Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ المُبِيْنِ، يُحِقُّ الحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيُبْطِلُ البَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ المُجْرِمُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُتَّقِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ
بِالْعَمَلِ
بِمَرْضَاتِهِ،
وَبُعْضُ
مُحَرَّمَاتِهِ،
فَقَدْ فَازَ
بِكُلِّ
خَيْرٍ مَنِ
اتَّقَى،
وَخَابَ مَنِ
اتَّبَعَ
الْهَوَى.
Kaum
muslimin sekalian,
Ketahuilah
bahwasanya perkara yang sangat dicintai oleh Allah adalah kebaikan dan
perbaikan. Kebaikan adalah kebaikan jiwa dengan wahyu yang menjadikan jiwa suci
dan bersih. Adapun ishlaah (perbaikan) adalah meluruskan kondisi yang
menyimpang, baik kondisi individu maupun kelompok atau memperbaiki hubungan
yang rusak antara dua orang atau dua kelompok sesuai dengan petunjuk
syari’at yang lurus.
Dan ishlaah (mendamaikan)
mendekatkan antara hati-hati yang saling menjauh, menyatukan kembali
pemikiran-pemikiran yang saling menjauh, dan memberikan hak yang wajib kepada
pemiliknya, yaitu dengan usaha yagn dilakukan oleh orang-orang yang hendak
mendamaikan dan sikap mengharapkan pahala dari orang-orang yang baik, serta
sikap bijak orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
Mendamaikan
diantara sesama merupakan salah satu pintu surga dan keselamatan dari fitnah
umum dan fitnah khusus. Mendatangkan kemaslahatan khusus dan umum, dan mencegah
kemudhorotan yang meluas kerusakannya dan tersebar keburukannya.
Mendamaikan
diantara yang bersengketa menutup pintu-pintu tempat masuknya syaitan untuk
menggoda manusia.
Pemerhati
sejarah para individu dan umat-umat akan mendapati bahwa kerusakan menjadi
semakin meluas dalam kehidupan mereka disebabkan hilangnya “usaha
mendamaikan diantara yang bersengketa”. Dan ia juga akan mendapati bahwa
keburukan dan fitnah terhilangkan disebabkan usaha mendamaikan diantara yang
bersengketa. Dan besarnya nyala api berasal dari percikan bunga api.
Mendamaikan
diantara yang bersengketa merupakan salah satu dari tujuan agung dan pengajaran
yang indah dan mulia dalam Islam. Allah berfirman :
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Maka
bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan
taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang
beriman.” (QS. Al-Anfaal: 1).
Diantara
dalil akan keutamaan mendamaikan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
أَلاَ
أُخْبِرُكُمْ
بِأَفْضَلَ
مِنْ دَرَجَةِ
الصِّيَامِ
وَالصَّلاَةِ
وَالصَّدَقَةِ؟
قَالُوا :
بَلَى، قَالَ
: صَلاَحُ
ذَاتِ
الْبَيْنِ
فَإِنَّ
فَسَادَ
ذَاتِ
الْبَيْنِ
هِيَ الْحَالِقَةُ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik
daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?”. Mereka berkata,
“Tentu”. Baiknya hubungan diantara sesama, karena rusaknya hubungan
diantara sesama mengikis habis (agama).” (HR. At-Tirmidzi no 2509, dan
dishahihkan at-Tirmidzi) dan terdapat tambahan.
هِيَ
الْحَالِقَةُ
لاَ أَقُوْلُ
تَحْلِقُ الشَّعْرَ
وَلَكِنْ
تَحْلِقُ
الدِّيْنَ
“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan
tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis
agama.”
Allah
berfirman,
لا
خَيْرَ فِي
كَثِيرٍ مِنْ
نَجْوَاهُمْ
إِلا مَنْ
أَمَرَ
بِصَدَقَةٍ
أَوْ
مَعْرُوفٍ أَوْ
إِصْلاحٍ
بَيْنَ
النَّاسِ
وَمَنْ
يَفْعَلْ
ذَلِكَ
ابْتِغَاءَ
مَرْضَاةِ
اللَّهِ
فَسَوْفَ
نُؤْتِيهِ
أَجْرًا
عَظِيمًا
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan
mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi
sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara
manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhoan Allah,
maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa:
114).
Allah
berfirman,
وَالَّذِينَ
يُمَسِّكُونَ
بِالْكِتَابِ
وَأَقَامُوا
الصَّلاةَ
إِنَّا لا
نُضِيعُ
أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ
“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-kitab
serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-A’raf:
170).
وَأَصْلِحْ
وَلا
تَتَّبِعْ
سَبِيلَ
الْمُفْسِدِينَ
“Dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan
orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-A’raf: 142).
