Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Bagi
sebagian orang, memahami masalah takdir tidaklah mudah. Buktinya, dalam hal ini
banyak di antara kaum muslimin yang terjebak pada salah satu di antara dua
kutub kesesatan yang saling berlawanan.
Pertama: Kesesatan Jabariyah. Yaitu golongan
yang berlebihan dalam masalah takdir hingga menganggap bahwa manusia tidak
memiliki kehendak dan tidak memiliki pilihan untuk berbuat. Semua serba dipaksa
oleh Allah, laksana gerakan getar tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh
pemiliknya.
Kedua: Kesesatan Qadariyah. Yaitu golongan
yang berlebihan menolak takdir hingga semua kegiatan manusia tidak dicampuri
oleh Allah Azza wa Jalla
dan kehendak-Nya.
Mengapa
demikian? Sebab dalam memahami takdir, sebagian orang lebih banyak berpijak
pada asas logika. Padahal masalah takdir termasuk perkara ghaib yang tidak akan
dapat dijangkau detail-detailnya hanya berdasarkan logika. Bukan wilayah logika
untuk memahami takdir dengan tuntas. Ia harus dipahami berdasarkan wahyu dan
keimanan. Ketika takdir sudah terjadi pun, kadang orang tidak mampu menangkap
hikmah yang terkandung di baliknya.
Yang
pasti, takdir Allah Azza wa
Jalla harus diimani sebagaimana orang mengimani ketetapan
syariat-Nya. Keduanya merupakan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika orang
menjalankan ketetapan-ketetapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimaninya,
misalnya syariat shalat, orang juga harus mengimani ketetapan takdir Allah Azza wa Jalla, misalnya
takdir hidup, mati, laki-laki, perempuan, sakit, miskin, dan takdir-takdir
lainnya. Karena semuanya berasal dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan penetap syariat bagi
sekalian hamba-Nya.
Iman
kepada takdir merupakan salah satu rukun dan asas keimanan di antara rukun Iman
yang enam. Barangsiapa
yang mengingkari takdir, maka ia bukanlah seorang mukmin yang sesungguhnya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril Alaihissallam tentang
Iman, Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. رواه مسلم
“Iman
ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
para rasul-Nya, hari akhirat, dan jika engkau beriman kepada takdir, baiknya
dan buruknya.” (HR. Muslim).
Jadi
orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada takdir, dan beriman kepada
rukun-rukun iman lainnya. Sebab, takdir merupakan kekuasaan, kewenangan dan
kehendak Allah Azza wa Jalla.
Iman kepada takdir, tidak bisa dipisahkan dengan Iman kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada rukun-rukun
iman yang lain. Semua saling terkait erat. Maka orang yang beriman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala,
kepada Malaikat-malaikat-Nya, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari
akhirat, harus pula beriman kepada takdir.
Sebagaimana
halnya nama dan sifat-sifat Allah Azza
wa Jalla serta masalah ghaib lainnya, takdir juga merupakan masalah
yang diluar jangkauan akal manusia. Maka kebenaran dalam memahami takdir harus
sesuai dengan petunjuk wahyu yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla, Dzat yang
Maha menentukan takdir bagi segala sesuatu. Bukan dengan petunjuk logika atau
perasaan orang yang serba terbatas.
Sama
halnya ketika orang mengimani Allah Subhanahu
wa Ta’ala, nama-nama dan sifat-Nya pun, harus berdasarkan
wahyu. Demikian pula ketika orang menjalankan dan mengimani syariat, juga harus
sesuai dengan petunjuk wahyu. Dan di antara wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah Sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, sebab Beliau adalah utusan-Nya yang
dipercaya untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, baik berupa Alquran maupun
Sunnah.
Dalam
hal ini Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنِّي أُوتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. رواه أحمد وأبوداود
“Ketahuilah,
sesungguhnya aku diberi wahyu Alquran, dan yang semisal Alquran (Sunnah)
didatangkan bersamanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits
ini menunjukkan bahwa ada wahyu lain yang datang bersama Alquran, yaitu Sunnah
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Supaya
seorang Muslim bisa benar dalam memahami dan mengimani takdir, maka ia harus
memahami dan mengimani empat peringkat (perkara) takdir secara benar, seperti
dinyatakan oleh para Ulama.
