Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
غَافِرِ
الذَنْبِ قَابِلِ
التَّوْبِ
شَدِيْدِ
العِقَابِ
ذِيْ الطَّوْلِ
لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ
إِلَيْهِ المَصِيْرِ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ، لَهُ
المُلْكُ
وَلَهُ
الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٍ ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
البَشِيْرُ
النَذِيْرُ
وَالسِرَاجُ
المُنِيْرُ ؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
.
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى فَإِنَّ
مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرٍ
أُمُوْرٍ
دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ
.
Ma’asyiral
muslimin,
Sesungguhnya
di antara amalan ketaatan yang tinggi kedudukannya dan besar pahalanya adalah
taubat kepada Allah Jalla wa
‘Ala dari segala dosa dan kesalahan. Taubat itu adalah sebuah
ketaatan yang sangat dicintai Allah dan membuat Allah gembira. Taubat
juga merupakan amalan yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba.
Ibadallah,
Sesungguhnya
seorang hamba adalah makhluk yang lemah, yang memiliki musuh dalam kehidupan
ini yang senantiasa mengawasi dan ingin mengalahkannya, yaitu setan, baik dari
kalangan jin maupun dari golongan manusia. Setan-setan itu membuat kesan baik
pada sesuatu yang hakikatnya jelek, dan membuat jelek pada sesuatu yang
hakikatnya baik. Ditambah lagi dengan jiwa yang memiliki kecondongan pada
kejelekan serta dunia yang berisikan fitnah dan hal-hal yang melalaikan. Karena
itulah kaum muslimin, sifat manusia itu adalah berbuat kesalahan. Dan setiap
anak Adam itu melakukan banyak kesalahan sebagaimana yang dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di sinilah peranan taubat yang semestinya tidak luput dilakukan seorang hamba.
Taubat menjadi kebutuhan yang harus segera ditunaikan sebelum seseorang
merasakan kepahitan dan penyesalan.
Ibadallah,
Taubat
adalah amalan ketaatan yang agung, yang dicintai oleh Allah karena Allah
mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang senantiasa bersuci.
Allah dengan sifat-Nya yang Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba-Nya sangat
senang dengan taubatnya seseorang. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
“Allah
sangat bergembira dengan taubat seorang hamba, lebih gembira daripada seorang
yang berada di atas kendaraannya di sebuah tanah padang yang sunyi, lalu
kendaraan itu lepas (lari) meninggalkannya, padahal di atasnya ada makanan dan
minumannya. Akhirnya dia putus asa mendapatkannya kembali. Maka dia pun
mendatangi sebatang pohon lalu berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan
putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, ternyata
tiba-tiba kendaraan itu berdiri di dekatnya. Lalu dia pun menggenggam tali
kekangnya dan berkata saking gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku
Rabbmu.’ Dia salah ucap karena saking gembiranya.”
Renungkanlah,
betapa gembiranya orang yang menemukan kembali hewan tunggangannya itu, dan
Allah lebih gembira lagi dibanding orang tersebut lantaran taubat seorang hamba
kepada-Nya, padahal Allah Jalla
wa ‘Ala Maha Kaya dan tidak butuh kepada taubat
hamba-hamba-Nya.
Bagi
Allah, tidak bermanfaat ketaatan orang-orang yang taat dan tidak memberi-Nya
kerugian kemaksiatan yang dilakukan ahli maksiat. Allah Jalla wa ‘Ala
berfirman dalam hadits qudsi,
يَا
عِبَادِي
لَوْ أَنَّ
أَوَّلَكُمْ
وَآخِرَكُمْ
وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ
كَانُوا
عَلَى أَتْقَى
قَلْبِ
رَجُلٍ
وَاحِدٍ
مِنْكُمْ مَا
زَادَ ذَلِكَ
فِي مُلْكِي
شَيْئًا ، يَا
عِبَادِي
لَوْ أَنَّ
أَوَّلَكُمْ
وَآخِرَكُمْ
وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ
كَانُوا عَلَى
أَفْجَرِ
قَلْبِ
رَجُلٍ
وَاحِدٍ مَا
نَقَصَ
ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي
شَيْئًا
“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang
terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa
seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah
kekuasaan-Ku sedikit pun.” (HR. Muslim)
Ibadallah,
Wajib
bagi seorang muslim ketika dia telah mengetahui kedudukan taubat ini agar
bersegera untuk bertaubat dan menyadari bahwasanya Rabbnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyerunya untuk bertaubat walaupun dosanya sangat banyak sekalipun. Allah Jalla wa ‘Ala akan
menerima taubat seorang hamba dan memaafkannya dari segala kesalahan dan dosa
yang ia lakukan. Allah berfirman,
قُلْ
يَا
عِبَادِيَ
الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلَى
أَنْفُسِهِمْ
لَا
تَقْنَطُوا
مِنْ رَحْمَةِ
اللَّهِ
إِنَّ
اللَّهَ
يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ
جَمِيعًا
“Katakanlah! Wahai hamba-hamba Allah yang melampaui batas,
janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni
semua dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)
Lihatlah
betapa pemaaf-Nya Allah Jalla
wa ‘Ala!! Dia berfirman, “sesungguhnya Allah mengampuni
dosa, semuanya.” Betapapun besarnya dosa dan kesalahan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala
Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha menerima taubat hamba-hamba-Nya.
