Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ، وَمَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا تَرَكَ شَرّاً إِلَّا حَذَّرَ الْأُمَّةَ مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ:
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
وَتَقْوَى
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا:
عَمَلٌ بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ رَجَاءَ
ثَوَابَ
اللهِ،
وَتَرْكٌ
لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
خِيْفَةَ عَذَابِ
اللهِ.
Ibadallah,
Dalam
pekan ini dunia disibukkan dengan berita terbunuhnya dua belas orang di dekat
kantor Majalah Charlie Hebdoh di Paris, Prancis. Beberapa orang di antara
mereka adalah kartunis yang menggambar sosok Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan penampilan yang buruk dan tak pantas.
Hal
ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh orang-orang kafir yang membenci Islam
dan membenci Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sering
menampilkan nabi kita tercinta dengan tampilan yang buruk, kejam, dan hina.
Mereka namakan hal itu sebagai kebebasan berekspresi tanpa peduli dengan apakah
menyakiti orang lain atau tidak.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Dalam
khotbah yang singkat ini, ada beberapa hal yang perlu disampaikan terkait
kejadian tersebut. Pertama, kaum muslimin harus mengenali sifat fisik nabi dan
akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, kebohongan barat atas
nama kebebasan berekspresi. Ketiga, mengapa umat Islam begitu marah ketika Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallm dihina. Keempat, hukuman bagi
orang-orang yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan
kelima, apakah Islam membenarkan tindakan main hakim sendiri dan aksi
pembunuhan terhadap para kartunis oleh orang-orang yang mengatasnamakan Islam
tersebut.
Mudah-mudahan
Allah memudahkan khotib dalam menyampaikan hal ini dan para jamaah untuk
memahami apa yang akan disampaikan.
Ibadallah,
Pertama: Mengenal sifat fisik dan akhlak Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Orang-orang
yang membenci Islam telah beberapa kali membuat kartun Nabi dengan tampilan
yang keji, yang untuk menyebutkannya saja, berat terasa bagi kita kaum
muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu ditampilkan dengan
sifat fisik yang buruk oleh orang-orang tersebut. Padahal –kaum
muslimin-, orang-orang kafir Quraisy yang begitu membenci Nabi, yang selalu
mencari-cari titik celah untuk menjatuhkan Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, sama sekali tidak pernah mencela fisik Nabi.
Artinya,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seseorang yang tidak bisa
dicela secara fisik karena bagusnya dan sempurnanya tampilan beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam. Para ulama, di antaranya Imam at-Tirmidzi telah
membuat buku khusus, mengumpulkan riwayat-riwayat dari para sahabat Nabi yang
menjelaskan tentang fisik beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara
sahabat yang paling banyak bertutur tentang fisik Nabi adalah Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu. Karena beliau lebih dari 20 tahun menjadi pembantu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu ‘anhu
berkata,
كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ
“Beliau
adalah orang yang paling dermawan, paling tampan, dan paling pemberani.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari
Anas bin Malik radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sangat wangi kulitnya dan keringatnya bagaikan kilau
mutiara. Apabila beliau berjalan, maka langkahnya terayun tegap. Sutera yang
pernah aku sentuh tidak ada yang lebih halus daripada telapak tangannya. Minyak
misk dan minyak ambar yang pernah aku cium, tidak ada yang melebihi wanginya
tubuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Anas
juga mengatakan, “Aku tidak pernah memegang dibaj (satu jenis sutra) yang
lebih lembut dari tangan Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya,
telapak tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat lembut, lebih
lembut dari sutra.
Masih
dari Anas, ia berkata,
كَانَ
رَسُولُ
اللَّهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ
رَبْعَةً
لَيْسَ
بِالطَّوِيلِ
وَلَا
بِالْقَصِيرِ
حَسَنَ
الْجِسْمِ أَسْمَرَ
اللَّوْنِ
وَكَانَ
شَعْرُهُ
لَيْسَ
بِجَعْدٍ
وَلَا سَبْطٍ
إِذَا مَشَى
يَتَوَكَّأُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orangnya
berpostur sedang, tidak tinggi ataupun pendek, fisiknya bagus. Warna (kulitnya)
kecoklatan. Rambutnya tidak keriting, juga tidak lurus. Apabila berjalan,
beliau berjalan dengan tegak.” (HR. Tirmidzi).
Beliau
bukanlah orang yang terlalu tinggi sehingga membuat orang tidak nyaman
berbicara dengannya. Dan bukan juga orang yang pendek sehingga membuat orang
menunduk tatkala berbincang. Postur beliau adalah postur yang proporsional.
