Khutbah
Pertama:
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ : اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى ؛
فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
Ma’asyiral
muslimin, ibadallah
Sesungguhnya
sebesar-besar pintu untuk mengenal, mengilmui, dan mengimani Allah Tabaraka
wa Ta’ala adalah dengan mengkaji nama-nama-Nya yang Maha Indah dan
sifat-sifat-Nya Yang Maha Sempurna. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى
فَادْعُوهُ
بِهَا
“Dan
milik Allah-lah nama-nama yang Maha Baik, maka berdoalah dengan
perantaranya.” (QS. Al-Araf: 180).
هُوَ
اللَّهُ
الْخَالِقُ
الْبَارِئُ
الْمُصَوِّرُ
لَهُ
الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى يُسَبِّحُ
لَهُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَهُوَ
الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
“Dialah
Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai
Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24)
اللَّهُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ
لَهُ الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى
“Dialah
Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, baginya nama-nama Yang
Maha Indah.” (QS. Thaha: 8)
Ibadallah..
Salah
satu pengetahuan yang sangat kita butuhkan pada hari ini adalah pengetahuan
tentang bahwasanya Allah itu adalah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Hal ini
tanpa menafikan pengetahuan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lain yang
bersumber dari cahaya Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Allah
Ta’ala berfirman tentang nama-Nya Ar-Razzaq,
إِنَّ
اللَّهَ هُوَ
الرَّزَّاقُ
ذُو الْقُوَّةِ
الْمَتِينُ
“Sesungguhnya
Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat
Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)
وَارْزُقْنَا
وَأَنْتَ
خَيْرُ
الرَّازِقِينَ
“Berilah
kami rezeki, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS.
Al-Maidah: 114)
وَإِنَّ
اللَّهَ
لَهُوَ
خَيْرُ
الرَّازِقِينَ
“Dan
sungguh Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Hajj: 58)
Dan
masih banyak lagi ayat-ayat serupa, yang menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu
wa Ta’ala adalah Maha Pemberi Rezeki.
Ibadallah,
Ar-Razzaq
artinya ditangannyalah rezeki seluruh makhluk dan Dialah yang paling kuat
memberiikan rezeki kepada para hamb-Nya. Dia lah Allah Jalla wa ‘Ala
yang memberiikan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, di tangan-Nya
segala urusan, dan Dialah yang mengatur alam semesta ini. Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا
“Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberii
rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya.” (QS. Hud: 6)
Dan
Allah juga berfirman,
وَكَأَيِّنْ
مِنْ
دَابَّةٍ لَا
تَحْمِلُ رِزْقَهَا
اللَّهُ
يَرْزُقُهَا
وَإِيَّاكُمْ
وَهُوَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
“Dan
berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.
Allah-lah yang memberii rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 60)
Firman-Nya
yang lain,
إِنَّ
رَبَّكَ
يَبْسُطُ
الرِّزْقَ
لِمَنْ يَشَاءُ
وَيَقْدِرُ
إِنَّهُ
كَانَ بِعِبَادِهِ
خَبِيرًا
بَصِيرًا
“Sesungguhnya
Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya;
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”
(QS. Al-Isra: 30)
وَاللَّهُ
يَرْزُقُ
مَنْ يَشَاءُ
بِغَيْرِ
حِسَابٍ
“Dan
Allah memberii rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”
(QS. An-Nur: 38)
Semua
rezeki di tangan Allah Jalla wa ‘Ala; penghidupan seorang hamba,
makanannya, minumannya, lauk pauknya, semuanya di tangan Allah Tabaraka wa
Ta’ala. Dialah yang memberii dan Dia pula yang berkuasa menahan
rezeki. Dialah yang melapangkan dan Dia pula yang mampu menyempitkannya. Dialah
yang kuasa menurunkan rezeki dan Dia pula yang bisa mengangkatnya. Jika Dia
menghendaki menjadikan suatu rezeki untuk seorang hamba, maka pasti hamba
tersebut akan mendapatkannya. Namun apabila Dia menahannya, tidak ada seorang
pun yang mampu memberiinya. Laa haula wala quwwata illa billah..
Ibadallah
Banyak
ayat-ayat yang menjelaskan kepada kita bahwasanya Allah Ta’ala
adalah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki, dan bahwa rezeki itu berada di
tangan-Nya. Namun masih saja di antara kita ada yang berharap kepada manusia,
mengetuk pintu rumah orang dengan mengharap belas kasihan. Bahkan tidak sedikit
yang menempuhnya dengan jalan yang haram.