Imam
Ibnu al-Qayyim rahimahullah
dalam kitabnya, Syifa’ul
‘Alil, menyatakan, “Bab kesepuluh tentang
peringkat-peringkat Qadha’ dan Qadar. Barangsiapa tidak mengimani
peringkat-peringkat ini berarti ia belum beriman kepada Qadha’ dan
Qadar”.
Di
bawahnya beliau menjelaskan peringkat-peringkat tersebut, beliau katakan:
peringkat takdir ada empat:
Pertama: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya.
Kedua: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
menuliskan segala sesuatu itu (di Lauh Mahfuzh) sebelum kejadiannya.
Ketiga: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
Maha menghendaki kejadian segala sesuatu itu.
Keempat: Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
pasti menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang telah diketahuinya itu.
Itulah
empat peringkat atau empat perkara yang hakikatnya merupakan takdir itu sendiri.
Artinya, ketetapan takdir Allah pada hakikatnya tidak lepas dari ilmu
pengetahuan Allah Azza wa
Jalla terhadap segala sesuatu semenjak sebelum segala sesuatu itu
ada, kemudian apa yang diketahuinya ini dituliskan di Lauh Mahfuzh, selanjutnya
apa yang diketahui dan dituliskan itu pasti dikehendaki terjadinya oleh Allah Azza wa Jalla . Terakhir,
Allah Subhanahu wa
Ta’ala pasti menciptakan dan mengadakan apa yang telah
diketahui dan dikehendaki-Nya itu.
Takdir
baik ataupun buruk, iman atau kufur, semuanya merupakan takdir Allah. Sebab
Allah Azza wa Jalla
sudah mengetahui sebelumnya bahwa itu akan terjadi dan sudah dituliskannya di
Lauh Mahfuzh. Dengan demikian, maka pasti Allah menghendaki terjadinya, dan
jika Allah menghendaki, pasti Allah akan mengadakannya.
Tidak
mungkin Allah menghendaki suatu kejadian sedangkan sebelumnya Allah tidak tahu.
Atau mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, tetapi kemudian Allah menghendaki
lain. Misalnya, seseorang yang sudah diketahui Allah bahwa ia akan mati kafir,
maka tidak mungkin Allah Azza
wa Jalla menghendaki agar ia tidak mati dalam keadaaan kafir. Sebab
antara ilmu dan kehendak-Nya tidak mungkin saling berlawanan; Tidak mungkin apa
yang diketahui-Nya bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Maha suci
Allah dari hal-hal yang demikian. Tidak mungkin dalam wilayah kekuasaan-Nya
terjadi sesuatu yang diluar kehendak-Nya.
Tetapi
perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla tidak selalu identik dengan
sesuatu yang di sukai dan dicintai-Nya. Tidak setiap yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
kehendaki terjadi, pasti Allah Azza
wa Jalla sukai. Misalnya, homoseksual terjadi dengan kehendak Allah
Azza wa Jalla,
tetapi Allah tidak menyukai kema’siatan itu.
Fakta
yang semacam ini banyak sekali contohnya. Itulah yang disebut dengan iradah kauniyah, kehendak
Allah yang bersifat takdir. Salah satu contohnya adalah pencurian. Pencurian
tidak akan terjadi tanpa kehendak kauniyah Allah Azza wa Jalla. Buktinya, banyak pencurian
yang gagal meskipun sudah dengan perhitungan yang super teliti. Sebab, Allah
tidak menghendaki pencurian itu terjadi.
Maka
terjadinya pencurian adalah karena kehendak Allah, tetapi apakah lantas berarti
pencurian itu diridhai oleh Allah Azza
wa Jalla? Tentu tidak. Jadi tidak setiap yang Allah Azza wa Jalla kehendaki
terjadi, pasti Allah sukai.
Empat
peringkat itu sangat banyak dalilnya, baik dari Alquran maupun Sunnah yang
shahih. Dan bahkan merupakan kesepakatan seluruh para Nabi Allah dan
kitab-kitab-Nya.