Dari
al-Barra’ bin Azib, beliau menceritakan,
مَا
رَأَيْتُ
مِنْ ذِي
لِمَّةٍ فِي
حُلَّةٍ حَمْرَاءَ
أَحْسَنَ
مِنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
“Aku belum pernah melihat ada orang yang rambutnya menjuntai
ke telinga, dengan memakai pakaian merah yang lebih tampan dari pada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi).
Banyak
riwayat-riwayat dari para sahabat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah seorang laki-laki Arab yang tampan. Apabila di
kalangan Arab saja beliau adalah sosok yang sangat tampan, tentu kebagusan
fisik beliau adalah di atas rata-rata. Hal ini sangat jauh sekali dari apa yang
digambarkan oleh para kartunis pendengki tersebut.
Kemudian
berbicara tentan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu akan
membuat kita berdecak kagum. Sekiranya para penghina Nabi itu mengetahui,
mereka akan malu telah menghina Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji beliau dengan firman-Nya,
وَإِنَّكَ
لَعَلَىٰ
خُلُقٍ
عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Akhlak
seseorang biasanya dilihat dari komentar orang-orang yang bergaul dengannya.
Semakin dekat orang tersebut, maka semakin tahu ia dengan akhlaknya. Dan orang
yang senantiasa bergaul dan paling dekat bagi seseorang adalah istri atau
suami. Seorang suami yang setiap hari bergaul dengan istrinya, maka ia tidak
mungkin bisa menutupi semua kebiasaannya, baik kebiasaan yang baik atau yang
buruk. Lalu bagaimanakah komentar istri Nabi Muhammad tentang akhlak beliau?
نْ
سَعْدِ بْنِ
هِشَامِ بْنِ
عَامِرٍ
قَالَ أَتَيْتُ
عَائِشَةَ
فَقُلْتُ يَا
أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ
أَخْبِرِينِى
بِخُلُقِ رَسُولِ
اللَّهِ -صلى
الله عليه
وسلم-. قَالَتْ
كَانَ
خُلُقُهُ
الْقُرْآنَ
أَمَا تَقْرَأُ
الْقُرْآنَ
قَوْلَ
اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ
(وَإِنَّكَ
لَعَلَى
خُلُقٍ
عَظِيمٍ)
Sa’ad
bin Hisyam bin Amir berkata, “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu
‘anha, lalu aku bertanya, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah
kepadaku akan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’
Beliau menjawab, ‘Akhlak beliau adalah Alquran, apakah kamu tidak membaca
Alquran, Firman Allah ‘Azza wa Jalla: (وَإِنَّكَ
لَعَلَى
خُلُقٍ
عَظِيمٍ) dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang
agung.” (HR. Ahmad).
Dan
khotib tidak perlu lagi berpanjang lebar tentang akhlak Nabi Muhammad, karena
kita semua telah mengetahui akan kemuliaan akhlak beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Kedua: Kebohongan barat akan kebebasan
berekspresi.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Sering
kita dengar, orang-orang yang menghina Islam dan menghina Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam beralasan “Ini adalah kebebasan
berekspresi”. Mereka berupaya menghalalkan dan melegalkan bentuk
penghinaan atas nama kebebasan berekspresi.
Ketahuilah
kaum muslimin, bahwasanya kebebasan seseorang itu terikat dan bergantung kepada
kebebasan orang lain. Kami ulangi, kebebasan seseorang itu terikat dengan
kebebasan orang lain.
Contohnya:
ketika ada seseorang menyatakan bahwa ia bebas menyetel volume radio atau
memasang kenalpot kendaraan yang menimbulkan suara bising, maka orang lain pun
merasa bebas untuk tidak mendengar suara-suara yang menganggunya. Ada pula
orang yang merasa ia bebas menghidupkan rokok dimanapun ia berada, maka orang
lain bebas pula untuk menghisap udara yang bersih dan segar. Ketika ada orang
merasa bebas menghina dan mencela, maka orang lain pun memiliki kebebasan untuk
meresponnya dengan yang ia kehendaki.
Artinya,
tidak ada kebebasan secara mutlak. Kebebasan secara mutlak berakibat seseorang
menerabas rambu-rambu yang terlarang. Kebebasan secara mutlak menjadikan dunia
ini kacau tanpa aturan. Dan kebebasan secara mutlak akan menimbulkan kerusakan
yang besar.
