Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ.
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا
اللهَ
الَّذِيْ
تَسَآءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنَّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا.
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَابَعْدُ؛
فَإِنَّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ
وَخَيْرَ
الْهَديِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّ اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحَدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلةٍ
وَكُلَّ
ضَلاَلَةٍ
فِى النَّارِ.
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Marilah
senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
agar Dia selalu menjaga kita dari seluruh keburukan dan kesempitan hidup, dan
semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar
terbaik bagi kita dari semua permasalahan yang kita hadapi.
Kaum muslimin,
ketahuilah
bawah rasa aman dan kedamaian merupakan kebutuhan utama bagi setiap manusia,
baik muslim maupun non-muslim.
Rasa
aman dan kedamaian adalah kebutuhan prinsipil yang sangat mendesak karena
dengan rasa aman ini menjadi sarana yang mengantarkan kepada sempurna dan
lurusnya kebaikan-kebaikan. Jika rasa aman ini hilang niscaya akan banyak
hak-hak terabaikan dan menjadi buruklah kebaikan-kebaikan, muncullah
kekhawatiran dan stres sosial, serta ketidaknyamanan dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan.
Kezhaliman
terhadap orang lain pun meraja lela di mana-mana. Terjadilah pencurian, perampokan,
dan tidak menutup kemungkinan adanya pertumpahan darah, kehormatan
tercabik-cabik tidak karuan dan keburukan-keburukan yang lainnya sebagai dampak
negatif tidak adannya rasa aman dan kedamaian dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan.
Dampak
negatif yang sangat kentara yang bisa dirasakan setiap individu adalah
seseorang tidak merasa aman, seseorang tak merasakan kedamaian atas dirinya
sendiri sementara ia berada di dalam rumahnya sendiri, seseorang tidak merasa
aman, seseorang tak merasa damai atas keluarganya dan hartanya. Seseorang tak
merasa aman, seseorang tak merasa damai di jalanan, seseorang tak merasa aman,
tak merasa damai saat ia di masjid, seseorang tak merasa aman berada di dalam
kantornya. Seseorang tak merasa aman, seseorang tak merasa damai di mana pun ia
tengah berada jika salah satu dari nikmat Allah ini, yakni rasa aman dan damai
hilang dari masyarakat.
Kaum
muslimin, rahimakumullah
Lalu,
bagaimanakah caranya agar kedamaian dalam masyarakat dapat diraih dan lestari?
Kaum
muslimin, rahimakumullah
Rasa
aman, rasa damai bisa benar-benar teraih dan lestari adalah dengan melakukan
beberapa sebab, yang telah ditunjukkan oleh syariat yang mulia, di antaranya:
Pertama,
dengan mentauhidkan Allah Ta’ala, beribadah hanya kepada-Nya,
mentaati-Nya dan melakukan amal-amal yang baik.Allah Ta’ala
berfirman,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمْ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ
“Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan)
mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)
Demikian
pula rasa aman dapat terwujud –biidznillah– dengan adanya
satunya kalimat dan taat kepada waliyul amri.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tatkala beliau diminta oleh
para sahabatnya untuk memberikan nasehat dan wasiat kepada mereka,
أُوصِيكُمْ
بِتَقْوَى
اللَّهِ ,
وَالسَّمْعِ
وَالطَّاعَةِ
وَإِنْ
عَبْدًا
حَبَشِيًّا،
فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ
مِنْكُمْ
بَعْدِي
فَسَيَرَى
اخْتِلافًا
كَثِيرًا،
فَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ
الأُمُورِ
“Aku wasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian bertaqwa
kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin oleh seorang hamba
sahaya. Karena, siapa saja di antara kalian yang hidup niscaya ia akan melihat
perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh
dengan sunnahku dan sunnah khulafa urrosyidin yang mendapatkan petunjuk, pegang
teguhlah ia dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, serta hendaklah kalian
menjauhkan diri dari perkara-perkara baru.” (HR.ath-Thobroni)
Kaum
muslimin, rahimakumullah.
