Khutbah
Pertama:
إِنّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ
أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ
الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ
صَلّى الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ، وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
Muslimin rahimakumullah,
Khatib
mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa
bertakwa kepada Allah Ta’ala, melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Bertakwa dengan cara menaati-Nya bukan berbuatk
maksiat kepada-Nya, mensyukuri nikmat-Nya bukan malah mengkufurinya, dan selalu
mengingat-Nya bukan melupakan-Nya.
Segala
puji bagi-Nya Rabb semesta alam, yang telah mengaruniakan berbagai kenikmatan
yang tak terhingga. Shalawat dan salam bagi penghulu para rasul, kekasih dan
penyejuk hati kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga
kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum muslimin rahimakumullah…
Sesungguhnya
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda (berpesan)
kepada seorang anak muda, yang mana dia adalah anak pamannya. Dia-lah Abdullah
ibn ‘Abbas radiyallahu ‘anhu. Apakah gerangan sabda yang
dipesankan kepada anak muda yang mulia ini?. Marilah kita simak langsung dari
penuturan Abdullah ibn ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, beliau
berkata;
كُنْتُ
خَلْفَ
رَسُولِ
اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
يَوْمًا،
فَقَالَ: «يَا
غُلَامُ
إِنِّي أُعَلِّمُكَ
كَلِمَاتٍ،
احْفَظِ
اللَّهَ يَحْفَظْكَ،
احْفَظِ
اللَّهَ
تَجِدْهُ تُجَاهَكَ،
إِذَا
سَأَلْتَ
فَاسْأَلِ
اللَّهَ،
وَإِذَا
اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ،
وَاعْلَمْ
أَنَّ
الأُمَّةَ
لَوْ اجْتَمَعَتْ
عَلَى أَنْ
يَنْفَعُوكَ
بِشَيْءٍ
لَمْ
يَنْفَعُوكَ
إِلَّا
بِشَيْءٍ
قَدْ
كَتَبَهُ
اللَّهُ لَكَ،
وَلَوْ
اجْتَمَعُوا
عَلَى أَنْ
يَضُرُّوكَ
بِشَيْءٍ
لَمْ
يَضُرُّوكَ
إِلَّا بِشَيْءٍ
قَدْ
كَتَبَهُ
اللَّهُ
عَلَيْكَ، رُفِعَتِ
الأَقْلَامُ
وَجَفَّتْ
الصُّحُفُ»
“Pada
suatu hari, aku berada di belakang Rasulillah sallallahu ‘alaihi wa
sallam, kemudian beliau bersabda kepadaku; ‘wahai anak muda,
sesungguhnya aku mengajarimu (aku berpesan kepadamu) beberapa kalimat, jagalah
Allah niscaya Allah menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya ada di
hadapanmu, apabila kamu meminta maka mintalah hanya kepada Allah, apabila kamu
mohon pertolongan maka mohonlah pertolongan hanya kepada Allah, dan ketahuilah
bahwa sekiranya suatu kaum berkumpul untuk mendatangkan kemanfaatan bagimu
(mendatangkan kebaikan untukmu), maka mereka tidak akan dapat melakukan hal itu
melainkan hanya sedikit saja sekedar apa yang telah Allah tentukan untukmu, dan
kalau sekiranya mereka hendak mendatangkan bahaya kepadamu (mendatangkankan
kemadhorotan atasmu), maka mereka tidak akan dapat melakukan hal itu melainkan
sedikit saja sekedar apa yang telah Allah tentukan atasmu. Pena telah
terangkat, dan lembar-lembar takdir telah mengering (segalanya telah ditetapkan
sebagai ketetapan yang pasti).” (HR. at Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh
al Albani)
Kaum
muslimin rahimakumullah…
Dari
hadits ini, khatib hanya akan menjelaskan kalimat yang pertama, yaitu
“Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu!.”
Lalu
apakah yang dimaksud dengan menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala?.
Imam
Abdurrahman ibn Abi Bakr Jalaludin as Suyuthi rahimahullah dalam
kitabnya Qutul Mughtadzi berkata, Imam al Kahfani rahimahullah berkata,
“Menjaga
Allah, maksudnya adalah kamu menjaga perintah Allah Subhanahu Wa
Ta’ala dan kamu bertakwa kepadaNya. Maka jangan sampai Allah
melihatmu berbuat kemaksiatan atau berbuat pelanggaran terhadap
perintahNya.”
