Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه،ُ ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ))، ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً))، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً*يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً)). أما بعد :
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثاَتُهَا،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Kaum
muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Semoga
Allah ‘Azza wa Jalla
senantiasa menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur terhadap segala nikmat
yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Shalawat beserta salam mari kita ucapkan
untuk Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang senantiasa
bertakwa, berpegang dengan sunnah Nabi sampai akhir kehidupan kita.
Agama
Islam adalah agama yang sempurna dalam menjelaskan antara hubungan antara
sesama makhluk dan bagaimana mereka saling beriteraksi dalam kehidupan ini.
Pada
kesempatan kali ini kita akan berbincang seputar hubungan antara bangsa manusia
dengan alam jin ditinjau dari sisi sudut pandang akidah Islam.
Ibadallah,
Dalam
berbagai kasus, kita menyaksikkan sekian keanehan antara hubungan dua alam
tersebut yang menimbulkan seribu tanda tanya dalam benak kita. Akan tetapi,
sedikit di antara kita yang mencoba mencari jawabannya melalui berita
terpercaya dan akurat. Sumber yang akurat dan terpercaya dalam memberikan
jawaban dalam hal ini hanyalah wahyu yaitu Alquran dan sunnah yang shahihah.
Sebab, perkara tesebut adalah perkara gaib yang tidak dapat uji secara empiris
di laboratorium produk manusia.
Di
antara bukti keimanan seseorang adalah meyakini berita perkara-perkara gaib
yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, baik yang terdapat dalam Alquran maupun
hadits yang shahih. Itu merupakan sifat-sifat orang beriman yang Allah ‘Azza wa Jalla
sebutkan dalam firman-Nya:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“Kitab
(Alquran) itu tiada keraguan dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang
bertaqwa. Yaitu orang-orang yang beriman dengan yang gaib”. (QS.
al-Baqarah: 2-3).
Di
antara perkara gaib yang diceritakan dalam Alquran dan sunnah yang shahihah
adalah tentang keberadaan makhluk gaib seperti Jin dan Malaikat. Allah ‘Azza wa Jalla
menceritakan tentang asal-muasal penciptaan kedua jenis makhluk tersebut dan
sifat mereka masing-masing. Kedua alam tersebut memilki kekhususan
sendiri-sendiri, meskipun ada sisi kesamaan dalam beberapa hal. Di antara sisi
persamaan mereka adalah mereka makhluk halus yang tidak dapat kita lihat dengan
alat indera kita dalam bentuk mereka yang asli. Kecuali ketika mereka menjelma
atau mereka diizinkan Allah ‘Azza
wa Jalla untuk memperlihatkan diri mereka kepada siapa yang
diizinkan Allah ‘Azza
wa Jalla. Akan tetapi, kesempatan ini tidak untuk semua orang.
Atas
dasar aspek inilah kedua alam tersebut masuk kategori makhluk gaib atau alam
gaib. Perlu dijelaskan pula di sini bahwa alam gaib tidaklah terbatas pada dua
alam ini saja. Namun, masih ada alam-alam gaib lain seperti alam barzakh, alam
arwah, alam akhirat dengan segala peristiwa yang terjadi padanya, termasuk
surga dan neraka.
Ibadallah,
Kemudian
perkara gaib itu ada dua macam; gaib mutlak dan gaib nisbi; gaib mutlak adalah
perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah ‘Azza
wa Jalla semata. Adapun gaib nisbi adalah perkara yang dapat
diketahui oleh sebagian makhluk. Maka alam Jin dan Malaikat termasuk pada
bagian kedua yaitu gaib nisbi, karena sebagian malaikat ada yang dapat dilihat
oleh sebagian nabi dan rasul, baik dalam bentuk jelmaan menjadi manusia maupun
dalam bentuk asli mereka. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
melihat Malaikat Jibril dalam bentuk yang asli dua kali.
Dalam
hadits riwayat Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu
anha, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِى خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ
“Sesungguhnya
dia adalah Jibril aku tidak melihatnya dalam bentuk aslinya selain hanya dua
kali saja.” (HR. Bukhari dan Muslim) .
