Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَاكِرِيْنَ ، وَأَثْنَي عَلَيْهِ ثَنَاءَ الذَّاكِرِيْنَ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، لَهُ الفَضْلُ وَلَهُ النِعْمَةُ وَلَهُ الثَنَاءُ الحُسْنَ ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمَ بِهَا عَلَيْنَا فِي قَدِيْمٍ أَوْ حَدِيْثٍ أَوْ سِرٍّ أَوْ عَلَانِيَةٍ أَوْ خَاصَةٍ أَوْ عَامَةٍ ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى ،
فَإِنَّ
تَقْوَى
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا
خَيْرُ زَادٍ
وَأَعْظَمُ
أَمْرٍ يَلْقَى
بِهِ
العَبْدُ
رَبَّهُ
يَوْمَ المِعَادِ
، قَالَ اللهُ
تَبَارَكَ
وَتَعَالَى : ﴿
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ
يَا أُولِي
الْأَلْبَابِ
﴾ [البقرة: ١٩٧]
Ibadallah,
Banyak
kita dapati ayat-ayat dan hadits-hadits yang memotivasi dan menjelaskan tentang
tinggi dan terhormatnya kedudukan rasa malu. Penjelasan itu apabila diamalkan
seorang hamba, maka akan memiliki dampak yang besar di dunia dan akhirat. Di
antara hadits yang membicarakan permasalahan ini adalah sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau melewati seseorang yang
menasehati saudaranya dalam permasalahan malu. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata kepada laki-laki itu,
دَعْهُ
فَإِنَّ
الْحَيَاءَ
مِنْ
الْإِيمَانِ
“Biarkan dia, karena rasa malu itu merupakan bagian dari
iman.”
Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
الْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ
مِنْ
الْإِيمَانِ
“Malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Demikian
juga dengan hadits lainnya dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu
bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ
لَا يَأْتِي
إِلَّا
بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan.” (HR.
Bukhari)
Dalam
riwayat Muslim
الْحَيَاءُ
خَيْرٌ
كُلُّهُ ،
أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ
كُلُّهُ
خَيْرٌ
“Rasa malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” atau
beliau bersabda “Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan.”
Hadits
yang semakna dengan ini sangat banyak sekali. Keterangan lainnya dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwasanya rasa malu itu adalah
akhlak yang mulia dan dicintai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Dalam hadits Asyaj bin Abdul Qais bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
إِنَّ
فِيكَ
خَصْلَتَيْنِ
يُحِبُّهُمَا
اللَّهُ ؛
الْحِلْمَ وَالْحَيَاءَ
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua tabiat yang keduanya
Allah cintai, yaitu ketenangan dan rasa malu.”
Ibadallah,
Rasa
malu yang paling tinggi kedudukannya, paling mulia keadaannya, dan yang paling
utama untuk kita perhatikan adalah rasa malu kepada Allah Tabaraka wa
Ta’ala. Ya, rasa malu kepada Sang Pencipta alam semesta, rasa malu
kepada Dzat yang melihat kita dimanapun kita berada, dan tidak ada yang
tersembunyi dari-Nya segala yang kita lakukan.
أَلَمْ
يَعْلَمْ
بِأَنَّ
اللَّهَ
يَرَى
“Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat
segala perbuatannya?” (QS. Al-Alaq: 14)
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
“Sesungguhnya Allah mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa:
1)
وَاللَّهُ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
بَصِيرٌ
“Dan Allah Maha Melihat terhadap apa yang kalian
kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 265)
Malulah
kepada Allah dalam keramaian dan sepi, malulah kepadanya saat engkau diawasi
orang lain maupun dalam keadaan tersembunyi.
Rasa
malu dari Allah Ta’ala itu adalah akhak yang mulia yang bisa
diperoleh dengan tiga cara:
Pertama, melihat betapa banyak nikmat dan
karunia Allah yang diberikan kepada kita.
Kedua, melihat betapa kurangnya kita
memenuhi hak-Nya dan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan-Nya kepada kita, baik
melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya.
Ketiga, kita mengetahui dan berusaha
memunculkan kesadaran bahwa Allah melihat setiap keadaan dan gerak-gerik kita
di setiap saat dan dimanapun kita berada. Tidak ada sesuatu pun yang
tersembunyi dari-Nya.
Apabila
perasaan ini telah terkumpul dalam hati sanubari seorang hamba, ia akan
merasakan rasa malu yang begitu kuat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Lalu dari sifat malu inilah muncul kebaikan-kebaikan lainnya. Sebagaimana sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa
malu itu hanya akan mendatangkan kebaikan.”