Permasalahan
rezeki di dalam Alquran dan sunnah dijelaskan dalam dua kedudukan.
Pertama, kedudukan rezeki sebagai pemuliaan
dan kenikmatan. Banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70)
Kedua, rezeki sebagai sarana dakwah,
ketaatan, dan perwujudan tauhid. Dalam makna yang demikian juga banyak terdapat
ayat-ayat di dalam Alquran sebagai penjelasannya. Di antaranya,
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اعْبُدُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ.
الَّذِي جَعَلَ
لَكُمُ
الْأَرْضَ
فِرَاشًا
وَالسَّمَاءَ
بِنَاءً
وَأَنْزَلَ
مِنَ
السَّمَاءِ
مَاءً
فَأَخْرَجَ
بِهِ مِنَ
الثَّمَرَاتِ
رِزْقًا
لَكُمْ فَلَا
تَجْعَلُوا
لِلَّهِ
أَنْدَادًا
وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ
“Hai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit,
lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki
untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal
kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)
Maksudnya
adalah jangan kalian menyekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya, padahal
kalian mengetahui bahwa tidak ada yang menciptakan dan memberii rezeki kepada
kalian kecuali hanya Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Allah
menerangkan betapa batil dan buruknya perbuatan syirik seorang hamba, padahal
ia telah Allah beri rezeki,
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اذْكُرُوا
نِعْمَةَ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ
هَلْ مِنْ
خَالِقٍ غَيْرُ
اللَّهِ
يَرْزُقُكُمْ
“Hai
manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang
dapat memberiikan rezeki kepada kamu?” (QS. Fathir: 3)
Ibadallah,
Sekali
lagi, rezeki itu di tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Barangsiapa yang
diberikan kenikmatan, maka itu dari-Nya. Siapa yang menerima suatu karunia, itu
adalah pemberian-Nya. Dan kedermawanan adalah kedermawanan-Nya. Allah Jalla
wa ‘Ala memberii rezeki kepada hamba-Nya dengan dua cara:
Rezeki
yang bersifat umum dan khusus. Secara umum, Allah memberi rezeki kepada hamba
secara umum, baik orang baik maupun pelaku dosa, baik yang mukmin maupun kafir.
Sebagaimana ayat yang telah disebutkan sebelumnya,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberii
rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Pemberian
dalam ayat ini adalah pemberian yang umum, tidak ada satu pihak pun yang
mendapatkan kekhususan. Allah berfirman,
كُلًّا
نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ
وَهَٰؤُلَاءِ
مِنْ عَطَاءِ
رَبِّكَ
“Kepada
masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan
bantuan dari kemurahan Tuhanmu.” (QS. Al-Isra: 20)
Pemberian
ini cakupannya pada pemberian makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan
sejenisnya. Pemberian jenis yang pertama ini tidak menunjukkan bahwa Allah
ridha kepada siapa yang Dia beri karena Allah memberiikan kenikmatan dunia
kepada siapa yang dia cintai dan juga kepada yang Dia benci. Adapun kehidupan
akhirat tidak akan Allah berikan kecuali hanya kepada mereka yang Dia cintai.
Renungilah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala berikut ini,
﴿
فَأَمَّا
الْإِنْسَانُ
إِذَا مَا
ابْتَلَاهُ
رَبُّهُ
فَأَكْرَمَهُ
وَنَعَّمَهُ
فَيَقُولُ
رَبِّي
أَكْرَمَنِ(15)
وَأَمَّا
إِذَا مَا
ابْتَلَاهُ
فَقَدَرَ
عَلَيْهِ
رِزْقَهُ
فَيَقُولُ
رَبِّي
أَهَانَنِ﴾[الفجر:15-16]
Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata:
“Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al-Fajr: 15-16).
Jadi,
ketika kita melihat ada seoarang yang mendapatkan karunia Allah berupa
kekayaan, fisik rupawan, kendaraan yang mewah, dan kenikmatan dunia lainnya,
ini bukanlah suatu pertanda bahwa Allah mencintai dan meridhainya. Dan
sebaliknya ketika ada seseorang yang sempit kehidupannya; makan susah, rezeki
tidak lancar, dll. ini juga bukan berarti pertanda bahwa Allah membencinya dan
menghinakannya.
Kekayaan
dan kemiskinan keduanya adalah cobaan (bala’) dari Allah Tabaraka
wa Ta’ala untuk para hamba-Nya. Sama halnya Allah juga uji manusia
dengan kesehatan dan rasa sakit. Jadi dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan.