Bahkan Allah dalam kitab-Nya menawarkan taubat kepada orang-orang yang membunuh
para nabi-Nya, demikian juga kepada orang-orang yang mengatakan Dia adalah satu
dari yang tiga (trinitas), dan juga kepada orang-orang yang menggali parit
kemudian dengan parit itu membakar semua hamba Allah yang beriman (kisah
ash-habul ukhdud), Allah berfirman kepada mereka semua,
أَفَلَا
يَتُوبُونَ
إِلَى
اللَّهِ
وَيَسْتَغْفِرُونَهُ
“Tidakkah mereka bertaubat kepada Allah dan memohon ampun
kepada-Nya?” (QS. Al-Maidah: 74)
Dan
firman-Nya,
إِنَّ
الَّذِينَ فَتَنُوا
الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
ثُمَّ لَمْ
يَتُوبُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang membunuh orang-orang
beriman yang laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak
bertaubat…” (QS. Al-Buruj: 10)
Allah
menyeru mereka agar bertaubat. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Lihatlah
kedermawanan ini!! Lihatah kasih sayang ini!! Orang-orang tersebut membunuh
wali-wali-Nya dan melakukan apa yang telah mereka lakukan, namun Allah Jalla wa ‘Ala tetap
menyeru mereka agar minta diampunkan kesalahannya.”
Ibadallah,
Wajib
bagi seorang mukmin agar bersegera untuk bertaubat sebelum kematian
menjemputnya. Pintu taubat akan senantiasa terbuka selama nyawa belum sampai di
tenggorokan sebagaimana sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya
Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.”
Dan
sabdanya,
وَلَا
تَزَالُ
التَّوْبَةُ
مَقْبُولَةً
حَتَّى
تَطْلُعَ
الشَّمْسُ
مِنْ
الْمَغْرِبِ
فَإِذَا
طَلَعَتْ
طُبِعَ عَلَى
كُلِّ قَلْبٍ
بِمَا فِيهِ
“Taubat akan senantiasa diterima hingga matahari terbit
dari arah Barat. Apabila ia telah terbit dari arah tersebut, maka dikuncilah
setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya.”
Ibadallah,
Ketika
seorang hamba tentang tenggelam dan asyik dengan kemaksiatannya, saat taubat
mendatanginya ada beberapa penghalang yang dapat menghalangi dan memalingknnya
dari taubat. Ada orang yang apabila berhadapan dengan taubat, maka ia tunda
taubatnya baik dalam waktu singkat atau waktu yang lama. Ada juga yang
mengatakan, aku bertaubat saat umurku nanti sekian. Yang lain lagi mengatakan,
aku bertaubat saat sudah menyelesaikan pendidikan. Dan ada juga yang
menyatakan, saya akan bertaubat setelah menikah. Inilah beberapa sifat dari
sebagian orang ketika berhadapan dengan taubat, menunda dan mengakhirkannya.
Sebagian
orang ada yang tidak bertaubat dikarenakan ia berputus asa dari rahmat Allah
karena dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya telah menggunung. Karena alasan
inilah hati mereka berputus asa.
Alasan
lain mengapa orang tidak mau bertaubat adalah karena takut ketika ia bertaubat,
maka ia akan kehilangan teman-teman sepergaulannya yang rusak itu, atau takut
kehilangan kedudukan dan popularitas, atau hal-hal yang bersifat keduniaan
lainnya.
Ada
juga orang yang tidak bertaubat karena bersandar dengan luasnya rahmat Allah,
padahal rahmat Allah Jalla
wa ‘Ala itu hanya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan
bertaubat kepada-Nya.
Dan
masih banyak alasan-alasan lain yang membuat orang menunda-nunda taubatnya.
