Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى
وَمُرَاقَبَتِهِ
فِي السِّرِّ
وَالعَلَانِيَةِ
, فَإِنَّ تَقْوَى
اللهِ جَلَّ
وَعَلَا هِيَ
خَيْرُ زَادٍ
يُبَلِّغُ
إِلَى رِضْوَانِ
اللهِ ،
يَقُوْلُ
اللهُ
تَعَالَى : ﴿
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ
يَا أُولِي
الْأَلْبَابِ
﴾ [البقرة:١٩٧].
Ibadallah,
Bertakwalah
kepada Allah Jalla wa
‘Ala dengan mengerjakan ketaatan kepada-Nya berdasarkan
cahaya petunjuk dari-Nya dengan diiringi harapan mendapatkan pahala dan
meninggalkan kemaksiatan juga berdasarkan petunjuk dari Allah dengan perasaan
takut akan adzab-Nya. Dengan hal inilah ketakwaan benar-benar akan terwujud,
janji-janji Allah Jalla wa
‘Ala juga akan digapai, dan balasan yang Dia sediakan untuk
orang-orang bertakwa baik di dunia dan akhirat akan didapat.
Ibadallah,
Sesungguhnya
kita berada pada hari-hari dimana para tamu-tamu yang mulia dari segala penjuru
dunia tengah berkunjung ke Baitullah al-Haram. Mereka datang untuk menunaikan
haji, melaksanakan syariat yang agung, dan ketaatan yang utama. Allah Jalla wa ‘Ala
memanggil mereka dan mereka menyambut panggilan Allah tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala
berfirman,
وَأَذِّنْ
فِي النَّاسِ
بِالْحَجِّ
يَأْتُوكَ رِجَالًا
وَعَلَى
كُلِّ
ضَامِرٍ
يَأْتِينَ
مِنْ كُلِّ
فَجٍّ
عَمِيقٍ (27)
لِيَشْهَدُوا
مَنَافِعَ
لَهُمْ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta
yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka
menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka…” (QS. Al-Hajj: 27-28).
Ibadallah,
Itulah
mereka para tamu-tamu Allah yang sedang berada di Kerajaan Arab Saudi.
Bertaut-taut kalimat talbiyah keluar dari lisan-lisan mereka menyeru Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka adalah tamu yang mulia. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu
Majah dari Ibnu Umar radhiallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَاجُّ
وَالْمُعْتَمِرُ
وَفْدُ اللَّهِ
دَعَاهُمْ
فَأَجَابُوهُ
وَسَأَلُوهُ
فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berhaji serta berumrah adalah tamu-tamu Allah.
Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika
mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri.”
Ini
adalah hak dari tamu-tamu Allah. Mereka telah datang dari tempat yang jauh
untuk menaati perintah-Nya. Mereka datang untuk merealisasikan ibadah
kepada-Nya. Mereka datang untuk menggapai keridhaan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Karena itu ibadallah, hak para tamu-tamu Allah ini sangat besar. Kewajiban kaum
muslimin terhadap mereka juga besar. Para penguasa atau pihak-pihak yang
berwenang yang mengurus jamaah haji, bertanggung jawab atas mereka. Para
petugas dan pegawai, bertanggung jawab melayani mereka. Para pedagang
bertanggung jawab pula dalam perniagaan mereka dengan para tamu-tamu Allah.
Pemilik penginapan dan penyedianya, juga bertanggung jawab atas mereka dalam
hal penginapan. Setiap orang dengan profesi masing-masing hendaknya memuliakan
dan mencintai mereka sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang ada pada bidang
profesi mereka masing-masing. Kalau kepada tamu Allah saja mereka tidak menjaga
hak-haknya dan tidak memiliki perhatian terhadap mereka, kepada siapa lagi
mereka akan berbaik hati dan melayani?! Wajib bagi setiap muslim yang terkait
dengan jamaah haji untuk memperhatikan mereka.
Kita
memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar memberkahi kita semua dan menolong kita semua
untuk menunaikan kewajiban kita terkait dengan permasalahan jamaah haji ini.
Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kita dari muamalah yang jelek dengan para
jamaah haji.
Ibadallah,
Para
tamu yang mulia ini datang menuju Baitullah al-Haram setelah mengalami berbagai
macam kesulitan dan hal-hal yang melelahkan. Mereka juga telah menghabiskan
sejumlah uang. Mereka berlelah-letih dalam safarnya. Mereka datang ke negeri
yang asing bagi mereka. Mereka meninggalkan anak-anak dan negeri mereka, dll.
