Artikel Buletin An-Nur : Rabu, 21 Desember 05
Menumbuhkan Sikap Muraqabatullah
Al-Harits al-Muhasibi berkata, "Muraqabah
adalah pengetahuan hati tentang kedekatan Rabb"
Seorang muslim hendaknya selalu merasakan muroqobatullah (merasa selalu
dalam pengawasan Allah) setiap saat. Hendaklah dalam hidupnya penuh dengan
keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala senantiasa melihatnya,
mengetahui rahasianya, dan Dia Maha Tahu terhadap segala perbuatannya, bahkan
sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.
Sehingga dengan keyakinan seperti itu, maka jiwanya merasa terliputi dalam
pengawasan Allah subhanahu wata’ala, dia akan merasa betah berdzikir
kepada-Nya, akan senang melaksana kan keta'atan kepada-Nya dan dia pun akan
berpaling dari selain-Nya.
Sifat muraqabah merupakan dasar komitmen seorang muslim pada Islam.
Sifat muraqabah merupakan sumber kekuatan seorang muslim di saat sendirian
dan di tengah keramaian. Jika terlintas dalam pikirannya untuk melakukan
maksiat, maka dia akan segera ingat Allah subhanahu wata’ala, bahwa Dia
hadir mengawasinya, lalu dengan serta merta dia akan membuang pikiran ke arah
maksiat itu sejauh-jauhnya, agar dirinya terhindar dan terbebas dari perbuatan
maksiat tersebut dan dia berazzam untuk tidak mendekatinya lagi. Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
وَهُوَ
مَعَكُمْ
أَيْنَ مَا
كُنْتُمْ
وَاللَّهُ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
بَصِيرٌ
"Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu
berada dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat" (QS. Al-Hadid:4)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Makna ayat ini adalah,
bahwa Allah subhanahu wata’ala Maha Mengawasi dan menyaksikan semua perbuatan,
kapan saja dan di mana saja kamu melakukannya, di daratan maupun di lautan,
pada waktu malam maupun siang hari, di rumah tempat tinggalmu maupun di tempat
umum yang terbuka, segala sesuatu ada dalam ilmu-Nya, semuanya dalam
penglihatan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar apa yang kamu ucapkan dan
melihat keberadaanmu, Dia Maha Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang
kamu tampakkan, Allah subhanahu wata’ala berfirman,
أَلَا
إِنَّهُمْ
يَثْنُونَ
صُدُورَهُمْ
لِيَسْتَخْفُوا
مِنْهُ أَلَا
حِينَ
يَسْتَغْشُونَ
ثِيَابَهُمْ
يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ
وَمَا
يُعْلِنُونَ
إِنَّهُ عَلِيمٌ
بِذَاتِ
الصُّدُورِ
"Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu)
memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad).
Ingatlah, diwaktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Dia (Allah)
mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Hud:5)
Dan juga firman-Nya,
سَوَاءٌ
مِنْكُمْ
مَنْ أَسَرَّ
الْقَوْلَ وَمَنْ
جَهَرَ بِهِ
وَمَنْ هُوَ
مُسْتَخْفٍ
بِاللَّيْلِ
وَسَارِبٌ
بِالنَّهَارِ
"Sama saja (bagi Rabb kalian), siapa di
antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan
ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan
(menampakkan diri) di siang hari.” (QS. Ar-Ra'ad:10)
Sunggguh Tiada Ilah yang hak disembah selain Dia dan tiada Rabb selain Dia. Di
dalam shahih Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
menjelaskan makna "Ihsan" tatkala beliau ditanya oleh Jibril ‘alaihissalam
tentang hal itu,
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika kamu
tidak melihat-Nya maka yakinilah bahwa sesungguhnya Dia Maha Melihatmu"
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh seseorang,
“Wahai Rasulullah apa itu "tazkiyatun nufus?" Maka dijawab oleh
beliau, “(Tazkiyatun nufus itu ialah) hendaklah dia mengetahui (menyadari)
bahwa Allah bersamanya di mana pun dia berada". (HR. Thabrani &
Baihaqi, dan hadist ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Juga seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 'Ubadah Bin
ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya keimanan yang paling utama
adalah engkau menyadari bahwa Allah bersamamu di mana pun kamu berada".
(HR. Thabrani).
