Khutbah
Pertama:
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ
حَقّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوْتُنّ
إِلاّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ
اتّقُوْا
رَبّكُمُ
الّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً
كَثِيْرًا
وَنِسَاءً
وَاتّقُوا
اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ
إِنّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ
آمَنُوْا
اتّقُوا
اللهَ
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ
…
فَأِنّ
أَصْدَقَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْىِ
هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى
الله
عَلَيْهِ
وَسَلّمَ،
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ
وَكُلّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً،
وَكُلّ
ضَلاَلَةِ
فِي النّارِ.
Kaum
Muslimin rahimakumullah,
Khatib
mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa
bertakwa kepada Allah Ta’ala, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya. Bertakwa dengan cara menaati-Nya bukan berbuatk maksiat
kepada-Nya, mensyukuri nikmat-Nya bukan malah mengkufurinya, dan selalu
mengingat-Nya bukan melupakan-Nya.
Segala
puji bagi-Nya Rabb semesta alam, yang telah mengaruniakan berbagai kenikmatan
yang tak terhingga. Shalawat dan salam bagi penghulu para rasul, kekasih dan
penyejuk hati kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada
keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum muslimin rahimakumullah
Saat
ini, di akhir zaman sekarang ini, riba semakin tersebar luas di semua lapisan
masyarakat kita, dan ini tentu saja sesuatu yang sangat memprihatinkan. Bahkan
riba masuk ke dalam lingkungan masjid melaui promosi-promosi kredit berbunga.
Padahal riba adalah dosa besar yang pelakunya diancam dengan adzab yang pedih
di akhirat.
Oleh
karena itu, perlu kiranya kita pelajari dan dalami apa itu riba dan berbagai
jenisnya agar kita mengetahuinya dan bisa menghindarinya. Sehingga ruang gerak
riba menyempit di tengah masyarakat kita.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Dalam
bahasa arab riba bermakna tambahan boleh jadi tambahan pada suatu benda ataupun
tambahan pada kompensasi dari benda tersebut semisal barter seribu rupiah
dengan dua ribu rupiah.
Dalam
syariat, riba bermakna tambahan atau penundaan tertentu yang dilarang oleh
syariat.
Jadi
riba itu memiliki beberapa bentuk, ada yang berupa penambahan yang dalam bahasa
arab disebut fadhl dan ada yang berbentuk penundaan penyerahan barang tertentu
yang dilarang oleh syariat yang dalam bahasa arab disebut nasiah. Ada juga riba
nasiah dalam bentuk penambahan yang disyaratkan untuk mendapatkan penundaan
pembayaran utang.
Komoditi
Ribawi atau Benda Ribawi
Dalam
hadits Nabi menyebutkan adanya enam benda ribawi. Enam benda ini bisa kita
kategorikan menjadi dua kelompok.
Kelompok
pertama berisi emas dan perak. Kita analogikan dengan emas dan perak berbagai
jenis mata uang semisal rupian, dollar dll.
Kelompok
kedua terdiri dari gandum syair, gandum burr, korma dan garam. Dianalogkan
dengan empat benda ini semua yang bisa dimakan dan diperjualbelikan dengan cara
ditakar atau ditimbang.
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ ».
Dari
Ubadah bin Shamit, Rasulullah bersabda, “Jika emas dibarter dengan emas,
perak dibarter dengan perak, gandum burr dibarter dengan gandum burr, gandum
syair dibarter dengan gandum syair, korma dibarter dengan korma, garam dibarter
dengan garam maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang dibarterkan
berbeda maka takarannya sesuka hati kalian asalkan tunai” [HR. Muslim no
4147]
عَنْ
مَعْمَرِ
بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ
كُنْتُ أَسْمَعُ
رَسُولَ
اللَّهِ -صلى
الله عليه
وسلم- يَقُولُ
« الطَّعَامُ
بِالطَّعَامِ
مِثْلاً
بِمِثْلٍ ».
قَالَ
وَكَانَ
طَعَامُنَا
يَوْمَئِذٍ
الشَّعِيرَ.
Dari
Ma’mar bin Abdullah, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Jika
makanan dibarter dengan makanan maka takarannya harus sama”. Ma’mar
mengatakan, “Makanan pokok kami di masa itu adalah gandum syair”
[HR Tirmidzi no 4164].
