Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
الغَفُوْرُ
الشَكُوْرُ،
مُصَرِّفُ
الشُهُوْرِ
وَمُقَدِّرُ
المَقْدُوْرِ،
يُوْلِجُ
اللَيْلَ فِي
النَّهَارِ
وَيُوْلِجُ
النَّهَارَ
فِي اللَيْلِ،
وَهُوَ
عَلَيْمٌ
بِذَاتِ
الصُّدُوْرِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ
التَقْوَى،
وَاسْتَمْسِكُوْا
مِنَ
الإِسْلَامِ
بِالعُرْوَةِ
الوُثْقَى
(وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ
الزَّادِ
التَّقْوَى).
Beberapa
hari silam, kaum muslimin berpisah dengan bulan yang penuh kebaikan dan penuh
keberkahan. Mereka berpuasa di siang hari dan melaksanakan shalat di malam
hari. Mereka mendekatkan diri kepada Rabb mereka dengan berbagai macam bentuk
ibadah. Mereka berharap pahala dari-Nya dan takut akan siksa-Nya. Saat itulah
manisnya iman begitu terasa. Mereka berbicara tentang keindahan Ramadhan,
beribadah dengan giat namun tidak merasakan letih dan capek. Yang lain
membicarakan alangkah indahnya hari raya Idul Fitri, berjumpa dengan sanak
saudara, orang-orang dekat, dan sahabat-sahabat. Inilah kelezatan dari suatu
ketaatan yang dirasakan oleh orang-orang yang merasakan manisnya keimanan di
dalam hatinya. Inilah keadaan umat Islam di saat Ramadhan dan pada hari raya
Idul Fitri.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Kita
selalu berusaha untuk merasakan kebahagiaan tersebut, dari situ pula kita
mengetahui begitulah keadaan orang-orang yang beriman sepanjang hidup mereka.
Mereka merasakan kelapangan, ketenangan, kesenangan, dan kebahagiaan.
Demikianlah kehidupan yang baik yang Allah janjikan dalam firman-Nya,
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
مِنْ ذَكَرٍ
أَوْ أُنْثَى
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً
طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ
مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki
maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Kehidupan
yang baik yang meliputi segala sisi kehidupan dan seluruh fase kehidupan: (1)
fase kehidupan dunia, (2) fase kehidupan di alam barzakh, dan (3) fase
kehidupan abadi di akhirat. Di akhirat, Allah akan membahagiakan seseorang yang
baik amalannya ketika di dunia. Allah Ta’ala
berfirman,
لِلَّذِينَ
أَحْسَنُوا
فِي هَذِهِ
الدُّنْيَا
حَسَنَةٌ
وَلَدَارُ
الآخِرَةِ
خَيْرٌ
“…Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini
mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih
baik..” (QS. An-Nahl: 30).
Adapun
keadaan orang-orang yang menyelisih peritah Allah dan apa yang Dia turunkan
kepada Rasul-Nya, menentangnya, dan mengambil petunjuk dari selainnya, maka
tidak ada ketenangan bagi mereka, tidak ada pula dada yang lapang. Bagi mereka
adalah perasaan yang sempit menghimpit karena kesesatan yang mereka lakukan.
Walaupun secara kasat mata mereka terlihat bahagia. Mereka bisa makan apa yang
mereka inginkan, mengenakan pakaian apapun yang mereka suka, tinggal dimanapun
yang mereka inginkan, namun di balik itu terdapat perasaan galau dan
keragu-raguan. Dan mereka senantiasa dalam keraguan dan kesempitan dada baik di
dunia, di alam barzakh, dan di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
أَعْرَضَ
عَنْ ذِكْرِي
فَإِنَّ لَهُ
مَعِيشَةً
ضَنْكًا
وَنَحْشُرُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124).
Orang-orang
yang berbuat baik akan berbahagia di dunia dan akhirat, sedangkan orang-orang
yang berbuat dosa berada di neraka dunia dan neraka akhirat.
Ibnu
Taimiyah rahimahullah
mengatakan, “Seorang yang ikhlas kepada Allah akan merasakan kelezatan
dalam beribadah kepada-Nya. Hal itulah yang akan menghalanginya untuk beribadah
kepada selain-Nya. Di antara tanda seseorang yang merasakan manisnya cinta
kepada Allah, ia akan terhalangi lebih mencintai sesuatu selain-Nya. Karena
tidak ada sesuatu bagi hati yang lebih manis, lebih lezat, lebih baik, lebih
memikat, dan lebih nikmat daripada manisnya keimanan yang mengandung ubudiyah
kepada Allah, mencintai-Nya, dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya. Oleh
karena itu, hati yang terikat kepada Allah akan membuatnya segera menuju Allah,
takut, cinta, dan berharap keada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
مَنْ
خَشِيَ
الرَّحْمَنَ
بِالْغَيْبِ
وَجَاءَ بِقَلْبٍ
مُنِيبٍ
“(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah
sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang
bertaubat.” (QS. Qaf: 33). (Kitab al-Ubudiyah).
