Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الكَبِيْرِ المُتَعَالِ ، ذِيْ العُظْمَةِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالجَلَالِ وَالجَمَالِ ، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتُ العُلَا وَالعَطَاءُ وَالنَّوَالُ ، أَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ ، وَقُيُوْمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ ، وَخَالِقُ الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ ،
فَإِنَّ مَنِ
اتَّقَى
اللهَ
وَقَاهُ ،
وَأَرْشَدَهُ
إِلَى خَيْرِ
أُمُوْرِ
دِيْنِهِ
وَدُنْيَاهُ.
Ibadallah,
Tiang
pokok agama kita yang mulia ini dan salah satu pembahasan yang paling utama
untuk diketahui oleh seorang muslim adalah ma’rifatullah,
mengenal Allah. Mengenal Allah adalah dengan cara mengilmui nama-nama-Nya Yang
Maha Baik dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Pengenalan akan nama-nama dan
sifat-sifat Allah adalah pokok keimanan dan asas dari keyakinan seorang muslim.
Kedudukan apalagi yang lebih tinggi dan lebih agung daripada pengenalan seorang
hamba kepada Rabb yang menciptakannya, dengan pengenalan yang sesuai dengan
Alquran dan sunnah.
Oleh
karena itu, penting bagi kita untuk memperhatikan permasalahan ini.
Ibadallah,
Banyak
ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyeru untuk mengenal Allah, mengenal
nama-nama dan sifat-sifat-Nya, penjelasan tentang apa yang diperoleh seorang
hamba dan dampak dari pengenalan tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya
milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)
Firman-Nya
yang lain,
قُلِ
ادْعُوا
اللَّهَ أَوِ
ادْعُوا
الرَّحْمَنَ
أَيًّا مَا
تَدْعُوا
فَلَهُ
الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu
seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)…”
(QS. Al-Isra: 110)
اللَّهُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ
لَهُ الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).”
(QS. Thaha: 8)
هُوَ
اللَّهُ
الَّذِي لَا
إِلَهَ
إِلَّا هُوَ
عَالِمُ
الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ
هُوَ
الرَّحْمَنُ
الرَّحِيمُ (22)
هُوَ اللَّهُ
الَّذِي لَا
إِلَهَ
إِلَّا هُوَ
الْمَلِكُ
الْقُدُّوسُ
السَّلَامُ
الْمُؤْمِنُ
الْمُهَيْمِنُ
الْعَزِيزُ
الْجَبَّارُ
الْمُتَكَبِّرُ
سُبْحَانَ
اللَّهِ عَمَّا
يُشْرِكُونَ
(23) هُوَ
اللَّهُ
الْخَالِقُ
الْبَارِئُ
الْمُصَوِّرُ
لَهُ
الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى
يُسَبِّحُ
لَهُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَهُوَ
الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui
yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah
Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera,
Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha
Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk
Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan
bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr:
22-24)
Ibadallah,
Lebih
dari ayat-ayat di atas yang hanya menjelaskan bahwa Allah memiliki nama-nama
dan sifat-sifat, di Alquran setidaknya ada 30 ayat yang memerintahkan kita
untuk mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمُوا
أَنَّ
اللَّهَ
عَزِيزٌ
حَكِيمٌ
“Ketahuilah! Bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 209)
اعْلَمُوا
أَنَّ
اللَّهَ
شَدِيدُ
الْعِقَابِ
وَأَنَّ
اللَّهَ
غَفُورٌ
رَحِيمٌ
“Ketahuilah! Bahwa Allah sangat keras siksa-Nya dan Allah
itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 98)
وَاعْلَمُوا
أَنَّ
اللَّهَ
غَنِيٌّ
حَمِيدٌ
“Ketahuilah! Bahwa Allah itu Maha Kaya lagi Maha
Mulia.” (QS. Al-Baqarah: 267)
وَاعْلَمُوا
أَنَّ
اللَّهَ
سَمِيعٌ
عَلِيمٌ
“Ketahuilah! Bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 244)
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ
“Ketahuilah! Bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali
Allah.” (QS. Muhammad: 19)
اللَّهُ
الَّذِي
خَلَقَ
سَبْعَ
سَمَوَاتٍ وَمِنَ
الْأَرْضِ
مِثْلَهُنَّ
يَتَنَزَّلُ
الْأَمْرُ
بَيْنَهُنَّ
لِتَعْلَمُوا
أَنَّ
اللَّهَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ
قَدِيرٌ وَأَنَّ
اللَّهَ قَدْ
أَحَاطَ
بِكُلِّ
شَيْءٍ
عِلْمًا
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu
pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)
Dan
masih banyak ayat lainnya.
