Khutbah
Pertama:
إِنّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ مُضِلّ
لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاّ
اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ
وَسَلّمْ
عَلى
مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا
وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِوَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا، أَمّا
بَعْدُ
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى
وَرَاقِبُوْهُ
سُبْحَانَهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ
Amma
ba’du :
Kaum
muslimin sekalian, Allah telah mewajibkan para hambaNya untuk mengenalNya,
mengenal agamaNya, dan mengenal NabiNya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dan dengan perantara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
maka diketahuilah Allah dan agamaNya. Dan kebahagiaan dunia dan akhirat sangat
terkait dengan petunjuk Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
فَيَجِبُ
عَلَى كُلِّ
مَنْ نَصَحَ
نَفْسَهُ
وَأَحَبَّ
نَجَاتَهَا
وَسَعَادَتَهَا
أَنْ
يَعْرِفَ
مِنْ
هَدْيِهِ
وَسِيرَتِهِ
وَشَأْنِهِ
مَا يَخْرُجُ
بِهِ عَنِ
الْجَاهِلِينَ
بِهِ، وَيَدْخُلُ
بِهِ فِي
عِدَادِ
أَتْبَاعِهِ
وَشِيعَتِهِ
وَحِزْبِهِ،
وَالنَّاسُ
فِي هَذَا
بَيْنَ
مُسْتَقِلٍّ
وَمُسْتَكْثِرٍ
وَمَحْرُومٍ
“Wajib bagi setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi
dirinya sendiri serta menghendaki keselamatan dan kebahagiaan dirinya untuk
mengetahui petunjuk Nabi, sirohnya (perjalanan hidupnya), dan keadaannya, yang
dengan pengetahuan tersebut ia keluar dari golongan orang-orang yang
bodoh/tidak mengenal Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, sehingga ia termasuk dari barisan
pengikutnya, golongannya, dan para penolongnya. Manusia dalam hal ini ada tiga
macam, ada yang mengambil bagian yang banyak, ada yang mengambil bagian
sedikit, dan ada yang terhalangi” (Zaadul Ma’aad 1/69)
Pada
hari jum’at di bulan Ramadhan, pada tahun kedua hijriyah terjadi
peristiwa yang merubah perjalanan sejarah, peristiwa yang merupakan penentu
dalam tersebarnya Islam. Para pembesar Quraisy telah hadir untuk membinasakan
habis kaum muslimin, dan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, dan turunlah seribu
malaikat dari langit ketiga ikut berperang dalam peristiwa tersebut, Jibril ‘alaihissalam juga
ikut berperang. Siapa yang ikut serta dalam perang tersebut maka diampuni oleh
Allah dosa yang telah lalu dan yang akan datang, dan haram baginya untuk masuk
neraka, dan ia termasuk penghuni surga, dan di dunia ia termasuk kaum muslimin
yang terbaik, demikian juga para malaikat yang hadir dimuliakan dari selain
yang hadir. Dalam peristiwa tersebut terdapat banyak pelajaran dan ibroh, serta
tanda-tanda kebesaran Allah dan mukjizat-mukjizat.