عَنْ
عُبَادَةَ
وَأَنَسِ
بْنِ مَالِكٍ
عَنِ
النَّبِىِّ
-صلى الله
عليه وسلم- «
مَا وُزِنَ
مِثْلٌ
بِمِثْلٍ
إِذَا كَانَ
نَوْعًا وَاحِدًا
وَمَا كِيلَ
فَمِثْلُ
ذَلِكَ فَإِذَا
اخْتَلَفَ
النَّوْعَانِ
فَلاَ بَأْسَ
بِهِ ».
Dari
Ubadah dan Anas bin Malik, Nabi bersabda, “Benda yang ditimbang jika
dibarter timbangannya harus sama apabila dibarter dengan benda yang sama. Benda
yang ditakar ketentuannya sama seperti itu. Jika dua benda yang dibarterkan itu
berbeda maka boleh takaran atau timbangannya berbeda” [HR Daruquthni no
2891].
Ada
aturan untuk barter benda benda ribawi dengan rincian sebagai berikut:
Pertama,
jika bendanya sama missal kurma dengan kurma, beras dengan beras atau rupiah
dengan rupiah maka agar transaksi barter ini diperbolehkan ada dua syarat yang
harus dipenuhi pertama, takaran atau timbangannya harus sama meski kualitas dua
benda tersebut berbeda kedua, harus tunai.
Yang
dimaksud tunai di sini adalah kedua benda tersebut sudah diserahterimakan
sebelum kedua orang yang mengadakan transaksi meninggalkan lokasi terjadinya
transaksi.
Kedua,
jika dua benda yang dibarterkan itu berbeda namun masih dalam satu kelompok
semisal rupiah dengan dollar, emas dengan rupiah, atau beras dengan beras maka
hanya ada satu syarat yang harus dipenuhi agar transaksi ini legal dan sah
menurut syariat Islam yaitu tunai sebagaimana pengertian di atas.
Ketiga,
jika dua benda yang dibarterkan itu berbeda kelompok semisal rupiah dengan
beras, emas dengan daging sapi maka tidak ada persyaratan di atas. Artinya
boleh beda takaran atau timbangan dan boleh tidak tunai.
Demikian
pula halnya jika yang dipertukarkan bukanlah benda ribawi semisal motor dengan
motor, HP dengan HP maka tidak ada persyaratan di atas untuk legal dan sahnya
transaksi ini.
Jenis
Riba
Riba
itu bisa dijumpai dalam dua jenis transaksi, transaksi jual beli dan transaksi
hutang piutang.
Riba
dalam transaksi jual beli ada dua macam:
Pertama,
riba fadhl [penambahan] semisal barter 10 Kg beras IR 64 dengan 5 Kg beras
mentik wangi yang semuanya diserahkan di majelis akad [tempat terjadinya
transaksi]
Kedua,
riba nasiah [penundaan] semisal barter 5 Kg beras mentik wangi dengan 5Kg beras
IR 64 namun salah satu dari keduanya ada yang diserahkan di luar majelis akad
atau 1 dollar AS dengan 10 ribu rupiah namun salah satu dari rupiah atau dollar
diserahkan di luar majelis transaksi.
Catatan:
Tidaklah
termasuk riba nasiah manakala salah satu dari dua barang yang dipertukarkan
adalah benda ribawi dan yang lain menjadi mata uang yang berlaku di masyarakat
setempat
Riba
dalam transaksi utang piutang juga terbagi menjadi dua jenis.
Pertama,
riba jahiliah
Kedua,
riba utang
عَنْ فَضَالَّةَ بْنِ عُبَيْدٍ صَاحِبِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوهِ الرِّبَا.
Fadhalah
bin Ubaid mengatakan, “Semua transaksi utang piutang yang menghasilkan
keuntungan adalah salah satu bentuk riba” [Riwayat Baihaqi dalam Sunan
Kubro no 11252].
Hukum
Hadiah Dari Peminjam Uang
Hadiah
yang diberikan oleh orang yang pinjam uang kepada orang yang meminjami atau
menghutangi itu ada dua kategori.
Pertama,
jika hadiah tersebut dipersyaratkan di awal atau di tengah tengah transaksi
utang piutang maka hadiah tersebut adalah riba mengingat perkataan Fadhalah bin
Ubaid di atas.