Lalu kemudian mereka sampai ke tanah haram. Kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar
memudah mereka dalam menunaikan rangkaian manasik haji, menolong mereka dalam
mengerjakan amalan ketaatan, menerima apa yang telah mereka usahakan, dan
mengermbalikan mereka ke tanah air dalam keadaan dosa-dosa mereka diampuni
serta menjadi haji mabrur yang diterima ibadah hajinya.
Ibdallah,
Haji
adalah ketaatan yang agung yang ditunaikan manusia dalam rangka beribadah
kepada Allah. Banyak penjelasan tentang keutamaannya dan faidahnya di dunia dan
akhirat. Penjelasan-penjelasan tersebut terdapat dalam firman Allah Jalla wa ‘Ala dan
sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
الْحَجّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ
“Haji
itu menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu.”
Dalam
hadits lainnya juga dijelaskan,
الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ
لَيْسَ لَهُ
جَزَاءٌ
إِلَّا
الْجَنَّةُ
“Tidak ada balasan yang lebih layak bagi haji mabrur
kecuali surga.”
Demikian
juga sabdanya,
مَنْ
حَجَّ
الْبَيْتَ
فَلَمْ
يَرْفُثْ وَلَمْ
يَفْسُقْ خَرَجَ
مِنْ
ذُنُوبِهِ
كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ
“Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah, lalu ia tidak
berbuat rafats (sesuatu yang memancing birahi), tidak juga berbuat kefasikan,
terhapus semua dosa-dosa darinya sebagaimana hari dimana ia dilahirkan dari
Rahim ibunya.”
Ibadallah,
Sesungguhnya
haji adalah ketaatan yang agung yang sangat banyak fadilah terpuji di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَذِّنْ
فِي النَّاسِ
بِالْحَجِّ
يَأْتُوكَ
رِجَالًا
وَعَلَى
كُلِّ
ضَامِرٍ يَأْتِينَ
مِنْ كُلِّ
فَجٍّ
عَمِيقٍ (27)
لِيَشْهَدُوا
مَنَافِعَ
لَهُمْ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta
yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka
menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka…” (QS. Al-Hajj: 27-28).
Serulah
mereka untuk menunaikah ibadah haji agar mereka menyaksikan manfaat-manfaat
tersebut. Ini menunjukkan betapa banyak manfaatnya, bahkan tidak terhitung
jumlahnya. Pelajaran pertama yang didapat jamaah haji adalah saat mereka tiba
di miqat hingga menunaikan tawaf perpiasahan di Baitullah al-Haram.
Apabila
para tamu-tamu Allah telah tiba di miqat, mereka berpakaian dengan pakaian yang
sama, tanpa jahitan. Mereka mengenakan izar dan rida’ yang berwarna putih.
Saat itu tidak ada beda antara kepala Negara dengan rakyat, yang muda dengan
yang tua, yang kaya dan yang miskin, semua dengan jenis pakaian yang sama,
memiliki tujuan sama, dan dengan amalan yang satu.
Kemudian
dari miqat itulah mereka bersama-sama mengumandangkan syi’ar tauhid
“labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal
hamda wan ni’mata laka walmulk laa syarikalak”. Setiap jamaah haji
mengulang-ulang kalimat ini. Mereka gemakan dengan mengangkat suara, menyeru
Allah dan menyambut undangan Allah.
Perlu
kita ketahui, bahwa kalimat talbiyah adalah kalimat yang penuh dengan keimanan
dan tauhid, ikhlas dan ketundukan, dan komitmen yang kuat untuk menaati Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Allah memanggil mereka, mereka pun menyambutnya “labbaik Allahumma
labbaik”. Kami sambut panggilan-Mu dan kami wujudkan hal itu dalam amal
perbuatan mengharap pahala dari sisi-Mu.
Karena
itu ibadallah,
Bagi
siapa saja yang mengucapkan kalimat talbiyah saat menunaikan ibadah haji. Dia
pun akan dimudahkan menyambut panggilan Allah dalam bentuk ibadah lainnya.