يَا
بَنِي آدَمَ
إِمَّا
يَأْتِيَنَّكُمْ
رُسُلٌ
مِنْكُمْ
يَقُصُّونَ
عَلَيْكُمْ
آيَاتِي
فَمَنِ
اتَّقَى
وَأَصْلَحَ
فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلا هُمْ
يَحْزَنُونَ
“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul
daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka Barangsiapa yang
bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-A’raf: 35).
وَمَا
نُرْسِلُ
الْمُرْسَلِينَ
إِلا مُبَشِّرِينَ
وَمُنْذِرِينَ
فَمَنْ آمَنَ
وَأَصْلَحَ
فَلا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ
وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk
memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan
mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula
mereka bersedih hati.” (QS. Al-An’am: 48).
Dan ishlah (mendamaikan) bisa
dilakukan diantara pasangan suami istri terhadap perselisihan mereka dengan
sesuatu yang menjamin hak masing-masing. Allah berfirman,
وَإِنْ
خِفْتُمْ
شِقَاقَ
بَيْنِهِمَا
فَابْعَثُوا
حَكَمًا مِنْ
أَهْلِهِ
وَحَكَمًا
مِنْ
أَهْلِهَا
إِنْ
يُرِيدَا
إِصْلاحًا يُوَفِّقِ
اللَّهُ
بَيْنَهُمَا
إِنَّ
اللَّهَ كَانَ
عَلِيمًا
خَبِيرًا
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara
keduanya, maka kirimlah seorang pendamai dari keluarga laki-laki dan seorang
pendamai dari keluarga perempuan. Jika kedua orang pendamai itu bermaksud
mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa:
35).
Allah
juga berfirman,
وَإِنِ
امْرَأَةٌ
خَافَتْ مِنْ
بَعْلِهَا نُشُوزًا
أَوْ
إِعْرَاضًا
فَلا جُنَاحَ
عَلَيْهِمَا
أَنْ
يُصْلِحَا
بَيْنَهُمَا
صُلْحًا
وَالصُّلْحُ
خَيْرٌ
وَأُحْضِرَتِ
الأنْفُسُ
الشُّحَّ
وَإِنْ
تُحْسِنُوا
وَتَتَّقُوا
فَإِنَّ
اللَّهَ
كَانَ بِمَا
تَعْمَلُونَ
خَبِيرًا
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap
tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan
perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)
walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan
isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh),
maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. An-Nisa: 128).
Dan
mendamaikan di antara pasangan suami istri menjaga keutuhan rumah tangga dari
keretakan dan kehancuran, dan dengannya lestarilah perhatian keluarga dan
semakin kuat hubungan antara suami istri, dan berkelanjutan hubungan yang baik,
anak-anak mendapati persatuan kedua orang tuanya pengayom mereka yang
terpercaya, yang berkesinambungan dan aman dari penyimpangan, mereka mendapati
kelembutan orang tua dan pertumbuhan yang baik.
Dan
jika semakin parah perselisihan diantara suami istri dan ditinggalkan jalan
damai maka hancurlah rumah tangga, terbengkalai anak-anak dan mereka terancam
dengan kerusakan dan kegagalan dalam kehidupan setelah perceraian, serta
terputuslah hubungan kekerabatan, dan suami istri mendapatkan kemudhorotan.
Dalam
hadits ((Iblis berkata kepada pasukannya, “Siapa diantara kalian yang
hari ini telah menyesatkan seorang muslim maka aku akan mendekatkan dia
kepadaku dan akan aku pasangkan mahkota baginya”. Maka datanglah salah
satu dari mereka lalu berkata, “Aku terus menggoda si fulan hingga ia
durhaka kepada kedua orang tuanya”. Iblis berkata, “Hampir lagi ia
baik kembali kepada kedua orang tuanya”. Datang yang lain dan berkata,
“Aku terus menggoda si fulan hingga ia akhirnya mencuri”. Iblis
berkata, “Hampir lagi ia bertaubat”. Datang yang lain dan berkata,
“Aku terus menggoda si fulan hingga akhirnya ia berzina”. Iblis
berkata, “Sebentar lagi ia akan bertaubat”. Datang yang lain dan
berkata, “Aku terus menggoda si fulan hingga iapun menceraikan
istrinya”. Iblis berkata, “Engkau, engkau (yang hebat)”. Lalu
Iblispun mendekatkannya kepada Iblis, lalu ia mengenakannya mahkota”))
(HR. Muslim).