Dan
Imam Ibn Daqiq al ‘Id rahimahullah berkata,
“Memjaga
Allah maksudnya adalah, jadilah kamu orang yang selalu taat kepada Allah Subhanahu
Wa Ta’ala, berteguh dalam menjalankan perintahNya dan dalam menjauhi
laranganNya.”
Kaum
muslimin rahimakumullah…
Dan
merupakan perbuatan seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa
Ta’ala adalah dengan menjaga anggota badannya agar tidak digunakan
untuk hal kemaksiatan atau perbuatan dosa. Maka hendaknya setiap kita
memperhatikan dan merenungkan siapa sebenarnya di balik rupa kita ini. Siapa
sebenarnya di balik anggota badan kita ini?
Kaum
muslimin rahimakumullah…
Ada
5 anggota badan dari diri kita ini yang perlu direnungkan bersama oleh kita.
Sudahkah kita menjaga ke 5 anggota badan ini untuk tidak bermaksiat kepada
Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
1.
Menjaga Hati.
Termasuk
seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia
yang menjaga hatinya dari perkara-perkara syubhat yang dapat mengkeruhkan
keyakinannya, dan adalah dia yang dapat menjaga hatinya dari perkara-perkara
syahwat yang dapat menyesatkan dan menyengsarakannya.
Hati
memiliki kedudukan yang penting bagi hidup setiap manusia. Apabila hati telah
hilang, maka hilanglah segala hidupnya. Apabila hati telah rusak, maka rusaklah
segala perilaku hidupnya.
أَلاَ
وَإِنَّ فِي
الجَسَدِ
مُضْغَةً:
إِذَا
صَلَحَتْ
صَلَحَ
الجَسَدُ
كُلُّهُ،
وَإِذَا
فَسَدَتْ
فَسَدَ
الجَسَدُ
كُلُّهُ، أَلاَ
وَهِيَ
القَلْبُ
“Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam badan/tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik,
maka baiklah seluruh badan. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh
badan. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Maka
hendaknya setiap kita selalu menjaga hati dan menatanya agar tetap dalam
kondisi yang baik dan bersih dari noda-noda hitam dosa. Setiap manusia akan
merugi pada hari kiamat, kecuali dia yang datang dalam keadaan hatinya bersih
lagi sejahtera. Tidak ada syahwat, tidak ada syubhat di dalam hatinya. Tidak
ada sesuatu pun di dalam hatinya kecuali kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammad
rasulullaah.
يَوْمَ
لَا يَنْفَعُ
مَالٌ وَلَا
بَنُونَ (88) إِلَّا
مَنْ أَتَى
اللَّهَ
بِقَلْبٍ
سَلِيمٍ (89)
[الشعراء : 88 ، 89]
“(Pada
hari kiamat) hari yang mana harta benda dan anak-anak tiada lagi berguna,
kecuali dia yang datang dengan hati yang sejahtera (hati yang selamat dan
bersih dari dosa).” (QS. Asy Syu’ara : 88-89)
Dialah
hati yang tidak ada kesyirikan di dalamnya, tidak ada riya’, tidak ada
kemunafikan, tidak ada kesombongan, tidak ada kebanggaan diri, tidak ada
dendam, tidak ada dengki. Hatinya murni penuh dengan tauhid Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Penuh dengan keikhlasan dan kejujuran. Penuh dengan
ketawakkalan dan penyandaran diri yang tulus hanya kepada Allah Subhanahu Wa
Ta’ala. Sebagaimana hati kholilullah Ibrahim ‘alaihissalam.
إِذْ
جَاءَ
رَبَّهُ
بِقَلْبٍ
سَلِيمٍ [الصافات
: 84]
“(ingatlah)
ketika dia Ibrahim datang kepada Rabbnya dengan hati yang bersih (ikhlas
sepenuhnya hanya untuk Allah).” (QS. Ash Shoffat : 84)
Kaum
muslimin rahimakumullah…
2.