Oleh
sebab itu, berkaitan dengan empat peringkat takdir tersebut, Imam Ibnu
al-Qayyim selanjutnya menjelaskan, ringkasnya antara lain sebagai berikut:
Adapun
yang pertama, yaitu bahwa Allah Subhanahu
wa Ta’ala sudah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu
sebelum segala sesuatu itu terjadi. Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh Rasul
Allah Subhanahu wa
Ta’ala, mulai dari Rasul Allah yang pertama hingga Rasul
Allah penutup. Demikian pula telah menjadi kesepakatan seluruh Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
serta umat Islam sesudahnya yang mengikuti jejak mereka. Yang menyelisihi
kesepakatan mereka adalah golongan Majusinya umat Islam ini. Dan penulisan
segala sesuatu di Lauh Mahfuzh sebelum kejadiannya, membuktikan bahwa Allah
sudah mengetahui segala sesuatu itu sebelum kejadiannya.
Beliau
juga mengatakan hal yang sama tentang peringkat kedua, ketiga, dan keempat,
tentang penulisan takdir segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, tentang kehendak Allah
bagi terjadinya segala sesuatu dan tentang penciptaan segala sesuatu yang
dikehendaki-Nya. Bahwa hal itu semua juga sudah merupakan kesepakatan seluruh
rasul Allah dan kesepakatan semua kitab-Nya yang diturunkan kepada para
rasulNya.
Di
antara dalil-dalilnya yang sangat banyak antara lain firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya
Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah
yang menurunkan hujan (yang mengandung berkah), dan mengetahui apa yang ada
dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa
hasil yang diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di
bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, Maha
Mengenal.” (QS. Luqman:34).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu
anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَفَاتِيْحُ
الْغَيْبِ
خَمْسٌ لاَيَعْلَمُهَا
إِلاَّ اللهُ:
لاَيَعْلَمُ
مَا فِى غَدٍ
إِلاَّ
اللهُ، وَلاَ
يَعْلَمُ مَاتَغِيْضُ
الْأَرْحَامُ
إِلاَّ
اللهُ، وَلاَ
يَعْلَمُ
مَتَى
يَأْتِي
الْمَطَرُ أَحَدٌ
إِلاَّ
اللهُ، وَلاَ
تَدْرِي
نَفْسٌ بِأَيِّ
أَرْضٍ
تَمُوْتُ،
وَلاَ
يَعْلَمُ مَتَى
تَقُوْمُ السَّاعَةُ
إِلاَّ اللهُ.
رواه البخاري
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok
kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dari rahim kecuali
Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah,
tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati, dan tidak ada yang
mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Bukhari dan
lainnya).
Dalam
riwayat Ibnu Umar radhiyallahu
anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَفَاتِيْحُ
الْغَيْبِ
خَمْسٌ،
ثُمَّ قَرَأَ
: (إِنَّ
اللَّهَ
عِنْدَهُ
عِلْمُ
السَّاعَةِ
…..). رواه
البخاري
“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
membaca firman Allah (Luqman/31: 34): “Sesungghnya Allah, hanya pada
sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,…”. (HR. Bukhari).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
juga berfirman,
وَعِنْدَهُ
مَفَاتِحُ
الْغَيْبِ
لَا يَعْلَمُهَا
إِلَّا هُوَ ۚ
وَيَعْلَمُ
مَا فِي
الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ ۚ
وَمَا
تَسْقُطُ
مِنْ
وَرَقَةٍ
إِلَّا يَعْلَمُهَا
وَلَا
حَبَّةٍ فِي
ظُلُمَاتِ
الْأَرْضِ
وَلَا رَطْبٍ
وَلَا
يَابِسٍ
إِلَّا فِي
كِتَابٍ
مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak
ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan
tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59).
Juga
firman-Nya,
أَلَمْ
تَعْلَمْ
أَنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
فِي
السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ ۗ
إِنَّ ذَٰلِكَ
فِي كِتَابٍ ۚ
إِنَّ ذَٰلِكَ
عَلَى
اللَّهِ
يَسِيرٌ
“Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui
apa-apa yang ada di langit maupun bumi. Sesungguhnya yang demikian itu sudah
tertulis di dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya penulisan yang
demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70).
Dua
ayat di atas merupakan sebagian dalil tentang penulisan takdir segala sesuatu
di Lauh Mahfuzh, sekaligus juga dalil tentang ilmu Allah terhadap segala
sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, dan tidak ada
sesuatupun yang tidak tertuliskan di Lauh Mahfuzh. Penulisan itu sangatlah
mudah bagi Allah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda antara lain,
كَتَبَ
اللهُ
مَقَادِيْرَ
الْخَلاَئِقِ
قَبْلَ أَنْ
يَخْلُقَ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ
بِخَمْسِيْنَ
أَلْفَ
سَنَةٍ. قَالَ
: وَعَرْشُهُ
عَلَى
الْمَاءِ.