Kedua,
hadiah tersebut tidaklah disyaratkan secara lisan atau pun secara urf [hukum
tidak tertulis yang ada di masyarakat, pent], tidak pula diminta sehingga murni
suka rela dari orang yang berhutang hukumnya perlu rincian.
Pertama,
jika hadiah tersebut diberikan setelah pelunasan utang atau pada saat pelunasan
hukumnya boleh
Kedua,
jika hadiah tersebut diberikan sebelum pelunasan hukumnya haram karena
tergolong riba dalam transaksi utang piutang kecuali jika sebelum terjadi
transaksi utang piutang keduanya sudah terbiasa saling memberi hadiah.
إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا
Abdullah
bin Salam berkata kepada Abu Burdah, “Sungguh anda berdomisili di daerah
yang riba di sana tersebar luas. Diantara pintu riba adalah jika kita
memberikan pinjaman uang kepadanya dengan jatuh tempo yang telah ditentukan
jika jatuh tempo tiba orang yang berhutang membayarkan cicilan plus membawa
satu keranjang berisi buah buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang
tersebut dan isinya” [Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 11245].
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua:
أَحْمَدُ
رَبِّي
وَأَشْكُرُهُ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ
نَبِيَنَا
مُحَمَّدٌ
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
Kaum
muslimin rahimakumullah
Lalu
seberapa besar bahaya riba tersebut, sehingga kita harus benar-benar
menjauhinya.
Bahaya
Riba
الَّذِينَ
يَأْكُلُونَ
الرِّبَا لَا
يَقُومُونَ
إِلَّا كَمَا
يَقُومُ
الَّذِي
يَتَخَبَّطُهُ
الشَّيْطَانُ
مِنَ
الْمَسِّ (275)
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila[175]” (QS al Baqarah:275).
[175] Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram
jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.
وَقَالَ
اِبْنُ
عَبَّاسٍ:
آكِلُ
الرِبَا يُبْعَثُ
يَوْمَ
القِيَامَةِ
مَجْنُوْنًا
يُخْنَق. رواه
ابن أبي حاتم،
Ibnu
Abbas mengatakan, “Orang yang memakan riba itu akan dibangkitkan pada
hari Kiamat dalam keadaan gila tercekik”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Hatim [Shahih Tafsir Ibnu Katsir karya Musthofa al Adawi 1/306]
يَمْحَقُ
اللَّهُ
الرِّبَا
وَيُرْبِي
الصَّدَقَاتِ
(
276)
“Allah itu menghapus riba dan mengembangkan sedekah”
(QS al Baqarah:276).
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَذَرُوا مَا
بَقِيَ مِنَ
الرِّبَا
إِنْ
كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ
(278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا
فَأْذَنُوا
بِحَرْبٍ
مِنَ اللَّهِ
وَرَسُولِهِ
وَإِنْ
تُبْتُمْ
فَلَكُمْ
رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ
لَا
تَظْلِمُونَ
وَلَا تُظْلَمُونَ
(279)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang benar
benar beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat
(dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan
tidak (pula) dianiaya (QS al Baqarah:278-279).
عَنْ
أَبِى
هُرَيْرَةَ –
رضى الله عنه
– عَنِ النَّبِىِّ
– صلى الله
عليه وسلم –
قَالَ « اجْتَنِبُوا
السَّبْعَ
الْمُوبِقَاتِ
» . قَالُوا
يَا رَسُولَ
اللَّهِ ،
وَمَا هُنَّ
قَالَ «
الشِّرْكُ
بِاللَّهِ ،
وَالسِّحْرُ
، وَقَتْلُ
النَّفْسِ
الَّتِى
حَرَّمَ
اللَّهُ إِلاَّ
بِالْحَقِّ ،
وَأَكْلُ
الرِّبَا ، وَأَكْلُ
مَالِ
الْيَتِيمِ ،
وَالتَّوَلِّى
يَوْمَ
الزَّحْفِ ،
وَقَذْفُ
الْمُحْصَنَاتِ
الْمُؤْمِنَاتِ
الْغَافِلاَتِ
» .
Dari
Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang
membinasakan!”. Para shahabat bertanya, “Apa saja tujuh dosa itu
wahai rasulullah?”.