Ibadallah,
Sesungguhnya
mengenal Allah ‘Azza
wa Jalla dan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah bab
ilmu yang mulia, pengetahuan yang memiliki dampak yang dalam yang layak
mendapat perhatian dan pemahaman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ
لِلَّهِ
تِسْعَةً
وَتِسْعِينَ
اسْمًا
مِائَةً
إِلَّا وَاحِدًا
مَنْ
أَحْصَاهَا
دَخَلَ
الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, siapa yang
menghafalnya, maka ia akan masuk ke dalam surge.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Renungkanlah
wahai kaum muslimin,
Ini
adalah puncak dari kebaikan, siapa yang menghafal 99 nama-nama Allah, maka atas
izin Allah dia akan masuk ke dalam surga. Namun yang harus kita perhatikan
adalah yang dimaksud menghafal dalam hadits ini bukanlah menghafal lafadz dari
nama-nama dan sifat-sifat itu semata, tentu saja harus mengetahui
makna-maknanya dan konsekuensinya dari pengetahuan tersebut.
Ibadallah,
Ada
tiga tingkatan orang-orang yang mengetahui makna-makna, memahami, dan
mengamalkan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu: (1)
menghafalkannya, (2) memahami makna-maknanya, (3) mengamalkan ibadah yang
berkesesuaian dengan nama-nama dan sifat-sifat tersebut. Jadi, tiap nama Allah Jalla wa ‘Ala
memiliki ibadah yang khusus atau sesuai dengan nama tersebut. Inilah
konsekuensi dari pengetahuan terhadap nama tersebut, bahkan banyak dari nama
Allah yang satu nama saja tapi memiliki beberapa kekhususan ibadah yang sesuai
dengannya. Agar lebih jelas, berikut ini contohnya:
Allah
Ta’ala
berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Dalam
ayat yang mulia ini, Allah Jalla
wa ‘Ala mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar
dan Maha Melihat. Ketika kita mengetahui bahwa Allah Maha Mendengar, maka
konsekuensinya kita harus meyakini bahwa Allah mendengar segala suara, baik
suara itu kuat atau lirih, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya satu suara pun.
Bahkan apabila manusia sejak zaman Nabi Adam hingga zaman kita saat ini, atau
zaman yang paling akhir, mereka semua berdiri di suatu tempat lalu semuanya
memohon kepada Allah ‘Azza
wa Jalla dalam satu waktu, dengan permintaan yang berbeda-beda,
dengan bahasa yang beragam, dan dialeg-dialeg yang beragam pula, Allah ‘Azza wa Jalla tetap
mendengar suara-suara mereka tanpat tertukar suara satu dengan suara lainnya,
kebutuhan yang satu dengan kebutuhan yang lainnya, dan bahasa yang satu dengan
bahasa yang lainnya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman,
يَا
عِبَادِي لَوْ
أَنَّ
أَوَّلَكُمْ
وَآخِرَكُمْ
وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ
قَامُوا فِي
صَعِيدٍ وَاحِدٍ
فَسَأَلُونِي
فَأَعْطَيْتُ
كُلَّ
إِنْسَانٍ
مَسْأَلَتَهُ
مَا نَقَصَ
ذَلِكَ
مِمَّا
عِنْدِي
إِلَّا كَمَا
يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ
إِذَا
أُدْخِلَ
الْبَحْرَ
“Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya yang pertama di antara
kalian dan orang yang paling terakhirnya, baik dari kalangan jin dan manusia,
berada dalam suatu tempat yang sama, lalu semuanya meminta kepada-Ku, maka akan
Aku beri kepada mereka sesuai dengan permintaannya. Yang demikian itu tidak
mengurangi sedikit pun yang ada pada-Ku, layaknya air laut yang terambil dari
dari sebuah jarum yang dicelupkan ke dalamnya.” (HR. Muslim).