Ibadallah,
Kewajiban
bagi seorang hamba yang beriman yang mengetahui bahwa rezeki di tangan Allah Tabaraka
wa Ta’ala hendaknya tidak mengharapkan sesuatu keculi hanya kepada
Allah, baik itu rezeki yang sifatnya umum atau yang bersifat khusus.
Rezeki
yang bersifat khusus adalah rezeki yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang
yang beriman, yaitu berupa anugerah rezeki keimanan, hidayah ketaatan, tetap
teguh memegang tauhid dan kebenaran, dan rezeki-rezeki lainnya yang dikhususkan
hanya untuk hamba-hamba Allah yang beriman. Hamba yang bertakwa akan berharap
kepada Allah dalam setiap perkara.
Sebesar-besar
karunia Allah yang patut kita harapkan adalah ketakwaan dan keimanan. Ini
adalah asas dari semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,
﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾ [الطلاق:2-3
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberiinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS.
Ath-Thalaq: 2-3).
فَالَّذِينَ
آَمَنُوا
وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ
لَهُمْ
مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ
كَرِيمٌ
“Maka
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang
mulia.” (QS. Al-Hajj: 50)
Ibadallah,
Kesimpulan
dalam permasalahan ini adalah wajib bagi kita untuk berharap kepada Allah,
jujur dari hati kita dan menjauhi segala bentuk dosa dan kemaksiatan. Karena
dosa dan kemaksiatan akan menghilangkan kenikmatan dan rezeki, malah
mendatangkan bencana dan musibah. Tidaklah musibah turun dan kenikmatan
terangkat kecuali dikarenakan perbuatan dosa. Ali bin Abi Thalib mengatakan,
مَا
نُزِلَ
بَلَاءُ
إَلَّا
بِذَنْبٍ،
وَمَا رُفِعَ
إِلَّا
بِتَوْبَةِ
“Tidaklah
bencana itu turun kecuali dikarenakan dosa, dan ia tidak akan terangkat
melainkan karena taubat.”
Allah
Ta’ala berfirman,
مِمَّا
خَطِيئَاتِهِمْ
أُغْرِقُوا
فَأُدْخِلُوا
نَارًا
“Disebabkan
kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke
neraka.” (QS. Nuh: 25)
Yakni
disebabkan dosa-dosa kalian, kalian di akhirat mendapatkan musibah di akhirat
kelak.
Firman-Nya,
فَكُلًّا
أَخَذْنَا
بِذَنْبِهِ
“Dan
masing-masing Kami adzab karena perbuatan dosa mereka.” (QS. Al-Ankabut:
40)
ظَهَرَ
الْفَسَادُ
فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
بِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِي
النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ
بَعْضَ
الَّذِي
عَمِلُوا
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka” (QS. Ar-Rum: 41)
Oleh
karena itu, wajib bagi kita untuk bertaubat kepada Allah dengan taubat yang
murni, taubat dari segala dosa dan kesalahan kita. Kita hadapkan diri kita
kepada Allah sebagai orang-orang yang kembali dan beriman kepada-Nya. Allah Tabaraka
wa Ta’ala akan memberi anugerah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh
dengan kemulian, fadilah, dan rezeki-Nya karena Dialah Ar-Razzaq, Maha Pemberi
Rezeki.
Kita
memohon kepada Allah agar Dia mencintai kita semua dengan memberiikan kita
taufik-Nya, menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan memberikan kita rezeki.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ
، أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى
Ibadallah
Barangsiapa
yang mengimani bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, rezeki hanya di tangan Allah, dan
bahwa tidaklah seseorang wafat kecuali telah ia dapatkan secara sempurna rezeki
yang telah ditetapkan untuknya sebagaimana yang telah Allah takdirkan, orang
yang memiliki keimanan dan keyakinan demikian, maka dia akan sangat jauh dari
perasaan berputus asa dari rahmat Allah. Kualitas keimanan yang demikian akan
membawa seorang hamba hanya berharap rezeki dari Allah dan tidak kepada
selain-Nya.
Seorang
hamba yang senantiasa menengadahkan tangannya ke langit berharap hanya kepada
Allah, menunjukkan hati yang penuh kejujuran kepada-Nya, penuh dengan
kepercayaan bahwa Allah tidak akan mengecewakannya selama-lamanya, niscaya
doanya akan Allah ijabah dan tidak akan tertolak.