رواه مسلم
“Allah telah menuliskan ketetapan takdir bagi segenap
makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan
bumi. Nabi bersabda: Dan (waktu itu) Arsy-Nya sudah ada di atas air.”
(HR. Muslim).
Demikianlah
kekuasaan Allah dalam menetapkan takdir bagi makhluk-Nya. Dia berkuasa atas
segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala hal. Dialah Rab kita, falaa haula
walaa quwwata illaa billaah..
نَسْأَلُ
اللهَ
الكَرِيْمَ
أَنْ
يُبَصِّرَنَا
جَمِيْعاً
بِحُدُوْدِ
دِيْنِهِ،
وَأَنْ
يُفَقِّهَنَا
فِي شَرْعِهِ
وَتَنْزِيْلِهِ،
وَأَنْ
يَّمُنَّ
عَلَيْنَا
بِالرِّزْقِ
الطَيِّبِ
اَلْحَلَالِ،
اَللَّهُمَّ
بَارِكْ
لَنَا فِي
أَعْمَارِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَاغْفِرْ
لَنَا
إِنَّكَ
أَنْتَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنِانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Ada
banyak hikmah yang terkandung dalam beriman kepada takdir, diantaranya bahwa,
beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Di samping itu
juga merupakan sempurnanya keyakinan seseorang terhadap tauhid Rububiyah Allah Azza wa Jalla . Kemudian,
dengan beriman kepada takdir, akan terwujud tawakkal yang benar kepada Allah
tanpa mengabaikan usaha-usaha. Pun orang akan merasa tenang dalam kehidupannya
karena memahami bahwa apa yang menimpanya pasti memang harus menimpanya, dan
apa yang tidak akan menimpanya pasti tidak akan menimpanya.
Dengan
beriman kepada takdir, orang juga tidak akan membanggakan diri sendiri ketika
berhasil memperoleh sesuatu yang diinginkannya, dan tidak akan merasa sangat
sedih ketika gagal memperolehnya. Sebab ia memahami bahwa kesuksesannya
memperoleh sesuatu tidak lain kecuali karena ketetapan takdir dari Allah Azza wa Jalla . Sedangkan
usaha yang ia lakukan hingga berhasil mendapatkan sesuatu, bukan lain karena
usaha itu merupakan sebab yang dimudahkan oleh Allah baginya. Adapun ketika
gagal memperoleh sesuatu, iapun memahami bahwa itu adalah ketetapan Allah,
sehingga ia ridha menerimanya.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
telah mengisyaratkan dua sikap di atas; tidak bangga terhadap diri sendiri
ketika sukses meraih cita-cita, dan tidak sedih secara berlebihan ketika gagal
meraih sukses, dalam firman-Nya,
مَا
أَصَابَ مِنْ
مُصِيبَةٍ
فِي
الْأَرْضِ وَلَا
فِي أَنْفُسِكُمْ
إِلَّا فِي
كِتَابٍ مِنْ
قَبْلِ أَنْ
نَبْرَأَهَا ۚ
إِنَّ ذَٰلِكَ
عَلَى
اللَّهِ
يَسِيرٌ﴿٢٢﴾لِكَيْلَا
تَأْسَوْا
عَلَىٰ مَا
فَاتَكُمْ
وَلَا
تَفْرَحُوا
بِمَا آتَاكُمْ
ۗ وَاللَّهُ
لَا يُحِبُّ
كُلَّ
مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa
dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah . Agar kamu tidak
bersedih hati terhadap yang luput dari kamu, dan tidak pula menjadi bangga
terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23).
Demikianlah,
sebenarnya sangat mudah memahami dan mengimani takdir Allah secara benar, yaitu
hanya dengan tunduk kepada wahyu, dan tidak mendewakan akal. Akal harus tunduk
kepada wahyu, bukan wahyu tunduk kepada akal. Sementara mengimani takdir tidak
berarti meniadakan usaha, karena melakukan usaha merupakan perintah, sedangkan
antara perintah dan takdir tidak bertentangan sama sekali. Wallahu
al-Muwaffiq…
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ خَيْرَ
مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِيْ
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin di majalah
As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVI/1433H/2012M).
www.KhotbahJumat.com