Seorang
perempuan datang ke rumah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk mengadukan permasalahan yang sedang
ia hadapi kepada Allah. Saat itu Aisyah radhiallahu
‘anha berada di dalam rumah. Aisyah mengatakan, “Maha
Suci Dzat yang luas pendengaran-Nya, perempuan yang mengadukan perkaranya
kepada Rasulullah itu kudengar sebagian suaranya dan terluput dari suaranya
yang lain (mendengar sepotong-sepotong), tapi Dia mendengar-Nya dengan
menurunkan firman-Nya,
قَدْ
سَمِعَ
اللَّهُ
قَوْلَ
الَّتِي
تُجَادِلُكَ
فِي
زَوْجِهَا
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang
mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya…” (QS.
Al-Mujadalah: 1).
Apabila
kita mengimani bahwa Allah mendengar suara kita, maka bagaimana perasaan kita
ketika Allah mendengar kalimat-kalimat yang tidak pantas keluar dari lisan
kita. Ketika kita mengimani Allah Maha Mendengar dengan keimanan yang kuat,
niscaya kita akan menyibukkan lisan kita dengan dzikir, membaca Alquran,
mengucapkan tasbih dan tahmid kepada-Nya. Dan kita sangat menginginkan agar
Allah mendengar perkataan yang benar dan bermanfaat dari lisan kita. Lalu
kenapa kita tidak menjaga lisan kita? Kita sering sembrangan berbicara?
Bukankah Allah mendengar ucapan kita, melihat tingkah pola kita, dan mengetahui
keadaan kita?
Ketika
kita mengimani bahwa Allah ‘Azza
wa Jalla Maha Melihat dan di antara nama-Nya adalah al-Bashir (Maha
Melihat), keimanan terhadap nama ini adalah dengan meyakini bahwa Allah melihat
segala sesuatu, Dia melihat keadaan makhluknya dari atas langit ketujuh, Dia
melihat semut kecil yang berwarna hitam melata di bebatuan hitam di malam yang
kelam, bahkan Allah melihat aliran darah di urat-urat kita. Dia melihat semua
itu, padahal Dia berada di atas langit ketujuh. Betapa Allah itu Maha Melihat.
Wahai
orang-orang yang beriman, ketika kita mengetahui bahwa Allah Maha Melihat,
tidak kita merasa malu jikalah Allah melihat kita sedang melakukan perbuatan
maksiat dan dosa? Allah Maha melihat kita, dan tidak ada yang tersembunyi
dari-Nya segala sesuatu yang kita lakukan.
Demikian
juga dengan nama-nama dan sifat-sifat yang lainnya, kita harus perhatian dalam
memahami dan mentadabburinya, kemudian merealisasikan konsekuensinya berupa
mendekatkan diri kepada-Nya, takut, kembali, dan menyambut perintah-Nya.
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Orang yang paling mengenal Allah, maka
dialah yang paling takut kepada-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.” Kalimat ini selaras dengan firman Allah,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS.
Fathir: 28)
Ibnu
Abbas radhiallahu
‘anhuma mengatakan, “Maksudnya, mengetahui bahwa Allah
mengetahui segala sesuatu.”
Ketika
kita berilmu tentang permasalahan nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka kita
telah mengetahui sebuah perkara yang besar yang memiliki dampak besar pula
dalam kehidupan kita. Inilah di antara buah dan manfaat dari yang tak terhingga
dari mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Kita
memohon kepada Allah agar memberikan kita ilmu tentang nama-nama dan
sifat-sifat-nya, dan mengaruniakan kita ilmu yang bermanfaat dan amalan yang
shaleh. Semoga Dia member kita petunjuk ke jalan yang lurus.
أَقُوْلُ
مَا
تَسْمَعُوْنَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
، وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى .
Ada
sebuah hadits dalam Shahihain, dari Aisyah radhiallahu
‘anha,
((أَنَّ
النَّبِيَّ
صلى الله عليه
وسلم بَعَثَ
رَجُلًا عَلَى
سَرِيَّةٍ
وَكَانَ
يَقْرَأُ
لِأَصْحَابِهِ
فِي
صَلَاتِهِمْ
فَيَخْتِمُ
بِـ ﴿ قُلْ
هُوَ اللَّهُ
أَحَدٌ ﴾ ،
فَلَمَّا
رَجَعُوا
ذَكَرُواذَلِكَ
لِلنَّبِيِّ
صلى الله عليه
وسلم
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah mengutus seorang laki-laki dalam sebuah rombongan
perjalanan, ia mengimami dan membaca surat lalu ia tutup dengan membaca
“Katakanlah! Allah Maha Esa.” (surat al-Ikhlas). Ketika mereka
pulang, mereka ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
وسلم
فَقَالَ
سَلُوهُ
لِأَيِّ
شَيْءٍ يَصْنَعُ
ذَلِكَ ؟
Nabi
berkata, “Tanyakan kepadanya, mengapa engkau melakukan hal itu?”