Allah Tabaraka wa
Ta’ala memanggil mereka untuk shalat, puasa, zakat, dan
perintah-perintah kebaikan lainnya, mereka pun akan menyambut panggilan
tersebut. Allah melarang mereka dari perbuatan keji, dosa, dan kemaksiatan,
maka mereka akan senantiasa menaati setiap seruan-seruan dari Allah baik berupa
perintah maupun larangan.
Kemudian
dalam perkataan jamaah haji:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ
“Aku
penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu
bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu.”
Adalah
kalimat mengikhlaskan semua amalan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagaimana Allah Tabaraka
wa Ta’ala adalah satu-satunya yang memberi nikmat, maka Dia jugalah
yang tidak ada sekutu baginya. Wajib mengesakan Allah dalam segala bentuk
ketaatan. Tidak boleh berniat ibadah haji kecuali hanya untuk Allah. Tidak juga
berhaji kecuali menuju ke Baitullah. Shalat hanya boleh ditujukan kepada Allah,
demikian juga doa, memohon pertolongan, tawakal, menyembelih kurban, smuanya
hanya untuk Allah tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. Inilah makna
perkataan
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ
لَبَّيْكَ
لَبَّيْكَ
لاَ شَرِيكَ
لَكَ
لَبَّيْكَ
Yakni
tidak ada sekutu bagi-Mu dalam setiap amalan ketaatan. Tidak juga ada tandingan
untuk-Mu dalam ibadah. Dan tidak ada yang sepadan dengan-Mu dalam segala hal.
Ibadallah,
Kemudian
para jamaah melanjutkan rangkaian ibadah dengan mengerjakan shalat di
Baitullah. Diawali dengan melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh
putaran sebagai realisasi dari firman Allah,
وَلْيَطَّوَّفُوا
بِالْبَيْتِ
الْعَتِيقِ
“dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf
sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29).
Mereka
thawaf mengelilingi Baitullah dengan merendahkan diri dan kekhusyuan. Dan juga
disertai perasaan pengakuan banyaknya dosa dan kesalahan serta ketundukan di
hadapan Allah. Mereka membaca firman-firman-Nya, berdzikir, berdoa, dan
bermunajat kepada-Nya. Haji adalah ibadah agung yang Allah Jalla wa ‘Ala
syariatkan di tengah rumah-Nya di tanah haram. Dan telah mafhum bahwasanya
thawaf dimanapun yang ada di dunia ini bukan merupakan bagian dari syariat dan
bukan bagian dari agama Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Ketika
para jamaah mencium hajar aswad dan menyentuh rukun yamani, mereka melakukan
yang demikian semata-mata mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka
yakin kedua hal tersebut tidaklah dapat memberi manfaat dan menolak bahaya.
Kemanfaatan dan kemudharatan hanyalah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hal tersebut hanya
dilakuan karena meneladani praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh
karena itu, tatkala Umar bin al-Khattab radhiallahu
‘anhu mencium hajar aswad, beliau mengucapkan sebuah kalimat
yang masyhur,
أَمَا
وَاللَّهِ
إِنِّي
لَأَعْلَمُ
أَنَّكَ
حَجَرٌ لَا
تَضُرُّ
وَلَا
تَنْفَعُ
وَلَوْلَا
أَنِّي
رَأَيْتُ
رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَبَّلَكَ
مَا
قَبَّلْتُكَ
“Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah
batu yang tidak mampu menolak bahaya dan memberikan manfaat. Kalau saja aku
tidak melihat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak menciummu.”
Kaum
muslimin mencium hajar aswad dan menyentuh rukun yamani hanyalah karena
mencontoh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan meneladani petunjuknya. Dari sini pula
para jamaah haji harus mengetahui bahwasanya mencium suatu benda yang ada di
muka bumi ini, baik dinding, atau batu yang besar, atau selainnya, bukanlah
bagian dari syariat dan agama Allah. Dan bukan pula sebuah ibadah yang
dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Ibadallah,
Setelah
itu para jamaah beranjak menuju Arafah. Mereka semua berdiam di sana beberapa
saat dan berdoa kepada Allah Jalla
wa ‘Ala. Mereka berdoa di hari yang paling utama dan yang
terbaik. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ
الدُّعَاءِ
دُعَاءُ
يَوْمِ
عَرَفَةَ
وَخَيْرُ مَا
قُلْتُ أَنَا
وَالنَّبِيُّونَ
مِنْ قَبْلِي
لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ
، لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ
الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik doa ialah doa pada hari Arafah, dan
sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku ialah (yang artinya):
Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu
bagiNya. Dia memiliki kerajaan dan memiliki pujian, serta Dia Mahakuasa atas
segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi).
