Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه،ُ ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ))، ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً))، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً*يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً)). أما بعد :
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثاَتُهَا،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Alquran
merupakan sumber dari segala hukum Islam. Dengan Alquran itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengutus Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
تَبَارَكَ
الَّذِي
نَزَّلَ
الْفُرْقَانَ
عَلَىٰ
عَبْدِهِ
لِيَكُونَ
لِلْعَالَمِينَ
نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran)
kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh
alam.” (QS. al-Furqan: 1).
Demikian
pula dengan sunnah Nabi. Hadits-hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memiliki peran yang berdampingan dengan
Alquran menjadi pedoman hukum dalam syariat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
وَمَا
آتَاكُمُ
الرَّسُولُ
فَخُذُوهُ
وَمَا
نَهَاكُمْ
عَنْهُ
فَانْتَهُوا ۚ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ ۖ
إِنَّ
اللَّهَ
شَدِيدُ
الْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan
apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyr: 7).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
menurunkan Alquran secara berangsur-angsur. Wahyu pertama turun saat Ramadhan
pada malam lailatul-qadr, sebagaimana Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ
فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada
malam kemuliaan.” (QS. al-Qadr: 1).
Usia
Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam pada saat itu ialah 40 tahun sebagaimana
masyhur disebutkan oleh kalangan ahli ilmu. Usia yang ideal bagi seseorang
dalam mencapai kesempurnaan nalar, akal dan pengetahuan.
Alquran
turun dari sisi Allah Ta’ala
kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan perantaraan Malaikat Jibril
Alaihissallam. Dia adalah pemimpin para malaikat. Allah Ta’ala mensifati
Malaikat Jibril dengan firman-Nya,
إِنَّهُ
لَقَوْلُ
رَسُولٍ
كَرِيمٍ﴿١٩﴾ذِي
قُوَّةٍ
عِنْدَ ذِي
الْعَرْشِ مَكِينٍ﴿٢٠﴾مُطَاعٍ
ثَمَّ
أَمِينٍ
“Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman (Allah yang
dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang
mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang
ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. at-Takwir:
19-21).
Juga
firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala,
عَلَّمَهُ
شَدِيدُ
الْقُوَىٰ﴿٥﴾ذُو
مِرَّةٍ
فَاسْتَوَىٰ
“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa
yang asli.” (QS. an-Najm: 5-6).
Ibadallah,
Dari
uraian singkat di atas, kita bisa mengerti bahwa Alquran memiliki kedudukan
yang tinggi. Alquran merupakan wahyu dari Rabbul-‘alamin, penguasa alam
semesta, Dzat yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala. Alquran
diturunkan kepada manusia paling agung dan mulia semenjak Allah menciptakan
manusia yang pertama hingga manusia yang terakhir. Pemimpin sekaligus pemimpin
para nabi dan rasul. Beliau adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alquran
diturunkan dengan perantara makhluk yang taat kepada Allah, yaitu malaikat.
Bahkan merupakan malaikat terbaik dan pemimpin para malaikat. Dialah Malaikat
Jibril. Dan Alquran diturunkan pada waktu yang sangat mulia, yaitu bulan
Ramadhan. Bahkan malam diturunkan Alquran merupakan malam lailatul-qadr, malam
yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman,
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ
فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ﴿١﴾وَمَا
أَدْرَاكَ
مَا لَيْلَةُ
الْقَدْرِ﴿٢﴾لَيْلَةُ
الْقَدْرِ
خَيْرٌ مِنْ
أَلْفِ
شَهْرٍ﴿٣﴾تَنَزَّلُ
الْمَلَائِكَةُ
وَالرُّوحُ
فِيهَا
بِإِذْنِ
رَبِّهِمْ
مِنْ كُلِّ
أَمْرٍ﴿٤﴾سَلَامٌ
هِيَ حَتَّىٰ
مَطْلَعِ
الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada
malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan
itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadr: 1-5).
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Kemuliaan
Alquran lainya, yaitu ia akan tetap terjaga kemurniaannya hingga hari Kiamat.
Dan masih banyak lagi keistimewaan yang terdapat pada Alquran.