Apabila
di dalam hati teradapat rasa malu kepada Allah Jalla wa ‘Ala,
terjagalah diri kita dari akhlak yang rendah, muamalah yang jelek, dan
perbuatan yang haram. Jiwa kita hanya akan terdorong melakukan kewajiban,
memperhatikan akhlak yang mulia, dan adab yang indah.
Ibadallah,
Rasa
malu itu dari Allah, bukanlah sebuah kalimat yang hanya meluncur dari lisan
seorang hamba akan tetapi ia adalah sebuah gerakan dari hati yang melahirkan
perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang jelek. Sebuah emosi yang menjadikan
seseorang senantiasa mendekat kepada Rabb langit dan bumi di setiap keadaan dan
setiap waktu.
Renungkanlah
jamaah sekalian, sebuah hadits yang mulia yang menjelaskan kepada kita hakikat
dan maksud dari rasa malu. Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Mas’ud
al-Hadzali radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى ، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Hendaklah
kalian malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.
Barang-siapa yang malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan
sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya,
hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu
ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan
akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang
mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah ‘Azza
wa Jalla dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi)
Ibadallah,
Rasa
malu yang bersemayam di hati seorang hamba akan membuahkan beberapa perkara,
yaitu:
Sabda
beliau “menjaga kepala dan apa yang ada padanya” Di kepala terdapat
indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan lisan. Kepala juga menyimpan
ambisi dan keinginan. Apabila seorang merasa malu karena Allah, maka dia akan
menjaga hasrat keinginan semua organ yang ada di kepala. Ia akan menjaga
pendengarannya, tidak akan mendengar apa yang Allah benci. Ia juga akan menjaga
pandangannya, tidak akan melihat sesuatu yang menimbulkan kemurkaan Allah. Ia
juga akan menjaga lisannya, tidak akan berbicara tentang sesuatu yang Allah
tidak suka. Semua itu dilakukan karena malu kepada Allah Tabaraka wa
Ta’ala.
Kemudian
sabda beliau “perut dan apa yang dikandungannya” Dalam rongga perut
terdapat hati dan hati adalah sepenting-penting organ yang harus dijaga agar
memiliki rasa malu kepada Allah. Dialah tempat rasa malu itu bersemayam dan
rasa malu itu bermula. Apabila hati telah merealisasikan rasa malu kepada
Allah, maka anggota-anggota badan yang lain akan menurutinya. Sebagaimana sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila dia baik, maka
baiklah anggota tubuh yang lain, apabila ia rusak, maka rusaklah anggota badan
yang lain. Segumpal daging itu adalah hati.”
Di
antara wujud dari rasa malu seorang hamba kepada Allah ‘‘Azza wa
Jalla adalah seorang hamba tidak disibukkan dengan fitnah dunia yang
melalaikannya karena hamba tersebut sadar bahwa ia akan meninggalkan dunia dan
berjumpa dengan Allah. Dan hamba tersebut sadar bahwa kelak dia di dalam
kuburnya tidak memiliki teman kecuali amal shalehnya.
وَلْتَذْكُرْ
الْمَوْتَ
وَالْبِلَى
“hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya
jasad”
Apabila
kita menyadari bahwa kita akan wafat dan kita akan berdiri di hadapan Allah,
lalu Allah Jalla wa ‘Ala akan bertanya tentang apa yang telah kita
perbuat di kehidupan dunia, hal ini akan sangat membantu kita
merealisasikan perwujudan rasa malu kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Kesadaran
seperti di atas membuat mata kita seolah-olah melihat akhirat dan apa yang
telah Allah Tabaraka wa Ta’ala sediakan di dalamnya, baik berupa
kenikmatan maupun adzab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
وَمَنْ
أَرَادَ
الْآخِرَةَ
تَرَكَ
زِينَةَ
الدُّنْيَا
“Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia akan
meninggalkan perhiasan dunia.”
Ibadallah,
Hendaknya
kita selalu menujukan amalan-amalan kita semata-mata berharap wajah Allah Jalla
wa ‘Ala dan negeri akhirat, maka gerak-gerik kita berupa amalan
shaleh, atau sebuah ketaatan, atau akhlak yang terpuji akan terus-menerus
menghiasi kehidupan kita. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
أَرَادَ
الْآخِرَةَ
وَسَعَى لَهَا
سَعْيَهَا
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ
كَانَ
سَعْيُهُمْ
مَشْكُورًا
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan
berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS.
Al-Isra: 19)
Ya Allah,
sesungguhnya kami memohon melalui perantara nama-nama-Mu Yang Maha baik dan
sifat-sifat-Mu Yang Maha tinggi dan Engkaulah satu-satunya sesembahan yang haq,
wahai yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, jadikanlah kami orang-orang yang
mewujudkan rasa malu kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.