Demikian
pula sebagian Sahabat pernah melihat jin dalam bentuk yang asli, sebagaimana
diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu
‘anhu, bahwa ia pernah melihat jin dalam bentuk yang aslinya.
Dari
Ubay bin Ka’ab radhiyallahu
‘anhu menceritakan bahwa ia mempunyai satu bejana berisi
kurma, namun selalu berkurang. Pada suatu malam, ia mencoba menjaganya.
Tiba-tiba muncul seekor binatang sebesar anak remaja. Maka, ia memberi salam
kepadanya, lalu bintang tersebut menjawab salamnya. Ubay bertanya, “Siapa
kamu? Jin atau manusia?”. “Bukan manusia, akan tetapi jin”,
jawabnya. Ubay berkata, “Coba perlihatkan tanganmu kepadaku!”. Maka
ia memperlihatkan tangannya kepada Ubay, tangannya mirip dengan tangan anjing
dan berbulu mirip bulu anjing pula. Ubay berkata lagi, “Seperti inikah
bentuk ciptaan jin?”. Ia menjawab, “Sesungguhnya para jin tahu
bahwa di tengah-tengah mereka ada yang lebih mengerikan daripada aku”.
Ubay bertanya, “Kenapa kamu datang ke sini?”. Jin menjawab,
“Kami mendengar bahwa kamu orang yang suka bersedekah, kami ke sini
karena ingin mendapat bagian dari makananmu”. Ubay bertanya, “Apa yang
dapat menjaga kami dari gangguan kalian?”. Ia menjawab, “Ayat yang
terdapat dalam surat al-Baqarah (Ayat Kursi). Barang siapa yang membacanya di
sore hari, maka ia terjaga dari kami sampai pagi hari. Barang siapa yang
membacanya di pagi hari, maka ia terjaga dari kami sampai sore hari”. Keesokan
hari, Ubay radhiyallahu
‘anhu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
menceritakan perihal tersebut kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
: “Si keji itu telah berkata jujur” (HR. al-Hakim).
Hadits
di atas memuat beberapa poin yang berhubungan dengan pembahasan kita:
Pertama: Bahwa jin itu memiliki wujud nyata,
bukan gambaran tentang nilai-nilai negatif yang ada dalam diri manusia
sebagaimana pandangan orang-orang ahli filsafat dan orang yang mengikuti mereka
dari kalangan intelektual. Buktinya, dalam kisah di atas jin memiliki bentuk
dan punya kebutuhan biologis.
Kedua: Bahwa jin itu memiliki kebutuhan
biologis seperti manusia, di antaranya kebutuhan untuk makan. Dasarnya, dalam
kisah di atas jin mengambil buah kurma milik Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.
Demikian pula hal ini ditunjukkan kejadian yang dialami Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
sewaktu ditugasi Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk menjaga harta zakat, tiba-tiba ada
jin yang mencuri dari harta zakat.
Ketiga: Bahwa jin itu memiliki bentuk dan
rupa yang berbeda-beda, ada yang seperti ular, anjing dan binatang lainnya.
Buktinya dalam kisah di atas jin muncul dalam rupa yang mirip anjing. Dalam
kisah lain, seorang sahabat yang ingin turut serta berperang bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam, lalu ia pulang sejenak sebelum berangkat perang. Ia
mendapati sang istri berdiri di pintu dan memberi tahu kepadanya bahwa di kamar
ada seekor ular besar. Serta merta sahabat tersebut langsung membunuhnya, akan
tetapi ia dan jin yang menjelma ular itu pun mati di tempat.
Keempat: Bahwa manusia bisa berbicara dengan
jin dan sebaliknya jin dapat mengerti bahasa manusia. Dalam hadits di atas Ubay
bercakap-cakap dengan jin. Begitu pula dalam kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
saat menangkap jin yang mencuri harta zakat.
Kelima: Agar terhindar dari gangguan jin
adalah dengan membaca Ayat Kursi pada pagi dan sore hari. Bukan dengan cara
meletakkan tulisan Ayat Kursi dalam dompet atau menggantungkannya di mobil,
dinding rumah atau di leher anak-anak kecil sebagaimana perbuatan orang-orang
yang tertipu oleh jin.