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasululllah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
"Sungguh aku mengetahui beberapa kaum dari
ummatku yang datang pada hari Kiamat kelak dengan membawa kebaikan-kebaikan
seperti gunung Tihamah yang putih, lalu Allah jadikan kebaikan-kebaikannya
tersebut seperti debu yang berterbangan, mereka itu adalah saudara-saudaramu,
dari jenis kulitmu, dan mereka menjadikan malamnya sebagaimana kalian
menjadikannya, akan tetapi mereka kaum yang apabila dalam keadaan sepi mereka
melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, hadits ini dishahihkan
oleh Syekh Al-Al-Bani)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
"Suatu perbuatan yang tidak kamu sukai bila
manusia melihat perbuatanmu itu, maka janganlah kamu melakukannya apabila kamu
berada dalam keadaan sepi". (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh
Syaikh al-Albani).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang lain,
"Ada tiga hal yang mencelakakan seseorang dan ada tiga hal yang
menyelamatkan seseorang. Tiga hal yang mencelakakan, 1. Kekikiran yang
dita'ati, 2. Hawa Nafsu yang diikuti, 3. Kekaguman terhadap diri sendiri.
Sedangkan tiga hal yang menyelamatkan, 1. Takut kepada Allah dalam keadaan sepi
maupun di tengah keramaian, 2. Seimbang/sederhana menjalani hidup ini baik
dalam keadaan fakir maupun kaya, 3. Adil dalam menghukumi baik ketika sedang
marah (benci) maupun senang (ridho)". (HR. al-Bazzar diringkas dari
Ash-Shahihah)
Imam Ahmad rahimahullah pernah menuturkan, “Jika pada suatu hari engkau
sedang sepi dalam kesendirian, maka janganlah engkau mengatakan, "Aku
sedang sendirian", tapi katakanlah, "Aku sedang diawasi oleh Dzat
Yang Maha Mengawasi". Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah subhanahu
wata’ala itu dapat saja berbuat lengah sesaat dan janganlah pula engkau
sekali-kali mengira bahwa apa yang kamu sembunyikan itu tersembunyi pula bagi
Allah.”
Kiat Menghidupkan Muroqobah dalam Jiwa Seorang Mukmin.
DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam Taujih Nabawy, beliau menerangkan dua sarana
untuk menghidupkan muroqobah:
Pertama: Memiliki keyakinan yang sempurna bahwa sesungguhnya Allah subhanahu
wata’ala Maha Mengetahui segala yang dirahasiakan dan segala yang nyata,
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَهُوَ
اللَّهُ فِي
السَّمَاوَاتِ
وَفِي الْأَرْضِ
يَعْلَمُ
سِرَّكُمْ
وَجَهْرَكُمْ
وَيَعْلَمُ
مَا
تَكْسِبُونَ
"Dia Allah yang disembah di langit dan di
bumi, Dia Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan, dan
Dia Mengetahui apa yang kamu usahakan" (QS. Al-An'am:3)
Sesungguhnya hakikat muroqobah seperti ini apabila benar-benar terhujam di
dalam hati seseorang, maka dia akan benar-benar merasa malu dilihat oleh Allah subhanahu
wata’ala jika dia melanggar larangan-Nya atau dia meninggalkan
perintah-Nya.
Al-Munawy berkata, “Takut kepada Allah subhanahu wata’ala dalam keadaan
seorang diri jauh lebih tinggi daripada takut kepada-Nya dalam keadaan
terang-terangan.
Ke dua: Memiliki keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan
menghitung dan menghisab segala sesuatu meskipun itu hal-hal yang terkecil. Dia
akan memberitahukan hal itu kelak pada hari Kiamat, dan bahkan Dia akan
memberikan balasannya sesuai dengan jenis amal perbuatan seseorang, amalan yang
jelek akan dibalas dengan 'iqob dan azab-Nya sedangkan amal yang baik akan
mendapatkan balasan rahmat dan ridho-Nya. Allah subhanahu wata’ala
berfirman,
وَوُضِعَ
الْكِتَابُ
فَتَرَى
الْمُجْرِمِينَ
مُشْفِقِينَ
مِمَّا فِيهِ
وَيَقُولُونَ
يَا
وَيْلَتَنَا
مَالِ هَذَا
الْكِتَابِ
لَا
يُغَادِرُ
صَغِيرَةً
وَلَا
كَبِيرَةً
إِلَّا
أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا
مَا عَمِلُوا
حَاضِرًا
وَلَا يَظْلِمُ
رَبُّكَ
أَحَدًا
"Dan diletakkanlah al-kitab (buku catatan
amal perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan
terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai
celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak
(pula) yang besar, melainkan dia catat semuanya; dan mereka mendapati apa yang
telah mereka kerjakan ada (tertulis dihadapan mereka). Dan Rabbmu tidak
menganiaya seorang jua pun". (QS. Al-Kahfi:49).
Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8 surat Al-Hadid ayat: 4
Berbagai sumber seputar tazkiyatunnfus. (Abu Abdillah Dzahabi)