Wilayah
dan jamaah tidaklah akan tegak berdiri melainkan dengan taat terhadap waliyul
amri. Adapun sikap memboikot atau memberontak atau upaya-apaya merusak urusan
sungguh hal ini akan menimbulkan kerugian, kehancuran, kebinasaan yang besar
meskipun pelakunya beranggapan bahwa ia menginginkan kebebasan, pelakunya
beranggapan bahwa ia mengharapkan terwujudnya kemaslahatan-kemaslahatan dan
perbaikan-perbaikan.
Kaum
muslimin, kemaslahatan dan keamanan dapat terwujud melalui penyatuan kalimat dan
ketaatan terhadap waliyul amri meskipun waliyul amri tersebut terdapat catat.
Adapun jika pemerintahan tidak ada, maka siapakah yang akan mengatur urusan
masyarakat?
Syaikh
shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan mengatakan dalam khutbahnya,
“Oleh sebab itulah, maka tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah wafat, para sahabat menutupi beliau dengan sebuah tutup
kemudian mereka membawa beliau ke saqifah bani Sa’idah untuk memilih
seorang pemimpin yang akan mengatur urusan mereka. Mereka mendahulukan urusan
ini sebelum mengurus jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
hingga akhirnya mereka membaiat (mengambil janji setia untuk taat dan patuh)
Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu.
Tegaklah
wilayah setelah Rasulullah, dan kholifah setelah Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam setelah itu barulah kemudian mengurus jenazah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pemakaman beliau,
hal ini mereka lakukan karena mereka menyadari bahwa roda kehidupan tak akan
berjalan sedikitpun dengan baik tanpa adanya seorang waliyul amri, mereka
berharap tak terjadi ketidakteraturan urusan-urusan mereka yang akan berdampak
sulitnya kemudian untuk memperbaikinya.
Ya,
Waliyul amri, melalui mereka perselisihan, persengketaan dicarikan solusinya.
Adanya mereka(waliyul amri), hukum-hukum ditegakkan, kezholiman dipadamkan,
jalan-jalan aman, roda perekonomian dan usaha-usaha berjalan. Semua ini
merupakan hasil dari sikap taat setiap individu masyarakat terhadap waliyul
amri.
Adapun
jika masyarakat memberontak dan tidak taat terhadap waliyul amri dengan alasan
bahwa mereka mendapati pada diri waliyul amri kesalahan atau ketidak sempurnaan
niscaya kecarut-marutan dan hal-hal yang membahayakan lainnya akan lebih banyak
terjadi dibanding dengan apabila mereka bersabar terhadap waliyul amri. Jika
kecarut marutan itu menyebar ke mana-mana niscaya akan tersebar pula rasa
kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran di tengah-tengah masyarat. Oleh karena
itu, tatkala nabiyullah Ibrahim alaihissalam memohon kepada Allah untuk penduduk
Mekah, beliau berdoa,
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنْ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِر
“Ya
Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki
dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah
dan hari kemudian.” Demikianlah Ibrohim berdoa, sebagaimana Allah
mengabadikannya di dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 126.
Beliau
memohon keamanan kepada Allah, karena rasa aman merupakan kebutuhan dasar yang
sangat mendesak, baik bagi pribadi maupun masyarakat dalam kehidupan sosial.
Keamanan dan rasa aman merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Seseorang tak
akan bisa menikmati rezeki dengan nyaman karena adanya rasa kekhwatiran, rasa
ketakutan yang mencengkeram pikiran, perasaan dan hatinya. Bahkan, tidak
menutup kemungkinan akan sulit atau bahkan sama sekali tidak bisa mengais
rezeki.
