Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ؛ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
أَيُّهَا
النَّاسُاِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى،
Dari
Abbas bin Abdil Muttholib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda
ذَاقَ
طَعْمَ
الإِيْماَنِ
مَنْ رَضِيَ
بِالله
رَبًّا
وِبِالإِسْلاَمِ
دِيْنًا
وَبِمُحَمَّدٍ
نَبِيًّا
رَسُوْلاً
“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridha Allah
sebagai Robnya, dan Islam sebagai agamanya dan ridha Muhammad sebagai nabi dan
rasul” (HR Muslim)
Sesungguhnya
barang siapa yang ridha Allah sebagai Robnya maka ia akan mencintaiNya dan
bertawakkal kepadaNya serta memohon pertolongan kepadaNya. Ia merasa cukup
denganNya subhaanahu, ia tidak akan meminta kepada selainNya, karena seluruh
selainNya adalah lemah dan tidak mampu. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan
Allah maka tidak sesuatupun yang akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang
ridha kepada Allah maka ia akan meraih segalanya, barangsiapa yang merasa cukup
dengan Allah maka ia tidak akan butuh kepada apapun, dan barangsiapa yang
merasa mulia dengan Allah maka ia tidak akan hina kepada sesuatupun. Allah
berfirman :
أَلَيْسَ
اللَّهُ
بِكَافٍ
عَبْدَهُ
“Bukankah Allah cukup untuk hamba-hamba-Nya.” (QS
Az-Zumar : 36)
Barangsiapa
yang ridha Muhammad sebagai Rasul maka ia akan mencukupkan Muhammad sebagai
tauladannya dan pemimpinnya, serta pemberi arahan baginya, dan ia akan semangat
untuk mempelajari sejarahnya dan menjalankan sunnahnya.
Barangsiapa
yang ridha Islam sebagai agama maka ia akan merasa cukup dengan Islam, ia akan
menjalankan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menjauhi yang dilarang, dan
meyakini bahwa semua yang ada dalam ajaran islam adalah benar, adil, dan
petunjuk.
Imam
memiliki rasa manis yang tidak bisa dirasakan kecuali bagi orang yang beriman.
Dan iman jika telah masuk ke dalam relung hati maka hati akan berseri dan akan
menimbulkan kelezatan dalam hati, akan menjadikan kehidupan bahagia, dan dada
menjadi lapang. Barangsiapa yang merasakan manisnya iman maka ia akan merasakan
kelezatan dalam beribadah, ia akan berjuang di atas jalanNya, dan akan
berkorban dengan segala sesuatu demi Allah. Allah berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨)
Katakanlah:
“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan”. (QS Yunus : 58).
Jika
manisnya iman telah merasuk dalam relung hati maka akan menjadikan pemiliknya
selalu bersama Allah di setiap waktu dan di setiap tempat, dalam gerakannya dan
diamnya, siang dan malam, ia selalu bersama Penciptanya dan Penolongnya. Oleh
karenanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk selalu berkata,
رضيت
بالله ربا
وبالإسلام
دينا وبمحمد
صلى الله عليه
وسلم نبيا
“Aku ridha Allah sebagai Rob, Islam sebagai agama, dan
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (HR At-Tirmidzi).
Meninggalkan
maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang
meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan
manisnya Iman.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
النظرة
سهم من سهام
إبليس مسمومة
فمن تركها من
خوف الله
أثابه جل وعز
إيمانا يجد
حلاوته في
قلبه
“Pandangan (haram) adalah anak panah beracunnya Iblis,
barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah Azza wa
Jalla akan memberinya ganjaran keimanan, yang ia rasakan manisnya iman tersebut
di hatinya.” (sanadnya shahih).