Setelah
mengetahui kedudukan Alquran, maka sebagai seorang Muslim, kita wajib mempedulikan
Alquran. Kita lakukan amal-amal kebaikan berkaitan dengan kitab yang mulai ini.
Pertama: Membaca Dan Menghafalkan Alquran.
Membaca
Alquran merupakan langkah awal seseorang bermuamalah dengan Alquran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan agar kita rajin membacanya, sebagaimana tertuang dalam sabda
beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam,
اقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ…
“Bacalah
Alquran, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi
orang yang membacanya…” (HR Muslim).
Ketahuilah,
Allah menjadikan amalan membaca Alquran termasuk sebagai salah satu yang
bernilai ibadah kepada-Nya. Allah memberikan pahala bacaan Alquran bukan per
surat atau per ayat, akan tetapi pahalanya per huruf dari Alquran yang kita
baca. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
أَقُوْلُ الم
حَرْفٌ
وَلَكِنْ
أَلِفٌ حَرْفٌ
وَ لاَمٌ
حَرْفٌ
وَمِيْمٌ
حَرْفٌ
“Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Akan
tetapi alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf dan mim adalah satu
huruf.” (HR. at-Tirmidzi).
Kedua: Mentadabburi Dan Mempelajarinya
Alquran.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ
الْقُرْآنَ
أَمْ عَلَىٰ
قُلُوبٍ
أَقْفَالُهَا
“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Alquran, ataukah
hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
juga berfirman,
كِتَابٌ
أَنْزَلْنَاهُ
إِلَيْكَ
مُبَارَكٌ
لِيَدَّبَّرُوا
آيَاتِهِ
وَلِيَتَذَكَّرَ
أُولُو
الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh
dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29).
Ketiga: Mengajarkan Alquran.
Alquran
merupakan sebaik-baik ilmu. Barangsiapa yang menyebarluaskan dan mengajarkannya
kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan balasan yang terus mengalir Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِذَا
مَاتَ ابْنُ
آدَمَ
انْقَطَعَ
عَمَلُهُ
إِلاَّ مِنْ
ثَلاَثٍ
صَدَقَةٍ
جَارِيَّةٍ
أَوْ عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ
بِهِ أَوْ
وَلَدٍ
صَالِحٍ
يَدْعُوْ
لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala
amalannya kecuali tiga perkara, (yaitu) shadaqah jariyah, atau ilmu yang
bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,
خَيْرُكُمْ
مَنْ
تَعَلَّمَ
الْقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan
mengajarkannya.” (HR. Imam al-Bukhari).
Keempat: Mengamalkannya.
Demikianlah
kewajiban seseorang yang telah mengetahui sebuah ilmu. Hendaklah ia
mengamalkannya. Suatu ilmu tidak akan berguna jika tidak pernah diamalkan.
Karena buah dari ilmu ialah amal. Dan Allah Subhanahu
wa Ta’ala hanya akan memberi balasan berdasarkan amal yang
dikerjakan.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
إِنَّمَا
تُجْزَوْنَ
مَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya kamu diberi balasan terhadap apa yang telah
kamu kerjakan.” (QS. ath-Thur: 16).
جَزَاءً
بِمَا
كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS. al-Waqi`ah: 24).
Berkaitan
dengan seorang ahlul-qur`an, Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah berkata:
“Pengemban Alquran harus bisa dikenali saat malam hari ketika manusia
tertidur lelap, saat siang hari ketika manusia berbuka, dengan tangisnya ketika
menusia tertawa, dengan wara’nya ketika manusia berbaur, dengan diamnya
ketika manusia larut dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat, dengan
kekhusyuannya ketika manusia bersikap angkuh, dan dengan sedihnya ketika
manusia bersuka cita”.
