Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
{يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ}
,
{يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا
كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا}
{يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا }
أَمَّا
بَعْدُ…
فَإِنَّ
خَيْرَ
الكَلَامِ
كَلَامُ
اللهِ وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
رَسُوْلِ
اللهِ وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya
umat Islam pada hari ini berada dalam keadaan lemah, sangat lemah. Kita dengar
darah mengalir, luka-luka menganga, rumah dihancurkan, orang-orang mengungsi,
anak-anak menjadi yatim, wanita-wanita menjadi janda, semua itu terjadi pada
kita kaum muslimin. Kita menjadi umat yang lemah, diremehkan, dan tertinggal.
Musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir mencengkeram kita dan
mengucurkan darah kita. Mereka menodai kehormatan wanita-wanita muslimah dan
menghancurkan rumah-rumah kaum muslimin.
Keadaan
ini adalah musibah yang besar. Umat ini berada dalam kondisi sakit parah dan
perlu segera diberikan solusi secara khusus agar menjadi obat mujarab yang
menyembuhkan mereka.
Ibadallah,
Orang-orang
berbeda pendapat tentang bagaiamana pengobatan yang harus ditempuh. Ketika
berbeda pendapat dan berselisih kita diperintahkan agar mengembalikan
perselisihan tersebut kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
juga berfirman,
وَمَا
اخْتَلَفْتُمْ
فِيهِ مِنْ
شَيْءٍ فَحُكْمُهُ
إِلَى
اللَّهِ
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya
(terserah) kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10).
Ibdallah,
Sebagian
kelompok ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebab kelemahan umat Islam
adalah karena mereka dikuasai oleh orang-orang kafir. Kalau orang-orang kafir
ini tidak menguasai kaum muslimin, niscaya umat Islam akan menjadi kuat”.
Kemudian
mereka membuat formula sebagai solusinya. Mereka mengatakan, “Oleh karena
itu, umat Islam harus sibuk mempelajari konspirasi-konspirasi dan tipu daya
orang-orang kafir”. Kemudian kelompok ini pun disibukkan dengan
permasalahan politik atau hal yang serupa dengannya.
Kelompok
yang lain mengatakan, “Sebab lemahnya kaum muslimin karena mereka
dikuasai oleh pemimpin-pemimpin yang zalim”. Maka mereka menjadikan hal
ini sebagai isu utama untuk mengentaskan masalah kelemahan umat.
Yang
lain lagi menyatakan, “Sebab lemahnya kaum muslimin adalah karena mereka
meninggalkan jihad. Sekiranya kita kembali berjihad, niscaya kita akan menjadi
kuat. Dan kita hadapi saja mereka”.
Ada
lagi yang menyatakan, “Lemahnya kaum muslimin dikarenakan mereka berpecah
belah. Sekiranya mereka bersatu, mereka layaknya menjadi tangan yang satu yang
memberikan kekuatan yang utuh yang mampu mengalahkan musuh-musuh mereka”.
Tidak
diragukan lagi, sebab-sebab ini adalah hal yang menjadikan umat Islam lemah.
Namun, hal ini bukanlah penyebab inti dan utama.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Perhatikanlah
hal berikut ini:
Pertama: Orang yang mengatakan “Sebab
lemahnya kaum muslimin karena kuatnya musuh mereka”. Telah dibantah oleh
Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam Alquran. Dia menjelaskan seandainya kita
berpegang teguh dengan agama kita, maka kekuatan musuh itu tidak akan memiliki
dampak bahaya pada kaum muslimin. Jika umat ini berpegang teguh pada ajarannya,
Allah akan menguatkan umat ini dengan sebab-sebab yang dinalar oleh akal. Allah
Ta’ala
berfirman,
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika
kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak
mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120).