Berbuat
ihsanlah wahai hamba Allah, gantungkan harapan kepada Allah, kokohkan rasa
percaya pada-Nya, terbangkanlah angan-angan harapan di sisi-Nya, karena
sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala Maha Luas karunia-Nya dan sangat
mudah memberi. Dia tidak akan mengecewakan mereka yang menyeru-Nya, juga tidak
akan menolak orang yang memanggil-Nya, karena Dia telah berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Dalam
memohon kepada Allah hendaknya kita tidak melupakan sebab-sebab terkabulnya
doa, kesungguhan dalam meminta, dan mengusahakan cara-cara yang dibolehkan oleh
Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah berfirman,
فَامْشُوا
فِي
مَنَاكِبِهَا
وَكُلُوا مِنْ
رِزْقِهِ
“…maka
berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari
rezeki-Nya…” (QS. Al-Mulk: 15)
Sambil
berusaha kita tidak lupa untuk memanjatkan doa kepada-Nya.
فَابْتَغُوا
عِنْدَ
اللَّهِ
الرِّزْقَ
وَاعْبُدُوهُ
وَاشْكُرُوا
لَهُ
إِلَيْهِ
تُرْجَعُونَ
“…maka
mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah
kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS.
Al-Ankabut: 17)
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَنَا
أَجْمَعِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
أَحْوَالَنَا
أَجْمَعِيْنَ
، اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
أَحْوَالَنَا
أَجْمَعِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا دِيْنَنَا
اَلَّذِي
هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي فِيْهَا
مَعَاشُنَا ،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
اَلَّتِي فِيْهَا
مَعَادُنَا ،
وَاجْعَلْ
الحَيَاةَ زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلِّ خَيْرٍ
، وَالمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ ،
اَللَّهُمَّ
ارْفَعْ
عَنَّا
الغَلَاءَ
وَالوَبَاءَ
وَالمَحَنَ
كُلَّهَا ،
وَالْزَلَازِلَ
وَالفِتَنَ
مَا ظَهَرَ
مَنْهَا
وَمَا بَطَنَ
، اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
، وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَلَامِ
،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُوْرِ ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَقْوَاتِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا ،
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
وَلَا تُعِنْ
عَلَيْنَا ،
وَانْصُرْنَا
وَلَا
تَنْصُرْ
عَلَيْنَا،
وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ
الهُدَى
لَنَا ،
وَانْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغِى
عَلَيْنَا ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
لَكَ شَاكِرِيْنَ
، لَكَ
ذَاكِرِيْنَ
، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ
مُنِيْبِيْنَ
، إِلَيْكَ
مُخْبِتِيْنَ
، لَكَ
مُطِيْعِيْنَ
، اَللَّهُمَّ
اهْدِ
قُلُوْبَنَا،
وَأَجِبْ
دَعْوَتَنَا
،
وَتَقَبَّلْ
تَوْبَتَنَا
، وَثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا
، وَاسْلُلْ
سَخِيْمَةَ
صُدُوْرِنَا
، اَللَّهُمَّ
اهْدِنَا
إِلَيْكَ
صِرَاطًا
مُسْتَقِيْمًا
،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا تُحِبُّ
وَتَرْضَى ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
المُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
الأَحْيَاءَ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ،
يَا رَزَّاقُ
يَا مَنَّانُ
يَا وَاسِعَ
الجُوْدِ وَالعَطَاءِ
وَالإِحْسَانِ
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَتَوَجَّهَ
إِلَيْكَ
بِاسْمِكَ الرَزَّاقُ
وَبِأَسْمَائِكَ
الحُسْنَى
كُلِّهَا
وَصِفَاتِكَ
العُلْيَا
أَنْ تَرْزُقَنَا
وَأَنْتَ
خَيْرُ
الرَّازِقِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
ابْسُطْ عَلَيْنَا
مِنْ
أَبْوَابِ
جُوْدِكَ
وَمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَعَطَائِكَ
مِنْ حَيْثُ
لَا
نَحْتَسِبْ ،
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا ،
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا ،
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
محمد وَعَلَى
آلِ محمد كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
، وَبَارِكْ
عَلَى محمد
وَعَلَى آل محمد
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلى آل
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
وَارْضَ عَنْ
أَصْحَابِ
نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ
، وَعَنْ
التَابِعِيْنَ
وَمَن
تَبِعُهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
، وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ الحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari Khotbah Jumat Syaikh Abdurrozaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
Tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com