Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الكَرِيْمِ المَنَّانِ؛ أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ العَظِيْمَةِ وَعَطَايَاهُ الجَسَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ المُلْكُ العَلَامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ أَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الكِرَامِ.
أَمَّا
بَعْدُ :
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ:
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى، وَرَاقِبُوْهُ
جَلَّ
شَأْنُهُ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ
رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Ibadallah,
Banyak
orang yang salah kaprah tentang hakikat ilmu yang shahih, yaitu ilmu yang harus
dipelajari dan dicari. Mereka berselisih menjadi dua pendapat, yang saling
bersebrangan dan ekstrim. Salah satunya lebih berbahaya daripada yang lainnya.
Pendapat
pertama, pendapat yang mengatakan bahwa ilmu yang shahih hanya terbatas pada
sebagian ilmu syar’i yang hanya berkaitan dengan perbaikan akidah, akhlak
dan ibadah, bukan semua ilmu yang ditunjukkan oleh Alquran dan sunnah yang
mencakup ilmu syar’i dan semua ilmu yang menjadi perantaranya dan ilmu
pengetahuan tentang alam semesta. Pendapat ini bersumber dari mereka yang tidak
memahami syariat dengan benar. Namun, sekarang mulai mencari cara tatkala
melihat banyaknya maslahah dan manfaat ilmu pengetahuan tentang alam semesta,
juga ketika sebagian besar mereka menyadari adanya petunjuk dari nash-nash
agama tentang ilmu tersebut.
Pendapat
kedua, pendapat yang membatasi ilmu pada ilmu-ilmu modern saja yang merupakan
bagian dari ilmu pengetahuan. Pendapat ini muncul akibat dari berpalingnya
mereka dari agama, ilmu agama dan akhlakya. Ini jelas merupakan kesalahan yang
sangat fatal, dimana mereka menjadikan perantara sebagai tujuan. Mereka menolak
ilmu yang shahih dan hakikat yang bermanfaat, jika tidak ditunjukkan oleh ilmu
modern sama sekali. Mereka telah tertipu dengan berbagai hasil
penemuan-penemuan baru. Merekalah yang dimaksudkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,
فَلَمَّا
جَاءَتْهُمْ
رُسُلُهُمْ
بِالْبَيِّنَاتِ
فَرِحُوا
بِمَا
عِنْدَهُمْ
مِنَ
الْعِلْمِ
وَحَاقَ
بِهِمْ مَا
كَانُوا بِهِ
يَسْتَهْزِئُونَ
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang
diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa
senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab
Allah ‘Azza wa Jalla
yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (QS. al-Ghafir/40:83).
Mereka
bangga dengan ilmu mereka, menyombongkan diri serta melecehkan ilmu para Rasul.
Akibatnya, mereka ditimpa adzab yang mereka perolok-olokan dan ancaman yang
diberikan kepada para pendusta rasul-rasul Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka disiksa di dunia
dengan ditutupnya hati, mata dan pendengaran mereka, sehingga mereka tidak bisa
melihat kebenaran.
وَلَعَذَابُ
الْآخِرَةِ
أَشَدُّ
وَأَبْقَىٰ
“Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan
lebih kekal.” (QS. Thaha/20:127).
وَمَا
كَانَ لَهُمْ
مِنَ اللَّهِ
مِنْ وَاقٍ
“Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab
Allah.” (QS. Ghafir/40:21).
Ibadallah,
Hakikat
dan yang maksud dengan ilmu yang bermanfaat dalam Alquran dan sunnah yaitu
semua ilmu yang menghantarkan kepada tujuan yang mulia, yang membuahkan
perkara-perkara bermanfaat, tidak ada beda antara ilmu yang berkaitan dengan
dunia maupun yang berkaitan dengan akhirat. Jadi, semua yang membimbing manusia
kepada jalan yang benar, bisa memperbaiki akidah dan meningkat akhlak dan
amalan, maka itu adalah ilmu.
Ilmu
terbagi menjadi dua: Tujuan dan sarana (perantara) yang bisa mengantarkan
kepada tujuan.