Dari
Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ثَلاَثٌ
مَنْ كُنَّ
فِيهِ وَجَدَ
بِهِنَّ حَلَاوَةَ
الْإِيْمَانِ:
أَنْ يَكُونَ
اللهُ
وَرَسُولُهُ
أحَبَّ
إِلَيْهِ
مِمَّا سَوَاهُمَا،
وَأَنْ
يُحِبَّ
الْمَرْءَ
لاَ يُحِبُّهُ
إلاَّ لِلهِ،
وَأَنْ
يَكْرَهَ أَنْ
يَعُودَ فِي
الْكُفْرِ
بَعْدَ أَنْ
أَنْقَذَهُ
اللهُ
مِنْهُ،
كَمَا
يَكْرَهُ
أَنْ يُقْذَفَ
فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia
akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya,
(2) Ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3)
Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke
neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Manisnya
iman harganya mahal, dan memberi pengaruh yang diberkahi. Harga manisnya iman
adalah ” Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya “.
Yaitu Allah dalam bacaan qur’annya dan Nabi dalam sunnahnya lebih
dicintai oleh seorang mukmin daripada selain keduanya. Tatkala bertentangan
antara kemaslahatanmu dengan syari’at maka engkau mendahulukan
kepentingan syariat dan keridhaan Allah, engkau memilih ketaatan kepada Allah
dan Rasul-Nya daripada mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya. Maka jadilah
Allah di sisimu yang dicintai secara total. Dan tatkala itu jadilah jiwa
bergantung kepada Allah.
Cinta
kepada Rasulullah maksudnya adalah seorang muslim tidaklah menerima sesuatupun
baik perintah maupun larangan kecuali dari ajaran Nabi shallallahu ‘alahi
wasallam, ia tidak menempuh kecuali jalan Nabi hingga ia tidak menerima
sedikitpun keberatan terhadap keputusan Nabi, serta ia berhias dengan akhlak
Nabi dalam hal kedermawanan, mendahulukan orang lain, kesabaran, tawdhul, dan
yang lainnya.
Dan
diantara harga manisnya Iman “Ia mencintai seseorang , tidaklah ia
mencintainya melainkan karena Allah”, ini maksudnya adalah seorang mukmin
menjalin hubungannya diatas pondasi keimanan. Ia mencintai kaum mukminin
meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir, dan ia membenci para
pelaku kemaksiatan dan kaum musyrikin meskipun mereka adalah orang-orang yang
kuat dan kaya.
Hakikat
dari mencintai karena Allah adalah kecintaannya tidak bertambah karena kebaikan
orang lain dan tidak berkurang karena sikap kaku orang lain. Dan makna hadits
menggali makna-makna persaudaraan dalam Islam yang tidak akan murni dan kokoh
dan erat kecuali jika persaudaraan tersebut karena Allah dan dalam keridhaan
Allah. Persaudaraan Islam yang benar tidak akan merasakan manisnya iman kecuali
jika melazimi ketakwaan. Allah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Allah
juga berfirman,
الأخِلاءُ
يَوْمَئِذٍ
بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ
عَدُوٌّ إِلا
الْمُتَّقِينَ
(٦٧)
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh
bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Az-Zukhruf: 67).
“Dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana
ia benci untuk dilemparkan ke neraka”, disana ada orang yang beribadah
kepada Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah
ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke
belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian
yang nyata.
Jika
datang dunia maka iapun beriman, akan tetapi jika dunia pergi darinya maka
iapun berlepas diri dari keimanan dan kembali kepada kondisinya semula.
Seorang
mukmin yang benar, tidaklah terpengaruh dengan datang dan perginya dunia,
hatinya kokoh, ia selalu dermawan dalam kondisi susah dan senang, dan kondisi
miskin dan kaya, sehat dan sakit.
Orang-orang
yang merasakan kelezatan iman mereka menyebutkan tentang kelezatan tersebut.
Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh ada waktu-waktu kebahagiaan
yang lewat di hati, aku katakana jika seandainya penghuni surga dalam kondisi
seperti ini, maka sungguh mereka dalam kenikmatan”. Yang lain berkata,
“Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak masuk ke
dalamnya maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat”. Yang ketiga
berkata, “Sesungguhnya keimanan memiliki kegembiraan dan kelezatan di
hati, barangsiapa yang tidak merasakannya maka ia telah kehilangan imannya atau
kurang imannya, dan ia termasuk dari golongan yang Allah berfirman tentang
mereka:
قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
Orang-orang
Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah:
“Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’,
karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu” (QS Al-Hujuroot : 14)
Diantara
mereka yang merasakan manisnya iman adalah Khubaib bin ‘Adiy radhiallahu ‘anhu
–yang tertawan oleh kaum musyrikin-. Dikatakan kepadanya, “Apakah
kau suka jika Muhammad menggantikan posisimu dan engkau dalam kondisi selamat
bersama keluargamu”. Tatkala itu ia hampir dibunuh dengan disalib. Maka
beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak suka jika aku bersama istri dan
anak-anakku, dan aku memiliki dunia dan kenikmatannya sementara Rasulullah
tertusuk duri!”
Wanita
yang merasakan manisnya iman, tatkala sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah terbunuh dalam perang Uhud. Maka wanita inipun pergi ke medan
pertempuran, ternyata ayahnya terbunuh, saudara lelakinya terbunuh, putranya
terbunuh, dan suaminya terbunuh. Wanita inipun berkata, “Apa yang
dilakukan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam?”. Tatkala matanya memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
(masih hidup) maka iapun merasa tenang dan ia berkata, “Wahai Rasulullah,
seluruh musibah menjadi ringan selama engkau selamat”.
Orang
yang merasakan manisnya iman jika engkau mencincang tubuhnya maka ia tidak akan
bergeser dari agamanya. Kaum musyrikin meletakan batu di atas dada Bilal agar
ia kafir, maka Bilal berkata, “Ahad, Ahad, Yang Maha Esa, dan bergantung
kepadaNya segala sesuatu”
Heraklius
raja Romawi yang semasa dengan Nabi ‘alaihi as-sholaatu was salaam, ia
bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah ada yang murtad diantara pengikut
Muhammad karena benci terhadap agamanya?” Abu Sufyan berkata,
“Tidak”. Heraklius berkata, “Demikianlah keimanan jika
manisnya telah merasuk ke dalam hati”
Jika
seorang muslim telah merasakan manisnya iman maka ia akan menjadi manusia yang
lain, ada rasa yang lain dalam kehidupannya. Ia membangun manisnya iman dengan
suka memberi, ia bahagia dengan pemberiannya bukan dengan menerima pemberian,
ia memberikan kebaikan bagi orang lain, ia berusaha agar dirinya agung di sisi
Allah meskipun di sisi manusia ia adalah orang yang rendah.
Diantara
ciri-ciri manisnya iman: Seorang
mukmin meyakin dari relung hatinya yang paling dalam bahwasanya rizki di tangan
Allah, apa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba maka tidak ada
seorangpun yang bisa mencegahnya, dan bahwasanya seseorang/jiwa tidak akan mati
hingga dipenuhi rizqinya dan ajalnya.
Dan
diantara buah bentuk manisnya iman: seorang mukmin terbebaskan dari hawa nafsunya dan godaan
jiwanya yang menyeru kepada keburukan dan fitnah harta. Ia terbebaskan dari
sikap pelit dan kikir, serta ia berhias dengan muroqobatullah (selalu merasa
diawasi oleh Allah), berhias dengan ikhlas, kedermawanan dan mendahulukan
kepentingan saudaranya. Allah berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan
beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl : 97).
