Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّلَاةَ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ هَذَا الدِّيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ الَّذِيْ جَعَلَ بَيْنَ الإِسْلَامِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
{يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ}
{يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا
كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا}
{يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا .
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا }
أَمَّا
بَعْدُ..
فَإِنَّ
خَيْرَ
الكَلَامِ
كَلَامُ
اللهِ وَخَيْرَ
الهُدَى
هَدْيُ
رَسُوْلِ
اللهِ
وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Sesungguhnya
kewajiban-kewajiban yang menjadi bagian dari syariat Islam, semuanya
disyariatkan kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam saat beliau berada di bumi. Kecuali satu
kewajiban, yang diwahyukan kepada beliau setelah beliau menembus
lapisan-lapisan langit. Kewajiban tersebut adalah kewajiban shalat lima waktu
sehari semalam.
Shalat
diwahyukan kepada beliau tatkala beliau telah menempuh perjalanan hingga langit
ketujuh. Hal ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya kedudukan shalat dalam
Islam. Allah Ta’ala
berfirman,
فَإِنْ
تَابُوا
وَأَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَآتَوُا
الزَّكَاةَ
فَإِخْوَانُكُمْ
فِي الدِّينِ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan
zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS.
At-Taubah: 11).
Dari
ayat ini dapat kita pahami, jika orang-orang sama sekali meninggalkan shalat,
maka dia bukan saudara seagama bagi umat Islam lainnya. Dalam ayat yang lain
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman tentang siapakah yang akan menjadi penghuni
Saqar.
مَا
سَلَكَكُمْ
فِي سَقَرَ .
قَالُوا لَمْ
نَكُ مِنَ
الْمُصَلِّينَ
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar
(neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang
yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir: 42-43).
Hal
lainnya yang menunjukkan betapa besar dan agung kewajiban shalat ini adalah
syariat tidak memberi dispensasi bagi seseorang untuk meninggalkan shalat
walaupun mereka sedang berperang melawan orang-orang kafir. Hanya saja mereka
mendapatkan keringanan dalam penunaiannya, yaitu dengan melakukan shalat khauf
(shalat dalam kondisi mencekam).
Dari
Jabir radhiallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ
الرَّجُلِ
وَبَيْنَ
الشِّرْكِ
وَالْكُفْرِ
تَرْكُ
الصَّلاَةِ
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta
kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).
Dan
diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, juga ash-habu-s sunan, dari Buraidah radhiallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ
الَّذِى
بَيْنَنَا
وَبَيْنَهُمُ
الصَّلاَةُ
فَمَنْ
تَرَكَهَا
فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah
shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad,
Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah).
Dalam
hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ
حَافَظَ
عَلَيْهَا
كَانَتْ لَهُ
نُوراً
وَبُرْهَاناً
وَنَجَاةً
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
وَمَنْ لَمْ
يُحَافِظْ
عَلَيْهَا لَمْ
يَكُنْ لَهُ
نُورٌ وَلاَ
بُرْهَانٌ
وَلاَ
نَجَاةٌ
وَكَانَ
يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
مَعَ
قَارُونَ
وَفِرْعَوْنَ
وَهَامَانَ
وَأُبَىِّ
بْنِ خَلَفٍ
“Barangsiapa yang selalu menjaganya (shalat), maka baginya
cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, sedangkan yang tidak
menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari
kiamat, dan pada hari kiamat akan bersama Karun, Fir’aun, Haman dan Ubay
bin Khalaf.” (HR. Ahmad).
Dari
Ali radhiallahu ‘anhu,
ia berkata, “Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah ‘Shalat, sahalat, dan bertakwalah kalian kepada Allah dalam
permasalahan budak-budak yang kalian miliki”. (HR. Ahmad).
Begitu
intens dan ketatnya syariat dalam permasalahan shalat ini, menunjukkan
pentingnya shalat dalam syariat ini. Oleh karena itu, para sahabat Nabi sangat
tegas dalam perihal terkait ibadah shalat. Sampai-sampai Umar bin al-Khattab
mengatakan,
لَا
إِسْلَامَ
لِمَنْ لَا
صَلَاةَ لَهُ
“Tidak ada bagian dari Islam, bagi orang yang tidak
mengerjakan shalat.”
Abdullah
bin Mas’ud berkata,
لَا
دِيْنَ
لِمَنْ لَمْ
يُصَلِّ
“Tidak ada bagian dari agama, orang yang tidak mengerjakan
shalat.”
Abdullah
bin Syaqiq al-‘Uqaili radhiallahu
‘anhu berkata, “Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
memandang, tidak ada amalan yang menyebabkan kekufuran jika ditinggalkan,
kecuali shalat.”
Dengan
demikian, saudara-saudaraku seiman,
Hendaknya
kita memperhatikan shalat kita. Hendaknya kita bersungguh-sungguh memacu
diri-diri kita untuk menunaikan rukun Islam yang agung ini. Ia adalah tiang
yang menyebabkan berdirinya bangunan agama seseorang.
Semoga
Allah memberi kita taufik dalam menjaga shalat-shalat kita.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ
عَلَى
رَسُوْلِ
اللهِ
أما بعد:
Abdullah
bin Umar radhiallahu
‘anhuma meriwayatkan bawah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
بُنِىَ
الإِسْلاَمُ
عَلَى خَمْسٍ
شَهَادَةِ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللَّهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
وَإِقَامِ
الصَّلاَةِ
وَإِيتَاءِ
الزَّكَاةِ
وَحَجِّ
الْبَيْتِ
وَصَوْمِ
رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3)
menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa
di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim).