Jawaban
Nabi, “Menyekutukan Allah, sihir, menghabisi nyawa yang Allah haramkan
tanpa alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim,
meninggalkan medan perang setelah perang berkecamuk dan menuduh berzina wanita
baik baik” [HR Bukhari no 2766 dan Muslim no 272].
عَنْ
جَابِرٍ
قَالَ لَعَنَ
رَسُولُ
اللَّهِ -صلى
الله عليه
وسلم- آكِلَ
الرِّبَا
وَمُوكِلَهُ
وَكَاتِبَهُ
وَشَاهِدَيْهِ
وَقَالَ هُمْ
سَوَاءٌ.
Dari
Jabir, Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis
dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama” [HR
Muslim no 4177].
عَنْ عَبْدِ اللهِ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : الرِبَا ثَلَاثَةُ وَ سَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَجُلَ أُمَّهُ
Dari
Abdullah bin Mas’ud, Nabi bersabda, “Riba itu memiliki 73 pintu.
Dosa riba yang paling ringan itu semisal dosa menyetubuhi ibu sendiri”
[HR Hakim no 2259, shahih].
عَنْ
كَعْبٍ قَالَ
لأَنْ
أَزْنِىَ
ثَلاَثاً
وَثَلاَثِينَ
زَنْيَةً
أَحَبُّ
إِلَىَّ مِنْ
أَنْ آكُلَ
دِرْهَمَ رِباً
يَعْلَمُ
اللَّهُ
أَنِّى
أَكَلْتُهُ حِينَ
أَكَلْتُهُ
رِباً.
تعليق
شعيب
الأرنؤوط :
إسناده صحيح
إلى كعب الأحبار
Dari
Kaab bin al Ahbar, beliau mengatakan, “Sungguh jika aku berzina sebanyak
36 kali itu lebih kusukai dari pada aku memakan satu dirham riba yang Allah
tahu bahwa aku memakannya dalam keadaan aku tahu bahwa itu riba” [Riwayat
Ahmad no 22008, Syaikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih
sampai ke Kaab al Ahbar]
عَنْ
عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ
حَنْظَلَةَ
غَسِيلِ
الْمَلاَئِكَةِ
قَالَ قَالَ
رَسُولُ
اللَّهِ -صلى
الله عليه
وسلم- «
دِرْهَمُ رِباً
يَأْكُلُهُ
الرَّجُلُ
وَهُوَ يَعْلَمُ
أَشَدُّ مِنْ
سِتَّةٍ
وَثَلاَثِينَ
زَنْيَةً »
Dari
Abdullah bin Hanzhalah, Rasulullah bersabda, “Satu dirham uang riba yang
dinikmati seseorang dalam keadaan tahu bahwa itu riba dosanya lebih jelek dari
pada berzina 36 kali” [HR Ahmad no 22007, dinilai shahih oleh al Albani
di Silsilah Shahihah no 1033].
عَنْ
ابْنِ
مَسْعُودٍ
عَنْ
النَّبِيِّ
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
قَالَ مَا أَحَدٌ
أَكْثَرَ
مِنْ
الرِّبَا
إِلَّا كَانَ
عَاقِبَةُ أَمْرِهِ
إِلَى
قِلَّةٍ
Dari
Ibnu Mas’ud, Nabi bersabda, “Tidaklah seorang itu memperbanyak
harta dari riba kecuali kondisi akhirnya adalah kekurangan” [HR Ibnu
Majah no 2279, dinilai shahih oleh al Albani]
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ
سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا
غِلّاً
لِّلَّذِينَ
آمَنُوا
رَبَّنَا
إِنَّكَ رَؤُوفٌ
رَّحِيمٌ
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ
بَيْنَنَا
وَبَيْنَ قَوْمِنَا
بِالحَقِّ
وَأَنْتَ
خَيْرُ الفَاتِحِيْنَ
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
عِلْمًا نَافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ
وصلى
الله على
نبينا محمد
وعلى آله
وصحبه و مَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدّيْن.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لله رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ
Description: khutbah jumat tentang riba, isi
khotbah jumat riba, kutbah tentang riba, www khutbah jumat bahaya riba dan
sangsinya, khotbah jumat dgn tema riba