Ibdallah,
Tujuan
adalah semua ilmu yang memperbaiki agama, sedangkan sarana adalah semua ilmu
yang mendukung tujuan seperti ilmu-ilmu bahasa arab dan ilmu-ilmu lainnya,
termasuk ilmu pengetahuan tentang alam semesta yang membuahkan
ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah ‘Azza wa Jalla), pengetahuan tentang
keesaan-Nya serta kesempurnaan-Nya, juga membuahkan pengetahuan tentang
benarnya para Rasul-Nya. Buah lainnya adalah dapat membantu dalam beribadah dan
bersyukur kepada Allah l , serta membantu dalam penegakan agama. Karena
sesungguhnya Allah ‘Azza
wa Jalla telah menundukkan alam semesta ini untuk kita dan Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan
kita untuk berfikir dan berusaha menggali hal-hal yang bermanfaat, baik
beragama maupun bermanfaat dalam kehidupan dunia. Dan perintah terhadap sesuatu
berarti perintah untuk melaksanakan apa yang menjadi obyek perintah tersebut
serta perintah juga untuk melaksanakan segala yang menjadi perantara dan
penyempurna penunaian perintah.
Ini
mendorong kita untuk mengetahui ilmu pengetahuan alam yang bisa digunakan untuk
menggali manfaat dari segala yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tundukkan untuk kita.
Karena manfaat dan hasil tidak akan bisa dicapai tanpa usaha, berfikir dan
melakukan penelitian. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
“Dan
Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai
manfaat bagi manusia.” (QS. al-Hadid/57:25).
Manfaat
ini tidak akan tercapai kecuali dengan mengetahui ilmu-ilmu terkait sehingga
hasilnya maksimal.
Banyak
sekali nash dalam Alquran dan sunnah yang memuji ilmu dan memuji para ahli
ilmunya serta keharusan untuk lebih mengutamakan ahli ilmu daripada yang
lainnya. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
قُلْ
هَلْ
يَسْتَوِي
الَّذِينَ
يَعْلَمُونَ
وَالَّذِينَ
لَا
يَعْلَمُونَ
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar/39:9).
Merekalah
orang-orang yang takut kepada Allah ‘Azza
wa Jalla dan mengetahui-Nya
إِنَّمَا
يَخْشَى
اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla di
antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir/35:28).
Allah
‘Azza wa Jalla
memerintahkan orang yang tidak mengetahui untuk bertanya kepada ahli ilmu.
Allah
‘Azza wa Jalla
juga memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan banyak jenis ibadah dan
melarang dari segala yang haram. Perintah dan larangan tidak mungkin dilakukan
kecuali setelah memiliki ilmu dan mengetahuinya. Jadi perintah dan larangan itu
menunjukkan wajibnya mempelajari segala yang berhubungan dengan perintah dan larangan
itu sendiri. Sebagaimana juga Allah ‘Azza
wa Jalla membolehkan sebagian muamalat (segala yang terkait dengan
intraksi antar sesama manusia) dan mengharamkan sebagian yang lain. Untuk
melaksanakannya berarti kita harus bisa membedakan antara muamalah yang
diperbolehkan dan yang tidak perbolehkan. Klasifikasi seperti ini tidak bisa
dilakukan kecuali dengan ilmu. Allah ‘Azza
wa Jalla mencela orang-orang yang tidak mengetahui batasan-batasan
yang telah Allah ‘Azza
wa Jalla turunkan kepada para rasulnya dalam al-Kitab dan sunnah.
Di
antara perintah Allah l adalah perintah berjihad dalam banyak ayat, dan
perintah untuk mempersiapkan kekuatan yang bisa dilakukan untuk menghadapi
musuh serta berhati-hati dari mereka. Perintah-perintah ini tidak akan bisa direalisasikan
kecuali dengan mempelajari ilmu tehnik berperang dan pembuatan senjata.
Allah
‘Azza wa Jalla
juga memerintahkan untuk mempelajari ilmu perdagangan dan ilmu perekonomian,
bahkan Allah ‘Azza wa
Jalla memerintahkan untuk menguji anak-anak yatim yang masih kecil
dengannya agar mereka tahu ilmu dagang dan bisa bekerja sebelum diserahi harta
benda milik mereka. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ
“Dan
ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika
menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka
serahkanlah kepada mereka harta-harta mereka.” (QS. an-Nisa/4:6).
Dalam
ayat di atas, Allah ‘Azza
wa Jalla tidak memerintahkan untuk menyerahkan harta mereka sampai
diketahui bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang cara pengelolaan harta dan
mengetahui ilmu perdagangan.
Syariat
yang sempurna ini memerintahkan kita untuk mempelajari segala jenis ilmu yang
bermanfaat; mulai dari ilmu Tauhid, Usuluddin, ilmu Fikih dan hukum, ilmu-ilmu
bahasa arab, ilmu perekonomian dan politik, serta ilmu-ilmu yang bisa untuk
memperbaiki keadaan pribadi dan masyarakat.
