Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ.. اِتَّقُوْا
اللهَ
رَبَّكُمْ
وَأَطِيْعُوْهُ
لِتَنَالُوْا
بِتَقْوَاهُ
وَطَاعَتِهِ
سَعَادَةَ
الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ،
وَسَلُوْهُ
جَلَّ
وَعَلَا
التَوْفِيْقَ
وَالهِدَايَةَ
وَالمَعُوْنَةَ
عَلَى
التَقْوَى وَالطَاعَةِ؛
فَإِنَّ
الأَمْرَ
كُلَّهُ بِيَدِهِ
جَلَّ فِي
عُلَاهُ.
Ibadallah,
Allah
‘Azza wa Jalla
telah mewajibkan ibadah puasa bulan Ramadhan atas umat Islam, sebagaimana Allah
‘Azza wa Jalla
juga telah mewajibkannya atas umat-umat sebelumnya. Fakta ini membuktikan
betapa ibadah puasa sangat penting bagi kehidupan beragama setiap umat. Karena
itu, Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ
عَلَى الَّذِينَ
مِنْ
قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ibadah
puasa atas kamu sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar
kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah/2:183).
Telah
sekian kali kita berpuasa Ramadhan, walau demikian hingga kini nilai-nilai
takwa dalam diri kita seakan tidak pernah bertambah. Padahal pada ayat di atas,
Allah ‘Azza wa Jalla
telah menegaskan bahwa dengan berpuasa idealnya kita menjadi orang-orang yang
bertakwa. Mungkinkah ayat di atas tidak lagi relevan dengan kondisi kehidupan
umat manusia di zaman ini? Tentu sebagai seorang Muslim, kita meyakini bahwa
ayat-ayat Alquran senantiasa relevan dengan berbagai perkembangan zaman hingga
Hari Kiamat.
Hanya
ada satu kemungkinan atau jawaban atas kondisi yang sedang terjadi pada diri
kita saat ini. Adanya kekurangan dan khilaf dalam menjalankan ibadah puasa,
sehingga nilai-nilai takwa kurang kita rasakan walaupun kita telah berpuasa
untuk sekian lamanya.
Fenomena
yang ada pada diri kita ini sudah sepantasnya cepat-cepat kita benahi, agar
segera terjadi perubahan ke arah yang positif. Harapannya, puasa bulan Ramadhan
yang akan datang, semoga kita masih berkesempatan mendapatkannya- kondisi kita
telah berubah.
Sebatas
renungan saya yang terbatas ini, ada tiga pelajaran penting yang dapat kita
petik dari ibadah puasa agar nilai-nilai takwa segera terwujud dalam diri kita:
Pertama: Puasa Adalah Media Training Center
Bagi Pola Pikir Dan Perilaku Umat Islam.
Dalam
kondisi haus dan lapar di siang hari selama bulan Ramadhan, seakan semua
makanan dan minuman terasa lezat dan segar. Tak ayal lagi, bayangan menikmati
lezat dan segarnya berbagai makanan mendorong kita untuk membuatnya dan
membelinya. Bahkan sering kali kita hanyut dalam badai ambisi untuk menguasai
semuanya seorang diri. Akibat dari sikap hanyut dalam badai ambisi ini, sering
kali kita lupa daratan, sehingga membuat makanan melebihi dari kebutuhan.
Namun
ketika matahari telah terbenam, hanya sedikit yang kita konsumsi dan bahkan
banyak dari makanan yang terlanjur dibuat atau dibeli tidak tersentuh sama
sekali.
Bahkan
lebih parah dari itu, sebagian kita walaupun tetap bernafsu untuk makan, hingga
seluruh rongga perutnya penuh, namun tetap saja masih tersisa hidangan yang
melebihi apa yang telah ia konsumsi.
Perilaku
semacam inilah salah satu faktor yang menjauhkan nilai-nilai takwa dari diri
kita. Andai selama bulan puasa kita meluangkan waktu sedikit saja untuk
memikirkan sikap yang benar dalam hal makan dan minum, niscaya kita terhindar
dari kondisi-kondisi semacam yang diungkapkan di atas.
Untuk
urusan makan dan minum, sejatinya yang benar-benar kita butuhkan jauh dari yang
selama ini kita makan. Dan tentunya jauh dari apa yang selama ini kita olah
atau kita beli. Buktinya, setiap hari kita membuang atau paling kurang terpaksa
menyingkirkan banyak makanan hingga akhirnya rusak atau basi.