Dan
mendamaikan bisa dilakukan diantara kerabat yang bertikai hingga kembali baik
hubungan silaturahmi dan lestari, dan agar tidak terjadi putusnya silaturahmi
diantara kerabat. Maka silaturahmi adalah berkah dan kebaikan serta kemuliaan,
dan merupakan sebab yang memasukkan ke surga, sebab baiknya agama dan urusan
dunia serte keberkahan usia. Dari Aisyah –semoga Allah meridhoinya-
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلٌ : مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ
“Ar-Rahim
(kekerabatan) bergantung di ‘Arsy, ia berkata, “Barangsiapa yang
menyambungku maka Allah akan menyambungnya (dengan kebaikan), dan barangsiapa
yang memutuskan aku maka Allah akan memutuskannya.” (HR. al-Bukhari dan
Muslim).
Dan
dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
beliau bersabda
من
سَرَّهُ أن
يُبْسَطَ له
في رِزْقِهِ،
وَأَنْ
يُنْسَأ في
أثَرِهِ؛
فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan
dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. al-Bukhari).
Dan
dari Amr bin Sahl –semoga Allah meridhoinya- ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
صِلَةُ
الْقَرَابَةِ
مثْرَاةٌ فِي
الْمَالِ
مَحَبَّةٌ
فِي الأَهْلِ
مَنْسَأَةٌ
فِي الْأَجَلِ
“Menyambung silaturahmi adalah memperbanyak harta,
menambah kecintaan keluarga, dan memperpanjang umur.” (Hadits shahih
riwayat at-Thabrani).
Sebagaimana
memutuskan silaturahmi adalah keburukan, mendatangkan kesialan di dunia dan di
akhirat.
Dari
Jubair bin Muth’im dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
لاَ
يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ
قَاطِعُ
رَحِمٍ
“Tidak akan masuk surga pemutus silaturahmi.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Dan
dari Abu Bakrah –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwasanya beliau bersabda,
مَا
مِنْ ذَنْبٍ
أَجْدَرُ
أَنْ
يُعَجَّلَ لِصَاحِبِهِ
الْعُقُوبَةُ
مَعَ مَا يدخر
له؛ من البغى
وقطيعة الرحم
“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan
hukumannya atas pelakunya disertai hukuman yang disimpan untuknya daripada
berbuat zalim dan memutuskan silaturahmi.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi
dan ia berkata : Shahih).
Maka
mendamaikan diantara kerabat yang bersengketa merupakan kebaikan yang besar.
Mendamaikan
juga bisa dilakukan diantara tetangga demi menunaikan hak tetangga dan
menjalankan kewajiban hak tersebut yang telah diwajibkan oleh Allah.
Dari
Asiyah –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa
beliau bersabda :
مَا
زَالَ
جِبْرِيلُ
يُوصِينِي
بِالْجَارِ
حَتَّى
ظَنَنْتُ
أَنَّهُ
سيورثه
“Jibril terus mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada
tetangga, hingga aku menyangka bahwa Jibril akan memberikan hak waris kepada
tetangga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dan
mendamaikan juga bisa antara dua orang muslim yang bersengketa. Allah berfirman,
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ
أَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab
itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan takutlah
terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Wahai
saudaraku muslim, janganlah engkau tinggalkan “usaha untuk
mendamaikan”, jangan pula engkau meremehkan kebaikan yang banyak ini.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah mendamaikan diantara para sahabatnya.
Demikian para sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan orang-orang setelah mereka yaitu para
tabi’in, telah berusaha menempuh jalan ini. Dan nukilan dari mereka
tentang mendamaikan diantara yang bersengketa sangatlah banyak. Dan dalam
hadits dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam beliau bersabda ((Wahai manusia,
damaikanlah diantara kaum muslimin, sesungguhnya Allah mendamaikan diantara
kaum muslimin)).
Seorang
muslim di zaman ini merasa sedih karena begitu sedikitnya orang yang
mendamaikan dan berpalingnya banyak orang dengan menjauh dari usaha mendamaikan
di masyarakat kaum muslimin.
Dan
engkau –wahai seorang muslim- diperintahkan untuk berniat yang baik dan
berihtisab (mengharapkan pahala) dan menempuh sebab-sebab, adapun setelahnya
maka serahkan kepada Allah. (Yang jelas) Allah telah menjamin pahala bagimu.
Allah berfirman :
مَنْ
عَمِلَ
صَالِحًا
فَلِنَفْسِهِ
وَمَنْ
أَسَاءَ
فَعَلَيْهَا
ثُمَّ إِلَى
رَبِّكُمْ
تُرْجَعُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah
untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu
akan menimpa dirinya sendiri. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu
dikembalikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 15).