Tidak
ada ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat kecuali telah diperintahkan
dan dianjurkan oleh syariat ini. Sehingga dengan demikian, terkumpullah di
dalam agama ini ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pengetahuan alam. Bahkan
ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat bisa dimasukkan menjadi bagian dari ilmu agama.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلَ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
أَمَّا
بَعْدُ :
Ibadallah,
Adapun
orang-orang yang berlebihan, mereka menjadikan ilmu itu terbatas pada sebagian
ilmu agama saja. Sungguh mereka telah jatuh dalam kesalahan yang fatal.
Sebaliknya
yang beraliran materialis, mereka memandang bahwa ilmu yang benar hanya
terbatas pada ilmu pengetahuan alam. Mereka mengingkari ilmu-ilmu lainnya,
mereka menyimpang sehingga agama dan akhlak mereka rusak. Buah dari ilmu mereka
hanya produk-produk yang gersang, tidak bisa menyucikan akal dan ruh mereka,
juga tidak memperbaiki akhlak. Ilmu mereka lebih banyak mendatang mudharat
daripada manfaatnya. Mereka hanya mendapatkan manfaat dari sisi peningkatan
produk dan penemuan baru saja, namun mereka mendapatkan celaka dari dua sisi:
Pertama,
ilmu-ilmu akan menjadi bencana terbesar bagi mereka dan bagi umat manusia,
karena ilmu-ilmu itu hanya mendatangkan kebinasaan, peperangan dan kehancuran.
Kedua,
dengan ilmu yang mereka miliki, mereka akan menjadi bangga dan sombong sehingga
mereka berani melecehkan ilmu para Rasul dan perkara-perkara agama.
إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Sesungguhhnya
orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang
sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan
akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah
perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. Ghafir/40:56).
فَلَمَّا
جَاءَتْهُمْ
رُسُلُهُمْ
بِالْبَيِّنَاتِ
فَرِحُوا بِمَا
عِنْدَهُمْ
مِنَ
الْعِلْمِ
وَحَاقَ بِهِمْ
مَا كَانُوا
بِهِ
يَسْتَهْزِئُونَ
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang
diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang
dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah ‘Azza wa Jalla yang
selalu mereka perolok-olokkan itu.” (QS. al-Ghafir/40: 83).
Dengan
uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa ilmu yang bermanfaat di dunia
maupun di akhirat adalah ilmu-ilmu yang bersumber dari kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan
sunnah Rasulullah n yang mencakup semu jenis ilmu yang bermanfaat, tidak ada
beda antara ilmu inti dan ilmu cabang, tidak pula ilmu agama dan ilmu dunia
semunya sama. Sebagaimana akidah Islam mencakup kewajiban beriman kepada semua
kebenaran, beriman kepada semua kitab yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan, dan semua
Rasul yang Allah ‘Azza
wa Jalla utus. Walhamdulillah
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ
الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
وَلَا تُعِنْ
عَلَيْنَا،
وَانْصُرْنَا
وَلَا
تَنْصُرْ
عَلَيْنَا،
وَامْكُرْ
لَنَا وَلَا
تُمْكِرْ عَلَيْنَا،
وَاهْدِنَا
وَيَسِّرْ
الهُدَى لَنَا
وَانْصُرْنَا
عَلَى مَنْ
بَغَى عَلَيْنَا،
اَللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا
لَكَ شَاكِرِيْنَ
لَكَ
ذَاكِرِيْنَ
إِلَيْكَ
أَوَّاهِيْنَ
مُنِيْبِيْنَ
لَكَ
مُخْبِتِيْنَ
لَكَ مُطِيْعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ
تَوْبَتَنَا
وَاغْسِلْ
حَوْبَتَنَا
وَثَبِّتْ
حُجَّتَنَا
وَاهْدِ
قُلُوْبَنَا
وَسَدِّدْ
أَلْسِنَتَنَا
وَاسْلُلْ
سَخِيْمَةَ
صُدُوْرِنَا.
اَللَّهُمَّ
وَأَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
وَاهْدِنَا
سُبُلَ السَّلَامِ
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
وَآخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ،
وَصَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
وَبَارَكَ
وَأَنْعَمَ عَلَى
عَبْدِهِ
وَرَسُوْلِهِ
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com