Kaum
muslimin, inilah dia yang diinginkan musuh-musuh islam, mereka berupaya
menciptakan kondisi ini, mereka berupaya memecah belah persatuan kaum muslimin,
mereka berupaya memegang kendali urusan kaum muslimin, sehingga dengan mudah
mereka akan mengobok-obok urusan kaum muslimin dengan berbagai macam kedok yang
mereka kenakan, entahlah itu dengan mengatasnamakan perdamaian dan perbaikan,
pemberantasan kezholiman dan lain sebagainya. Semua itu, adalah bohong belaka.
Untuk
itulah, keberadaan waliyul amri yang akan menyatukan kalimat kaum muslimin
meskipun mereka memiliki kesalahan atau kekurangan merupakan keniscayaan.
Karena, kesabaran kita atas kekurangan mereka merupakan sarana menolak
munculnya kondisi yang lebih buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan
sebuah pernyataan yang maknanya, “Tidak dikenal suatu kaum yang berada di
bawah pengaturan waliyul amri melainkan keadaannya lebih baik daripada saat
tidak adanya waliyul amri.”
Kaum
muslimin, ini sangat kentara terlihat oleh kita, sekarang. Waliyul amri yang
dihilangkan, para pemimpin yang dihilangkan, bagaimana keadaan yang terjadi
kemudian dengan negara mereka, setelah mereka? senantiasa berada dalam
ketakutan, kecemasan dan kecarut marutan yang tidak menentu, dan pertumpahan
darah. Saya kira kaum muslimin yang hadir di sini mengetahui hal ini.
Orang-orang
yang membenci syariat Islam berupaya keras untuk memecah belah kesatuan kaum
muslimin, Perpecahan dan ketidak nyamanan kaum muslimin, inilah yang mereka
kehendaki. Mereka berupaya melalui berbagai macam metode dan sarana, dengan
cara menghilangkan atau memudarkan kesatuan kaum muslimin, atau dengan membelah
mereka menjadi berkelompok-kelompok, mengadudomba antara mereka dan lain
sebagainya. Atau dengan menanamkan pemahaman yang menyimpang, menggemboskan
pemikian bahwa urusan agama adanya hanya di masjid-masjid saja. Adapun di luar
masjid maka tak ada urusan agama. Tidak ada dalam keluarga di rumah-rumah,
tidak pula di jalan-jalan, tidak pula ada di dalam interaksi sosial, dan tak
ada dalam segala lini kehidupan lainnya.
Mereka
mengatakan, islam tidak mempunyai urusan dalam hal-hal tersebut. Mereka
mengatakan, cukuplah aturan-aturan dan undang-undang manusiawi yang mengatur
urusan-urusan tersebut. Ya, inilah dia cara berpikir mereka. Inilah pola pikir
sekuler dan liberal yang mana hal ini merupakan buah karya orang-orang kafir
yang ditanamkan ke dalam otak-otak kita dan generasi penerus kita kaum
muslimin. Semoga Allah melindungi kita dan generasi penerus kita dari bahaya
pola pikir seperti ini. semoga pula Allah memberikan hidayah kepada
saudara-saudara kita kaum muslimin yang tengah terlenakan oleh model pemikiran
seperti ini sehingga mereka menyadarinya, meninggalkannya dan kembali kepada
jalan pemikiran yang digariskan oleh Allah dan RasulNya shallallahu
‘alaihi wa sallam. amin
Wahai
hamba-hamba Allah, keamanan dan rasa aman tak akan lestasi melainkan dengan
kita bersyukur atas nikmat yang satu ini. Adapun orang-orang yang berupaya
merusak keamanan maka mereka itulah orang-orang yang tidak mensyukuri
kenikmatan Allah yang satu ini. Allah Ta’ala berfirman,
memerintahkan kaum Quraisy,
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ* الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Maka
hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah
memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka
dari ketakutan. (QS. Quraisy: 3-4).