Dalil-dalil
yang menunjukkan tentang keberadaan jin dalam Alquran maupun dalam
hadits-hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam begitu banyak sekali tidak mungkin untuk
kita sebutkan satu persatu dalam khotbah yang singkat ini. Bahkan salah satu
surat dalam Alquran disebut dengan nama Surat al-Jin.
Syaikh
Shalih al-Fauzan menyatakan bahwa beriman tentang keberadan jin adalah bagian
dari keimanan terhadap perkara-perkara yang gaib, sebagai bentuk pembenaran
terhadap apa yang diberitakan Allah ‘Azza
wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Keberadaan jin ditetapkan dalam Alquran,
Sunnah, dan Ijma. Barangsiapa yang mengingkari adanya jin, maka ia telah jatuh
dalam kekufuran. Karena, ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta Ijma
kaum Muslimin. Adapun orang yang mengingkari perihal masuknya jin kedalam tubuh
manusia, ia tidaklah tidak kafir, akan tetapi ia dihukumi sesat.
Ibadallah,
Jin
memiliki kewajiban yang sama seperti manusia untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Mereka juga mendapat ganjaran dan balasan atas perbuatan mereka di akhirat
kelak. Sebagaimana Allah ‘Azza
wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya tentang kewajiban jin untuk
beribadah kepada-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku
tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah
kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).
Maka,
jin yang ingkar dan kafir, akan mendapatkan siksaan Allah ‘Azza wa Jalla,
sebagaimana Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:
وَلَقَدْ
ذَرَأْنَا
لِجَهَنَّمَ
كَثِيرًا
مِنَ
الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ ۖ
لَهُمْ
قُلُوبٌ لَا
يَفْقَهُونَ
بِهَا وَلَهُمْ
أَعْيُنٌ لَا
يُبْصِرُونَ
بِهَا وَلَهُمْ
آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ
بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ
كَالْأَنْعَامِ
بَلْ هُمْ
أَضَلُّ ۚ
أُولَٰئِكَ
هُمُ
الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan untuk isi neraka
Jahannam itu kebanyakan dari golongan jin dan manusia. Mereka punya hati, akan
tetapi mereka tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Kami), mereka punya mata
akan tetapi mereka tidak mau melihat dengannya (ayat-ayat Kami), mereka punya
telinga akan tetapi mereka tidak mau mendengar dengannya (ayat-ayat Kami).
Mereka bagaikan seperti bintang bahkan mereka lebih sesat, mereka itu adalah
orang-orang yang lalai (terhadap peringatan Kami)”. (QS. al-A’raf:
179).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan bahwa jin diciptakan dari bunga api, sebagaimana
dalam sabdanya:
خُلِقَتِ
الْمَلاَئِكَةُ
مِنْ نُورٍ
وَخُلِقَ
الْجَانُّ
مِنْ مَارِجٍ
مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ
آدَمُ مِمَّا
وُصِفَ
لَكُمْ
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari
bunga api dan Adam diciptakan dari apa yang diceritakan pada kalian.”
(HR. Muslim).
Akan
tetapi, jin tersebut memiliki keserupaan dengan manusia dalam beberapa sifat
dan juga memiliki keserupaan dengan malaikat dalam beberapa sifat. Keserupaan
sifat mereka dengan manusia, mereka memiliki kebutuhan biologis seperti
manusia, seperti makan, memiliki tempat tinggal dan keturunan. Keserupaan sifat
mereka dengan malaikat, mereka tidak dapat kita lihat dengan indera kita dan
mereka bisa menjelma seperti manusia. Namun, penjelmaan mereka berbeda dengan
penjelmaan malaikat. Jin menjelma dalam bentuk rupa yang buruk atau memiliki
cacat dalam salah satu anggota badannya, berbeda dengan malaikat secara umum
menjelma dalam bentuk rupa yang sangat baik dan tidak ada cacat pada salah satu
anggota badannya, kecuali dalam keadaan ketika diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk
menguji anak adam. Seperti dalam kisah tiga orang Bani Israil; orang pertama
mengidap penyakit kusta, orang yang kedua berkepala botak tidak memiliki rambut
sedikit pun dan orang yang ketiga buta tidak bisa melihat. Setelah mereka
sembuh dari penyakit mereka dan masing-masing memiliki harta yang berlimpah,
Allah ‘Azza wa Jalla
menyuruh malaikat untuk menguji mereka apakah mereka bersyukur atau tidak?