Kaum
Quraisy memerangi agama Allah dan mengusir nabiNya dari Mekah, mereka menyakiti
para sahabatnya, maka kaum musliminpun menempati kota Madinah. Sampai kabar
kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwasanya kafilah dagang Quraisy datang
dari Asy-Syaam dikepalai oleh Abu Sufyan, membawa banyak harta milik kaum
Quraisy, maka Nabipun memotivasi para sahabatnya untuk keluar menyambut kafilah
dagang tersebut, agar kaum musyrikin Quraisy tahu bahwasanya Nabi dan para sahabatnya
bukanlah kaum yang lemah. Maka keluarlah Nabi bersama tiga ratus sekian belas
sahabat, bukan tujuan untuk berperang, akan tetapi merebut harta kafilah dagang
tersebut. Tatkala Abu Sufyan mengetahui akan hal ini maka iapun berteriak
meminta pertolongan kepada kaum Quraisy agar segera menuju ke Abu Sufyan, lalu
Abu Sufyanpun menempuh jalan pantai dan selamat, lalu ia mengabarkan kaum
Quraisy akan keselamatannya, akan tetapi Quraisy tetaplah pergi keluar disertai
para pembesar mereka, tidak ada yang ketinggalan dari para pemuka mereka
kecuali Abu Lahab, merekapun memotivasi kabilah-kabilah Arab di sekitar mereka
untuk ikut keluar bersama mereka, mereka keluar dengan penuh kesombongan
sebagaimana firman Allah
بَطَرًا
وَرِئَاءَ
النَّاسِ
“Dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada
manusia” (QS Al-Anfaal :47)
Dan
para sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah kaum yang terbaik dari seluruh para
sahabat para nabi, takala mereka mengetahui kedatangan Quraisy untuk memerangi
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu ‘anhu
pun berdiri dan berkata :
لاَ
نَقُوْلُ
كَمَا قَالَ
قَوْمُ
مُوْسَى { اِذْهَبْ
أَنْتَ
وَرَبُّكَ
فَقاَتِلاَ }
وَلَكِنَّا
نُقَاتِلُ
عَنْ
يَمِيْنِكَ
وَعَنْ
شِمَالِكَ
وَبَيْنَ
يَدَيْكَ
وَخَلْفَكَ،
“Kami tidak berkata sebagaimana perkataan kaum Musa
“Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah”, akan tetapi
kami akan berperang bersamamu dari arah kananmu, arah kirimu, di depanmu, di
belakangmu”
Ibnu
Mas’ud berkata :
فَرَأَيْتُ
النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
أَشْرَقَ
وَجْهُهُ
وَسَرَّهُ
يَعْنِي
قَوْلَهُ
“Akupun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasalah
berseri-seri wajah beliau dan gembira dengan perkataan Al-Miqdad” (HR
Al-Bukhari no 3952)
Kaum
Anshor berkata
وَالَّذِي
بَعَثَكَ
بِالْحَقِّ
لَوْ
ضَرَبْتَ
أَكْبَادَهَا
إِلَى بَرْكِ
الْغِمَادِ
لاَتَّبَعْنَاكَ
“Demi Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, seandainya
engkau berjalan menujua Barkil Gimad (di ujung Yaman) maka kami akan
mengikutimu” (HR Ahmad)
Sa’ad
bin ‘Ubadah berkata :
لَوْ
أَمَرْتَنَا
أَنْ
نُخِيْضَهَا
الْبِحَارَ
لَأَخَضْنَاهَا
“Kalau seandainya engkau memerintahkan kami untuk masuk
bersama tunggangan kami dalam lautan maka akan kami lakukan” (HR Ahmad)
Tatkala
Quraisy telah mendekati kota Badr dengan persenjataan mereka dan jumlah mereka
tiga kali lipat dari jumlah kaum muslimin, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengisi malamnya dengan berdoa kepada Robnya memohon pertolongan, dan beliau
berdoa dengan penuh kesungguhan hingga selendang beliau jatuh dari pundak
beliau dan Abu Bakar radhiallahu