Ibadallah,
Taubat
adalah suatu kewajiban yang harus disegerakan dan tidak boleh ditunda-tunda.
Menundanya adalah termasuk perbuatan dosa yang harus ditaubati juga. Oleh
karena itu, seorang mukmin yang cerdas akan bersegera dalam bertaubat dan
menjadi seorang yang banyak bertaubat. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai
sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya.
Karena sesungguhnya aku bertaubat dan memohon ampun kepada Allah 100 kali dama
sehari.”
Padahal
beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam telah diampuni dosa-dosa dan kesalahannya
baik yang telah lalu maupun yang akan datang, bagaimana halnya dengan
orang-orang yang lemah yang banyak berbuat kesalahan dan dosa?!
Ibadallah,
Taubat
yang sesungguhnya adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakukan
apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Kemudian juga
terdapat perasaan menyesal atas maksiat yang telah dia lakukan, meninggalkan
perbuatan tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Wajib
bagi setiap muslim, apabila mereka menginginkan taubat untuk mengetahui jenis
taubat mereka kepada Allah. Bagaimana seseorang bisa bertaubat kalau dia tidak
mengetahui dari perbuatan dosa apa dia harus bertaubat? Bagaimana seseorang
bisa bertakwa sementara dia tidak mengetahui apa itu takwa? Dan di dalam
Alquran, Allah Jalla wa ‘Ala
menyeru hamba-hamba-Nya agar bertaubat dari segala jenis dosa dengan cara yang
telah Dia jelaskan.
Jenis-jenis
dosa adalah: syirik, kufur, munafik, fasik, maksiat, permusuhan, perbuatan
keji, kemunkaran, berkata tentang Allah tanpa ilmu, mengikuti selain jalannya
para sahabat Nabi. Inilah di antara jenis-jenis dosa. Seseorang terputus atau
malas bertaubat bergantung dengan realisasi dia terhadap melaksanakan perintah
Allah dan sejauh mana dia menjauhi larangan Allah.
Kita
memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita semua taubat yang nashuha
dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang bertaubat, kemudian Dia
mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan kesalahan kedua orang tua kita serta
kamu muslimin dan muslimat.
إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا . :
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى حَقَّ
التَقْوَى ،
وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Ibadallah,
Sadarilah
bahwa kita sekarang berada di dunia, sebuah negeri yang fana. Dan kita akan
berpintah kepada kehidupan yang hakiki dan kekal di kehidupan akhirat. Dunia
ini adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah negeri pembalasan dan
perhitungan. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,
ارْتَحَلَتِ
الدُّنْيَا
مُدْبِرَةً ،
وَارْتَحَلَتِ
الآخِرَةُ
مُقْبِلَةً ،
وَلِكُلِّ
وَاحِدَةٍ
مِنْهُمَا
بَنُونَ ،
فَكُونُوا
مِنْ
أَبْنَاءِ
الآخِرَةِ ،
وَلاَ تَكُونُوا
مِنْ
أَبْنَاءِ
الدُّنْيَا ،
فَإِنَّ
الْيَوْمَ
عَمَلٌ وَلاَ
حِسَابَ ،
وَغَدًا
حِسَابٌ
وَلاَ عَمَلَ
“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan
mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat
dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal
dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari
perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (Riwayat Bukhari)
Orang
yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya agar beramal untuk kehidupan
setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang memperturutkan hawa
nafsunya dan berangan-angan tentang sesuatu yang tak mungkin ia gapai.
Ketahuilah
bahwa sebenar-benarnya perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang
diada-adakan dalam agama, dan setiap yang diada-adakan dalam agama ini adalah
bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan kesesatan tempatnya di
neraka. Hendaknya kita berpegang kepada jamaah kaum muslimin karena tangan
Allah itu menaungi jamaah tersebut.
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَحِمَكُمُ
اللهُ عَلَى
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وقال صلى الله
عليه وسلم : ((
مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
بِهَا عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ .
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
، وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ
وَالتَقْوَى
وَسَدِدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
يَا ذَا الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةَ
نَبِيِّكَ
صلى الله عليه
وسلم ،
وَاجْعَلْهُمْ
رَأْفَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
، اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى
وَالعَفَةَ
وَالغِنَى ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالسَّدَادَ
،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ لَنَا
دِيْنَنَا
اَلَّذِي
هُوَ
عِصْمَةُ أَمْرِنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَاشُنَا ،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَادُنَا ،
وَاجْعَلْ
الحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ
، اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ
المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ
، وَاغْفِرْ
لَنَا
أَجْمَعِيْنَ
، وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari khotbah Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com