Hadits
ini menerangkan tentang mulianya kedudukan shalat dalam Islam. Keagungan shalat
juga bisa kita ketahui bahwa lima waktu yang kita kerjakan dinilai 50 kali
shalat oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
Setelah
kita mengetahui kedudukan shalat dan betapa agungnya shalat dalam Islam. Mari
kita saksikan realita, kondisi kaum muslimin dalam mendudukkan shalat pada diri
mereka. Banyak di antara saudara-saudara kita umat Islam, tidak shalat berjmaah
di masjid bersama kaum muslimin lainnya. Mereka mendengar adzan dikumandangkan,
iqomah ditegakkan, bahkan suara bacaan ayat Alquran yang dilantunkan oleh imam,
namun mereka tidak shalat bersama kaum muslimin. Mereka disibukkan dengan
kegiatan dan aktivitas dunia mereka.
Sayang
sekali, umat Islam meninggalkan shalat berjamaah di masjid, padahal pahala yang
Allah sediakan untuk mereka sangatlah besar.
Kondisi
lainnya, ada sebagian umat Islam yang mengerjakan shalat keluar dari waktunya.
Dan ini termasuk dosa besar yang harus dijauhi. Allah Ta’ala berfirman,
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
(QS. Maryam: 59).
Tentang
ayat ini, ada yang bertanya kepada sahabat Nabi, Saad bin Waqqash,
“Apakah yang dimaksudkan ayat itu adalah orang-orang yang meninggalkan
shalat?” Saad menjawab, “Jika mereka meninggalkan shalat (sama
sekali pen.),
maka mereka keluar dari Islam. (Maksud ayat ini) Mereka yang mengakhirkan
waktu, saat mengerjakan shalat”.
Jadi,
ayat ini adalah peringatan bagi orang-orang yang mengerjakan shalat, namun
mereka melakukan kelalaian dengan mengakhirkan penunaiannya. Adapun al-ghayya
pada akhir ayat, maksudnya adalah sebuah lembah di Jahannam. Sebagaimana yang
ditafsirkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud.
Semoga
Allah melindungi kita dari keburukan yang demikian.
Ini
adalah ancaman bagi orang-orang yang mengerjakan shalat, hanya saja mereka
kerjakan saat keluar dari waktunya. Saudaraku seiman, lalu bagaimana kiranya
dengan orang-orang yang tidak mengerjakan shalat selama satu minggu? Atau dua
minggu? Satu bulan? Atau dua bulan? Dalam waktu selam itu mereka tidak bersujud
kepada Allah. Mereka tidak menunaikan shalat.
Saudaraku
seiman,
Masalah
ini adalah masalah yang besar, namun sayangnya menyebar di kalangan umat Islam,
pemuda-pemuda yang meninggalkan shalat. Tentu saja kita orang yang mengerjakan
harus mengoreksi diri. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya ajakan kita kepada
anak-anak kita, kurangnya masukan dan nasihat kita kepada para pemuda, dan
kurangnya kita dalam menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Saudaraku
seiman,
Hendaknya
kita bertakwa kepada Allah. Kita ajak saudara-saudara kita sesama muslim untuk
mengerjakan shalat. Dan bagi mereka yang tidak mengerjakan shalat, hendaklah
takut kepada Allah. Karena kita semua, akan berdiri di hadapan Allah kelak.
Demi Allah, saat itulah penyesalan yang mendalam akan hadir. Penyesalan saat
kenikmatan dunia sudah lepas dari kita dan ruh kita terlah berpisah dari raga
dan keluarga. Saat kita dimakamkan, seorang diri dalam liang kubur. Kemudian
Allah akan membangkitkan dan mengumpulkan kita.
Apa
yang akan kita katakana kepada Allah? Alasan apa yang akan kita ajukan untuk
membela diri karena meninggalkan shalat? Maka sibukkanlah diri dengan amal.
Ingatlah lima perkara, sebelum datang lima perkara lainnya. Manfaatkanlah
kehidupan, sebelum datang kematian.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) ., وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم.(
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْنَا
وَالمُسْلِمِيْنَ
أَجْمَعِيْنَ
لِلصَّلَاةِ
عَلَى خَيْرٍ حَالٍ
.اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
مِنَ
الْمُتَسَابِقِيْنَ
فِي الصَّلَاةِ
.
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْ
قُلُوْبَنَا
حَاضِرَةٌ
خَاشِعَةٌ
عِنْدَ
الصَّلَاةِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقِ
الْمُسْلِمِيْنَ
بِأَنْ يُصَلُّوْا
لِرَبِّهِمْ،
اَللَّهُمَّ
مَنْ كَانَ
تَارِكًا
لِلصَّلَاةِ
أَوْ
مُقَصِّرًا
فِيْهَا
فَوَفِّقْهُ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
أَنْ يَرْجِعَ
إِلَيْكَ وَ
يَتُوْبُ .
وَقُوْمُوْا
إِلَى
صَلَاتِكُمْ
يَرْحَمُكُمُ
اللهُ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Aziz ar-Rais
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com