Malaikat datang kepada masing-masing mereka dalam bentuk fisik yang sama semasa
mereka mengidap penyakit.
Ibadallah,
Perihal
tentang mungkinya jin masuk ke dalam tubuh manusia merupakan salah satu sisi
perbedaan antara jin dengan malaikat. Hal ini sudah menjadi bahan perdebatan
sejak dulu antara Ulama Ahlussunnah dengan para pengikut aliran
Mu’tazilah yang bermadzhab rasionalisme.(6)
Dalil-dalil
yang menunjukkan tentang mungkinnya jin masuk kedalam tubuh manusia serta dapat
mempengaruhi perasaan dan pikirannya.
Berikut
ini kita sebutkan beberapa dalil yang dikemukakan oleh para ulama Ahlussunnah
tentang kemungkinan jin masuk ke dalam tubuh manusia.
Pertama: Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang
yang memakan harta riba itu, mereka tidak berdiri (dari kubur mereka) kecuali
seperti orang yang kerupan kemasukan setan.” (QS. al-Baqarah: 275).
Imam
al-Baghawi rahimahullah
berkata, “Mereka tidak berdiri dari kubur mereka pada Hari Kiamat
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan”.
Imam
al-Qurthubi rahimahullah
berkata, “Dalam ayat tersebut terdapat dalil yang menunjukkan tentang
kekeliruan pendapat orang yang mengingkari kesurupan karena jin, mengira bahwa
hal itu gejala alam semata, bahwa setan tidak berjalan dalam tubuh manusia dan
tidak ada kesurupan karena setan”.
Kedua: Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya
setan itu berjalan dalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Al-Qadhi
‘Iyadh rahimahullah
berkata: “Hadits tersebut secara eksplisit menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla
memberikan kekuatan dan kemampuan kepada setan untuk berjalan dalam tubuh
manusia seperti mengalirnya darah”.
Abdullah
bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku berkata kepada ayahku, “Ada
orang-orang yang berpendapat bahwa jin tidak mungkin masuk ke dalam badan orang
yang kesurupan dari golongan manusia!” Beliau menjawab, “Wahai
anakku! Mereka itu telah berdusta, (buktinya) jin itu berbicara melalui lisan
orang tersebut.”.
Jika
ada yang bertanya bagaimana cara jin masuk ke dalam tubuh manusia? Apa mungkin
tubuh masuk ke dalam tubuh (lainnya)? Maka jawabanya, hal itu sangat mungkin
menurut akal, bahkan ada contoh-contoh nyata dalam alam ini. Seperti air
mengalir dalam batang dan urat tumbuhan, air dan makanan yang mengalir dalam
tubuh manusia, dan arus listrik mengalir melalu kabel. Demikian pula setan
mengalir dalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah.
Lalu
jenis-jenis jin yang biasa masuk ke tubuh manusia:
(1).
Jin pembantu tukang sihir. Ia masuk ke tubuh manusia atas perintah tukang sihir
untuk menyakiti seseorang. Jin tersebut bekerja sama dengan tukang sihir atau
dukun yang telah mempersembahkan kepada jin tersebut sesuatu dari bentuk
ibadah.
(2).
Jin yang suka pada seseorang. Yakni, jin yang tertarik kepada seseorang karena
kecantikannya atau ketampanannya. Oleh sebab itu, ketika membuka pakaian atau
tatkala masuk kamar mandi dan WC, kita dianjurkan membaca doa-doa yang telah
diajarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam .
(3).
Jin nakal yang suka menggangu manusia. Jin juga ada yang bersifat suka
mengganggu dan menyakiti seperti sebagian manusia suka mengganggu sesama.