Andai
kita semua mengindahkan teladan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam urusan makan dan minum, niscaya kita
semua menjadi orang-orang yang bertakwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرَّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْب ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يَقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidaklah
ada kantung yang lebih buruk untuk engkau penuhi dibandingkan perutmu sendiri.
Sejatinya engkau cukup memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan
tulang rusukmu. Andai engkau tetap ingin makan lebih banyak, maka cukuplah
engkau memenuhi sepertiga perutmu dengan makanan, sepertiga lagi untuk minuman,
dan sepertiga sisanya untuk ruang pernafasanmu.” (HR. at-Tirmidzi dan
lainnya).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan bahwa dalam urusan makan, kita dihadapkan kepada
tiga hal:
Hadits
ini mengajarkan kepada kita agar dalam urusan makan dan minum kita mengikuti
standar kebutuhan dan tidak menuruti kemampuan apalagi ambisi.
Untuk
urusan kemampuan memakan, masing-masing perut kita memiliki daya tampung yang
berbeda-beda, dan masing-masing kita mampu untuk memenuhi seluruh ruang perut
kita. Namun, Anda juga sadar bahwa penuhnya ruang perut Anda pastilah
mendatangkan masalah, bahkan menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan kita.
Demikan
juga bila kita berbicara tentang ambisi, maka setiap dari kita memiliki ambisi
masing-masing. Dan saya yakin Anda sendiri juga tidak memiliki batasan yang
jelas apalagi menghentikan ambisi Anda terhadap makanan lezat dan minuman enak.
Kalaupun
Anda telah menikmati makanan dan minuman yang paling lezat, namun tetap saja
ambisi Anda terus melaju. Selama hayat masih di kandung badan, Anda pasti masih
berselera dan berambisi untuk menikmati makanan dan minuman yang lezat. Hanya
ada satu hal yang dapat menghentikan ambisi kita, yaitu ajal alias kematian.
Kondisi
serupa juga terjadi pada ambisi kita pada ambisi kita terhadap berbagai
kenikmatan dunia lainnya. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Andai
manusia telah memiliki dua lembah emas, niscaya ia masih berambisi untuk
memiliki lembah ketiga. Dan tiada yang daat memenuhi mulut (menghentikan
ambisi) manusia selain tanah kuburannya. Sedangkan Allah senantiasa menerima
taubat setiap orang yang sadar dan kembali kepada-Nya.” (Muttafaqun
‘alaih dan at-Tirmidzi).
Setiap
sore hari, selama bulan puasa, Anda senantiasa berhadapan dengan ketiga hal di
atas. Dan akhirnya sering kali Anda terpaksa berhenti pada batas kebutuhan
Anda. Betapa tidak, setelah Anda meneguk segelas air sekejap, ambisi Anda dan
kemampuan Anda seakan sirna. Ternyata segelas minuman mampu menjadikan Anda
berpikir dengan jernih tentang makanan dan minuman. Sejatinya, makanan yang
Anda butuhkan jauh lebih sedikit dari yang mampu Anda sajikan, apalagi dari
yang Anda bayangkan.
Andai
pelajaran penting ini benar-benar Anda hayati dan terapkan dalam hidup Anda,
niscaya Anda menjadi orang yang bertakwa. Dengan semangat puasa ini, Anda mampu
membedakan antara kemampuan dan kebenaran. Ternyata dalam hidup di dunia ini,
kita semua dituntut untuk membedakan antara kebenaran dengan kemampuan apalagi
ambisi. Tidak semua yang kuasa kita lakukan kemudian kita lakukan. Sebagai
orang yang bertakwa, kita berpikir jernih dalam setiap kondisi sehingga
senantiasa bersikap dengan benar dan berguna dalam setiap kondisi.
Pendek
kata, dengan semangat puasa kita senantiasa sanggup mengontrol ucapan dan
perbuatan kita. Anda senantiasa menimbang ucapan dan perbuatan Anda, walaupun
dalam kondisi sulit, semisal ketika emosi Anda dipancing atau harga diri Anda
dinodai orang lain.
Dahulu
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan arahan kepada umatnya melalui
hadits qudsi berikut:
وَالصِّيَامُ
جُنَّةٌ
وَإِذَا
كَانَ يَوْمُ
صَوْمِ
أَحَدِكُمْ
فَلَا
يَرْفُثْ
وَلَا
يَصْخَبْ
فَإِنْ
سَابَّهُ
أَحَدٌ أَوْ
قَاتَلَهُ
فَلْيَقُلْ
إِنِّيْ
امْرَؤٌ صَائِمٌ
“Ibadah puasa adalah sebuah perisai, sehingga bila engkau
sedang berpuasa hendaknya engkau menghindari perbuatan keji, dan
berteriak-teriak. Bila ada seseorang yang mencelamu, atau memusuhimu, hendaknya
engkau (menahan diri dan) berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku orang yang
sedang berpuasa”. (Muttafaqun ‘alaih).
Andai
pengalaman-pengalaman yang terulang setiap kali berbuka puasa ini Anda terapkan
pada setiap aspek kebutuhan Anda di dunia ini, niscaya Anda menjadi orang yang
benar-benar bertakwa. Namun, apa boleh dikata bila ternyata selama ini pelajaran
berharga ini selalu berlalu begitu saja, dan bahkan sering kali Anda keluhkan
untuk kemudian Anda lupakan. Wallahul Musta’an.
Kedua: Berpuasa Hanya Di Siang Hari.
Seluruh
umat Islam di berbagai belahan bumi sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya
dijalankan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, umat Islam masih tetap
bebas untuk makan dan minum. Hal ini selaras dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla
berikut:
فَالْآنَ
بَاشِرُوهُنَّ
وَابْتَغُوا
مَا كَتَبَ
اللَّهُ
لَكُمْ ۚ
وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا
حَتَّىٰ
يَتَبَيَّنَ
لَكُمُ
الْخَيْطُ
الْأَبْيَضُ
مِنَ الْخَيْطِ
الْأَسْوَدِ
مِنَ
الْفَجْرِ ۖ
ثُمَّ
أَتِمُّوا
الصِّيَامَ
إِلَى اللَّيْلِ
“Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang
telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang
putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai
(datang) malam.” (QS. Al-Baqarah/2:187).
Ketentuan
berpuasa pada siang hari sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada yang
menggugatnya. Padahal zaman telah berkembang, dan tuntutan perkembangan zaman
semakin kompleks. Walau demikian, tetap saja umat Islam sepakat bahwa puasa
dalam Islam hanya bisa dijalankan pada siang hari, sedangkan pada malam hari
semuanya berhenti dari berpuasa. Semua umat Islam dalam urusan ini menerima dan
patuh sepenuhnya dengan ketentuan yang diajarkan dalam al- Qur`an dan Sunnah,
tanpa ada rasa keberatan sedikit pun. Sebagaimana puasa wajib hanya dijalankan
di bulan Ramadhan, dan pada hari pertama bulan Syawal seluruh umat Islam
merayakan Idul Fitri dengan menikmati makanan dan minuman alias berhenti dari
berpuasa.
Maha
Besar Allah ‘Azza wa
Jalla yang telah menjadikan berhenti dari makan dan minum di bulan
Ramadhan sebagai ibadah dan sebaliknya menjadikan makan dan minum sebagai
ibadah pada hari raya. Adanya perbedaan hukum makan dan minum ini menjadi bukti
dan pelajaran penting bagi umat Islam agar dalam hidup terlebih dalam urusan
ibadah sepenuhnya berserah diri dan patuh kepada tuntunan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Karena
itu salah satu indikator ibadah puasa yang baik adalah dengan menyegerakan
berbuka puasa dan mengakhirkan sahur. Salah satu hikmah dari ketentuan ini
ialah untuk semakin mengukuhkan arti kepatuhan kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan
Rasul-Nya n . Ketika fajar telah terbit seketika itu pula Anda berhenti dari
makan dan minum, walaupun Anda masih berselera untuk makan atau minum.
Sebaliknya, ketika matahari terbenam, saat itu pula Anda berhenti puasa, walau
Anda masih kuat dan mungkin merasa lebih mantap atau hebat bila meneruskan
puasa hingga malam. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
يَزَالُ
النَّاسُ
بِخَيْرٍ مَا
عَجَّلُوْا
الْفِطْرَ
“Umat Islam akan senantiasa berjaya selama mereka
menyegerakan buka puasa mereka.” (Muttafaqun ‘alaih).
Ibadah
puasa Ramadhan seyogyanya menumbuhkan kesadaran untuk patuh sepenuhnya dengan
syariat Allah dalam segala aspek kehidupan kita. Hanya dengan cara inilah
nilai-nilai takwa yang sejati dapat terwujud dalam diri Anda. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
إِنَّمَا
كَانَ قَوْلَ
الْمُؤْمِنِينَ
إِذَا دُعُوا
إِلَى
اللَّهِ
وَرَسُولِهِ
لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ
أَنْ
يَقُولُوا
سَمِعْنَا
وَأَطَعْنَا ۚ
وَأُولَٰئِكَ
هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka
dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara
mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur/24:51).