Renungkanlah
hadits ini, hari yang terbaik untuk berdoa adalah hari Arafah. Di hari yang
mulia dan penuh berkah ini, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para nabi sebelum beliau memperbanyak
mengucapkan kalimat laa ilaha illallah. Karena kalimat tauhid ini adalah dzikir
yang paling utama dan hari Arafah juga adalah hari yang paling mulia. Karena
itu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menggabungkan hari yang paling mulia ini
dengan dzikir yang paling mulia.
Ibadallah,
Kemudian
para jamaah haji melaksanakan syiar ibadah yang lainnya. Mereka menuju Mina. Di
Mina mereka melakukan apa yang Allah Tabaraka
wa Ta’ala perintahkan berupa ibadah dan keataan. Di antara
ibadah yang paling agung yang dilaksanakan saat itu adalah menyembelih hewan
kurban. Dan hari itu pula disebut dengan yaumun nahr (hari menyembelih). Pada
hari itu para jamaah mempersembahkan keapda Allah sembelihan. Demikian juga
kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, mereka mendekatkan diri kepada Allah
dengan menyembelih hewan sembelihan. Mereka mengharapkan ridha Allah dengan
melakukan ibadah tersebut. Menyemebelih hewan atau yang kita kenal dengan
berkurban tidak boleh dipersembahkan kepada siapa pun kecuali hanya kepada
Allah Ta’ala.
قُلْ
إِنَّ
صَلَاتِي
وَنُسُكِي
وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku
dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.
Al-An’am: 126).
Ayat
ini menjelaskan bahwa menyembelih dalam bentuk ibadah yang dipersembahkan untuk
selain Allah adalah bentuk kesyirikan. Dalam hadits dari Ali bin Abi Thalib,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ
اللَّهُ مَنْ
ذَبَحَ
لِغَيْرِ
اللَّه
“Laknat Allah bagi orang yang menyebelih untuk selain
Allah.”
Ketika
para jamaah haji datang ke jamarat untuk melempar kerikil, mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mereka akan mempelajari bahwa dalam amalan ini terdapat pelajaran yang agung
dan hikmah yang begitu dalam. Di antaranya mereka mengetahu bahwasanya agama
Allah Jalla wa ‘Ala
adalah pertengahan antara sikap berlebihan dan sikap meremehkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengambil tujuh kerikil, lalu beliau mengenggamnya dengan tangan beliau. Saat
orang-orang melihat hanya kerikil yang beliau bawa, beliau bersabda,
أَمْثَالَ
هَؤُلَاءِ
فَارْمُوا ،
ثُمَّ قَالَ :
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ
إِيَّاكُمْ
وَالْغُلُوَّ
فِي الدِّينِ
فَإِنَّهُ
أَهْلَكَ
مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ
الْغُلُوُّ
فِي الدِّينِ
“Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau
melanjutkan, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui
batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian
adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.” (HR. Ibnu Majah).
Seorang
muslim adalah mereka yang wasapada dari berbuat berlebihan atau meremehkan.
Mereka berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam setiap amalan dan ketaatan. Mereka
menjadi orang yang pertengahan, tidak berlebihan dan juga tidak meremehakn.
Demikianlah
wahai hamba Allah, ibadah haji begitu banyak akan pelajaran agung dan hikmah
yang mendalam. Kita memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar Dia memberi taufik kepada jamaah haji untuk
memanfaatkan setiap ketaatan dan mengambil pelajaran darinya. Dan semoga Allah
menerima apa yang mereka kerjakan, mengampuni dosa-dosa mereka, dan menolong
mereka dalam setiap kebaikan. Sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ إِنَّهُ
هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى .
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Kita
sekarang berada di 10 hari yang utama. Kemuliaannya telah dijelaskan oleh
banyak nash dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Salah satunya sebagaimana sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا
مِنْ
أَيَّامٍ
الْعَمَلُ
الصَّالِحُ فِيهَا
أَحَبُّ
إِلَى
اللَّهِ مِنْ
هَذِهِ الْأَيَّامِ
يَعْنِي
أَيَّامَ
الْعَشْرِ ، قَالُوا
يَا رَسُولَ
اللَّهِ
وَلَا الْجِهَادُ
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ ؟
قَالَ وَلَا
الْجِهَادُ
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ إِلَّا
رَجُلٌ
خَرَجَ
بِنَفْسِهِ
وَمَالِهِ فَلَمْ
يَرْجِعْ
مِنْ ذَلِكَ
بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih
dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan
Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?.
Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar
(berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu
apapun.”
Hari-hari
tersebut ibadallah, adalah hari yang mulia dan agung. Seorang muslim haru
memanfaatkan dan bersemangat di dalamnya dengan semaksimal mungkin. Mengisinya
dengan ketaatan kepada Allah karena di dalamnya juga terdapatsuatu hari yang
paling mulia, yaitu hari Arafah.
Ibadallah,
Pada
hari Arafah itu terkumpul semua ibadah-ibadah yang paling utama; shalat, puasa,
sedekah, dan haji. Ibadah-ibadah yang inti dan utama ini tidaklah terkumpul
kecuali pada hari yang penuh berkah ini. Karena itu, sangat dianjurkan bagi
seorang muslim untuk memperbanyak ketaatan pada hari ini. Ditekankan juga untuk
menjaga ibadah kepada Allah, banyak berdzikir, memperbanyak perbuatan baik baik
kepada orang tua menyambung silaturahim, membaca Alquran, dan ibadah-ibadah
lainnya yang bisa mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
Di
antara amal yang agung yang diperintahkan untuk dikerjakan di sepuluh hari yang
mulia ini adalah mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan menyembelih hewan
sembelihan. Amalan ini adalah Sunnah yang ditekankan atau Sunnah muakkad bahkan
ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa hal itu diwajibkan bagi mereka yang
mampu. Setiap muslim harus bersemangat mendekatkan diri kepada Allah dengan
sembelihan ini dan memilih hewan kurban yang terbaik sebagai bentuk meneladani
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Bagi
mereka yang hendak melaksanakan kurban, maka apabila telah masuk 10 hari
pertama hendaknya mereka rambut atau sesuatu dari bagian tubuhnya sedikit pun.
Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Apabila
telah masuk 1 Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalin ingin berkurban,
maka janganlah ia memotong rambut dan kulitnya sedikit pun juga.” (HR.
Muslim).
Kita
memohon kepada Allah Jalla
wa ‘Ala agar menolong kita semua untuk bisa menaatinya,
mendekatkan diri kepadanya denga sesuatu yang Dia cintai. Khususnya di 10 hari
yang penuh berkah ini. Kita juga memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam
berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كَلَامُ
اللهِ
وَخَيْرَ
الْهُدَى
هَدْى مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمِ ،
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثاَتُهَا
، وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ ، وَكُلَّ
ضَلَالَةٍ
فِي النَّارِ
، وَعَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ
فَإِنَّ يَدَ
اللهِ عَلَى
الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
.وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
، وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ، وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
،وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
،اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
كِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَعِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَبْرِمْ لِهَذِهِ
الْأُمَّةِ
أَمْرُ
رُشْدٍ
يُعِزُّ
فِيْهِ
أَهْلُ طاَعَتِكَ
وَيُذِلُّ
فِيْهِ
أَهْلُ
مَعْصِيَتِكَ
وَيُؤْمَرُ
فِيْهِ
باِلمَعْرُوْفِ
وَيُنْهَى
فِيْهِ عَنِ
المُنْكَرِ
إِنَّكَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٍ .
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِّيَ
أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ وَتَرْضَى
، وَأَعِنْهُ
عَلَى
البِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَسَدِدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
وَأَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِّحَّةَ
وَالعَافِيَةَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
، اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ
سُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ,
وَاجْعَلْهُمْ
رَحْمَةً
وَرَأْفَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا اَلَّذِيْ
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا ,
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
إِلَيْهَا مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ,
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ
سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ
،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا وَمَا
أَخَرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا أَعْلَنَّا
وَمَا
أَسْرَفْنَا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا،
أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَأَنْتَ
المُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
ذُنُوْبَ المُذْنِبِيْنَ
وَتُبْ عَلَى
التَائِبِيْنَ
وَاكْتُبْ
الصِحَّةَ
وَالسَّلَامَةَ
وَالغَنِيْمَةَ
لِلحُجَّاجِ
وَالمُعْتَمِرِيْنَ
وَلِعُمُوْمِ
المُسْلِمِيْنَ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
، رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الخَاسِرِيْنَ
، رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com