Beliau
juga mengatakan,
إِنَّ
فِي
الدُنْيَا
جَنَّةً مَنْ
لَمْ يَدْخُلْهَا
لَمْ
يَدْخُلْ
جَنَّةَ
الآخِرَةِ
“Sesungguhnya di dunia itu ada sebuah surga, barangsiapa
yang belum memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga di akhirat.”
(Madarijus Salikin)
Ibnul
Qayyim rahimahullah
berkata, “Kelezatan iman tidak bisa ditangkap dengan indra dan tidak
dapat direbut oleh seorang pun. Orang yang merasakan manisnya keimanan
mengatakan sesuatu yang menunjukkan betapa bahagianya mereka atas nikmat
tersebut, ‘Seandainya para raja dan para putra mahkota mengetahui apa
yang kami rasakan, niscaya mereka akan mencambuk kami dengan pedang-pedang
mereka (untuk merebut kenikmatan itu)”.
وَقَالَ
بَعْضُ
العَارِفِيْنَ:
مَسَاكِيْنُ
أَهْلِ
الدُنْيَا،
خَرَجُوْا
مِنْهَا وَمَا
ذَاقُوْا
أَطْيَبُ مَا
فِيْهَا.
قِيْلَ: وَمَا
أَطْيَبُ مَا
فِيْهَا؟
قَالَ: مَحَبَّةُ
اللهِ
تَعَالَى
وَمَعْرِفَتُهُ
وَذِكْرُهُ)
ا.هـ .الوابل
الصيب.
Orang-orang
yang berpengatahuan mengatakan, “Kasihan sekali para pencinta dunia,
mereka meninggalkan dunia (wafat), tetapi tidak merasakan sesuatu yang paling
baik yang ada di dunia”. Ditanyakan kepadanya, “Apa itu sesuatu
yang paling baik di dunia?” Ia menjawab, “Mencinta Allah Ta’ala,
mengenal-Nya, dan berdzikir mengingat-Nya.” (al-Wabil ash-Shayyib).
اَللَّهُمَّ
حَبِّبْ
إِلَيْنَا
الإِيْمَانَ
وَزَيِّنْهُ
فِي
قُلُوْبِنَا
وَكَرِّهْ
إِلَيْنَا
الكُفْرَ
وَالفُسُوْقَ
وَالعِصْيَانَ
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الرَّاشِدِيْنَ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
تَعْظِيْمًا
لِشَأْنِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
مَزِيْدًا..
أَمَّا
بَعْدُ:
Sesungguhnya
iman itu memiliki rasa kenikmatan dan rasa manis dan tidak adakan merasakannya
kecuali orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasulnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ذَاقَ
طَعْمَ
الإِيمَانِ
مَنْ رَضِىَ
بِاللَّهِ
رَبًّا
وَبِالإِسْلاَمِ
دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ
رَسُولاً
Akan
merasakan nikmatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabnya, Islam sebagai
agamanya, dan Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, sebagai rasulnya.” (HR. Muslim,
Turmudzi dan yang lainnya).
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
ثَلاَثٌ
مَنْ كُنَّ
فِيهِ وَجَدَ
بِهِنَّ حَلاَوَةَ
الإِيمَانِ
مَنْ كَانَ
اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ
إِلَيْهِ
مِمَّا سِوَاهُمَا
وَأَنْ
يُحِبَّ
الْمَرْءَ
لاَ يُحِبُّهُ
إِلاَّ
لِلَّهِ
وَأَنْ
يَكْرَهَ
أَنْ يَعُودَ
فِى
الْكُفْرِ
بَعْدَ أَنْ
أَنْقَذَهُ
اللَّهُ
مِنْهُ كَمَا
يَكْرَهُ
أَنْ يُقْذَفَ
فِى النَّارِ
“Tiga hal, siapa yang memilikinya maka dia akan merasakan
lezatnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selainnya, dia
mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia sangat benci untuk kembali
kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilempar ke neraka.” (HR.
Bukhari, Muslim dan yang lainnya).
Ibadallah,
Bersungguh-sungguhlah
dalam menaati Allah dan Rasul-Nya. Bersegeralah beramal shaleh. Kedepankan
cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada diri sendiri, anak-anak,
harta, dan manusia lainnya. Waspadailah kekufuran, kebid’ahan, dan kemaksiatan.