Ketika
orang-orang Barat menyerukan kebebasan berekspresi, hakikatnya mereka telah
berbohong dan berdusta. Kebebasan hanya untuk mereka dan ketidak-bebasan bagi
umat Islam. Prancis menyebutkan bebas berekspresi bagi para kartunis, sementara
Prancis sendiri sejak tahun 2004 melarang anak-anak muslimah untuk mengenakan
jilbab di sekolah. Tidak hanya itu, larangan jilbab juga dikenakan bagi para
orang tua atau pengasuh yang mengantar anak ke sekolah. Inikah yang mereka
sebut dengan kebebasan berekspresi?
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Khotib
sama sekali tidak bermaksud menebar kebencian. Dan khotib berharap, kita semua
menjadi pendengar yang cerdas yang tidak merespon hal ini dengan anarkisme dan
kebencian. Permasalahan yang sedang didudukkan adalah seruan kebebasan
berekspresi yang mereka dengung-dengungkan. Mengapa standarnya berbeda ketika
hal itu diterpakan kepada umat Islam?
Ketiga: Mengapa umat Islam begitu marah
ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallm dihina.
Ummatal
Islam,
Respon
kemarah kaum muslimin, umat Islam, terhadap karikatur hinaan kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kecintaan umat Islam kepada
beliau. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga
sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1)
Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai
seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, (3) ia membenci untuk
kembali kepada kekafiran—setelah Allah menyelamatkannya
darinya—sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.” (HR.
Bukhari).
Kecintaan
kepada Nabi Muhammad adalah syarat agar seseorang merasakan manisnya keimanan.
Bahkan dalam hadits lainnya, kecintaan terhadap beliau adalah syarat
sempurnanya iman.
لاَ
يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ
حَتَّى
أَكُونَ أَحَبَّ
إِلَيْهِ
مِنْ
وَالِدِهِ
وَوَلَدِهِ
وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian
sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat
manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cinta
inilah yang membuat umat Islam marah ketika sang kekasih dihina dan
direndahkan. Rasa cinta yang tidak dimiliki bahkan mungkin tidak bisa
dimengerti oleh orang-orang yang tidak mengenal hidayah Islam.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِهَدْيِ
سَيِّدِ
المُرْسَلِيْنَ
وَقَوْلُهُ
القَوِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الأَرْضِ
وَالسَّمَاوَاتِ،
لَهُ
الْحَمْدُ
أَمَرَ بِالفْضَائِلِ
وَالصَّالِحَاتِ،
وَنَهَى عَنِ الْبَغْيِ
وَالعُدْوَانِ
وَالرَّذَائِلِ
وَالْمُنْكَرَاتِ،
أَحْمَدُ
رَبِّي عَلَى
نِعَمِهِ
الظَاهِرَاتِ
وَالْبَاطِنَةِ
الَّتِي
أَسْبَغَهَا
عَلَيْنَا
وَعَلَى
المَخْلُقَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ
إِلَهُ
الأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ
لَا يَخْفَى
عَلَيْهِ
شَيْءٌ مِنَ
الأَقْوَالِ
وَالأَفْعَالِ
وَالإِرَدَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا
وَسَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
بَعَثَ اللهُ
بِالْبَيِّنَاتِ،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى
عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
السَّابِقِيْنَ
إِلَى
الخَيْرَاتِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ
–عَزَّوَجَلَّ-
وَأَطِيْعُوْهُ،
وَكُوْنُوْا
دَائِمًا
عَلَى حَذْرٍ
وَخَوْفٍ
مِنَ
المَعَاصِي،
فَإِنَّ بَطْشَ
اللهُ
شَدِيْدٌ.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Keempat:
Hukuman bagi orang-orang yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Dalam
poin keempat ini, pembahasan hanya kita fokuskan kepada hukuman yang layak bagi
orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibadallah,
Banyak
ayat dan hadits yang menjelaskan bahwasanya orang-orang yang menghina Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumannya adalah vonis mati. Allah
Ta’ala berfirman,
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
“Dan
sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah
kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab)
olok-olokan mereka.” (QS. Al-An’am: 10).
Dari
Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang sedang membagi-bagikan harta, datanglah mendekati
Nabi seorang dari Bani Tamim yang bernama Dzul Khuwaishirah. Ia mengatakan,
‘Wahai Rasulullah, berlakulah adil’!
Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, ‘Celaka
engkau! Siapa yang bisa berlaku adil kalau aku dituduh tidak adil?! Sungguh
engkau benar-benar merugi kalau aku tidak adil’.