Menjaga Lisan
Termasuk
seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia
yang menjaga lisannya. Lisan memiliki perkara yang sangat mengagumkan. Berapa
banyakkah kehormatan orang yang hancur disebabkan oleh lisan? Berapa banyakkah
harga diri yang menjadi rendah disebabkan oleh lisan? Berapa banyakkah rumah
tangga yang runtuh disebabkan oleh lisan? Dan berapa banyakkah kemaksiatan yang
keluar dari lisan, namun kita tidak pernah menyadarinya? Ghibah (menggunjing
orang lain), namimah (mengadu domba), mengejek, menghina, berdusta, menipu,
atau saling berdebat untuk sesuatu yang tidak berguna, tidak ada manfaatnya
sama sekali.
إِنَّ
الرَّجُلَ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
لَا يُرِيدُ
بِهَا
بَأْسًا،
يَهْوِي
بِهَا
سَبْعِينَ
خَرِيفًا فِي
النَّارِ
“Sesungguhnya
seseorang berkata dengan satu kalimat, ia menganggapnya biasa. Tapi ternyata
kalimat tersebut menjadikannya terlempar ke dalam api neraka sejauh 70 tahun
perjalanan.” (HR. Ahmad, dishohihkan oleh Syaikh al Albani)
إِنَّ
العَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
مَا
يَتَبَيَّنَ
فِيْهَا
يَزَلُ بِهَا
فِي النَّارِ
أَبْعَدَ مَا
بَيْنَ
المَشْرِقِ
وَالمَغْرِبِ
“Sesungguhnya
seseorang berkata dengan satu kalimat yang tidak ada kejelasan di dalamnya (dia
mengucapkannya tanpa ilmu). Maka oleh sebab kalimat itu, dia tergelinicir ke
dalam api jahannam sejauh jarak antara timur dan barat.” (HR.
Bukhari-Muslim)
Maka
hendaknya setiap kita menjaga lisan ini, agar tidak keluar darinya kecuali
sesuatu yang mendatangkan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau
sesuatu yang menggembirakan hati orang yang mendengarnya. Abu Bakar ash Shiddiq
radiyallahu ‘anhuu berkata,
وَللهِ
مَا شَيْئٌ
أَحَقُّ
بِطُوْلِ
حَبَسِ مِنَ
اللِّسَانِ
“Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih berhak untuk
terus dijaga sepanjang waktu daripada lisan ini.”
Rosululloh
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
كَانَ
يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ
وَاليَوْمِ
الآخِرِ
فَلْيَقُلْ
خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang
baik-baik, (kalau tidak bisa) maka lebih baik ia diam saja.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Dan
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ
يَضْمَنْ لِي
مَا بَيْنَ
لَحْيَيْهِ وَمَا
بَيْنَ
رِجْلَيْهِ
أضمنْ لَهُ
الجنَّةَ
“Barangsiapa
memberi jaminan kepadaku, apa yang ada diantara kumis dan jenggotnya (yaitu
lisan), dan apa yang ada diantara kedua kakinya (yaitu kemaluan), maka aku
menjamin baginya Surga.” (HR. Bukhari)
Kaum
muslimin rahimakumullah…
3.
Menjaga Pendengaran (Telinga)
Termasuk
seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia
yang menjaga pendengarannya. Seorang muslim, seorang mu’min tidak pantas
baginya mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa
Ta’ala. Tidak mendengarkan perkataan kotor. Tidak mendengarkan
musik-musik. Tidak mendengarkan siulan-siulan. Dan tidak mendengarkan perkataan
yang sia-sia.
وَالَّذِينَ
لا
يَشْهَدُونَ
الزُّورَ وَإِذا
مَرُّوا
بِاللَّغْوِ
مَرُّوا
كِراماً
“(Dan
termasuk hamba Allah Yang Maha Penyayang adalah), orang-orang yang tidak
memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang yang
melakukan perbuatan/perkataan yang sia-sia, maka dia berlalu dengan tetap
menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon : 72)
Maka
jagalah telinga kita, jagalah pendengaran kita. Sungguh ayat-ayat Al
Qur’an adalah lebih berhak untuk kita dengarkan, nasihat-nasihat atau
ceramah yang baik adalah lebih layak untuk kita dengarkan, atau berita-berita
tentang kabar kaum muslimin, tentang keadaan kaum muslimin, sungguh semua itu
lebih pantas untuk kita dengarkan.