Alasan mengganggu bermacam-macam, misalnya alasan manusia mengganggu manusia
lain. Bisa jadi karena beda keyakinan, kedengkian, atau hawa nafsu jahat
lainnya.
(4).
Jin yang ingin balas dendam terhadap seseorang yang dengan tidak sengaja pernah
menyakiti jin tersebut atau salah seorang dari kerabatnya.
Ibadallah,
Masuknya
jin ke tubuh manusia ada dalam dua bentuk:
Pertama: Masuknya jin ke dalam tubuh
seseorang di luar kehendak orang tersebut. Hal ini terjadi melalui dua cara;
adakalanya atas kehendak jin itu sendiri dan adakalanya dimasukkan orang lain
dengan cara sihir.
Kedua: Atas kehendak orang tersebut dengan
cara melakukan hal-hal yang dapat mengundang jin agar mau masuk ke dalam
tubuhnya atau ke dalam tubuh orang lain. Hal ini biasanya dilakukan oleh tukang
sihir dan orang yang menggunakan tenaga jin dalam ilmu beladiri atau silat.
Lalu
Bagaimanakah Hukum Masing-Masing Kondisi Di Atas Ditinjau Dari Sisi Akidah
Islam?
Sebagaimana
dikisahkan dalam sebuah hadits:
إنَّ الْمَرْأَةَ السَّوْدَاءَ أَتَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى. قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ. قَالَتْ أَصْبِرُ. قَالَتْ فَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ. فَدَعَا لَهَا.
Seorang
wanita mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam , dan ia berkata: “Sesungguhnya aku
sering kerasukan dan auratku terbuka, maka tolong berdoa kepada Allah
untukku!” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata, “Jika kamu bersabar, maka
bagimu adalah surga, namun jika engkau tetap berkehendak untuk didoakan, aku
akan berdoa pada Allah agar menyembuhkanmu. Wanita tersebut berkata, “Aku
memilih sabar. Namun tolong berdoa kepada Allah agar auratku tidak
terbuka”. Maka Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berdoa untuknya.”(HR. Bukhari dan
Muslim).
Orang
yang berusaha memasukkan jin ke dalam tubuhnya sendiri untuk menambah kekuatan
dan ketangkasan adalah diharamkan dalam agama dan dihukum sebagai perbuatan
syirik kepada Allah ‘Azza
wa Jalla . Karena, jin tidak akan pernah mau menuruti kemauan
orang, sebelum orang tersebut mengabulkan permintaan jin tersebut terlebih
dahulu. Dan permintaan jin tersebut tidak akan keluar dari perbuatan
bid’ah dan syirik, sebagaimana yang dikenal dalam ilmu persilatan dan
ilmu bela diri. Biasanya tempat latihan persilatan tersebut terlebih dahulu
dilumuri darah dari sembelihan seekor hewan ternak, kadangkala ayam dan
kadangkala kambing atau yang semisalnya. Kemudian dalam gerakan persilatan
tersebut, ada gerakan yang merupakan persembahan kepada jin. Biasanya, gerakan
itu berada pada awal gerakan dari jurus-jurus silat tersebut. Kemudian selama
proses latihan ada kegiatan-kegiatan yang berbau kesyirkan, seperti bersemedi
dan lain sebagainya. Setelah menuruti kehendak jin tersebut, barulah ia akan
mendapat mantra atau jampi untuk memanggil sang jin tersebut. Kadangkala jin
mensyaratkan kepada orang tersebut untuk memakai pakaian tertentu, dengan warna
atau model tertentu. Atau jin melarang orang tersebut untuk mandi seumur hidup,
atau memakan makanan yang disembelih. Ini adalah sebagian bentuk ketundukan
yang dikehendaki oleh jin, dengan tujuan agar orang berpaling dari menaati
Allah ‘Azza wa Jalla.