Kemudian
Umar bin al-Khattab berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas
lehernya’.
Rasulullah
berkata, ‘Biarkan dia. Sesungguhnya ia memiliki sahabat-sahabat yang
salah satu di antara kalian (para sahabat) akan menganggap remeh/sedikit
shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka dan akan menganggap
remeh/sedikit puasanya jika dibandingkan dengan puasa
mereka…’”
Dalam
hadits ini, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalahkan dan
mengoreksi pendapat Umar, beliau hanya katakan “Biarkan
dia…”.
Dalil
yang secara tegas menunjukkan hukuman mati bagi penghina Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu, beliau menceritakan,
أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ، فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا
“Ada
seorang wanita yahudi yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai
mati. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggugurkan hukuman
apapun darinya.” (HR. Abu Daud).
Kelima: Menyikapi penyerangan terhadap para
kartunis.
Setelah
kita mengetahui bahwa para penghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam layak dihukum mati, pertanyaan yang muncul selanjutnya, apakah kejadian
penyerangan di Prancis tersebut dibenarkan?
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Islam
adalah agama yang sempurna mengatur umatnya untuk memperoleh kebaikan yang utuh
atau kebaikan yang lebih besar daripada kemudharatan. Salah seorang ulama besar
Arab Saudi, Syaikh Shaleh Fauzan bin Abdillaah al-Fauzaan hafizhahullah, ketika
ditanya terkait peristiwa ini beliau menjawab:
“Ini bukanlah metode yang tepat. Ini akan menambah
keburukan dan kemarahan mereka kepada kaum muslimin. Akan tetapi, cara menolak
mereka adalah dengan membantah kerancuan tersebut dan menjelaskan perbuatan
mereka yang sangat memalukan itu. Adapun membela (Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam) dengan tangan dan senjata, maka ini hanyalah untuk
para pemerintah kaum muslimin dan hanya melalui jihaad di jalan Allah
‘Azza wa Jalla.”
Apa
yang beliau sampaikan selaras dengan peristiwa di zaman Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam
Abdullah
bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafik, pernah mengancam Rasulullah dengan
mengatakan,
أَقَدْ تَدَاعَوْا عَلَيْنَا لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ
“Apakah
mereka (Kaum Muhajirin) tengah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kami?
Sesungguhnya jika telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan
mengusir orang-orang yang lemah darinya.”
Yang
ia maksud dengan orang yang kuat adalah dia sendiri. Sedangkan yang ia maksud
orang yang lemah adalah Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu
Umar menanggapi ucapan tokoh munafik ini dengan mengatakan, “Apa kita
bunuh saja orang yang buruk ini wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab,
لَا
يَتَحَدَّثُ
النَّاسُ
أَنَّهُ
كَانَ يَقْتُلُ
أَصْحَابَهُ
“Jangan, nanti orang-orang mengira bahwa Muhammad telah
membunuh sahabatnya sendiri.”
Rasulullah
hendak menjaga citra Islam agar tidak ternodai. Bagaimanapun orang-orang
munafik ini adalah mereka yang menampakkan diri sebagai seorang muslim,
walaupun di hati mereka adalah kekafiran. Ketika mereka dibunuh, maka
orang-orang mengira bahwa Rasulullah telah membunuh sahabatnya. Rasulullah
tidak ingin membuat orang jauh dari Islam dan takut untuk memeluk Islam.
Dan
dalam fatwa Syaikh Shaleh Fauzan juga dijelaskan bahwa yang berhak menghukum
pelaku penghinaan tersebut adalah pemerintah bukan setiap orang.
Kejelian
dari fatwa beliau telah terbukti, tidak menunggu lama, fasilitas-fasilitas umat
Islam di Prancis pun diserang oleh orang-orang tak dikenal. Gelombang
islamphobia pun meningkat. Lebih buruk dari itu, kartun-kartun keji tentang
Nabi Muhammad semakin banyak beredar.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Dengan
demikian, menghadapi isu ini yang kita utamakan adalah membalasnya dengan
argumentasi. Menyebarkan kebenaran dan terus menebar simpati dengan akhlak yang
mulia.
Mudah-mudahan
penjelasan lima poin di atas merupakan salah satu dari upaya untuk mentarbiyah
umat Islam agar lebih kenal dengan Nabi Muhammad dan bentuk bantahan dari
tuduhan dusta yang dilemparkan oleh orang-orang yang membenci Islam.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِيْ
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ
،
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJuamt.com