إِنَّ
السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤادَ
كُلُّ
أُولئِكَ
كانَ عَنْهُ
مَسْؤُلاً
“Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati. Semua itu akan dimintai pertanggung
jawabannya.” (QS. Al Isra’ : 36)
Kaum
muslimin rahimakumullah…
4.
Menjaga Penglihatan (Mata)
Termasuk
seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia
yang menjaga penglihatannya. Sesungguhnya mata, apabila ia digunakan untuk
melihat atau memandang sesuatu yang haram, maka sesungguhnya dia adalah panah
beracun iblis yang dapat merusak hati dan mengoyak keimanan yang ada di
dalamnya. Namun apabila ia dijaga untuk tidak melihat atau memandang hal-hal
yang diharamkan, maka Allah akan memberi ganti keimanan untuk kita yang kita
rasakan manisnya di dalam dada.
قُلْ
لِلْمُؤْمِنِينَ
يَغُضُّوا
مِنْ أَبْصارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا
فُرُوجَهُمْ
ذلِكَ أَزْكى
لَهُمْ إِنَّ
اللَّهَ
خَبِيرٌ بِما
يَصْنَعُونَ
“Katakanlah
kepada kaum mu’minin (orang-orang yang beriman), agar mereka menjaga
pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka. Karena yang demikian itu lebih
baik bagi mereka (lebih mensucikan jiwa mereka). Sesungguhnya Allah Maha Teliti
terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur : 30)
Maka
hendaknya setiap kita memalingkan pandangan, mengarahkan penglihatan kita
kepada kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang ada di muka bumi
ini, agar kita dapat merenungi akan betapa maha agungnya penciptaan langit dan
bumi.
قُلِ
انْظُرُوا
ماذا فِي
السَّماواتِ
وَالْأَرْضِ
“Katakanlah,
‘perhatikanlah (lihatlah, pandanglah) apa yang ada di langit dan di
bumi’.” (QS. Yunus : 101)
أَفَلا
يَنْظُرُونَ
إِلَى
الْإِبِلِ
كَيْفَ
خُلِقَتْ
وَإِلَى
السَّماءِ
كَيْفَ رُفِعَتْ
وَإِلَى
الْجِبالِ
كَيْفَ
نُصِبَتْ وَإِلَى
الْأَرْضِ
كَيْفَ
سُطِحَتْ
“Maka
tidakkah mereka memperhatikan (tidakkah mereka melihat) kepada unta, bagaimana
ia diciptakan?, (dan tidakkah mereka melihat) kepada langit, bagaimana ia
ditinggikan, (dan tidakkah mereka melihat) kepada gunung, bagaimana ia
ditegakkan, (dan tidakkah mereka melihat) kepada bumi, bagaimana ia
dihamparkan?.” (QS. Al Ghosyiyah : 17-20)
Kaum
muslimin rahimakumullah…
5.
Menjaga Perut
Termasuk
seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dia
yang menjaga perutnya. Seorang muslim menjaga perutnya dari makanan yang haram.
Dia tidak makan kecuali dari apa yang telah dibolehkan, dari apa yang telah
dihalalkan untuknya. Dia menjauhi unsur-unsur penghasilan yang datang dari
riba, penipuan, atau jual beli yang curang, sehingga tidak ada keberkahannya
sama sekali pada harta tersebut. Justru yang ada adalah kecelakaan dan
kesengsaraan. Seorang muslim makanannya adalah makan yang baik dan bersumber
dari penghasilan yang baik. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala
tidaklah menerima kecuali apa-apa yang baik. Dan tidak menerima doa kecuali
dari orang-orang yang baik.