Semoga
Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an Al-‘Adziim…
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِي
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِهَدْيِ
سَيِّدِ
المُرْسَلِيْنَ
وَقَوْلُهُ
القَوِيْمُ. أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي
وَلَكُمْ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua :
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
الأَرْضِ
وَالسَّمَاوَاتِ،
لَهُ
الْحَمْدُ
أَمَرَ بِالفْضَائِلِ
وَالصَّالِحَاتِ،
وَنَهَى عَنِ الْبَغْيِ
وَالعُدْوَانِ
وَالرَّذَائِلِ
وَالْمُنْكَرَاتِ،
أَحْمَدُ
رَبِّي عَلَى
نِعَمِهِ
الظَاهِرَاتِ
وَالْبَاطِنَةِ
الَّتِي
أَسْبَغَهَا
عَلَيْنَا
وَعَلَى المَخْلُقَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ إِلَهُ
الأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ
لَا يَخْفَى
عَلَيْهِ
شَيْءٌ مِنَ
الأَقْوَالِ
وَالأَفْعَالِ
وَالإِرَدَاتِ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
نَبِيَّنَا
وَسَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
بَعَثَ اللهُ
بِالْبَيِّنَاتِ،
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
السَّابِقِيْنَ
إِلَى
الخَيْرَاتِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ
–عَزَّوَجَلَّ-
وَأَطِيْعُوْهُ،
وَكُوْنُوْا
دَائِمًا
عَلَى حَذْرٍ
وَخَوْفٍ
مِنَ
المَعَاصِي،
فَإِنَّ بَطْشَ
اللهُ
شَدِيْدٌ.
Bertakwalah
dengan takwa yang sesungguhnya dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat.
Hamba-hamba Allah sekalian, jadilah kalian orang-orang yang mendamaikan,
bergabunglah kalian dengan orang-orang yang mengharapkan pahala.
Orang
yang di dunia dikenal melakukan kebajikan maka ia pun diakhirat dikenal
demikian. Jika Allah menganugerahkan kepada seorang hamba amal sholeh, kehendak
dan tekad untuk melakukan kebajikan dan memberi manfaat kepada masyarakat, lalu
iapun menempuh sebab-sebab yang bermanfaat, disertai dengan iman dan mengharap
pahala dan tulus, maka Allah akan memberkahi amalannya dan usahanya tersebut
akan membuahkan hasil, maka jadilah ia adalah kunci pembuka pintu-pintu
kebaikan, dan penutup pintu-pintu keburukan. Dari Anas –semoga Allah
meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
مِنَ
النَّاسِ
مَفَاتِيْحَ
لِلْخَيْرِ
مَغَالِيْقَ
لِلشَّرِّ
وَإِنَّ مِنَ
النَّاسِ
مَفَاتِيْحَ
لِلشَّرِّ
مَغاَلِيْقَ
لِلْخَيْرِ
فَطُوْبَى
لِمَنْ
جَعَلَ اللهُ
مَفَاتِيْحَ
الْخَيْرِ
عَلَى يَدَيْهِ
وَوَيْلٌ
لِمَنْ جَعَلَ
اللهُ
مَفَاتِيْحَ
الشَّرِّ
عَلَى يَدَيْهِ
“Sesungguhnya diantara manusia ada orang-orang yang
merupakan pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan, dan
diantara manusia orang-orang yang merupakan pembuka pintu-pintu keburukan dan
penutup pintu-pintu kebaikan, maka beruntunglah orang yang Allah menjadikan
kunci-kunci kebaikan pada kedua tangannya, dan celaka orang yang Allah jadikan
kunci-kunci keburukan pada kedua tangannya.” (Hadits shahih riwayat Ibnu
Majah)
Allah
berfirman,
وَقَدِّمُوا
لأنْفُسِكُمْ
وَاتَّقُوا
اللَّهَ
وَاعْلَمُوا
أَنَّكُمْ
مُلاقُوهُ
وَبَشِّرِ
الْمُؤْمِنِينَ
“Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan
bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 223).
وَمَا
تَفْعَلُوا
مِنْ خَيْرٍ
يَعْلَمْهُ اللَّهُ
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ
خَيْرَ الزَّادِ
التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ
يَا أُولِي
الألْبَابِ
“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah
mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan
bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah:
197).
وَمَا
تُقَدِّمُوا
لأنْفُسِكُمْ
مِنْ خَيْرٍ
تَجِدُوهُ
عِنْدَ
اللَّهِ هُوَ
خَيْرًا
وَأَعْظَمَ
أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا
اللَّهَ
إِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ
رَحِيمٌ
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu
niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling
baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 20).
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا
أَنْتَ
وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِيْ الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Penerjemah:
Abu Abdil Muhsin Firanda
Edit bahasa oleh tim KhotbahJumat.com