أَقُوْلُ
هَذَا
القَوْلِ
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الفَضْلِ
وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ
, وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ ,
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ
تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى .
Ibadallah,
Apabila
rasa malu telah dicabut dari seorang hamba –‘iyadzan billah–
jangan tanyakan lagi tentang kebinasaan dan bermacam-macam kejelekan dalam diri
orang tersebut. Ada sebuah keterangan dari Nabi kita shallallahu
‘alaihi wa sallam yang merupakan wasiat yang terpelihara sejak
dahulu, yang diwasiatkan oleh para nabi, yaitu apabila engkau tidak malu, maka
lakukanlah apa saja yang kamu suka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِنَّ
مِمَّا
أَدْرَكَ
النَّاسُ
مِنْ كَلَامِ
النُّبُوَّةِ
الْأُولَى
إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ
فَاصْنَعْ
مَا شِئْتَ
Sesungguhnya
perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu
adalah: ‘Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu’.”
Hadits
yang mulia ini menjelaskan barangsiapa yang hilang rasa malunya –wal
‘iyadzubillah– ia tidak akan peduli lagi terhadap
perbuatan-perbuatan jelek, dosa, dan kemaksiatan, ia akan melakukannya tanpa
harus berpikir. Hal itu dikarenakan telah hilangnya rasa malu dari hatinya dan
dari jiwanya. Ia tidak lagi malu kepada Allah Jalla wa ‘Ala, tidak
lagi peduli dengan dosa, tidak lagi peduli dengan perbuatan keji dan
kemaksiatan. Hatinya pun menjadi sakit, tidak lagi malu terhadap Allah. Sampai
akhirnya ia berjumpa dengan Allah Jalla wa ‘Ala, berdiri di
hadapan-Nya, dan dosa-dosanya telah membinasakannya.
Ibadallah,
Wajib
bagi kita semua senantiasa mengoreksi diri, selama kita masih hidup dan berada
di negeri beramal ini. Kita koreksi diri kita dengan rasa malu yang ada pada
diri kita, kita koreksi dengan banyaknya nikmat Allah yang kita dapatkan, agar
kita tetap mengamalkan kewajiban.
Ibadallah,
Sesungguhnya
orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya agar
beramal untuk kepentingan kehidupan setelah kematian, dan orang yang lemah
adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya dan panjang angan-angannya.
Ketauhilah bahwa sebenar-benar ucapan adalah kalamullah dan sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah hal-hal yang diada-adakan dalam syariat,
padahal setiap yang diada-adakan dalam syariat adalah bid’ah, dan setiap
bid’ah adalah kesesatan. Berpegang teguhlah kepada jamaah kebenaran,
karena tangan Allah bersama jamaah tersebut.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ .
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي، وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
, اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
, اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
, وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
, وَدَمَّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ ,
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
صلى الله عليه
وسلم وَعِبَادَكَ
المُؤْمِنِيْنَ
, اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أّوْطَانِنَا
، وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا
, وَاجْعَل
وُلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبِعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ,
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِمَا تُحِبٌّ
وَتَرْضَى .
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا ،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا
، اَللَّهُمَ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
حُبَّكَ
وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ
وَالعَمَلَ
الَّذِيْ
يُقَرِّبُنَا
إِلَى
حُبِّكَ ,
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ ذَاتَ
بَيْنِنَا ،
وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا
، وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَلَامِ ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّوْرِ ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
،
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا .
اَللَّهُمَّ
يَا ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
نَسْأَلُكَ
بِأَسْمَائِكَ
الحُسْنَى وَصِفَاتِكَ
العِظَامِ
أَنْ
تَجْعَلْنَا
مِمَّنْ
يَسْتَحُوْنَ
مِنْكَ حَقَّ
الحَيَاءِ ,
اَللَّهُمَّ
حَقَّقْ
فِيْنَا
الحَيَاءَ
مِنْكَ يَا
ذَا
الجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
،
اَللَّهُمَّ
وَأَعِنَّا
عَلَى
طَاعَتِكَ ،
وَلَا
تَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ
عَيْنٍ ، اَللَّهُمَّ
وَاغْفِرْ
لَنَا مَا
قَدَّمْنَا وَمَا
أَخَّرْنَا
وَمَا
أَسْرَرْنَا
وَمَا
أَعْلَنَّا
وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ
بِهِ مِنَّا
أَنْتَ
المُقَدِّمُ
وَالمُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ
إِلَّا
أَنْتَ،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا ذُنُبَنَا
كُلَّهُ ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ
، اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
, رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ :
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُونَ
،
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com