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa
yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur.” (QS. Al-A’rof: 144)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman juga,
اللهُ
يَصْطَفِي
مِنَ
الْمَلاَئِكَةِ
رُسُلاً
وَمِنَ
النَّاسِ
إِنَّ اللهَ
سَمِيعٌ بَصِيرٌ
“Allah
memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Haj: 75)
Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala
menciptakan dan memilih hamba-Nya sebagai nabi itu atas dasar kehendak-Nya,
karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala lebih mengetahui siapa di antara makhluk-Nya yang
pantas untuk membawa dan menyampaikan syariat ini.
Ketahuilah,
bahwa kenabian tidak bisa dicapai dengan kerja keras ataupun dengan
memperbanyak ibadah, belajar atau kedermawanan, tetapi kenabian adalah
keutamaan dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki
dari pada hamba-Nya.
Jamaah
shalat Jumat yang dirahmati Allah
Sesungguhnya
pengakuan seorang sebagai Nabi baik pengakuan dari dirinya sendiri atau orang
lain yang mengklaimnya sebagai Nabi, demikian juga keyakinan bahwa kenabian
bisa diraih dengan kerja keras, atau mengingkari bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah penutup Nabi. Semua itu adalah anggapan bathil dan termasuk di antara
hal-hal yang membatalkan keimanan, karena beberapa alasan berikut:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوْحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَى إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآأَنزَلَ اللهُ
“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada
orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: ‘Telah
diwahyukan kepada saya.’ Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu kepadanya,
dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan
Allah.” (QS. Al-An’am: 93)
Jamaah
shalat Jumat yang dirahmati Allah
Sesungguhnya
Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menginformasikan bahwa akan ada para
pendusta yang mengaku sebagai Nabi setelahnya. Beliau bersabda,
لاَ
تَقُومُ
السَّاعَةُ
حَتَّى
يُبْعَثَ دَجَّالُونَ
كَذَّابُونَ
قَرِيبٌ مِنْ
ثَلاَثِينَ،
كُلُّهُمْ
يَزْعُمُ
أَنَّهُ
رَسُولُ
“Tidak
akan terjadi hari Kiamat hingga datang ‘dajjal-dajjal’ (para
pendusta) yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka
adalah utusan Allah.”
Termasuk
dalam hadis ini adalah setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi seperti
Musailamah al-Kadzab, Al-Aswad al-Ansi, Al-Mukhtar, dan seluruh orang yang
mengklaim dirinya sebagai nabi, semuanya adalah para pendusta dan penyesat.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
فَمَنْ
أَظْلَمُ
مِمَّن
كَذَبَ عَلَى
اللهِ
وَكَذَّبَ
بِالصِّدْقِ
إِذْ جَآءَهُ
أَلَيْسَ فِي
جَهَنَّمَ
مَثْوًى
لِّلْكَافِرِينَ
“Maka
siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-membuat dusta terhadap
Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka
jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?”
(QS. Az-Zumar: 32)
Hal
itu karena orang yang mengaku dirinya sebagai nabi berarti ia telah mendustakan
Alquran, dan hadis yang menegaskan bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan
tidak ada nabi setelahnya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
مَّاكَانَ
مُحَمَّدٌ
أَبَآ أَحَدٍ
مِّن رِّجَالِكُمْ
وَلَكِن
رَّسُولَ
اللهِ وَخَاتَمَ
النَّبِيِّينَ
وَكَانَ
اللهُ بِكُلِّ
شَىْءٍ
عَلِيمًا
“Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
كانَتْ
بَنُو
إِسْرَائِيلَ
تَسُوسُهُمُ
الْأَنْبِيَاءُ
كُلَّمَا
هَلَكَ
نَبِيٌّ
خَلَفَهُ
نَبِيٌّ
وَإِنَّهُ
لَا نَبِيَّ
بَعْدِي
“Dahulu
bani Israil dipimpin oleh nabi, dan setiap kali nabi mereka wafat maka diganti
oleh nabi setelahnya, dan tidak ada nabi seteah saya.”
(Muttafaqun Alaih)
Jamaah
shalat Jumat yang dirahmati Allah.
Sesungguhnya
klaim seorang sebagai nabi merupakan suatu hal yang bisa membatalkan hakikat
kesempurnaan agama ini, padahal Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah mengatakan dalam Alquran,
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ
دِينًا
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(QS. Al-Maidah: 3)
Sebagaimana
juga pengakuan sebagai nabi merupakan suatu kebohongan dan kedustaan menurut
kesepakatan para ulama, di mana mereka telah sepakat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah penutup nabi dan Rasul, tidak ada nabi sesudah beliau, bahkan mereka
juga sepakat tentang kafirnya orang yang membenarkan nabi-nabi palsu. Berikut
ini kami paparkan beberapa pendapat para ulama:
–
Abdul Qohir al-Baghdadi mengatakan, “Telah sepakat kaum muslimin dan juga
ahli kitab bahwa nabi yang pertama kali diutus di muka bumi adalah Adam dan
yang terakhir adalah nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam.”
–
Ibnu Hazm mengatakan, “Para ulama telah sepakat bahwa tidak ada nabi
setelah Muhammad selama-lamanya, dan barangsiapa yang mengatakan ada nabi
setelah Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, selain Isa bin Maryam (di akhir zaman pen.), maka ia telah kafir
dengan dalil-dalil dari Alquran dan sunah.”
–
Imam Nawawi mengatakan, “Barangsiapa yang mengaku sebagai nabi setelah
Muhammad ataupun membenarkannya, maka dia telah kafir.”
–
Mansur al-Buhuti mengatakan, “Barangsiapa yang mengaku sebagai nabi, atau
membenarkan klaim orang yang mengatakan dia adalah nabi, maka ia telah kafir,
karena ia telah berdusta dengan firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan hadis Rasulullah.”
–
Syaikhul Islam mengatakan, “Barangsiapa yang berdusta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan mengaku dirinya adalah utusan Allah Subhanahu
wa Ta’ala atau ia adalah nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ataupun memberitakan sesuatu kepada manusia bahwa berita tersebut datangnya
dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala, maka hal itu seperti pengakuan Musailamah, ia telah
kafir dan halal darahnya.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا
Jamaah
shalat Jumat yang dirahmati Allah
Dari
keterangan singkat di atas, dapat kita simpulkan pokok isi khutbah pertama
dalam poin-poin sebagai berikut:
Setelah
ini, maka janganlah kita tertipu dengan para pembela-pembela Nabi palsu sekali
pun mereka dianggap tokoh.
Akhirnya
kita berdoa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala agar mengokohkan kita dalam agama Islam dan
menegakkan syariat-syariat-Nya hingga Allah mengambil nyawa-nyawa kita.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
وَصَلىَّ
اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ وَعَلىَ
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا
كَثِيرًا
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
اْلحَمْدُ لِلهِ
رَبِّ
اْلعَالمَِينَ.
Dikutip
dari Majalah Al-Furqon Edisi 7 Tahun ke-8, dengan sedikit
penyuntingan seperlunya oleh redaksi www.KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com