|
Buletin
Al Hujjah, Risalah No: 56 / Thn Iv / Rabiul Akhir /
1423H |
Jalan yang hak dalam menggapai ridha Allah
melalui orang tua adalah Birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada
kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam
Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya,
Allah Ta’ ala memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam surat Al
Isra’ ayat 23-24, Allah berfirman:
وَقَضَى
رَبُّكَ
أَلَّا
تَعْبُدُوا
إِلَّا
إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا
إِمَّا
يَبْلُغَنَّ
عِنْدَكَ
الْكِبَرَ
أَحَدُهُمَا
أَوْ كِلَاهُمَا
فَلَا تَقُلْ
لَهُمَا
أُفٍّ وَلَا
تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ
لَهُمَا
قَوْلًا كَرِيمًا،
وَاخْفِضْ
لَهُمَا
جَنَاحَ الذُّلِّ
مِنَ
الرَّحْمَةِ
وَقُلْ رَبِّ
ارْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانِي
صَغِيرًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada
manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat
baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari
keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah
katakan kepada keduanya ‘ah’ dan jangan lah kamu membentak keduanya. Dan
katakanlah kepada keduanya perkatanaan yang mulia dan rendahkanlah dirimu
terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku
sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan
ayat tersebut sebagai berikut:
“Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada semua
manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang
lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam
Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan
“wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan
sebaik-baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau
kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka
janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ ( ‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah
memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan
janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa
tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian
mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang perkataan perkataan
dan perbuatan yang buruk, Allah juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata
yang baik. Seperti dalam firman Allah Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan
katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut
dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap
keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan
hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya
menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia
lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet.
I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]
Perintah birul walidain juga tercantum
dalam surat An Nisa ayat 36, Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ
وَلَا
تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا
وَبِذِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ
وَالْجَارِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَالْجَارِ
الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ
بِالْجَنْبِ
وَابْنِ
السَّبِيلِ
وَمَا
مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ
إِنَّ
اللَّهَ لَا
يُحِبُّ مَنْ
كَانَ
مُخْتَالًا
فَخُورًا
Dan sembahlah Allah dan janganlah
menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak,
kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada
tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahaya, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membanggakan diri.”
Dalam surat Al Ankabut ayat 8, tercantum
larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran:
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ
بِوَالِدَيْهِ
حُسْنًا
وَإِنْ
جَاهَدَاكَ
لِتُشْرِكَ
بِي مَا لَيْسَ
لَكَ بِهِ
عِلْمٌ فَلَا
تُطِعْهُمَا
إِلَيَّ
مَرْجِعُكُمْ
فَأُنَبِّئُكُمْ
بِمَا
كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ
“Dan Kami wajibkan kepada manusia
(berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
maka janganlah kamu mengikutikeduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.lalu Aku
kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Pengertian
berbuat baik dan durhaka
Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal
dari kata ahsana –yuhsinu –Ihsaanan. Sedangkan yang dimaksud ihsan dalam
pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap
kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan
terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya
dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya
dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Sedangkan uquq artinya memotong
(seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). ‘Uququl walidain’ adalah
gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa
perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua
orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’,
berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci
dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti
memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau
menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak
bersilaturahmi atau tidak memberi nafkahkan kepada kedua orang tuanya yang
miskin.
Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat
Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Maryam ayat 30-34, Allah
Ta’ala menjelaskan bahwa Isa bin Maryam adalah anak yang berbakti kepada
Ibunya:
Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba
Allah, yang memberi Al-Kitab (Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan
Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang
yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah
Isa putra Maryam, mengatakan perkataan yang benar dan mereka berbantahan
tentang kebenarannya.”
Kemudian Allah berfirman dalam surat
Ibrahim ayat 40-41:
بِّ
اجْعَلْنِي
مُقِيمَ
الصَّلَاةِ
وَمِنْ
ذُرِّيَّتِي
رَبَّنَا
وَتَقَبَّلْ
دُعَاءِ،
رَبَّنَا
اغْفِرْ لِي
وَلِوَالِدَيَّ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ
يَوْمَ
يَقُومُ الْحِسَابُ
“Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak
cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah
doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan
sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.”
Lihat juga dalam surat Asy Syu’araa’ ayat
83-87:
رَبِّ
هَبْ لِي
حُكْمًا
وَأَلْحِقْنِي
بِالصَّالِحِينَ،
وَاجْعَلْ
لِي لِسَانَ
صِدْقٍ فِي
الْآخِرِينَ
(Ibrahim
berdoa) “Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam
golongan orang-orang yang shalih, Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi
orang-orang (yang datang) kemudian,
وَاجْعَلْنِي
مِنْ
وَرَثَةِ
جَنّ، وَاغْفِرْ
لِأَبِي
إِنَّهُ
كَانَ مِنَ
الضَّالِّينَ،
وَلَا
تُخْزِنِي
يَوْمَ
يُبْعَثُونَ
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang
yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena
sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,Dan janganlah
engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
Demikian juga Nabi Nuh ‘alaihi salam
mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian Nabi Ismail ‘alaihi salam,
juga Nabi Yahya ‘alaihi salam dalam surat Maryam ayat 12-15: Ambillah Al Kitab
dengan sungguh-sungguh, Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih
kanak-kanak, Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah
orang-orang yang bersih dosa dan orang-orang bertakwa. Dan banyak berbakti
kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi
durhaka. Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari
ia diwafatkan, dan pada hari ia dibangkitkan.”
Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi
Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk
tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan
kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang
shalih.”
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti
kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi
berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti
kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru
umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala
macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti
kepada orang tuanya.
Bila diperintahkan bahwa berbuat baik
kepada kedua orang tua seperti yang tercantum dalam surat An Nisa, surat Al
Isra dan surat-surat yang lainya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua
adalah masalah kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau
selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah ahlus sunnah wal
jama’ah, aqidah salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan
muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh
terjadi pada seorang yang bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua
orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullahu salamah wal afiyah. Bagi seorang
muslim terutama bagi seorang thalibul ‘ilm (penuntut ilmu), wajib baginya
berbakti kepada orang tuanya.
Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
dan
Pahalanya
Pertama:
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal yang paling utama. Dengan
dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin
Mas’ud radliallahu ‘anhu:
يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
أَيُّ الْعَمَلِ
أَفْضَلُ
قَالَ
الصَّلَاةُ
عَلَى
مِيقَاتِهَا
قُلْتُ ثُمَّ
أَيٌّ قَالَ ثُمَّ
بِرُّ
الْوَالِدَيْنِ
قُلْتُ ثُمَّ
أَيٌّ قَالَ
الْجِهَادُ
فِي سَبِيلِ
اللَّهِ
“Aku
bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama
dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat
pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua
berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR.
Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]
Dengan demikian jika ingin berbuat
kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah
birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Kedua:
Bahwa ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam
Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
رِضَا
الرَّبِّ فِي
رِضَا
الْوَالِدِ،
وَسَخَطُ
الرَّبِّ فِي
سَخَطِ
الْوَالِدِ
“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang
tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam
Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim
(4/151-152))
K etiga:
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang
dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shalih tersebut. Dengan dasar
hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar:
ثَلَاثَةُ
نَفَرٍ
يَمْشُونَ
أَخَذَهُمْ الْمَطَرُ
فَأَوَوْا
إِلَى غَارٍ
فِي جَبَلٍ
فَانْحَطَّتْ
عَلَى فَمِ
غَارِهِمْ
صَخْرَةٌ
مِنْ الْجَبَلِ
فَانْطَبَقَتْ
عَلَيْهِمْ
فَقَالَ بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ
انْظُرُوا
أَعْمَالًا
عَمِلْتُمُوهَا
صَالِحَةً
لِلَّهِ فَادْعُوا
اللَّهَ
بِهَا
لَعَلَّهُ
يُفَرِّجُهَا
عَنْكُمْ
قَالَ أَحَدُهُمْ
اللَّهُمَّ
إِنَّهُ
كَانَ لِي وَالِدَانِ
شَيْخَانِ
كَبِيرَانِ
وَلِي صِبْيَةٌ
صِغَارٌ
كُنْتُ
أَرْعَى
عَلَيْهِمْ
فَإِذَا
رُحْتُ
عَلَيْهِمْ
حَلَبْتُ فَبَدَأْتُ
بِوَالِدَيَّ
أَسْقِيهِمَا
قَبْلَ
بَنِيَّ
وَإِنِّي
اسْتَأْخَرْتُ
ذَاتَ يَوْمٍ
فَلَمْ آتِ حَتَّى
أَمْسَيْتُ
فَوَجَدْتُهُمَا
نَامَا فَحَلَبْتُ
كَمَا كُنْتُ
أَحْلُبُ
فَقُمْتُ
عِنْدَ
رُءُوسِهِمَا
أَكْرَهُ
أَنْ أُوقِظَهُمَا
وَأَكْرَهُ
أَنْ
أَسْقِيَ
الصِّبْيَةَ
وَالصِّبْيَةُ
يَتَضَاغَوْنَ
عِنْدَ
قَدَمَيَّ
حَتَّى
طَلَعَ
الْفَجْرُ فَإِنْ
كُنْتَ
تَعْلَمُ
أَنِّي
فَعَلْتُهُ
ابْتِغَاءَ
وَجْهِكَ فَافْرُجْ
لَنَا
فَرْجَةً
نَرَى
مِنْهَا السَّمَاءَ
فَفَرَجَ
اللَّهُ
فَرَأَوْا
السَّمَاءَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: ”Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka
bertehduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya,
tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua/ sebagian mereka
berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’
Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut,
dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara
mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang
sudah lanjut usia sedangkan sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang
masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah
susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku
harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang
sudah larut dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap
memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku
mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku
merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya.
Aku tidak akan berikan kepada siapapun sebelum susu yang aku perah ini
kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun.
Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya.
Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya
perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.’
Maka batu yang menutup pintu gua itu pun bergeser.” [HR. Bukhari, (Fathul
baari 4/449 no. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats
Tsalatsah Wattawasul bi Shalihil A’mal].