‘anhu memperbaiki posisi selendang beliau dan berkata:
“يَا
رَسُوْلَ
اللهِ،
بَعْضَ
مُنَاشَدَتِكَ
رَبَّكَ،
فَإِنَّهُ
سَيُنْجِزُ
لَكَ مَا
وَعَدَكَ” </p<
"Wahai Rasulullah, cukuplah sebagian permohonanmu kepada
Robmu, sesungguhnya Dia akan mewujudkan apa yang Ia janjikan bagimu" Ali radhiallahu
‘anhu berkata
:
وَلَقَدْ
رَأَيْتُنَا
وَمَا
فِيْنَا إِلاَّ
نَائِمٌ
إِلاَّ
رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
تَحْتَ
شَجَرَةٍ يُصَلِّي
وَيَبْكِي
حَتَّى أَصْبَحَ
“Sungguh aku melihat bahwa kita semunya tertidur kecuali
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau di bawah pohon sholat dan menangis
hingga subuh hari” (HR Ahmad)
Maka
Allahpun mengabulkan doa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan menolong kaum mukminin dengan seribu
malaikat yang datang beturut-turut, setiap malaikat dibelakangnya ada malaikat
yang lain, dan Nabi tertutup mata sebentar lalu beliau menegakan kepala beliau
dan berkata :
أبشر
يا أبا بكر
هذا جبريل على
ثناياه النقع
“Bergembiralah wahai Abu Bakar, ini Jibril di giginya ada
debu-debu (dari medan perang)”
Dan
Nabi memberi kabar gembira kemenangan kepada para sahabatnya, dan mengabarkan
kepada mereka lokasi-lokasi tewasnya para pemimpin Quraisy. Tatkala tiba pagi
hari datanglah Quraisy dengan pasukannya dan berkumpullah dua pasukan di Badr
tanpa ada kesepakatan waktu perang sebelumnya karena hikmah yang Allah
kehendaki. Allah berfirman
وَلَوْ
تَوَاعَدْتُمْ
لاخْتَلَفْتُمْ
فِي
الْمِيعَادِ
وَلَكِنْ
لِيَقْضِيَ
اللَّهُ
أَمْرًا
كَانَ مَفْعُولا
“Sekiranya kamu Mengadakan persetujuan (untuk menentukan
hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari
pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia
melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.” (QS. Al-Anfaal: 42).
Allahpun
memberikan rasa kantuk kepada kaum mukminin untuk menenangkan mereka dan
memberikan rasa aman bagi mereka
إِذْ
يُغَشِّيكُمُ
النُّعَاسَ
أَمَنَةً مِنْهُ
(ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu
penenteraman daripada-Nya (QS. Al-Anfaal: 11).
Dan
Allah menjadikan jumlah pasukan kaum muslimin kelihatan sedikit di mata kaum
musyrikin agar mereka tidak kabur dan juga menjadikan jumlah kaum musyrikin
kelihatan sedikit di mata kaum mukminin agar mereka terus maju bertempur
وَإِذْ
يُرِيكُمُوهُمْ
إِذِ
الْتَقَيْتُمْ
فِي
أَعْيُنِكُمْ
قَلِيلا
وَيُقَلِّلُكُمْ
فِي
أَعْيُنِهِمْ
لِيَقْضِيَ
اللَّهُ
أَمْرًا
كَانَ
مَفْعُولا
“Dan ketika Allah Menampakkan mereka kepada kamu sekalian,
ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu
dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena
Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.” (QS.
Al-Anfaal: 44).
Ibnu
Mas’ud radhiallahu
‘anhu berkata, “Sampai-sampai aku berkata kepada
seseorang di sampingku, ‘Apakah engkau melihat jumlah pasukan Quraisy 70
orang?’ Ia menjawab, “Aku melihat jumlah mereka 100’.”,
Padahal jumlah mereka sekitar 1000 orang.
Allah
memasukan rasa takut dalam hati musyrikin
سَأُلْقِي
فِي قُلُوبِ
الَّذِينَ
كَفَرُوا
الرُّعْبَ
“Akan aku masukan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang
kafir.” (QS. Al-Anfaal: 12).