Semoga
Allah Ta’ala
menjadikan kita sebagai ahlul-qur’an. Yaitu orang-orang yang selalu
menyibukkan diri dengan membaca, mempelajari, mengajarkan dan mengamalkan
Alquran. Sehingga pada hari Kiamat, Alquran mendatangi untuk memberi syafaat
bagi kita di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
اَللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
هُدَاكَ
وَأَصْلِحْ
لَنَا
شَأْنَنَا
كُلَّهُ،
وَوَفِّقْنَا
لِكُلِّ
خَيْرٍ يَا
ذَا
الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ
أَقُوْلْ
هَذَا
الْقَوْلَ
وَاَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ
مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ
لَكُمْ
إنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
نَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ibadallah,
Sebagai
wujud memuliakan Alquran, hendaklah kita menjaga adab-adab saat membacanya.
Pertama: Membacanya dalam keadaan yang paling
sempurna. Yaitu dengan bersuci, menghadap kiblat dan duduk dengan sopan.
Kedua: Membacanya dengan tartil dan tidak
tergesa-gesa. Karena tidak layak seseorang membaca Alquran dengan terlalu
cepat, sehingga dalam waktu kurang dari tiga hari ia telah selesai
mengkhatamkan bacaannya. Padahal terdapat sebuah riwayat tentang ashabus-sunnan
dan dishahihkan at-Tirmidzi, bahwasanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
قَرَأَ
الْقُرْآنَ
فِي أَقَلَّ
مِنْ ثَلاَثِ
لَيَالٍ لَمْ
يَفْقَهْهُ
“Barangsiapa yang (mengkhatamkan) membaca Alquran dalam
waktu kurang dari tiga hari maka ia tidak dapat memahaminya.”
Ketiga: Selalu khusyu’ ketika
membacanya, menampakkan kesedihan, dan berusaha menangis.
Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dengan sanad yang jayyid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اُتْلُوْا
الْقُرْآنَ
وَابْكُوْا.
فَإِنْ لَمْ
تَبْكُوْا
فَتَبَاكُوْا
“Bacalah Alquran dan menangislah. Apabila kamu tidak bisa
menangis, maka berusahalah membuat-buat diri menangis.”
Keempat: Hendaklah memperindah suaranya.
Diriwayatkan
oleh Imam al-Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ
لَمْ
يَتَغَنَّ
بِالْقُرْآنَ
“Bukan golongan kami orang yang tidak membaca Alquran
dengan irama.”
Kelima: Seorang yang membaca Alquran
hendaklah menyembunyikan suaranya jika ia khawatir akan menimbulkan riya`, atau
sum’ah pada dirinya, atau apabila dikhawatirkan akan mengganggu orang
yang sedang shalat.
Selanjutnya,
hendaklah seorang muslim berusaha memperbanyak hafalan Alquran di dadanya,
karena hal ini termasuk tanda keimanan seseorang, dan salah satu tanda orang
yang diberi ilmu. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
بَلْ
هُوَ آيَاتٌ
بَيِّنَاتٌ
فِي صُدُورِ الَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
وَمَا يَجْحَدُ
بِآيَاتِنَا
إِلَّا
الظَّالِمُونَ
“Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di
dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari
ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Ankabut: 49).
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ
وَاحْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمّ
آمِنَّا فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا
فِيْمَنْ
خَافَكَ
وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ
رِضَاكَ يَا
رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَّ
أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ
وَأَعِنْهُ
عَلَى
طَاعَتِكَ
يَا ذَا
الْجَلَالِ
وَ الإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ
وَفِّق
جَمِيْعَ
وُلَاةِ
أَمْرِ
المُسْلِمِيْنَ
لِكُلِّ
قَوْلٍ سَدِيْدٍ
وَعَمَلٍ
رَشِيْدٍ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا.
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
ذَاتَ
بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ
بَيْنَ
قُلُوْبِنَا،
وَاهْدِنَا
سُبُلَ
السَّلَامِ،
وَأَخْرِجْنَا
مِنَ
الظُّلُمَاتِ
إِلَى
النُّورِ،
وَبَارِكْ
لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا
وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا
وَأَمْوَالِنَا
وَأَوْقَاتِنَا
وَاجْعَلْنَا
مُبَارَكِيْنَ
أَيْنَمَا
كُنَّا.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتَ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِي
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ .
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُونَ
،
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Sauda di majalah As-Sunnah
Edisi 08/Tahun XI/1428H/2007M)
www.KhotbahJumat.com