Kedua: Mereka yang mengatakan “Sebab
lemahnya kaum muslimin karena penguasa-penguasanya zalim”. Kita katakan,
Allah telah menjelaskan dalam Alquran bahwa penguasa itu satu tipe dengan
rakyatnya. Jika rakyatnya adalah orang-orang yang zalim, maka Allah akan
menjadikan penguasa mereka dari kalangan orang-orang zalim itu sendiri. Dia berfirman,
وَكَذَلِكَ
نُوَلِّي
بَعْضَ
الظَّالِمِينَ
بَعْضًا
بِمَا
كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang
zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka
usahakan.” (QS: Al-An’am: 129).
Ketiga: Mereka yang mengatakan “Sebab
lemahnya umat Islam karena mereka berpecah belah”. Lalu mereka
berpendapat, solusinya adalah mempersatukan umat ini walaupun akidahnya
berbeda-beda. Allah Ta’ala
menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi dicela dengan persatuan seperti ini. Dia
berfirman,
تَحْسَبُهُمْ
جَمِيعًا
وَقُلُوبُهُمْ
شَتَّى
“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah
belah.” (QS. Al-Hasyr: 14).
Keempat: Adapun bagi mereka yang menyatakan
bahwa sebab lemahnya umat Islam ini karena meninggalkan jihad, maka kita
katakan Allah telah membantah pendapat mereka dengan menuntunkan untuk tidak
berjihad saat sedang dalam kondisi lemah. Ketika mereka tidak mampu menghadapi
musuh, tapi mereka malah memaksa berperang, maka mereka malah mendapat dosa. Karena
peperangan akan memperparah keadaan dan kelemahan. Tidak mesti selalu,
meninggalkan jihad adalah sebab lemahnya umat Islam.
Jika
demikian –kaum muslimin rahimakumullah–
apa yang menjadi penyebab lemahnya umat Islam? Bagaimana kita bisa menjadi kuat
sebagaimana umat Islam terdahulu kuat di masa Khulafa-ur Rasyidin? Dan juga
umat Islam terdahulu dengan kerajaan-kerajaan mereka, kuat dalam masa ratusan
tahun lamanya.
Jawabannya
adalah Allah yang Maha Bijaksana telah menjelaskan kepada kita secara gamblang
bahwa kelemahan kita saat ini dikarenakan dosa yang telah kita lakukan.
Sesungguhnya
maraknya kemaksiatan dan dosa di tengah-tengah kaum muslimin adalah sebab
lemahnya mereka. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan
mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah
menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan
Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?”
Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165).
Dia
juga berfirman,
ظَهَرَ
الْفَسَادُ
فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
بِمَا
كَسَبَتْ
أَيْدِي النَّاسِ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
Firman-Nya
juga,
وَكَذَلِكَ
نُوَلِّي
بَعْضَ
الظَّالِمِينَ
بَعْضًا
بِمَا
كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang
zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka
usahakan.” (QS: Al-An’am: 129).
Dan
firman-Nya,
وَيَوْمَ
حُنَيْنٍ
إِذْ
أَعْجَبَتْكُمْ
كَثْرَتُكُمْ
فَلَمْ
تُغْنِ
عَنْكُمْ
شَيْئًا
“dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu
menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak
memberi manfaat kepadamu sedikit pun.” (QS. At-Taubah: 25).
Subhanallah!
Perbuatan dosa adalah sebab yang mengacaukan barsan kaum muslimin di Perang
Hunain, padahal jumlah mereka saat itu banyak dan keadaan mereka superior atas
musuhnya.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Renungkanlah
keadaan ini dan bandingkanlah dengna keadaan kita saat ini. Betapa banyak
syirik besar menyebar di masyarakat kita dan di negeri-negeri kaum muslimin.
Betapa banyak kita saksikan makam dan kuburan yang diagungkan dan disembah
selain Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Baru-baru
ini terjadi di salah satu negeri Islam, pada hari maulid Nabi, mereka berkumpul
di makam orang yang mereka sebut sebagai orang shaleh atau wali. Kemudian
mereka menyembelih 3000 hewan sembelihan untuk penghuni makam tersebut. Setelah
itu mereka meminta-minta kepada penghuni makam. Mereka telah menyekutukan Allah
‘Azza wa Jalla.
