Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ذِيْ الفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ، فَضَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ عَلَى غَيْرِهِ مِنْ شُهُوْرِ العَامِ، خَصَّهُ بِمَزِيْدِ مِنَ الفَضْلِ وَالكَرَمِ وَالْإِنْعَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي رُبُوْبِيَتِهِ وَإِلَهِيَتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ (تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ)، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ البَرَرَةِ الكِرَامِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ:
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah
kepada Allah Ta’ala,
bersyukurlah kepada-Nya karena Ramadhan akan segera tiba. Mohonlah pertolongan
kepada-Nya agar menolong kita dalam mengisi bulan Ramadhan dengan kebaikan dan
ketaatan. Karena Ramadhan adalah saat-saat yang agung dan hadiah dari Allah
dengan keutamaan dari-Nya. Allah Ta’ala
berfirman,
شَهْرُ
رَمَضَانَ
الَّذِي
أُنزِلَ
فِيهِ
الْقُرْآنُ
هُدًى
لِلنَّاسِ
وَبَيِّنَاتٍ
مِنْ
الْهُدَى
وَالْفُرْقَانِ
فَمَنْ
شَهِدَ
مِنْكُمْ
الشَّهْرَ
فَلْيَصُمْهُ
وَمَنْ كَانَ
مَرِيضاً
أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ
مِنْ
أَيَّامٍ
أُخَرَ يُرِيدُ
اللَّهُ
بِكُمْ
الْيُسْرَ
وَلا يُرِيدُ
بِكُمْ
الْعُسْرَ
وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا
اللَّهَ
عَلَى مَا
هَدَاكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan
itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Bulan
ini adalah kebaikan seluruhnya; siang harinya, malam harinya, detik demi
detiknya, semuanya adalah kebaikan. Akan tetapi bagaimana dengan keadaan kita,
dengan persiapan apa kita menghadapi bulan ini? Dengan apa kita lewati detik
demi detiknya yang penuh keberkahan?
Bulan
ini adalah bulan yang agung. Masalahnya adalah ada pada diri kita. Karena itu,
marilah kita kenali bulan ini dan kitasambut dengan kegembiraan dan suka cita.
Dahulu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam member kabar gembira kepada sahabat-sahabat
beliau dengan kedatangan bulan Ramadhan. Beliau bersabda,
أَيُّهَا
النَّاسُ
قَدْ
أَظَلَّكُمْ
شَهْرٌ
عَظِيْمٌ
مُبَارَكٌ،
جَعَلَ اللهُ
صِيَامَهُ
فَرِيْضَةً،
وَقِيَامَ
لَيْلِهِ
تَطَوُّعًا
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah menaungi
kalian bulan agung yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan puasa di dalamnya
dan menganjurkan untuk shalat di malam harinya.”
Beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyebutkan banyak keutamaannya.
Keutamaan
Pertama: Allah
menurunkan Alquran, lebih tepatnya permulaan turunnya Alquran terjadi pada
bulan ini. Yaitu pada malam lailatul qadr. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
إِنَّا
أَنزَلْنَاهُ
فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) di malam
al-qadr.” (QS. Al-Qadr: 1)
Firman-Nya
juga,
إِنَّا
أَنزَلْنَاهُ
فِي لَيْلَةٍ
مُبَارَكَةٍ
إِنَّا
كُنَّا
مُنذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3)
Alquran
pertama kali turun kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah pada bulan Ramadhan. Kemudian turun
kepada beliau pada masa-masa berikutnya sesuai dengan keadaan, sampai Allah
menyempurnakan syariatnya dengan ayat:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ
لَكُمْ
الإِسْلامَ
دِيناً
Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.
Al-Maidah: 3)
Oleh
karena itu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengkhususkan bulan ini dengan
banyak-banyak membaca Alquran, lebih banyak dari bulan lainnya. Demikian juga
para sahabat dan umat Islam setelah mereka sangat banyak membaca Alquran di
bulan ini. Bulan ini adalah bulan Alquran. Bulan berpuasa. Allah menjadikan
puasa sebagai kewajiban dan termasuk di antara rukun Islam.
مَنْ
شَهِدَ
مِنْكُمْ
الشَّهْرَ
فَلْيَصُمْهُ
“Barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan
Ramadhan, maka berpuasalah.”
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda tentang bangunan Islam.
بُنِيَ
الْإِسْلَامُ
عَلَى خَمْسٍ:
شَهَادَةِ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ،
وَأنَّ مُحَمَّداً
رَسُولُ
اللهِ،
وَإِقَامِ
الصَّلاَةِ،
وَإِيْتَاءِ
الزَّكَاةِ،
وَصَوْمِ
رَمَضَانَ،
وَحَجِّ
البَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima hal: Persaksian
bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, serta
haji ke Baitullah.”