Dan
para malaikat menegarkan kaum mukminin
إِذْ
يُوحِي
رَبُّكَ
إِلَى
الْمَلائِكَةِ
أَنِّي
مَعَكُمْ
فَثَبِّتُوا
الَّذِينَ آمَنُوا
سَأُلْقِي
فِي قُلُوبِ
الَّذِينَ
كَفَرُوا الرُّعْبَ
فَاضْرِبُوا
فَوْقَ
الأعْنَاقِ
وَاضْرِبُوا
مِنْهُمْ
كُلَّ
بَنَانٍ (١٢)
“(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para
Malaikat: “Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian)
orang-orang yang telah beriman”. (QS Al-Anfaal : 12)
Nabi
mengobarkan semangat kaum mukminin untuk berperang, dan bertemulah dua pasukan,
serta api peperangan telah menyala, maka kemenangan kaum muslimin dimulai
dengan turunnya hujan yang menyucikan kaum muslimin baik dzohir dan batin
mereka, mengokohkan kaki-kaki mereka, menyemangati hati mereka, serta
menghilangkan gangguan syaitan. Allah berfirman:
وَيُنَزِّلُ
عَلَيْكُمْ
مِنَ
السَّمَاءِ مَاءً
لِيُطَهِّرَكُمْ
بِهِ
وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ
رِجْزَ
الشَّيْطَانِ
وَلِيَرْبِطَ
عَلَى قُلُوبِكُمْ
وَيُثَبِّتَ
بِهِ
الأقْدَامَ
“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk
menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan
syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak
kaki(mu)” (QS. Al-Anfaal : 11)
Dan
syaitan hadir bersama musyrikin dan berkata:
لا
غَالِبَ
لَكُمُ
الْيَوْمَ
مِنَ النَّاسِ
وَإِنِّي
جَارٌ لَكُمْ
“Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu
pada hari ini, dan Sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu” (QS.
Al-Anfaal : 47)
Dan
tatkala syaitan melihat malaikat maka iapun lari dan menelantarkan musyrikin
dan ia berkata
إِنِّي
أَرَى مَا لا
تَرَوْنَ
إِنِّي أَخَافُ
اللَّهَ
“Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak
dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah” (QS. Al-Anfaal : 47)
Nabi
berperang dengan peperangan yang dahsyat, Ali berkata :
لَقَدْ
رَأَيْتُنَا
يَوْمَ
بَدْرٍ
وَنَحْنُ
نَلُوْذُ
بِرَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَهُوَ
أَقْرَبُنَا
إِلَى
الْعَدُوِّ
وَكَانَ مِنْ
أَشَدِّ
النَّاسِ
يَوْمَئِذٍ
بَأْسًا
“Sungguh aku melihat tatkala perang Badr kami berlindung
kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan beliau yang paling dekat dengan musuh,
dan beliau paling dahsyat peperangannya pada hari itu” (HR. Ahmad)
Jibril
‘alaihis salam turun ikut dalam peperangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda ;
هَذَا
جِبْرِيْلُ
آخِذٌ
بِرَأْسِ
فَرَسِهِ
عَلَيْهِ
أَدَاةُ
الْحَرْبِ
“Ini adalah Jibril sedang memegang kepala kudanya, dan ia
membawa peralatan perang” (HR. Al-Bukhari, no. 3995)
Dan
seribu malaikat ikut berperang bersama Jibril, mereka turun dari langit ketiga,
dan Allah mengabarkan kaum mukminin tentang ikut serta para malaikat dalam
peperangan sebagai kabar gembira bagi mereka dan untuk menenangkan hati mereka.
Allah berfirman:
وَمَا
جَعَلَهُ
اللَّهُ إِلا
بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ
بِهِ
قُلُوبُكُمْ
وَمَا النَّصْرُ
إِلا مِنْ
عِنْدِ
اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ
عَزِيزٌ
حَكِيمٌ (١٠)
Dan
Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar
gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah
dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.
Al-Anfaal : 10)
Ibnu
Abbas radhiallahu
‘anhumaa berkata ;
بَيْنَمَا
رَجُلٌ مِنَ
الْمُسْلِمِينَ
يَوْمَئِذٍ
يَشْتَدُّ فِي
إِثْرِ
رَجُلٍ مِنَ
الْمُشْرِكِينَ
أَمَامَهُ،
إِذْ سَمِعَ
ضَرْبَةً
بِالسَّوْطِ
فَوْقَهُ،
وَصَوْتُ
الْفَارِسِ
يَقُولُ:
أَقْدِمْ
حَيْزُومُ.