فَسَأَلُوهُ
فَقَالَ
لِأَنَّهَا
صِفَةُ الرَّحْمَنِ
وَأَنَا
أُحِبُّ أَنْ
أَقْرَأَ
بِهَا
Lalu
mereka pun menanyakan kepadanya dan ia menjawab, “Karena di dalam surat
itu terdapat sifat Allah. Aku cinta membacanya.”
،
فَقَالَ
النَّبِيُّ
صلى الله
عليهوسلم أَخْبِرُوهُ
أَنَّ
اللَّهَ
يُحِبُّهُ
Lalu
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Kabarkan kepadanya kalau
Allah mencintainya.”
Dalam
riwayat lain,
حُبُّكَ
إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ
الْجَنَّةَ
“Cintamu terhadap surat tersebut (surat Al-Ikhlas),
menyebabkanmu dimasukkan ke dalam surga.”
Renungkanlah!
Cinta seseorang terhadap nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya menjadi penyebab
masuk surga. Karena kecintaan yang demikian mampu menjadi motor penggerak di
hari untuk menerima perintah-perintah Allah dan merealisasikan ketaatan
kepada-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ ، وَحُبَّ
مَنْ
يُحِبُّكَ ،
وَحُبَّ
كُلَّ عَمَلٍ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى حُبِّكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon cinta-Mu, cinta orang
yang mencintai-Mu dan cinta kepada setiap perbuatan yang mengantarkan kami
kepada cinta-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.”
هَذَا
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
رَحمَاكُمُ
اللهُ عَلَى
إِمَامِ
الهُدَاةِ
مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ فِي
كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وَقَالَ صلى
الله عليه
وسلم : ((مَنْ
صَلَّى عَلَيَّ
صَلاةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ بِهَا
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
محمد وَعَلَى
آلِ محمد
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى محمد
وَعَلَى آلِ
محمد كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَةِ
المَهْدِيِّيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي ، وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ،
وَاحْمِ
حَوْزَةَ الدِّيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
، وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيِّ
أَمْرِنَا لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
وَأَعِنْهُ
عَلَى البِرِّ
وَالتَّقْوَى
،
وَسَدِّدْهُ
فِي
أَقْوَالِهِ
وَأَعْمَالِهِ
،
وَأَلْبِسْهُ
ثَوْبَ
الصِحَّةَ
وَالعَافِيَةَ
،
وَارْزُقْهُ
البِطَانَةً
الصَالِحَةً
النَاصِحَةً .
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
جَمِيْعَ
وُلَاةَ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ
بِكِتَابِكَ
وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ
نَبِيِّكَ محمد
صلى الله عليه
وسلم
وَاجْعَلْهُمْ
رَأْفَةً
وَرَحْمَةً
عَلَى
عِبَادِكَ
المُؤْمِنِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
. اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالسَّدَادَ
، اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى وَالتُّقَى
وَالْعَفَةَ
وَالْغِنَى ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مُوْجِبَاتِ
رَحْمَتِكَ
وَعَزَائِمَ
مَغْفِرَتِكَ
، وَالغَنِيْمَةَ
مِنْ كُلِّ
بِرٍّ
وَالسَّلَامَةِ
مِنْ كُلِّ
إِثْمٍ ،
وَالْفَوْزَ
باِلْجَنَّةِ
وَالنَّجَاةَ
مِنَ
النَّارِ .
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الْجَنَّةَ
وَمَا
قَرَّبَ
إِلَيْهَا مِنْ
قَوْلٍ أَوْ
عَمَلٍ ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
النَّارِ
وَمَا
قَرَّبَ
إِلَيْهَا مِنْ
قَوْلٍ أَوْ
عَمَلٍ ،
وَأَنْ
تَجْعَلَ كُلِّ
قَضَاءِ
قَضَيْتَهُ
لَنَا
خَيْرًا .
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا ،
وَأَلِّفْ بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
، وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَّلَامِ
،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَقُوَّاتِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا .
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
لِمَا
تُحِبُّ
وَتَرْضَى
وَأَعِنَّا
عَلَى
الْبِرِّ
وَالتَّقْوَى
وَلَا تَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
. رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ .(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
Diterjemahkan
dari khotbah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com