Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ , وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ :
اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ
فِي السِرِّ
وَالعَلَانِيَةِ
مُرَاقَبَةً
مَنْ
يَعْلَمُ
أَنَّ رَبَّهُ
يَسْمَعُهُ
وَيَرَاهُ.
Ibadallah,
Banyak
orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih
berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan
bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang demikian
besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan
menggunakan lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar
pembicaraan semau sendiri.
Orang
yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan
banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus
berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا
سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada
Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ
كَانَ
يُؤْمِنُ
بِاللهِ
وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ
فَلْيَقُلْ
خَيْراً أَوْ
لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Imam al-Bukhari dan
al-Imam Muslim).
Ibadallah,
Lisan
(lidah) memang tak bertulang. Sekali kita gerakkan, sulit untuk kembali pada
posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.
Dua
orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak
dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena
lisan. Suami-istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan
dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci
serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya
seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia
tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.”
(HR. al-Bukhari).
Dari
Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
مَا
يَتَبَيَّنُ
فِيْهَا
يَزِلُّ
بِهَا إِلَى
النَّارِ
أَبْعَدَ
مِمَّا
بَيْنَ
الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu
kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke
dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Al-Imam
an-Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Hadits ini teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi
seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu
pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya,
janganlah dia berbicara.”
Al-Imam
asy-Syafi’i t mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah
dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika
ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.”
Dalam
kitab Riyadhus Shalihin,
al-Imam an-Nawawi mengatakan, “Ketahuilah, setiap orang yang telah
mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari segala pembicaraan,
kecuali yang telah jelas maslahatnya. Bila berbicara dan diam sama maslahatnya,
maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan
yang mubah bisa menyeret pada pembicaraan yang haram atau dibenci. Hal seperti
ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa
pun.”
Ibadallah,
Memang
lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita
dalam murka Allah l yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan
ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan
beberapa ulama tentang bahaya lisan:
1.
Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar
lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan
membahayakan.”
2.
Abu ad-Darda’ radhiallahu
‘anhu: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali
salah satu dari dua orang: orang yang diam namun berpikir atau orang yang
berbicara dengan ilmu.”
3.
Al-Fudhail rahimahullah:
“Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak
berbicara dan banyak makan.”
4.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah:
“Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian
mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
5.
Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah:
“Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara
dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang
tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
6.
Abu Hatim rahimahullah:
“Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin
berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu. Jika terdapat (maslahat)
baginya maka dia akan berbicara. Bila tidak ada (maslahat) dia tidak
(berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya
sehingga apa saja yang menyentuh lisannya membuat dia akan (cepat) berbicara.
Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui
lisannya.”
7.
Yahya bin ‘Uqbah rahimahullah:
“Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata, ‘Demi Allah yang tidak
ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk
lama dipenjarakan daripada lisan’.”
8.
Mu’arrif al-‘Ijli rahimahullah:
“Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak sepuluh tahun dan aku
tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya:
“Apakah itu, wahai Abu al-Mu’tamir?” Mu’arrif menjawab,
“Diam dari segala hal yang tidak berfaedah bagiku.”
(Lihat
Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban
al-Busti, hlm. 37—42).
Mudah-mudahan
kita semua diberi taufik oleh Allah Ta’ala
untuk menjaga lisan kita dan tidak menyerahkan kita kepada diri kita sendiri
walaupun hanya sesaat. Sesungguhnya Dialah yang Maha member taufik dan
petunjuk.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ
، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ
، وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
؛ صَلَّى
اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللهِ :
Ibadallah,
Menjaga
lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah l
dan Rasul-Nya.
Abu
Hurairah radhiallahu
‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ
كَانَ
يُؤْمِنُ
بِاللهِ
وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْراً
أَوْ
لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka
hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam
hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu
‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang paling utama
dari orang-orang Islam, beliau menjawab:
مَنْ
سَلِمَ
الْمُسْلِمُوْنَ
مِنْ لِسَانِهِ
وَيَدِهِ
“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang
lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Sahih, HR. al-Bukhari
dan Muslim).
Hadits
ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam, baik dengan perkataan maupun
perbuatan.
3. Mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
masuk surga.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ
يَضْمَنْ
لِيْ مَا
بَيْنَ
لِحْيَيْهِ وَمَا
بَيْنَ
رِجْلَيْهِ
أَضْمَنْ
لَهُ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang berada di
antara dua rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya
(kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR.
al-Bukhari).
Dalam
riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang
ada di antara dua rahangnya serta kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya
(kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
4. Allah Ta’ala
akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ
“Sesungguhnya
seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah l yang
dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah l mengangkat derajatnya
karenanya.” (HR. al-Bukhari).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang
diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang
ditentukan oleh Allah ), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia
berjumpa dengan Allah.”
Demikianlah
beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah
Rasul-Nya, serta diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) ., وَقَالَ عَلَيْهِ الصَلَاةُ وَالسَلَامُ : ((رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ)) ، وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنَ البُخْلِ عَدَمُ الصَّلَاةِ وَالسَلَامِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ صلى الله عليه وسلم
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
، وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
الأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِيْ
بَكْرِ
الصِّدِّيْقِ
، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ
،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِي
الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ
. اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ .
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ
)عِبَادَ
اللهِ : اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ
، وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ .(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Diadaptasi
dari tulisan Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi
www.KhotbahJuma.com