Dan
Allah Ta’ala berfirman,
وَضَرَبَ
اللَّهُ
مَثَلاً
قَرْيَةً
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah
negeri ( yakni : Mekah)
كَانَتْ
آمِنَةً
مُطْمَئِنَّةً
يَأْتِيهَا
رِزْقُهَا
رَغَداً مِنْ
كُلِّ
مَكَانٍ فَكَفَرَتْ
بِأَنْعُمِ
اللَّهِ
Yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari
segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. (
penduduknya mengingkari nikmat keamanan, dan nikmat rezeki yang melimpah-ed)
فَأَذَاقَهَا
اللَّهُ لِبَاسَ
الْجُوعِ
وَالْخَوْفِ
بِمَا
كَانُوا يَصْنَعُونَ
Karena
itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan
apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Kelaparan
dan ketakutan itu meliputi mereka seperti halnya pakaian meliputi tubuh mereka.
Demikianlah
sunatulloh ‘Azza wa Jalla pada makhluq-Nya, tak berubah, tak
berganti bila mereka melampaui batas terhadap syariat yang telah Allah
tetapkan, melampoi batas terhadap agamaNya, mereka terkesima, terpana, terbujuk
dan mengikuti bujuk rayu orang-orang yang menyeru kepada kerusakan dan
kesesatan. Mereka memuji-muji tindakan orang-orang yang akan menimbulkan
kerusakan lagi sesat itu. Maka, sebagai akibatnya adalah apa yang telah Allah
sebutkan tadi,
فَأَذَاقَهَا
اللَّهُ
لِبَاسَ الْجُوعِ
وَالْخَوْفِ
“Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan
ketakutan.”
بَارَكَ
اللهُ لِي
وَلَكُمْ
فِيْمَا
سَمِعْنَا،
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
أَحْمَدُ
رَبِّي
وَأَشْكُرُهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.:
Wahai
hamba-hamba Allah sekalian,
Banyak
sekali sarana yang digunakan untuk mengobarkan api fitnah di tengah-tengah kaum
muslimin, yang banyak tidak diketahui orang-orang yang tidak mengetahuinya,
atau tidak diketahui oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang mana
hal tersebut tersebar di bayak media masa, koran-koran, majalah-majalah dan
yang lainnya, media elektronik, radio, televisi, internet dan lain sebagainya.
Diserukan dalam media-media tersebut hal-hal yang akan mengganggu keharmonisan
hubungan waliyul amri dengan masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya,
mengganggu keharmonisan interaksi sosial di masyarakat kaum muslimin dan lain
sebagainya.
Oleh
karena itu, berhati-hatilah wahai hamba-hamba Allah dari hal-hal seperti ini.
Karena, itu semua akan menghancurkan, akan memporak-porandakan tatanan
kehidupan kaum muslimin. Kita mohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla
agar melindungi kaum muslimin dari makar buruk mereka, menjaga kesatuan dan
persatuan kaum muslimin yang ditegakkan di atas syariat Allah dan Rosul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam di mana pun mereka berada.
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ
صلِّ وسلِّم
على عبدِك
ورسولِك نبينا
محمد ، وارضَ
اللَّهُمَّ
عن خُلفائِه الراشدين
الأئمةِ
المَهدِيِّين
أبي بكر،
وعمرَ، وعثمانَ
، وعليٍّ ،
وعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإسلامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاجْعَلْ هَذَا
البَلَدَ
آمِنًا
مُسْتَقِرّاً
وَسَائِرَ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
عَامَةٍ يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ
مَنْ أَرَادَ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
بِسُوْءٍ
فَأَشْغَلَهُ
بِنَفْسِهِ
وَارْدُدْ
كَيْدَهُ فِي
نَحْرِهِ وَاجْعَلْ
تَدْمِيْرَهُ
فِي
تَدْبِيْرِهِ
إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيْرٍ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
غَيْرَ
ضَالِّيْنَ
وَلَا
مُضِلِّيْنَ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
ربنا
تقبل منا إنك
أنت السميع
العليم .
إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
Sumber:
al-sofwah.or.id