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَاسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
فَضْلِهِ
وَإِحْسَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا، أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
النَّاسُ،
اِتَّقُوْا
اللهَ وَأَطِيْعُوْهُ،
وَتُوْبُوْا
إِلَيْهِ
وَاسْتَغْفِرُوْهُ،
Manisnya
iman menjadikan seluruh ibadah menjadi ledzat. Salah seorang dari mereka
berkata, “Seluruh kelezatan hanya memiliki satu kelezatan kecuali ibadah,
ia memiliki tiga keledzatan. Tatkala engkau sedang beribadah, tatkala engkau
mengingat ibadah tersebut, dan tatkala engkau diberi ganjaran atas ibadah
tersebut”
Dalam
sholat ada kelezatan tatkala ditunaikan oleh seorang muslim dengan kekhusyukan
dan kehadiran hati, maka jadilah sholat adalah penyejuk pandangannya dan
ketenteraman jiwanya serta surga bagi hatinya dan ketenangannya di dunia. Ia
selalu merasa dalam kesempitan hingga ia melaksanakan sholat. Karenanya Imamnya
orang-orang yang bertakwa yaitu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata,
أَرِحْنَا
بِهَا يَا
بِلاَلُ
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”
Sholat
malam di sisi para sahabat, para tabi’in, dan para salaf umat ini
memiliki kedudukan yang agung dan kelezatan yang tidak tertandingi. Berkata
salah seorang dari mereka, “Demi Allah, kalau bukan karena sholat malam
aku tidak ingin hidup menetap di dunia, demi Allah sesungguhnya orang yang
sholat malam di malam hari bersama Allah lebih merasa ledzat daripada
orang-orang yang berhura-hura dalam kelalaian mereka”
Para
salaf dan kaum sholeh benar-benar berlezat-lezat dengan berpuasa. Adapun haji,
maka kelezatannya mendorong para jama’ah haji untuk menaiki tunggangan
dan kuat menempuh perjalanan berat dengan penuh kerinduan untuk ke
ka’bah. Dan dzikir kepada Allah ada kelezatan, Allah berfirman,
أَلا
بِذِكْرِ
اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.” (QS. Ar-Ro’d : 28).
Membaca
Alquran memiliki kelezatan. Utsman bin ‘Affaan radhiallahu ‘anhu berkata,
“Kalau seandainya hati-hati kalian bersih maka kalian tidak akan pernah
merasa cukup dari firman Allah”. Allah berfirman,
وَمَنْ
أَرَادَ
الآخِرَةَ
وَسَعَى
لَهَا سَعْيَهَا
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ
فَأُولَئِكَ
كَانَ
سَعْيُهُمْ
مَشْكُورًا (١٩)
“Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan
berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS.
Al-Isra’: 19).
م
اعملوا عباد
الله، أنَّ
خَيْرَ
الحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ،
وَخَيْرَ
الهُدَى
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَعَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ،
فَإِنَّ يَدَ
اللهِ عَلَى
الجَمَاعَةِ،
وَمَنْ شَذَّ
شَذَّ فِي النَّارِ.
(إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا)،
اللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى نَبِيِّناَ
مُحَمَّدٍ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنْ
خُلَفَائِهِ
الرَّاشِدِيْنَ،
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِّيْنَ،
أَبِي
بَكْرٍ،
وَعُمَرَ،
وَعُثْمَانَ،
وَعَلِيٍّ،
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
المُوَحِّدِيْنَ،
يَا حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا سَمِيْعَ
الدُّعَاءِ،
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا،
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ أَمْرِنَا
لِمَا
تُحِبُّهُ
وَتَرْضَاهُ
مِنْ
سَدِيْدِ
الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ
الأَعْمَالِ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
. (رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ
مِنْ الْخَاسِرِينَ)،
عَلَى اللهِ
تَوَكَّلْنَا،
(رَبَّنَا لا
تَجْعَلْنَا
فِتْنَةً
لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ*
وَنَجِّنَا
بِرَحْمَتِكَ
مِنْ
الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ).
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ)،
(وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ
تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ
عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَر،
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizahullah (Imam dan
Khotib Masjid Nabawi)
Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda