
Khutbah Idul
Fitri: Meraih Kemenangan dengan Ketaatan
August 26, 2011
***
إِنَّ
الْحَمْدَ
لِلَّهِ,
نَحْمَدُهُ,
وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ,
وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ
مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا,
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا.
مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ,
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ
اللَّهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ, وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ
وَلاَ
تَمُوتُنَّ
إِلاَّ
وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا
أَيُّهَا
النَّاسُ
اتَّقُوا
رَبَّكُمُ
الَّذِي
خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ
مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ
مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيرًا
وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ
بِهِ
وَالأََرْحَامَ
إِنَّ
اللَّهَ
كَانَ
عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلاً
سَدِيدًا
يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيثِ
كِتَابُ
اللَّهِ,
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ
الأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا,
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ, وَكُلَّ
بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ,
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ
فِي النَّارِ
Allahu
Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Jama’ah
shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,
Pertama-tama,
kami berwasiat kepada diri sendiri, kemudian kepada para jama’ah, hendaklah
kita tetap bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas
nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah Ta’ala telah
menganugerahkan kepada kita dîn (agama) yang mulia ini, yaitu al-Islam.
Allah telah menyempurnakan dan ridha Islam menjadi agama kita, dan sungguh,
Allah Ta’ala telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita.
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمُ
اْلإِسْلاَمَ
دِينًا
Pada hari
ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (Qs al-Mâidah/5:3).
Pada hari
yang berbahagia ini, kaum Muslimin di seluruh pelosok dunia, hingga pojok-pojok
kota-kota, bahkan sampai ke pelosok desa dan gunung-gunung, semua membesarkan
asma Allah Ta’ala, mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid.
Kita dengar, lantunan kalimat ini menggetarkan angkasa dan merasuk ke dalam
hati kita. Subhanallah, kaum Muslimin seluruhnya melantunkan syukur atas
kenikmatan yang dianugerahkan Allah Ta’ala, setelah sebelumnya
melaksanakan ibadah di bulan yang dimuliakan, yaitu ibadah di bulan Ramadhan.
Kemenangan ini, insya Allah kita raih, yang tidak lain dengan meningkatkan
takwa dan amal shalih. Dan jadilah diri kita sebagai insan yang benar dalam
keimanan. Maka, hendaklah kita juga bersyukur, karena Allah Ta’ala telah
memberikan hidayah kepada kita berupa akidah yang benar, sementara itu masih
banyak orang yang tidak mendapatkannya.
Ketahuilah!
Akidah kita merupakan akidah yang paling kuat, amalan kita merupakan amalan yan
paling sempurna, dan tujuan hidup kita merupakan tujuan yang paling mulia.
Akidah kita, yaitu beriman kepada Allah Ta’ala, kepada para
malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari akhir
dan beriman terhadap takdir Allah, takdir yang buruk maupun takdir baik.
Kita
beriman kepada Allah Ta’ala, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. Karena
kita dapat menyaksikan tanda-tanda-Nya pada segala sesuatu yang menunjukkan
bahwa Allah itu Ahad. Hanya satu.
Pada diri
manusia terdapat tanda, di langit, di bumi, pada perputaran siang dan malam,
pada tiupan angin, pada arak-arakan awan yang diterbangkan antara langit dan
bumi, dan pada semua makhluk, sungguh terdapat tanda-tanda yang menunjukkan
keesaan Allah Ta’ala, menunjukkan kemahakuasaan-Nya, rububiyah-Nya,
keluasan ilmu, hikmah, dan menunjukkan kemahamurahan Allah Ta’ala.
Karena alam raya ini tidak mungkin ada dengan sendirinya atau ada dengan
tiba-tiba. Alam raya ini pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya. Dia-lah
Allah Rabbul-‘Âlamin yang tidak sekutu bagi-Nya.
Jama’ah
shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,
Amalan
kita, juga merupakan amalan yang paling sempurna, karena kita beramal di bawah
bimbingan cahaya Allah Ta’ala dan dengan pedoman yang jelas, mengikuti
petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafa`ur-rasyidin
yang telah mendapatkan petunjuk. Oleh karena itu, hendaklah kita berjalan
sebagaimana mestinya. Tegakkan dan jagalah shalat, karena shalat merupakan
tiang agama! Seseorang yang meninggalkan shalat, maka dia tidak mendapatkan
kebaikan apapun dalam Islam. Jagalah shalat, dan jangan mengabaikannya.
Barangsiapa meninggalkan dan mengabaikan shalat, berarti ia termasuk yang
disebutkan firman Allah Ta’ala,
فَخَلَفَ
مِن بَعْدِهِمْ
خَلْفٌ
أَضَاعُوا
الصَّلاَةَ
وَاتَّبَعُوا
الشَّهَوَاتِ
فَسَوْفَ
يَلْقَوْنَ
غَيًّا . إلا
من تاب وءامن
وعمل صالحا فأولائك
يدخلون الجنة
ولايظلمون
شيئا
Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan
masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. (Q.s. Maryam/19: 59-60).
Jama’ah
shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,
Begitu
pula, hendaklah kita tunaikan zakat sebagaimana mestinya, jangan mengurangi.
Berikan zakat itu kepada yang berhak menerimanya. Ingatlah, zakat ini sangat
penting untuk kita tunaikan. Karena dalam banyak ayat, perintah
menunaikan zakat disandingkan dengan perintah melaksanakan shalat. Oleh karena
itu, kita jangan bakhil dalam memberikan zakat. Jika berbuat bakhil, maka pada
hari Kiamat nanti, harta itu akan dipikulkan di pundak sebagai balasan bagi
orang orang yang bakhil.
Sebagai
kaum Muslimin, kita juga diperintahkan untuk berpuasa dan menunaikan haji.
Maka, hendaklah kita jalankan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.
Dan semua
ini merupakan rukun Islam. Seseorang yang mengamalkan dan menjaga rukun-rukun
ini, ia akan diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala dalam melakukan
amalan-amalan lainnya yang merupakan bagian dari rukun-rukun itu. Dia akan
merasa lapang dadanya manakala harus menjalankan perintah Allah Ta’ala
ataupun jika harus menjauhi larangan-Nya. Akan tetapi, sebaliknya seseorang
yang tidak melaksanakan dan tidak menjaga rukun-rukun ini, maka jiwanya akan
sesak. Dia akan merasa berat dan sulit dalam melakukan amalan-amalan lainnya.
Oleh karena itu, kita berdoa, semoga Allah Ta’ala menjadikan diri kita
termasuk orang-orang yang diberi kemudahan untuk menjalani perintah Allah Ta’ala
dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, kita akan mendapatkan
akhir yang menggembirakan. Yaitu berupa ridha Allah Ta’ala dan
kebahagiaan abadi di akhirat.
Allah Ta’ala
berfirman,
مَنْ عَمِلَ
صَالِحًا
مِّن ذَكَرٍ
أَوْ أُنثَى وَهُوَ
مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً
طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ
مَاكَانُوا
يَعْمَلُونَ
Barangsiapa
yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan
sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs an-Nahl/16: 97).
Jama’ah
shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,
Jika kita
bertanya kepada seseorang tentang harapannya, maka tentu ia mengatakan ingin
mendapatkan kehidupan yang bahagia, dan meninggal dengan membawa nama yang
harum. Kemudian, jika dibangkitkan oleh Allah, ia berharap agar dibangkitkan
dalam keadaan selamat dari siksa. Harapan ini, pasti akan didapatkan
orang-orang yang beriman kepada Allah, yang beramal shalih dengan ikhlas. Hal
itu sangat mudah dicapai oleh orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala.
Maka janganlah kita menunda untuk menggapainya. Segeralah melangkah, dengan
selalu berpegang teguh dengan agama kita yang mulia ini. Karena sesungguhnya,
berpegang teguh dengan agama, akan menjamin kehidupan yang baik dan pahala yang
besar. Sebuah kehidupan penuh kemenangan, kemuliaan dan kesejahteraan.
Satu bukti
yang paling besar dan telah nyata, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam diutus di tengah-tengah sebuah kaum yang ummi dan
terbelakang. Namun tatkala kaum ini berpegang teguh dengan agama ini, tidak
lama kemudian, mereka berubah menjadi yang terdepan dalam ilmu, perilaku dan
peradabannya. Setelah sebelumnya menjadi kaum yang hina, kemudian mereka
memimpin manusia dengan penuh kemuliaan. Mereka menjadi yang terdepan setelah
sebelumnya terbelakang. Dan agama yang dipegangi pemimpin itu senantiasa
terjaga dalam Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Oleh
karena itu, jika saat ini kaum Muslimin berpegang teguh dengan dinul-Islam
dengan benar, mengamalkannya dalam segala bidang kehidupan, niscaya kaum Muslimin
akan pemimpin di bumi ini, sebagaimana para pendahulu mereka.
Allah Ta’ala
berfirman,
وَلَيَنصُرَنَّ
اللهُ مَن
يَنصُرُهُ
إِنَّ اللهَ
لَقَوِيٌّ
عَزِيزٌ.
الَّذِينَ
إِن مَّكَّنَّاهُمْ
فِي
اْلأَرْضِ
أَقَامُوا الصَّلاَةَ
وَءَاتَوُا
الزَّكَاةَ
وَأَمَرُوا
بِالْمَعْرُوفِ
وَنَهَوْا
عَنِ الْمُنكَرِ
وَلِلَّهِ
عَاقِبَةُ
اْلأُمُورِ
Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu)orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang
mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Qs al-Hajj/22:40-41).
Akan
tetapi, yang sangat menyesalkan, banyak kandungan syariat Islam yang diremehkan
kaum Muslimin. Banyak kaum Muslimin yang menyimpang dan berpaling dari ajaran
Islam, kemudian lebih memilih pedoman-pedoman yang bukan milik Allah Ta’ala.
Akibatnya, banyak yang kemudian tersesat, dan bahkan menyesatkan. Tersesat dari
kebenaran, sehingga umat tercerai-berai. Simpul persatuannya mulai terlepas
satu per satu. Kaum Muslimin menjadi sasaran para musuh, dan menjadi kaum yang
hina setelah sebelumnya mulia. Kaum Muslimin menjadi kaum yang lemah setelah
sebelumnya kuat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Maka menjadi
kewajiban kita untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Yaitu
membulatkan tekad untuk berpegang teguh dengan syariat yang telah ditetapkan
Allah Ta’ala, mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan mengikuti jalan para khulafa`ur-rasyidin. Karena dari
sanalah kita akan mendapatkan kembali dinul-Islam dengan segala
kebaikannya.
Di antara
kebaikan agama ini, yaitu adanya hari raya yang membahagiakan. Hari yang
menjadi penutup puasa dan sebagai permulaan bulan haji. Hari, saat kaum
Muslimin di seluruh penjuru dunia keluar dari rumahnya menuju tanah lapang
untuk melaksanakan shalat ‘Idul-Fithri. Dengan hati gembira, penuh suka
cita mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid, disebabkan
anugerah nikmat yang diterimanya dari Allah Ta’ala. Anugerah besar,
berupa keberhasilan melaksanakan puasa saat siang hari bulan Ramadhan dan
shalat pada malam harinya. Dan kini, saat berbahagia itu datang. Seluruh kaum
Muslimin mengagungkan Allah Ta’ala, berdzikir memuji-Nya, dan
membuktikan rasa cinta dan rasa syukurnya kepada Allah yang bergelora dalam
dadanya. Kaum Muslimin erbaik sangka kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala
itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Dengan berharap bisa mendapatkan semua
kebaikan dari Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala pemilik semua
kebaikan. Mereka pun memohon kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepada
mereka beramal, agar Allah berkenan menerima amalan yang telah mereka perbuat,
dan berharap agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang beruntung.
Jama’ah
shalat ‘Idul-Fithri yang berbahagia,
Sebelum
mengakhiri khutbah ini, kami ingin memberikan nasihat kepada kaum wanita,
sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan
nasihat kepada para wanita.
Hendaklah
kaum wanita bertakwa kepada Allah Ta’ala pada urusan wanita itu sendiri.
Hendaklah kaum wanita menjaga aturan-aturan Allah, memelihara hak-hak para
suami dan anak-anaknya.
Ingatlah!
Wanita shalihah itu, ialah wanita yang taat dan menjaga apa yang harus
dijaganya saat suami tidak ada. Seorang wanita jangan silau dan terpedaya
dengan perilaku sebagian wanita yang senang keluar rumah (misal ke pasar, atau
ke tempat lainnya) dengan dandanan norak, bau semerbak menusuk hidung, pamer
kecantikan, atau dengan mengenakan pakaian tipis transparan.
Ingatlah!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ
مِنْ أَهْلِ
النَّارِ
لَمْ أَرَهُمَا
(وَذَكَرَ)
وَنِسَاءٌ
كَاسِيَاتٌ
عَارِيَاتٌ
مَائِلَاتٌ
مُمِيلَاتٌ
رُءُوسُهُنَّ
كَأَسْنِمَةِ
الْبُخْتِ
الْمَائِلَةِ
لَا يَدْخُلْنَ
الْجَنَّةَ
وَلَا
يَجِدْنَ
رِيحَهَا
Ada dua
kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat (lalu beliau n
menyebutkan) wanita berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan
lenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan leher unta meliuk-liuk. Mereka tidak
masuk surga dan tidak mendapatkan aroma surga. (H.R. Muslim).
Sehingga,
jika seorang wanita terpaksa harus pergi ke pasar, maka berjalanlah dengan
tenang, jangan berdesakan dengan kaum lelaki, jangan bersuara keras, dan jangan
pula mengenakan pakaian yang dibenci pada anakmu, dan begitu pula jangan meniru
pakaian kaum lelaki. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat
perempuan yang meniru kaum laki-laki, dan juga kaum laki-laki yang meniru gaya
kaum perempuan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kaum wanita,
رَأَيْتُكُنَّ
أَكْثَرَ
أَهْلِ
النَّارِ ِلأَنَّكُنَّ
تُكْثِرْنَ
اللَّعْنَ
وَتَكْفُرْنَ
الْعَشِيرَ
Aku
melihat kebanyakan penghuni neraka itu adalah kalian. Kalian sering melaknat
dan kufur terhadap suami. (H.R. al Bukhari Muslim).
اللَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
بِأَنَّا نَشْهَدُ
أَنَّكَ
أَنْتَ
اللهُ
لاَ إِلَهَ
إِلاَّ
أَنْتَ
الأَحَدُ الصَّمَدُ
الَّذِي
لَمْ يَلِدْ
وَلَمْ
يُوْلَدْ
وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ
كُفُوًا
أَحَدٌ ,
يَامَنَّانُ
يَابَدِيْعَ
السَّمَوَاتِ
وَالأَرْضِ
يَا
حَيُّ يَا
قَيُّوْمُ
يَا
ذَاالْجَلاَلِ
وَالإِكْرَامِ
أَنْ
تَمُنَّ
عَلَيْنَا
بِمَحَبَّتِكَ
وَالإِخْلاَصِ
لَكَ
وَمَحَبَّةِ
رَسُوْلِكَ
وَالاِتِّبَاعِ
لَهُ
وَمَحَبَّةِ
شَرْعِكَ
وَالتَّمَسُّكِ
بِهِ
اللَّهُمَّ
يَامُقَلِّبَ
الْقُلُوْبِ
ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا
عَلَى
دِيْنِكَ ,
يَامُصَرِِّفَ
الْقُلُوْبِ
صَرِّفْ قُلُوْبَنَا
إِلَى
طَاعَتِكَ
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
لَنَا
دِيْنَنَا
الَّذِي هُوَ
عِصْمَةُ
أَمْرِنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
دُنْيَانَا
الَّتِي
فِيْهَا
مَعَاشُنَا
وَأَصْلِحْ
لَنَا
آخِرَتَنَا
الَّتِيْ إِلَيْهَا
مَعَادُنُا
وَاجْعَلِ
الْحَيَاةَ
زِيَادَةً
لَنَا فِي
كُلّ خَيْرٍ
وَالْمَوْتَ
رَاحَةً
لَنَا مِنْ
كُلِّ شَرٍّ
اللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ
مِنَّا
صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا
وَأَعِدْ
عَلَيْنَا
مِنْ
بَرَكَاتِ
هَذَا
الْيَوْمِ
وَأَعِدْ
أَمْثَالَهُ
عَلَيْنَا
وَنَحْنُ
نَتَمَتَّعُ
بِاْلإِيْمَانِ
وَالأَمْنِ
وَالْعَافِيَةِ
Sumber:
Kitab ad-Dhiya`ul-Lami’, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hlm.
179-181, dan 186.
Disalin dari kumpulan khutbah Majalah As-Sunnah
Artikel www.khotbahjumat.com dengan
sedikit penyuntingan oleh redaksi KhotbahJumat.com