Khutbah
Pertama:
إِنَّ
الحَمْدَ
لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَتُوْبُ
إِلَيْهِ ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
، مَنْ
يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ
لَهُ ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِوَأَصْحَابِهِ
وَأَتْبَاعِهِ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي
بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى
فَإِنَّ
العَاقِبَةَ
لِلْمُتَّقِيْنَ
.
Bertakwalah
kepada Allah wahai hamba Allah sekalian. Takwa adalah wasiat bagi orang-orang
yang pertama demikian manusia yang paling akhir kelak di akhir zaman. Takwa
adalah sebab seseorang sukses, bahagia, menang, dan memperoleh keuntungan di
dunia dan akhirat kelak. Takwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah amalan
seorang hamba berdsarkan syariat yang ditetapkan Allah dengan berharap pahala
dari-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah juga dengan bimbingan
syariat-Nya disertai dengan perasaan takut akan siksa dari-Nya.
Ibadallah,
Telah
kita lewati bersama sebuah masa yang penuh kemuliaan, suatu waktu dimana kita
melihat banyak sekali orang-orang melakukan ketaatan, dan hari dimana
orang-orang mengisinya dengan peribadatan. Dialah bulan Ramadhan yang penuh
keberkahan, yang hari-harinya penuh kemuliaan, dan malam-malamnya bertebar
keutamaan.
Di
bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan
berlomba-lomba menuju pintu-pintu kebaikan. Sesungguhnya seorang mukmin merasa
senang melihat orang-orang melaksanakan ketaatan dan berlomba-lomba di dalam
beribadah, menegakkakn kebajikan di bulan yang agung tersebut.
Ibadallah,
Yang
perlu diperhatikan seorang muslim adalah bahwasanya ibadah kepada Allah
Tabaraka wa Ta’ala, berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan
serta sesuatu yang Allah ridhai tidak hanya terhenti di bulan Ramadhan saja
atau ketaatan tersebut tidak terbatas di waktu-waktu tertentu saja. Walaupun
bulan Ramadhan telah usai, namun ibadah kepada Allah tidak mengenal berhenti.
Walaupun hari-hari yang penuh keberkahan telah berlalu, amalan kebajikan tidak
mengenal masa waktu.
Allah
Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan
sembahlah Rabb-mu hingga ajal menjemputmu.” (al-Hijr: 99).
Yang
dimaksud denga yakin dalam ayat di atas adalah kematian. Seorang muslim
dituntut untuk tetap senantiasa dalam ketaatan dan continu dalam beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga Allah mewafatkannya. Allah
Berfirman,
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلَا
تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Yaitu
bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berlomba-lombalah dalam mendapatkan
ridha-Nya, hingga kalian wafat dalam keadaan demikian. Kita ketahui bersama,
tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan akhir perjalanan hidupnya dan kapan
ajal datang menjemputnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu bersiap
diri untuk kematian yang datanganya tidak diketahui itu. Jadilah orang yang
senantiasa menjaga dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan melaksanakan yang
Allah Tabaraka wa Ta’ala perintahkan sesuai dengan kemampuan. Dan juga
menjauhkan diri dari apa yang Allah larang dan haramkan.
Ibadallah,
Kita
dapati sebagian orang ada yang sangat bersemangat beribadah ketika Ramadha,
namun ketika Ramadha usai mereka berhenti dari ibadahnya atau mereka
bermalas-malasan. Mereka tinggalkan pintu-pintu kebaikan seolah-olah ibadah itu
hanya dituntut di bulan Ramadhan saja. Para salaf pernah ditanya tentang
orang-orang yang keadaannya demikian, mereka menjawab,
بِئْسَ
القَوْمُ لَا
يَعْرِفُوْنَ
اللهَ إِلَّا
فِي
رَمَضَانَ
“Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena)
mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan.”
Ibadallah,
Sesungguhnya
Rabb dari seluruh bulan adalah Rabb yang satu. Rabb nya bulan Syawal adalah
Rabb nya bulan-bulan selainnya. Sebagaimana seseorang diwajibkan menaati Allah
dan beribadah kepada-Nya di bulan Ramadhan, mereka juga diwajibkan untuk
menjaga ketaatan kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya
di setiap waktu selain Ramadhan. Di setiap bulan, setiap tahun, hingga Allah
Tabaraka wa Ta’ala mewafatkannya dalam keadaan Dia ridha kepada hamba
tersebut.