Wajib
bagi setiap muslim yang mukim (tidak safar) untuk berpuasa dari awal hingga
akhir bulan ini. Adapun orang terhalangi dari melaksanakan puasa seperti orang
yang bersafar atau sakit, maka mereka wajib menggantinya di hari yang lain.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga mensyariatkan kepada kita untuk melaksanakan shalat di
malam hari Ramadhan atau yang kita kenal dengan shalat tarawih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ
قَامَ
رَمَضَانَ
إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ
مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang beribadah pada malam hari bulan Ramadhan
karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosa yang telah
lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu
beliau bersabda,
إِنَّهُ
مَنْ قَامَ
مَعَ الإِمَامِ
حَتَّى
يَنْصَرِفَ
كُتِبَ لَهُ
قِيَامُ
لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka
ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”
Terdapat
keutamaan yang sangat besar dalam shalat malam di bulan Ramadhan, yaitu Allah
hapuskan dosa-dosa. Siapa yang shalat di malam hari Ramadhan dengan keimanan,
berharap pahala, dan meyakini keutamaannya, maka Allah akan mengampuni dosanya
yang telah lalu. Maksud dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. Sedangkan
dosa-dosa besar diampuni dengan bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ
تَجْتَنِبُوا
كَبَائِرَ
مَا تُنْهَوْنَ
عَنْهُ
نُكَفِّرْ
عَنْكُمْ
سَيِّئَاتِكُمْ
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa
yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia
(surga).” (QS. An-Nisa: 31).
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ
الْخَمْسُ
وَالْجُمُعَةُ
إِلَى
الْجُمُعَةِ
وَرَمَضَانُ
إِلَى رَمَضَانَ
مُكَفِّرَاتٌ
مَا
بَيْنَهُنَّ
إِذَا اجْتَنَبَ
الْكَبَائِرَ
“Shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat, berpuasa
Ramadhan ke Ramadhan lainnya adalah penghapus dosa-dosa diantaranya jika
dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).
Orang-orang
yang pernah melakukan dosa besar, apabila mereka bertaubat kepada Allah dengan
taubat yang benar, maka Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.
إِنَّ
اللَّهَ
يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ
جَمِيعاً
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa, semuanya.”
Di
bulan Ramadhan ini, taubat dan istighfar lebih ditekankan lagi. Hendaknya
setiap muslim mengoreksi diri mereka dan amalan mereka. Sehingga mereka
memasuki bulan ini dengan jiwa yang bersih, hal itu sangat berdampak dengan
semangat dalam beribadah.
Keutamaan
Kedua: dibukanya
pintu surga dan ditutupnya pintu neraka.
Yang
demikian semakin memudahkan seseorang untuk beribadah dan melakukan amalan
shaleh. Surga itu diperoleh dengan beramala shaleh. Allah Ta’ala bukakan pintu
surga agar kita berlomba-lomba menuju surga dengan giat melakukan ketaatan dan
amalan shaleh. Dan di bulan ini, hal itu Allah mudahkan bagi orang-orang yang
Dia kehendaki.
Di
bulan ini juga Allah tutup pintu neraka. Hal ini karena kaum muslimin bertaubat
di bulan ini, mereka memohon ampun kepada Allah, meninggalakan perbuatan
maksiat dan dosa, yang demikian merupakan sebab selamatnya seseorang dari
neraka.
Keutamaan
ketiga: Setan-setan dibelenggu.
Di
bulan ini, setan-setan dibelenggu sehingga mereka tidak leluasa mengganggu kaum
muslimin dan melalaikan mereka dari agamanya sebagaimana yang mereka lakukan di
selain bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, Allah menahan setan dari
hamba-hamba-Nya yang beriman, mereka tidak mampu memberikan was-was dan bisikan
buruk, mereka tidak mampu membuat orang-orang yang beriman menjadi lalai, dan
mereka tidak mampu menghalangi orang-orang yang beriman dari amalan shaleh.
Oleh karena itu, kita lihat banyak umat Islam yang begitu bersemangat dalam
amalan ketaatan di bulan ini. Mereka memperbanyak intensitas amalan tersebut.
Begitu banyaknya orang melaksanakan ketaatan pada bulan ini sebagai bukti bahwa
Allah membelenggu pata setan.
Allah
Jalla wa ‘Ala
menghalangi setan dan bala tentaranya untuk melancarkan ambisi mereka.