Mereka telah berbuat maksiat kepada Allah dengan kemaksiatan terbesar yakni
syirik akbar. Allah Subhanahu
wa Ta’ala sangat murka dengan perbuatan yang demikian. Dia
berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa:
48).
Dan
firman-Nya,
إِنَّهُ
مَنْ
يُشْرِكْ
بِاللَّهِ
فَقَدْ حَرَّمَ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ
النَّارُ
وَمَا لِلظَّالِمِينَ
مِنْ
أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”
(QS. Al-Maidah: 72).
Ibadallah,
Betapa
banyak kuburan dan mayit yang dijadikan tempat meminta selain Allah. Mereka
adukan kebutuhan mereka di kala sulit dan ditimpa musibah.
Betapa
banyak bid’ah yang tersebar di timur dan barat negeri kaum muslimin.
Adapun
perbuatan maksiat dan memperturutkan hawa nafsu, tidak perlu diperdebatkan
lagi. Hal ini tersebar di negeri-negeri Islam di dunia ini. Kita sama sekali
tidak sulit menemukan wanita-wanita muslimah membuka auratnya sebagaimana
orang-orang Barat melakukannya.
Kita
temukan cara berpakaian wanita muslimah tidak ada bedanya dengan non muslimah.
Hingga kita tidak bisa membedakan mana yang muslimah dan mana yang bukan.
Subhanallah!
Dimanakah ayah-ayah yang bertanggung jawab atas mereka? Dan dimanakah suami-suami
yang semestinya melindungi mereka?
Dan
masih banyak lagi kemaksiatan semisal riba, sihir atau perdukunan, zina, gibah,
dll. Kita memohon kepada Allah yang tiada sesembahan yang benar kecuali Dia,
agar menjaga kita dan menganugerahkan kasih sayang-Nya kepada kita.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Setelah
begitu banyak dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, di antara kita ada yang
masih bertanya “mengapa umat Islam lemah dan tertinggal?”
Ibdallah,
Jika
kita menginginkan kejayaan, datangnya pertolongan Allah, kuat, dan dikokohkan
kedudukan kita, maka hendaklah kita kembali kepada agama kita. Kembali
memurnikan tauhid kepada Allah. Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Meninggalkan kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil. Apabila salah
seorang dari kita berbuat dosa dan maksiat, maka hendaknya yang lain peduli
dengan cara menasihatinya.
Tidak
kita pungkiri, perbuatan dosa tersebar hingga di jalan-jalan. Namun kaum
muslimin tidak berusaha mencegahnya. Allah Ta’ala
berfirman,
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ . كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Telah
dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera
Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui
batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka
perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
(QS. Al-Maidah: 78-79).
Jika
mencegah kemungkaran sudah kita tinggalkan, maka apa yang kita lakukan tersebut
menjadi sebab terbesar lemahnya kaum muslimin. Demi Allah, sekiranya bagian
dari dunia kita diambil oleh orang lain, maka kita akan berusaha mencegah orang
itu agar tidak mengambil hak dunia kita tersebut. Namun sayang, ketika hak
agama –yakni Islam menjadi lemah-, maka kaum muslimin berpikir ulang
untuk mencegah orang yang menyebabkan Islam menjadi lemah. Oleh karena itulah
kita menjadi umat yang lemah.
اَللَّهُمَّ
يَا مَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا رَحْمَنُ يَا
رَحِيْمُ
مُنَّ
عَلَيْنَا
بِالاِسْتِقَامَةِ
عَلَى
دِيْنِكَ،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
بِالتَوْحِيْدِ
قَائِمِيْنَ،
وَلِسُنَّةِ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
مُتَّبِعِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
قَوِّ
الإِسْلَامَ
بِأَهْلِهِ
وَقَوِّ
أَهْلَهُ
بِهِ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ
.
أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
رَسُوْلِ
اللهِ
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Karena
lemahnya kaum muslimin, orang-orang kafir pun sekarang berani mengejek dan
mengolok-olok Nabi kita, Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Sampai mereka berlomba-lomba untuk
mengolok-olok Nabi kita dan kekasih kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keadaan
lemah ini pula yang membuat orang-orang kafir menguasai kaum muslimin.
Dalam
keadaan lemah ini, kaum muslimin masih terbagi menjadi dua kelompok. Pertama,
kelompok yang tidak peduli terhadap permasalahan ini. Ini benar-benar bentuk
kelemahan yang sangat. Terkadang ketika diri kita sendiri dicandai oleh
sebagian teman kita dengan gurauan tertentu, itu saja bisa membuat kita marah.
Lalu bagaimana bisa ia tidak peduli dengan kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kelompok
kedua, mereka yang berlebih-lebihan hingga menyakiti dan menyerang orang-orang
non muslim di negeri-negeri mereka. Atau membunuh orang non muslim yang tidak
bersalah. Atau mengadakan pengerusakan di sana.
Perbuatan-perbuatan
ini semakin menambah permusuhan dari kalangan orang-orang kafir dan olok-olok
mereka terhadap Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pun kian menjadi-jadi. Mereka juga kian
mengintimidasi umat Islam yang minoritas di negeri-negeri mereka. Oleh karena
itu, wajib bagi kita menjadi seorang muslim yang bijak. Hendaknya kita bisa
membedakan dimana kondisi lemah dan kondisi kuat. Namun tetap tidak takut
terhadap mereka. Allah Ta’ala
berfirman,
وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ
“Dan
sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat
Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Rum: 60).
Ibadallah,
Wajib
bagi setiap muslim untuk berlaku bijak. Kita saat ini sedang berada dalam
kondisi lemah. Orang yang cerdas akan pandai melihat hal-hal yang cenderung
kepada kemaslahatan. Janganlah hanya mengandalkan semangat dan emosi semata
yang malah berakibat bencana bagi kaum muslimin lainnya. Dan ia pun menjadi
penyebab tidak diterimanya dakwah Islam. Juga menjadi penyebab semakin
tersebarnya olok-olok orang kafir kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sungguh
membuat kita sedih ketika melihat orang-orang yang merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan membuat gambar yang mereka sebut itu adalah Rasulullah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling kita cintai lebih dari diri kita, ayah kita, dan ibu
kita. Dan gara-gara tindakan ceroboh kita, mereka malah semakin menghina Nabi
dan menyanjung para kartunis yang menghina beliau itu.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Hendaknya
kita berdiri di barisan yang sama. Hendaknya kita juga memiliki tekad yang
satu. Yakni membela agama Allah dan agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jangan kita berloyalitas berdasarkan kelompok dan partai. Kita membela kelompok
dan partai kita semata. Walaupun terkadang kelompok dan partai kita berada
dalam kekeliruan, penyimpangan, atau bahkan menentang Islam.
اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ
بِالكَافِرِيْنَ
اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ
بِالْكَافِرِيْنَ
فَإِنَّهُمْ لَا
يُعْجِزُوْنَكَ
.
اَللَّهُمَّ
عَلَيْكَ
بِكُلِّ مَنْ
سَبَّ رَسُوْلَنَا
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
اَللهُ شَلْ
يَدَهُ،
اَللَّهُمَّ
جَمْدِ
العُرُوْقَ
فِي دَمِهِ،
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ
عِبْرَةً
وَآيَةً
لِمَنْ وَرَاءَهُ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
يَا مَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِرَحْمَتِكَ
اَلَّتِي
وَسِعَتْ
كُلَّ شَيْءٍ
أَنْ
تَرْحَمَ
إِخْوَانَنَا
فِي بِلَادِ الشَّامِ
اَللَّهُمَّ
ارْحَمْهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
وَفِي كُلِّ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Aziz ar-Rais
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com