إِذْ نَظَرَ
إِلَى الْمُشْرِكِ
أَمَامَهُ
خَرَّ
مُسْتَلْقِيًا،
فَنَظَرَ
إِلَيْهِ
فَإِذَا هُوَ
قَدْ خُطِمَ
أَنْفُهُ
وَشُقَّ
وَجْهُهُ
كَضَرْبَةِ
السَّوْطِ،
فَاخْضَرَّ
ذَلِكَ
أَجْمَعُ،
فَجَاءَ
الْأَنْصَارِيُّ،
فَحَدَّثَ
رَسُولَ
اللَّهِ – صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ –
فَقَالَ:
(صَدَقْتَ،
ذَلِكَ مِنْ
مَدَدِ
السَّمَاءِ
الثَّالِثَةِ)
فَقَتَلُوا
يَوْمَئِذٍ
سَبْعِينَ
وَأَسَرُوا
سَبْعِينَ
“Tatkala seseorang dari kaum muslimin pada hari tersebut
(perang Badr) sungguh sedang cepat mengikuti seseorang dari musyrikin di
hadapannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan cemeti di atas si musyrik dan
suara prajurit berkuda yang berkata : “Majulah Haizuum (Haizum nama kuda
malaikat tersebut)”, lalu ia melihat ke si musyrik di hadapannya telah
jatuh terkapar di atas pundaknya, lalu ia melihat kepadanya ternyata si musyrik
telah terluka hidungnya dan robek wajahnya berbekas menjadi seperti tempat
cambuk, maka wajahnya hijau (hitam) seluruhnya. Maka ia (anshori) tersebut
datang dan mengabarkan kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam maka Nabi berkata : “Engkau benar,
itu adalah pasukan pertolongan dari langit ketiga”. Maka kaum muslimin
pada hari tersebut membunuh 70 orang dan menawan 70 orang” (HR Muslim no
1763)
Sahl
radhiallahu ‘anhu
berkata :
لَقَدْ
رَأَيْتُنَا
يَوْمَ
بَدْرٍ،
وَإِنَّ
أَحَدَنَا
يُشِيرُ
بِسَيْفِهِ
إِلَى رَأْسِ
الْمُشْرِكِ
فَيَقَعُ
رَأْسُهُ
عَنْ
جَسَدِهِ
قَبْلَ أَنْ
يَصِلَ
إِلَيْهِ
“Ketika perang Badr aku melihat salah seorang dari kami
mengarahkan pedangnya ke kepala seorang musyrik maka putuslah kepala musyrik
tersebut dari tubuhnya sebelum pedangnya mengenainya” (HR Al-Haakim no
5736)
Allah
berfirman
فَلَمْ
تَقْتُلُوهُمْ
وَلَكِنَّ
اللَّهَ قَتَلَهُمْ
وَمَا
رَمَيْتَ
إِذْ
رَمَيْتَ وَلَكِنَّ
اللَّهَ
رَمَى
Maka
(yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang
membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi
Allah-lah yang melempar. (QS. Al-Anfaal: 17).
Dalam
peperangan ini terbunuh 70 orang dari kaum musyrikin, diantaranya para pembesar
Quraisy yang menghalangi tersebarnya tauhid di muka bumi, dan terbunuh pula
selain mereka dari orang-orang yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.
Dan
taqdir Allah mendahului kepada kaum musyrikin yang tersisa, maka banyak
diantara mereka yang kemudian masuk Islam, yang paling terdepan diantara mereka
adalah Abu Sufyan dan ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhumaa. Dan 14 orang
sahabat mati syahid dan meraih surga yang tertinggi. Ummu Haaritsah bin Suroqoh
mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan berkata :
يَا
نَبِيَّ
اللهِ أَلاَ
تُحَدِّثُنِي
عَنْ
حَارِثَةَ؟
“Wahai Nabiyyullah tidakkah engkau sampaikan kepadaku
tentang Haritsah?”