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ* إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمْ الْمُخْلَصِينَ
Iblis
menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Shad: 82-83).
Setan
tidak akan mampu menggoda hamba Allah yang ikhlas, terlebih lagi di bulan
Ramadhan.
وَاسْتَفْزِزْ
مَنْ
اسْتَطَعْتَ
مِنْهُمْ
بِصَوْتِكَ
وَأَجْلِبْ
عَلَيْهِمْ
بِخَيْلِكَ
وَرَجِلِكَ
وَشَارِكْهُمْ
فِي الأَمْوَالِ
وَالأَولادِ
وَعِدْهُمْ
وَمَا يَعِدُهُمْ
الشَّيْطَانُ
إِلاَّ
غُرُوراً*
إِنَّ
عِبَادِي
لَيْسَ لَكَ
عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ
وَكَفَى
بِرَبِّكَ
وَكِيلاً
Dan
hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan
kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki
dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah
mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan
tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas
mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (QS. Al-Isra: 64-65).
Oleh
karena itu, orang-orang yang memiliki kejelekan di hatinya menyiapkan berbagai
macam sarana untuk menghalangi manusia fokus beribadah di bulan Ramadhan.
Mereka buat acara-acara komedi, permainan-permainan yang tidak bermanfaat dan
melalaikan, dll. tujuannya adalah menghalangi manusia dari ketaatan dan
menyibukkan mereka dengan sesuatu yang sia-sia atau bahkan berdosa. Acara-acara
ini mereka sebarkan di berbagai media; radio dan televisi. Dan ini adalah
bahaya yang sangat nyata.
Wajib
bagi seorang muslim untuk menjaga diri dan keluarganya dari hal-hal yang buruk
ini. Karena bahanya dari acara-acara ini sangat besar, bahkan menimpa mereka
yang suka pergi ke masjid dan melaksanakan shalat serta membaca Alquran.
Terkadang orang-orang yang melakukan ketaatan demikian pun masih turut
memperhatikan acara-acara yang demkian, akhirnya mereka pun lalai dari ibadah
mereka.
Seorang
muslim hendaknya menutup pintu ini rapat-rapat, terlebih khusus di bulan
Ramadhan. Ia larang dirinya dan keluarganya dari hal tersebut. Karena pada
acara-acara demikian terdapat tipu daya setan.
Walaupun
setan-setan terbelenggu, namun bala tentara mereka dari kalangan manusia tetap
berusaha keras untuk memalingkan manusia dan membuat mereka sibuk dengan
hal-hal yang tidak bermanfaat dan melalaikan dari agama.
Dalam
bulan yang penuh berkah ini, sebisa mungkin manusia meninggalkan aktivitas
duniawi yang bisa ia tinggalkan. Hendaknya mereka fokus dalam ketaatan. Mereka
yang mencari nafkah dengan bekerja, semakin meng-efisienkan waktunya.
Menggunakannya dengan bijak antara kerja dan ibadah. Waspadailah sesuatu yang
meragukan dan tinggalkan yang haram.
Bagi
setiap muslim hendaknya berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersegera menuju
ketaatan. Meninggalkan perkara-perkara yang menyibukkan dirinya atau
anak-anaknya atau anggota keluarganya yang lain. Mewaspadai hal-hal yang bisa
menyia-nyiakan waktu dan umur. Karena dalam menyia-nyiakan waktu dan umur
terdapat kejelekan yang sangat besar.
Betakwalah
kepada Allah wahai kaum muslimin,
Bulan
Ramadhan ini adalah bulan keagungan, kebaikan, keberkahan, sepenuhnya baik
siang ataupun malam. Sibukkan diri dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Seorang
muslim mengisi waktunya dengan kewajiban, amalan sunah, dan ketaatan. Mereka
jadikan istirahat untuk mengembalika semangat dalam beribadah, mereka tidur
dengan kadar yang tidak berlebihan.
Adapun
orang yang bergadang hanya untuk ngobrol, makan-makan dan minum (nongkrong),
lalu mereka menghabiskan siang hari dengan tidur, lalu mengaku bahwa mereka
berpuasa, ini adalah suatu yang mengherankan. Bagaimana bisa seorang yang
berpuasa meninggalkan shalat, meninggalkan shalat bersama jamaah. Puasa itu
bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa yang hakiki adalah
menahan dari segala yang diharamkan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Dan yang paling besar adalah menyia-nyiakan apa
yang Allah wajibkan.
Bulan
Ramadhan bukanlah bulan kemalasan, bulan makan dan minum. Bulan ini adalah
bulan ketaatan. Bersungguh-sungguh dalam perkataan dan perbuatan yang baik.