Ini menunjukan bahwa perbuatan berbakti
kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk
bertawasul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, insya Allah kesulitan
tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini
diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.
Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang
tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang
‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang
tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.
Ini juga menunjukan bahwa kebutuhan kedua
orang tua harus di dahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri. Bahkan dalam
riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari
pada berbuat baik kepada istri sebagai mana diriwayatkan oleh abdulah bin umar
radliallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khatab) untuk
menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan Rasalullah menjawab, “Ceraikan istrimu!” [HR. Abu Dawud No. 5138,
Tirmidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits hasan shahih”]
Keempat:
Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan
umur Sebagai mana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari
sahabat Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
مَنْ
أَحَبَّ أَنْ
يُبْسَطَ
لَهُ فِي
رِزْقِهِ
وَيُنْسَأَ
لَهُ فِي
أَثَرِهِ
فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ
“Barang
siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia
menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari 7/7, Muslim 2557, Abu Dawud
1693].
Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan
silaturahmi kepada orang tua sebelim kepada yang lain. Banyak diantara
saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada
orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia
selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk
bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya
insya Allah akan dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.
Kelima:
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasuikkan ke jannah
(surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa-dosa yang Allah segerakan adzabnya
di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan
demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan
menghindarkannya dari berbagai mala petaka, dengan izin Allah.
Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Takala
Keduanya Berusia Lanjut.
Banyak sekali hadits-hadits yang
menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang
tua pada waktu orang tua masih disisi kita, salah satunya adalah:Dari Abu
Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,
رَغِمَ
أَنْفُ ثُمَّ
رَغِمَ
أَنْفُ ثُمَّ
رَغِمَ
أَنْفُ قِيلَ
مَنْ يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
قَالَ مَنْ
أَدْرَكَ
أَبَوَيْهِ
عِنْدَ
الْكِبَرِ
أَحَدَهُمَا
أَوْ كِلَيْهِمَا
فَلَمْ
يَدْخُلْ
الْجَنَّةَ
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali
lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut , salah
satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” [HR.
Muslim 2551, Ahmad 2:254,346].
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan
malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang telah berusia
lanjut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa
keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling
baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas
menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan
kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan
dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Bentuk dan Akibat Durhaka Kepada Kedua Orang
Tua.
Di antara bentuk durhaka (uquq) adalah:
1. Menimbulkan gangguan
terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ) ataupun perbuatan yang
membuat orang tua sedih atau sakit hati.
2. Berkata ‘ah dan tidak
memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau menghardik
orang tua.
4. Bakhil, tidak mengurusi
orang tuanya bahkan lebih mempentingkan yang lain dari pada mengurusi orang
tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkahpun ,
dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan
cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, '‘kolot’
dan lain-lain.
6. Menyuruh orang tua,
misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat
tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi
jika ‘Si Ibu’ melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak
mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan orang
tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
8. Memasukan kemurkaan
kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap Rokok, dll.
9. Mendahului taat kepada
istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagai orang dengan teganya mengusir
ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
10. Malu mengakui orang
tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat
tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap
semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang
keji dan nista.
Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua
akan dirasakan di dunia, dan ini didasarkan pada hadits berikut:Dari Abi Bakrah
radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
مَا
مِنْ ذَنْبٍ
أَحْرَى أَنْ
يُعَجِّلَ اللهُ
تَبَارَكَ
وَتَعَالَى
الْعُقُوْبَةَ
لِصَاحِبِهِ
فِي
الدُّنْيَا
مَعَ مَا يَدَّخِرُ
لَهُ فِي
اْلآخِرَةِ
مِنَ
الْبَغْيِ
وَقَطِيْعَةِ
الرَّحِمِ
“Tidak ada dosa yang Allah cepatkan
adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di
akhirat yang pertama adalah berlaku Zhalim, kedua memutuskan tali silaturrahmi.”
[HR. Bukhari (Shahih Adabul Mufrad No. 23),]
Dalam hadits lain dikatakan:”Dua
perbuatan dosa yang Allah sepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat
zhalim dan al ‘uquq (durhaka kepada orang tua). [HR. Hakim 4/177 dari Anas
din Malik radliallahu ‘anhu].
Dapat kita lihat sekarang banyak orang yang
durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai
macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan
menjadikan bahagia.
Bentuk-bentuk Bakti Kepada Orang Tua
Pertama:
Bergaul kepada keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mu’min
termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua
orang tua kita.
Kedua:
yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya
dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau
dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
Ketiga: Tawadlu
(rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses
atau atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam
keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian
dan semuanya.
Keempat:
Yaitu memberi infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah
milik orang tua.
Kelima:
Mendo’akan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: ‘robbirhamhuma kamaa
rabbayaani shagiiro’ (wahai rabb-ku kasihanilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang
tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita
tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.
Apabila kedua orang telah meninggal maka
yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala
dengan taubat yang nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada
keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya,
ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yang keempat
membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat yang sesuai
dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrahmi kepada
orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadist
yang shahih).