Barangsiapa yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya pada yang demikian,
Allah akan memberinya taufik kepada jalan yang akan menyampaikannya kepada
Allah ‘Azza wa Jala.
Allah Ta’ala
berfirman,
وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا
فِينَا
لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا وَإِنَّ
اللَّهَ
لَمَعَ
الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Ankabut: 69).
Barangsiapa
yang mengerjakan amalan shaleh pada bulan Ramadhan, hendaklah ia meneruskan
amalan tersebut. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
عَلَيْكُمْ
مِنَ الأَعْمَالِ
مَا
تُطِيقُونَ
فَإِنَّ
اللَّهَ لاَ
يَمَلُّ
حَتَّى تَمَلُّوا
وَإِنَّ
أَحَبَّ
الأَعْمَالِ
إِلَى
اللَّهِ مَا
دُووِمَ
عَلَيْهِ
وَإِنْ قَلَّ
“Wahai manusia! Kerjakanlah amalan yang kalian mampu untuk
menjalankannya dengan terus-menerus, karena Allah tidak akan pernah merasa
bosan, walaupun kalian telah dihinggapi rasa bosan untuk beribadah. Dan
sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai ialah amalan yang diamalkan dengan
kontinyu walaupun hanya sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih).
قال
النووي -رحمه
الله-:
“قَلِيْلُ
العَمَلِ الدَّائِمِ
خَيْرٌ مِنْ
كَثِيْرٍ
مُنْقَطِعٍ،
وَإِنَّمَا
كَانَ
القَلِيْلُ
الدَائِمُ
خَيْرًا مِنَ
الكَثِيْرِ
المُنْقَطِعِ
لِأَنَّ
بِدَوَامِ
القَلِيْلِ
تَدُوْمُ الطَاعَةُ
وَالذِّكْرُ
وَالمُرَاقَبَةُ
وَالنِّيَةُ
وَالإِخْلَاصُ
وَالإِقْبَالُ
عَلَى
الخَالِقِ،
وَيُثْمِرُ
القَلِيْلُ الدَائِمُ
بِحَيْثُ
يَزِيْدُ
عَلَى
الكَثِيْرِ
المُنْقَطِعِ
أَضْعَافًا
كَثِيْرَةً”.
Imam
an-Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Amalan sedikit tapi kontinyu, lebih baik daripada amalan
banyak/besar tapi terputus. Yang sedikit tapi terus-menerus lebih baik daripada
besar tapi terputus karena dengan kotinuitas yang sedikit itu menjadikan (kita)
senantiasa dalam ketaatan, dzikir, mendekatkan diri (kepada Allah), niat,
ikhlas, dan merealisasikan perintah sang pencipta. Amalan sedikit tapi kontinyu
memiliki dampak yang berlipat-lipa lebih banyak dibandingkan dengan amalan
besar tapi terputus.”
قَالَ
أَبُوْ
سُلَيْمَانَ
الدَّارِنِي(
لَيْسَ
العَجَبُ
مِمَّنْ لَمْ
يَجِدْ
لَذَّةَ
الطَّاعَةِ
إَنَّمَا
العَجَبُ
مِمَّنْ وَجَدَ
لَذَّتَهَا
ثُمَّ
تَرَكَهَا
كَيْفَ صَبَرَ
عَنْهَا) .
حلية
الأولياء 9/262.
Abu
Sulaiman ad-Darini mengatakan, “Bukanlah sesuatu yang mengherankan orang
yang belum mendapatkan kelezatan ketaatan. Yang mengherankan adalah mereka yang
sudah mendapatkannya lalu meninggalkannya, bagaimana mereka bisa bersabar atas
hal itu?” (Hilyatul Auliya, 9: 262).
عباد
الله : إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَلَى
الأَرْبَعَةِ
الخُلَفَاءِ
الأَئِمَّةِ
الحُنَفَاءِ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِي
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
وَارْضَ عَنَّا
مَعَهُمْ
بِعَفْوِكَ
وَرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمُ
الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَكَ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،.
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
دَوْرِنَا
وَأَوْطَانِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
وَأَصْلِحْ
بِطَانَتَهُ
يَارَبَّ
العَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى وَخُذْ
بِنَوَاصِيْنَا
لِلْبِرِّ
وَالتَّقْوَى
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ، ﴿إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
(90) وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنْقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمُ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ يَعْلَمُ
مَا
تَفْعَلُونَ﴾
[النحل: 90-91]،
واذكروا الله
العظيم
الجليل يذكركم،
واشكروه على
نِعَمِهِ يزِدْكم،
﴿وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ﴾
[العنكبوت: 45]
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Fayiz Harbi
Oleh
tim khotbahjumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com