Inilah
makna dari firman Allah Ta’ala,
إِنَّ
الَّذِينَ
قَالُوا
رَبُّنَا
اللَّهُ
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb
kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah…”
Yakni
mereka istiqomah dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, mereka terus berada
dalam ruang-ruang kebaikan hingga Allah mewafatkan mereka. Mereka itulah
orang-orang yang mendapatkan keuntungan, kebahagian, dan keberhasilan di dunia
dan akhirat. Karena itulah, Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkan keadaan
mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan perbendaharaan yang agung dan besar
di dunia dan di akhirat.
Allah
Jalla wa ‘Ala berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا
رَبُّنَا
اللَّهُ
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
فَلَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan
kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”
(Al-Ahqaf: 13).
Allah
juga berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ
قَالُوا
رَبُّنَا
اللَّهُ
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا
تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ
الَّتِي
كُنْتُمْ
تُوعَدُونَ (30)
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ
فِي
الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا
وَفِي
الْآخِرَةِ
وَلَكُمْ
فِيهَا مَا تَشْتَهِي
أَنْفُسُكُمْ
وَلَكُمْ
فِيهَا مَا
تَدَّعُونَ (31)
نُزُلًا مِنْ
غَفُورٍ رَحِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan
kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu
takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang
telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam
kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan
dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan
(bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Fushshilat: 30-33).
Semua
hal itu hanya dipertunkkan bagi mereka yang beriman kepada Allah Tabaraka wa
Ta’ala dan senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya hingga maut
menjemputnya. Saat ia wafat, Allah kabarkan bahwa para malaikat turun. Malaikat
rahmat membawa kabar yang sangat menggembirakan dan menyambutnya dengan
keberkahan dan kebaikan. Para malaikat itu turun kepada mereka sesaat sebelum
wafat dengan memberikan kabar gembira tentang kehidupan setelah kematian mereka
(alam barzah).
تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا
تَخَافُوا
وَلَا
تَحْزَنُوا
“…maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa
sedih…”
Janganlah
kalian takut dengan yang akan terjadi setelah kematian ini, karena balasan
pahala yang besar telah kalian persiapkan sebelumnya dan ridha Allah telah
kalian gapai. Jangan pula kalian bersedih tentang apa yang kalian tinggalkan,
baik istri, anak-anak, karena Allah lah yang akan menjaga, melindungi, dan
membimbing mereka dengan taufik dari-Nya. Mereka juga mendapat kabar gembira
lainnya di saat wafat mereka,
أَلَّا
تَخَافُوا
وَلَا
تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan surga.”
Di
saat wafat, Allah berikan mereka kabar gembira akan surga. Surga yang telah
mereka upayakan dalam kehidupan dunia. Yang mereka telah bersungguh-sungguh
untuk mendapatkannya di hari-hari kehidupan dunia dengan beristiqomah dalam
ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, saat mereka wafat Allah beri kabar
gembira untuk mereka.
Tidak
heran, banyak orang-orang yang menjaga ketaatan dan bersungguh-sungguh dalam
istiqomah, tersenyum saat ajal menjemput mereka. Tampak di wajah mereka
kebahagiaan dan kesenangan. Tampak hasil yang telah mereka upayakan di hari
kematian mereka. sebuah kabar yang begitu menggembirakan dan sambutan yang
begitu mulia di saat hari pertama mereka memasuki alam akhirat.
Kita
memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
agar mencatatkan kita termasuk orang yang akhir hayatnya dalam keadaan terpuji
dan lurus. Dan kita memohon kepada-Nya taufik, pertolongan, dan keteguhan agar
bisa memperolehnya.
Ibadallah,
Allah
Tabaraka wa Ta’ala mewajibkan berpuasa satu bulan penuh di bulan
Ramadhan, namun ibadah puasa tidak hanya terdapat di bulan Ramadhan saja. Masih
ada puasa-puasa sunnah. Di antara puasa sunnah yang paling agung adalah puasa
enam hari di bulan Syawal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa
yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia menyertainya dengan berpuasa enam
hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa selama setahun.” (HR.