Ketiga: Berpuasa Hanya Karena Allah ‘Azza wa Jalla.
Ibadah
puasa dengan menahan lapar dan haus semakin membuktikan betapa besar karunia
Allah ‘Azza wa Jalla
kepada umat manusia yang telah memberikan rezki makanan dan minuman. Nikmat
Allah ‘Azza wa Jalla
berupa makanan dan minuman semakin terasa nikmat di bulan Ramadhan, sehingga
wajar bila bisnis kuliner di bulan Ramadhan laris manis.
Namun
senikmat apapun makanan yang Anda miliki dan sesegar apapun minuman yang ada di
hadapan anda, semuanya Anda tinggalkan sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya
matahari.
Anda
melakukan itu semua bukan karena sedang sakit, atau tidak mampu membelinya atau
telah bosan mengkonsumsinya. Semua itu Anda lakukan hanya keran mengharapkan
pahala dari Allah ‘Azza
wa Jalla . Inilah satu-satunya semangat dan motivasi
Anda dalam menjalankan ibadah puasa, sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi
berikut:
قَالَ
اللهُ :
“كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ
آدَمَ لَهُ
إِلَّا
الصِّيَامَ
فَإِنَّهُ
لِيْ وَأَنَا
أَجْزِي بِهِ
“.
Allah
berfirman, “Seluruh amalan anak manusia adalah miliknya, kecuali puasa.
Sejatinya puasa adalah milik-Ku, dan hanya Aku yang mengetahui
balasannya”. (Muttafaqun ‘alaih).
Demikianlah
seharusnya kita bersikap selama hidup di dunia. Semua aktifitas kita, baik
ucapan atau perbuatan ditujukan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla:
قُلْ
إِنَّ
صَلَاتِي
وَنُسُكِي
وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي
لِلَّهِ
رَبِّ
الْعَالَمِينَ
﴿١٦٢﴾ لَا
شَرِيكَ لَهُ ۖ
وَبِذَٰلِكَ
أُمِرْتُ
وَأَنَا
أَوَّلُ
الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah:
“Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb
semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada
Allah)”. (QS. Al-An’am/6:162-163).
نَسْأَلُ
اللهَ جَلَّ
فِيْ عُلَاهُ
أَنْ يَهْدِيَنَا
أَجْمَعِيْنَ،
وَأَنْ
يُسَدِّدَنَا،
وَأَنْ
يُلْهِمَنَا
رُشْدَ
أَنْفُسِنَا،
وَأَنْ لَا
يَكِلْنَا
إِلَى
أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ
عَيْنٍ،
وَأَنْ
يُصْلِحَ
لَنَا شَأْنَنَا
كُلَّهُ،
إِنَّهُ
تَبَارَكَ
وَتَعَالَى
سَمِيْعُ
الدُّعَاءِ،
وَهُوَ أَهْلُ
الرَّجَاءِ،
وَهُوَ
حَسْبُنَا
وَنِعْمَ
الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
كَثِيْرًا،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ،
عِبَادَ
اللهِ.. اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى
وَاسْتَمْسِكُوْا
بِهُدَاهُ،
وَاعْتَنُوْا
بِسُنَّةِ
نَبِيِّهِ
الكَرِيْمِ
عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ؛
فَإِنَّ
مَثَلَ
السُنَّةِ
مَثَلَ سَفِيْنَةِ
نُوْحٍ مَنْ
رَكِبَهَا
نَجَا وَمَنْ
تَرَكَهَا
غَرِقٌ
وَهَلَكٌ.
Ibadallah,
Anda
menyadari bahwa segala bentuk keuntungan dunia hanyalah semu dan sesaat lagi
pastilah Anda tinggalkan. Sebagaimana Anda juga beriman bahwa segala manfaat
dan mudharat ada di Tangan Allah ‘Azza
wa Jalla . Kesadaran ini menjadikan Anda pupus pamrih
dari selain Allah ‘Azza
wa Jalla.
تَبَارَكَ
الَّذِي
نَزَّلَ
الْفُرْقَانَ
عَلَىٰ
عَبْدِهِ
لِيَكُونَ
لِلْعَالَمِينَ
نَذِيرًا ﴿١﴾
الَّذِي لَهُ
مُلْكُ
السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَلَمْ
يَتَّخِذْ
وَلَدًا
وَلَمْ يَكُنْ
لَهُ شَرِيكٌ
فِي
الْمُلْكِ
وَخَلَقَ
كُلَّ شَيْءٍ
فَقَدَّرَهُ
تَقْدِيرًا
Maha
Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya, agar dia
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan
langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya
dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia
menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya..” (QS.
Al-Furqan/25:1-2).
Pada
saat yang sama, Anda juga beriman sepenuhnya bahwa keberadaan Anda di dunia ini
untuk mengabdikan diri kepada Allah ‘Azza
wa Jalla . Hanya dengan pengabdian kepada Allah ‘Azza wa Jalla
inilah hidup Anda menjadi berarti. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَمَا
خَلَقْتُ
الْجِنَّ
وَالْإِنْسَ
إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾مَا
أُرِيدُ
مِنْهُمْ
مِنْ رِزْقٍ
وَمَا أُرِيدُ
أَنْ
يُطْعِمُونِ
Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku
tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi Aku makan. (Adz-Dzariyat/51:56-57)
Andai
ketiga hal di atas benar-benar Anda aplikasikan dalam hidup anda, niscaya Anda
menjadi orang yang bertakwa kepada Allah ‘Azza
wa Jalla. Semoga Allah ‘Azza
wa Jalla membenahi kondisi kita, dan memberikan kesempatan untuk
menikmati indahnya puasa bulan Ramadhan di masa-masa yang akan datang, Amin.
Wallahu Ta’ala A’lam..
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
أَصْدَقَ
الحَدِيْثِ كَلَامُ
اللهِ،
وَخَيْرَ
الهُدَى
هُدَى مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ،
وَعَلَيْكُمْ
بِالجَمَاعَةِ
فَإِنَّ يَدَ
اللهِ عَلَى
الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا
–
رَحِمَاكُمُ
اللهُ – عَلَى
مُحَمَّدِ
ابْنِ عَبْدِ
اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ
اللهُ
بِذَلِكَ
فَقَالَ: ﴿
إِنَّ
اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
صَلُّوا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً ﴾
[الأحزاب:٥٦] ،
وقال صلى الله
عليه وسلم :
((مَنْ صَلَّى
عَلَيَّ
وَاحِدَةً
صَلَّى
اللَّهُ
عَلَيْهِ عَشْرًا))
.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى إبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛
أَبِيْ
بَكْرٍ الصِدِّيْقِ،
وَعُمَرَ
الفَارُوْقِ،
وَعُثْمَانَ
ذِيْ
النُوْرَيْنِ،
وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ
عَلِي،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ
وَسُنَّةَ
نَبِيِّكَ
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ
انْصُرْ إِخْوَانَنَا
المُسْلِمِيْنَ
المُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي كُلِّ
مَكَانٍ،
اَللَّهُمَّ
كُنْ لَهُمْ
نَاصِراً
وَمُعِيْنًا
وَحَافِظاً
وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ
آمِنْ
رَوْعَاتَهُمْ
وَاسْتُرْ عَوْرَاتَهُمْ
وَاحْقِنْ
دِمَاءَهُمْ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَعَلَيْكَ
بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ
لَا
يُعْجِزُوْنَكَ،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَجْعَلُكَ
فِي
نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ
بِكَ
اللَّهُمَّ
مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ
وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
جَنِّبْنَا
وَالمُسْلِمِيْنَ
الفِتَنَ مَا
ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ
وَأَصْلِحْ
لَنَا شَأْنَنَا
كُلَّهُ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
وَزَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا،
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
مِنَ
الخَيْرِ كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ
مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ،
وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ الشَّرِّ
كُلِّهِ
عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ مَا
عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا
لَمْ
نَعْلَمْ، وَأَنْ
تَجْعَلَ
كُلَّ
قَضَاءٍ
قَضَيْتَهُ لَنَا
خَيْراً يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا
وَأَلِّفْ
بَيْنَ قُلُوْبِنَا
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى النُّوْرِ
.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
ذُنُبَنَا
كُلَّهُ؛
دِقَّهُ
وَجِلَّهُ،
أَوَّلَهُ
وَآخِرَهُ،
سِرَّهُ
وَعَلَّنَهُ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
رَبَّنَا
إِنَّا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا
وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشُكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
{وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ }
.
Oleh
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA
Diadaptasi dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014.
www.KhotbahJumat.com