Tidak lalai dari menegakkan shalat berjamaah, ambil bagian dalam kebaikan.
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat untuk fisiknya dan menghidupkan
jiwa dan hatinya.
Bulan
ini adalah kesempatan, dan yang namanya peluang atau kesempatan itu tidak
terus-menerus ada. Mungkin saja bulan Ramadhan tahun ini tidak berulang bagi
kita di tahun depan. Bisa jadi bulan Ramadhan ini adalah penutup bagi hayat
kita. Allah Ta’ala
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ* أَيَّاماً مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari
yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari
yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang
berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 183-184).
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي
القُرْآنِ
العَظِيْمِ،
وَنَفَعْنَا
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
البَيَانِ
وَالذِّكْرِ
الحَكِيْمِ،
أَقُوْلُ
قَوْلِي
هَذَا
وَاسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ
وَلِجَمِيْعِ
المُسْلِمِيْنَ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَلَى
فَضْلِهِ،
وَإِحْسَانِهِ،
وَأَشْكُرُهُ
عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ محمداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ،
وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا،
أَمَّا
بَعْدُ:
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Inilah
bulan Ramadhan, maka bagi mereka yang senantiasa berbuat dosa, berhentilah!
Bagi mereka yang menginginkan kebaikaan, sambutlah bulan ini. Kita semua
menginginkan kebaikan dan setiap keinginan baik itu dibutuhkan pembuktian
dengan amal.
وَمَنْ
أَرَادَ
الآخِرَةَ
وَسَعَى
لَهَا سَعْيَهَا
وَهُوَ
مُؤْمِنٌ
فَأُوْلَئِكَ
كَانَ
سَعْيُهُمْ
مَشْكُوراً
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan
berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS.
Al-Isra: 19)
Menginginkan
kebaikan tidak cukup hanya dengan niat, tapi juga ada bukti dengan amal.
Kita
sekarang berada di zaman dimana orang-orang banyak berangan-angan, namun
sadarilah Allah sediakan bulan ini agar kita berlomba-lomba dalam ketaatan dan
menafikan perbuatan-perbuatan dosa. Sambutlah hadiah Allah ini dengan melakukat
amala shaleh dan berbagai ketaatan yang Dia perintahkan.
Bertakwalah
kepada Allah,
Bersegeralah
melakukan amalan ketaatan selama itu masih mungkin bagi kita. Ingatlah!
Kesempatan itu tidak selamanya ada. Hidup ini akan berlalu dan amal yang kita
kerjakan akan kekal, baik amalan taat maupun maksiat.
اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ اَلرَّاشِدِيْنَ،اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ،
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
، اللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
، وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنَ،
وَاجْعَلْ
هَذَا
البَلَدَ
آمِناً مُطْمَئِنّاً
وَسَائِرَ
بِلَادِ
المُسْلِمِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ بَارِكْ
لَنَا فِي
شَهْرِ
رَمَضَانَ،
اللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا
فِيْهِ
القُوَّةَ
وَالاِحْتِسَابَ
العَمَلَ الصَالِحَ،
اللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ
وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ،
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا
مِنْ
فَضَائِلِهِ
وَمَغَانِمِهِ
مَا
يَسَرْتَهُ
لَنَا، اللَّهُمَّ
أَعِنَّا
عَلَى
صِيَامِهِ
وَقِيَامِهِ
وَحِفْظِ
أَيَّامِهِ
مِنَ
الخَلَلِ
وَالضَيَاعِ،
(رَبَّنَا
تَقَبَّلْ
مِنَّا
إِنَّكَ
أَنْتَ
السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ)،
اللَّهُمَّ
أَصْلِحْ وُلَاةَ
أُمُوْرِنَا
وَاجْعَلْهُمْ
هُدَاةَ
مُهْتَدِيْنَ
غَيْرَ
ضَالِّيْنَ
وَلَا مُضِلِّيْنَ،
اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ
بِطَانَتَهُمْ
وَأَبْعَدْ عَنْهُمْ
بِطَانَةً
السُوْءِ
وَالمُفْسِدِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ، (إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنْ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ)،(وَأَوْفُوا
بِعَهْدِ
اللَّهِ
إِذَا
عَاهَدْتُمْ
وَلا
تَنقُضُوا
الأَيْمَانَ
بَعْدَ تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ
جَعَلْتُمْ
اللَّهَ عَلَيْكُمْ
كَفِيلاً
إِنَّ
اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ)،
فَاذْكُرُوْا
اللهَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ،
وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُوْنَ.
Diterjemahkan
dari khutbah Jumat Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.
Oleh
Tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com