أَيُّهَا
النَّاسُ،
إِنَّ اللهَ
طَيِّبٌ لَا
يَقْبَلُ
إِلَّا
طَيِّبًا،
وَإِنَّ اللهَ
أَمَرَ
الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ
بِهِ
الْمُرْسَلِينَ،
فَقَالَ: {يَا
أَيُّهَا الرُّسُلُ
كُلُوا مِنَ
الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا
صَالِحًا،
إِنِّي بِمَا
تَعْمَلُونَ
عَلِيمٌ}
[المؤمنون: 51]
وَقَالَ: {يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ}
[البقرة: 172]
ثُمَّ ذَكَرَ
الرَّجُلَ
يُطِيلُ
السَّفَرَ
أَشْعَثَ
أَغْبَرَ،
يَمُدُّ يَدَيْهِ
إِلَى
السَّمَاءِ،
يَا رَبِّ، يَا
رَبِّ،
وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ،
وَمَشْرَبُهُ
حَرَامٌ،
وَمَلْبَسُهُ
حَرَامٌ، وَغُذِيَ
بِالْحَرَامِ،
فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ
لِذَلِكَ؟
“Wahai
manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali apa-apa yang
baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mu’min dengan apa yang
telah diperintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, ‘wahai para
rasul, makanlah kalian dari apa yang baik-baik, dan beramal sholihlah,
sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat’. Dan Allah
berfirman, ‘wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang
baik-baik, yang telah Kami rizkikan kepada kalian’. Kemudian Rasulullah
menggambarkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, nampak bekas
perjalanan tersebut di sekujur tubuhnya, penuh debu, dia menengadahkan kedua
tangannya ke langit seraya berseru ya rabb ya rabb, sedangkan makanannya adalah
haram, minumannya adalah haram, dan pakaiannya adalah haram, dia tumbuh dari
sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dijawab?.” (HR.
Muslim)
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
أَسْتَغْفِرُ
الله لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ
الرّحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ
سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
Kaum
muslimin rahimakumullah…
Dalam
khutbah yang kedua ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk bersama
merenung.
Setiap
hari tentu kita menyempatkan diri untuk bercermin. Bahkan hampir di setiap
waktu kita menyempatkan diri untuk bercermin. Kira-kira untuk apakah kita
bercermin?…. Tidak lain adalah untuk melihat penampilan kita. Setiap kita
ingin tampil dengan fisik yang sempurna, dengan fisik yang baik, sehingga sedap
dipandang oleh banyak orang.
Namun
jamaah sekalian yang dirahmati Allah, pernahkah kita melihat sesuatu yang lain
dari diri kita di dalam cermin. Sunggguh kebanyakan kita telah tertipu dengan
apa yang dilihat di dalam cermin. Kita hanya sekedar melihat fisik, tapi tidak
melihat apa yang ada dibalik fisik kita. Untuk apakah kita gunakan setiap
anggota fisik kita ini, untuk apakah kita gunakan setiap anggota badan kita
ini?. Untuk ketaatan kepada Allah, ataukah justru untuk kemaksiatan dan
perbuatan dosa. Sudahkah kita menjaganya, ataukah justru kita menelantarkannya
terbuang ke dalam lumpur kehinaan. Memang terkadang fisik itu tampak bagus,
tapi apalah artinya jika isinya adalah keropos dan kosong. Seperti batang pohon
yang terlihat kuat, tapi ternyata dalamnya termakan rayap.
Maka
kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jagalah
Allah dengan menjaga anggota tubuh kita agar tetap dan terus dalam ketaatan dan
ketakwaan kepadaNya, serta jauh dari segala kemaksiatan dan perbuatan dosa.
Sehingga dengan begitu, Allah akan menjaga kita. Dan sehingga ketika kita
melihat diri kita di dalam cermin, kita dapat tersenyum. Karena kita melihat
calon penghuni Surga. Insya Allah. Aamiin.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ
اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنًاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
إِنّكَ
سَمِيْعٌ
مُجِيْبُ
الدّعَوَاتِ
رَبّنََا
لاَتًؤَخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا
رَبّنَا
وَلاَ
تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ
عَلىَ
الّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا
رَبّنَا
وَلاَ تُحَمّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ
لَنَا بِهِ وَاعْفُ
عَنّا
وَاغْفِرْ
لَنَا
وَارْحَمْنَا
أَنْتَ
مَوْلَنَا
فَانْصُرْنَا
عَلىَ الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا
آتِنَا فِي
الدّنْيَا
حَسَنَةً وَ فِي
اْلأَخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النّارِ.
وَالْحَمْدُ
لله رَبّ
الْعَالَمِيْنَ.
Oleh
Izzatullah