Muslim).
Ibadallah,
Sungguh,
puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar dan manfaat yang
banyak. Di antaranya adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas
taufik-Nya kita mampu menyelesaikan puasa di bulan Ramadhan. Menysukuri nikmat
atas nikmat lain yang ia berikan setelahnya. Mensyukuri taufik dimbimbing
menuju ketaatan dan ketaatan setelah Ramadhan tersebut. Oleh karena itu, dalam
rangka syukur kepada Allah hendaknya kita bersegera menunaikan puasa enam hari
di bulan Syawal.
Di
antara hikmah dari puasa Syawal adalah bahwa puasa enam hari di bulan Syawal
menetapkan adanya hal-hal sunnah setelah suatu kewajiban. Sebagaimana shalat
fardhu yang setelahnya diikuti oleh shalat sunnah sebagai penutup dan
penyempurna kekurangan yang ada pada shalat fardhu. Oleh karena itu, puasa enam
hari di bulan Syawal merupakan sunnah yang memantapkan amalan kewajiban.
Tidak
kita ragukan bahwa kita melakukan sedikit atau banyak hal-hal yang mengurangi
puasa Ramadhan, maka hari-hari di bulan Syawal Allah siapkan untuk
menyempurnakan dan menambal kekurangan puasa Ramadhan kita.
Di
antara hikmah puasa Syawal juga adalah sebagaimana dijelaskan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Seakan-akan
berpuasa satu tahun”. Ketahuilah, pahala kebaikan itu Allah
lipat-gandakan 10 kali lipat. Puasa Ramadhan satu bulan penuh senilai dengan
puasa 10 bulan. Jika kita menambahnya dengan 6 hari di bulan Syawal, maka ia
setara dengan 2 bulan. Jadi, jika digabung dengan puasa Ramadhan menjadi puasa
selama 12 bulan atau satu tahun penuh.
Ibdallah,
Termasuk
hikmah puasa enam hari di bulan Syawal adalah tanda di antara tanda-tanda
diterimanya ketaatan. Karena tanda diterimanya amalan ketaatan kita dimudahkan
untuk melakukan ibadah yang lain setelahnya. Kita semua berharap agar Allah
Tabaraka wa Ta’ala menerima amalan puasa dan shalat kita di bulan Ramadhan.
Dan tanda diterimanya suatu amalan adalah seseorang menjadi semakin taat
setelahnya. Jika kita merasa bahwa diri kita pemalas sebelum Ramadhan, tapi
setelah Ramadhan kita semakin taat dan giat beribadah, itulah tanda kebaikan.
Jika sebelum Ramadhan kita merasa baik, semestinya setelah Ramadhan menjadi
lebih baik lagi. Itulah tanda-tadan diterimanya amalan kita.
Kita
memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menerima amalan kita semua;
puasa, shalat, dan ibadah lainnya. Serta agar Dia memberikan kita taufik,
menolong kita untuk istiqomah dalam ketaatan, menunjuki kita jalan yang lurus,
dan melindungi kita dari seluruh hal yang buruk.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ , وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا اللهَ
تَعَالَى
وَقُوْلُوْا
قَوْلاً
سَدِيْدًا ﴿
يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ
فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا ﴾
Ibadallah,
Sesungguhnya
hari Id adalah hari kebahagian bagi orang-orang yang beriman. Mereka bergembira
dengan nikmat Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan taufik-Nya untuk menunaikan
puasa dan shalat di bulan Ramadhan. Karena itu mereka memohon kepada Rabb
mereka, keridhaan dan pengabulan.
Ibadallah,
Syukur
kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah dengan pengakuan dan penetapan hati
akan nikmat-Nya, lisan yang memuji nikmat tersebut, dan anggota badan yang
digunakan untuk menaati-Nya. Pada kesempatan kali ini, khotib memperingatkan
jangan jadikan hari-hari syukur tersebut, hari-hari Id kita, malah sebagai hari
yang penuh dengan kegiatan menghambur-hamburkan, menyia-nyiakan, dan
memubadzirkan harta. Atau menggunakannya bukan pada jalan yang benar dan jalan
kebaikan.