Maka
Nabi berkata :
يَا
أُمَّ
حَارِثَةَ
إِنَّهَا
جِنَانٌ فِي الْجَنَّةِ
وَإِنَّ
ابْنَكَ
أَصَابَ الْفِرْدَوْسَ
الْأَعْلَى
“Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya itu adalah taman-taman
di surga, dan sesungguhnya putramu (Haritsah) berada di surga Firdaus yang
tertinggi” (HR. Al-Bukhari no 2809)
Ibnu
Katsir rahimahullah berkata,
وفي
هذا تنبيه
عظيم على فضل
أهل بدر فإن
حارثة لم يكن
في بحيحة
القتال ولا في
حومة الوغى بل
كان من
النظارة من
بعيد وإنما
أصابه سهم غرب
وهو يشرب من
الحوض ومع هذا
أصاب بهذا
الموقف
الفردوس…فما
ظنك بمن كان
واقفا في نحر
العدو
“Dan di sini ada peringatan yang besar tentang keutamaan
para peserta perang Badr, karena sesungguhnya Haritsah tidaklah masuk di tengah
pertempuran dan tidak pula di medan pertempuran, akan tetapi beliau termasuk
pengawas yang mengawasi dari jauh, dan beliau terkena anak panah yang datang
tiba-tiba, sedangkan beliau sedang minum dari tempat air, meskipun demikian
beliau memperoleh surga Firdaus…, maka bagaimana lagi menurutmu dengan
seseorang yang berdiri di depan leher musuh?” (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah
3/398)
Dan
selanjutnya kaum muslimin…, sesungguhnya agama Allah di atas kebenaran,
dan Allah yang akan menolong agamaNya, dan kebatilan meskipun terhiasi maka
kebenaran akan menghancurkannya. Maka wajib bagi seorang hamba untuk berpegang
teguh dengan agamanya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
وَلَقَدْ
نَصَرَكُمُ
اللَّهُ
بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ
أَذِلَّةٌ
فَاتَّقُوا
اللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar,
padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah, karena itu bertakwalah
kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali ‘Imron : 123)
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى .
Segala
puji bagi Allah atas anugerah kebaikanNya, dan rasa syukur terpanjatkan
kepadaNya atas taufiq dan karuniaNya, dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada
sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada syarikat bagiNya
sebagai bentuk pengagungan kepadaNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad
adalah hamba dan RasulNya, semoga shalawat dan salam banyak tercurahkan kepada
beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.
Kaum
muslimin sekalian…
Islam
telah sampai kepada kita setelah melewati peristiwa-peristiwa yang hebat dan
kejadian-kejadian yang dahsyat, nyawa-nyawa berguguran demi Islam, dan banyak
yang terluka. Untuk meninggikan Islam dan terjaganya Islam dan agar sampai
kepada kita maka telah berperang membelanya para rasul, para siddiqun, para
syuhadaa’, dan para malaikat. Dan dengan berlalunya masa demi masa Islam
tetap terjaga dengan sempurna baik dalam hukum-hukumnya dan juga
syari’atnya, Islam tetap layak untuk seluruh tempat dan waktu, maka wajib
bagi setiap hamba untuk mengikuti Islam dan bergembira dengan menjalankan ketaatan
kepada Allah dan menjauhi laranganNya.
Kemudian
ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholawat dan
bersalam kepada NabiNya, Allah berfirman
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَابَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ
بَيْنَنَا
وَبَيْنَ
قَوْمِنَا
بِالحَقِّ
وَأَنْتَ
خَيْرُ
الفَاتِحِيْنَ
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و مَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Husain bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizohulloh
(Imam Masjid Nabawi dan Hakim di Pengadilan Kota Madinah)
Penerjemah:
Abu Abdil Muhsin Firanda