Seperti
kita lihat kemarin, baru saja tampak hilal Syawal, orang-orang langsung berbuat
kerugian dengan menghambur-hamburkan hartanya dengan petasan dan kembang api.
Dan para ulama telah menjelaskan tentang keharaman menggunakan harta untuk
perbuatan demikian.
Pertama,
terdapat perbuatan mubadzir, menyia-nyiakannya, dan menggunakannya bukan pada
fungsi semestinya. Logika yang baik menimbang, seandainya seseorang diberikan
uang Rp 50.000, lalu ia diperintahkan untuk membakar uang tersebut, pasti ia
tidak akan mau melakukannya karena yang demikian bentuk kepandiran. Perbuatan
seperti inilah yang hakikatnya digunakan oleh orang-orang yang bermain kembang
api dan petasan.
Kita
lihat banyak pemuda dan anak-anak menghabiskan uang yang banyak untuk membeli
permainan seperti ini yang hanya menimbulkan kebisingan dan kegaduhan tanpa
manfaat atau hasil yang jelas. Kita ingatkan mereka dengan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ – وذكر منها – وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ
“Tidak
akan bergeser kaki seorang hamba di hari kiamat kelak, hingga ia ditanya tentang
empat hal –di antaranya- tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana
ia belanjakan.”
Seandainya
anak-anak muda ini kita arahkan agar menggunakan harta mereka untuk sesuatu
yang bermanfaat. Misalnya, masing-masing mengumpulkan Rp 20.000 dari uang yang
mereka miliki tadi untuk membantu orang-orang yang miskin, memberi makan atau
bahkan bisa untuk memperbaiki tempat tinggal mereka, atau membangun masjid yang
akan digunakan oleh masyarakat suatu kampung shalat berjamaah, memberikan
pakaian kepada orang yang papah, atau memberi makan orang-orang yang kelaparan.
Tidakkah kita pantas mendermakan harta kita sebagai rasa syukur karena Allah
telah memuliakan kita. Jangan malah digunakan untuk sesuatu yang sia-sia dan
mubadzir.
Kedua,
sebab diharamkannya perbuatan ini adalah karena terdapat bahaya dan mengganggu
orang lain, sering kita dengar kembang api dan petasan ini bisa menghilangkan
nyawa dan membakar sesuatu, dan keburukan-keburukan lainnya.
Karena
itu ibadallah, kita harus memperingatkan anak-anak, kerabat, dan teman-teman
kita akan mudharat yang terdapat dalam permainan demikian. Hendaknya kita
menjaga harta kita dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah Jalla wa
‘Ala.
Kita
memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar menganugerahkan keberkahan pada
harta, umur, anak keturunan, dan semua keadaan kita. Kita juga memohon agar Dia
member kita taufik menempuh jalan yang lurus.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ : ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
. وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
اَلَّذِيْنَ
يُجَاهِدُوْنَ
فِي سَبِيْلِكَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا يُعْجِزُوْنَكَ
،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَجْعَلُكَ
فِي نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ شُرُوْرِهِمْ
. اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةِ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ
وُلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
.
اَللَّهُمَّ
يَا ذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
آتِ
نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ الخَيْرِ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ
مَا عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
الشَّرِ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ
مَا عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ. اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الجَنَّةَ وَمَا
قَرَّبَ
إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ
أَوْ عَمَلٍ
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ
النَّارِ
وَمَا قَرَّبَ
إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ
أَوْ عَمَلٍ .
اَللَّهُمَّ
أَجِرْنَا
مِنَ
النَّارِ ،
اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا
مِنَ
النَّارِ ,
اَللَّهُمَّ
أَجِرْنَا
مِنَ
النَّارِ .
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا
اَلَّذِيْ
هُوَ عِصْمَةُ
أَمْرِنَا ،
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
اَلَّتِي
فِيْهَا
مَعَاشُنَا ،
وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا
اَلَّتِي
إِلَيْهَا
مَعَادُنَا ، وَاجْعَلْ
الحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي كُلِّ
خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالسَدَادَ
، اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
الهُدَى
وَالتُّقَى وَالعَفَةَ
وَالغِنَى ،
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
الخَاسِرِيْنَ
، رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ .(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com