Atau
jin tersebut mengajarkan kepadanya wirid-wirid yang memuat ucapan-ucapan yang
berbau kesiyirikan atau mengajarkan tata cara ibadah yang menyelisihi sunnah
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, seperti puasa empat puluh hari, atau
berdzikir dalam sebuah kelambu yang gelap dan tidak boleh keluar selama empat
puluh hari. Yang penting bagi jin tersebut adalah orang tersebut taat kepadanya
dan durhaka kepada Allah ‘Azza
wa Jalla dan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam . Mungkin saja orang tersebut secara
lahiriah melaksanakan shalat dan berpenampilan layaknya seorang wali. Akan
tetapi, ia tidak menyadari bagaimana ia dijerumuskan oleh jin ke dalam jurang
syirik dan bid’ah.
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ
لله
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ الله
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمْ
تَسْلِمًا.
أما بعد:
Ibadallah,
Adapun
orang yang mengunakan jin untuk menyakiti orang lain, maka orang ini telah
melakukan dua dosa besar;
Pertama: ia telah berbuat kesyrikan kapada
Allah ‘Azza wa Jalla
, sebagaimana telah jelaskan di atas bahwa jin tidak akan memperkanankan permintaannya
sebelum orang tersebut taat terlebih dahulu kepada jin tersebut.
Kedua: ia telah berbuat kezhaliman dan
kerusakan di muka bumi ini. Karena, dengan perbuatannya tersebut ia telah
menyebabkan orang lain menjadi tersiksa dan menderita. Bahkan bisa menimbulkan
berbagai macam bentuk kerusakan lain di muka bumi ini, seperti terjadinya
perceraian dan pembunuhan yang disebabkan oleh perbuatan sihir yang disebarkan
melalui perantara jin.
Oleh
sebab itu, banyak sekali dalil yang mengharamlan perbuatan sihir, di antaranya:
Firman
Allah:
وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ
“Dan
tidaklah kafir Sulaiman, akan tetapi para setan yang kafir mereka mengajar
sihir kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 102).
Ayat
di atas menunjukkan tentang hukum mengajarkan sihir dan hal itu merupakan
perbuatan setan baik setan dari golongan jin maupun setan dari golongan
manusia.
Kemudian
Allah ‘Azza wa Jalla
menjelaskan pada lanjutan ayat di atas tentang hukum orang yang mempelajari
sihir, bahwa sihir itu tidak membawa manfaat, akan tetapi membawa kemudaratan
dalam kehidupan mereka, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Di akhirat
kelak, mereka tidak akan mendapat bagian sedikit pun dari kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَيَتَعَلَّمُونَ
مَا
يَضُرُّهُمْ
وَلَا
يَنْفَعُهُمْ
ۚ وَلَقَدْ
عَلِمُوا
لَمَنِ
اشْتَرَاهُ
مَا لَهُ فِي
الْآخِرَةِ
مِنْ خَلَاقٍ ۚ
وَلَبِئْسَ
مَا شَرَوْا
بِهِ
أَنْفُسَهُمْ
ۚ لَوْ
كَانُوا
يَعْلَمُونَ
Mereka
mempelajari sesuatu yang membahayakan mereka dan tidak bermanfaat kepada
mereka, dan sesungguhnya mereka telah mengetahui bagi orang yang membelinya ia
tidak akan memiliki bagian sedikit pun pada akhirat kelak. Dan sungguh amat
buruk apa yang mereka beli dengan diri mereka, seandainya mereka itu mengetahui”.
(QS. al-Baqarah: 102).
Ibadallah,
Perbuatan
sihir merupakan salah satu dosa besar yang akan membinasakan pelakunya
sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam peringatkan dalam sabdanya:
«
اجْتَنِبُوا
السَّبْعَ
الْمُوبِقَاتِ
». قِيلَ يَا
رَسُولَ
اللَّهِ
وَمَا هُنَّ
قَالَ «
الشِّرْكُ
بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ
وَقَتْلُ
النَّفْسِ
الَّتِى حَرَّمَ
اللَّهُ
إِلاَّ
بِالْحَقِّ
وَأَكْلُ
مَالِ
الْيَتِيمِ
وَأَكْلُ
الرِّبَا وَالتَّوَلِّى
يَوْمَ
الزَّحْفِ
وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ
الْغَافِلاَتِ
الْمُؤْمِنَاتِ
Jauhilah
tujuh dosa yang membinasakan! Beliau ditanya, “Apa saja wahai
Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Berbuat syirik kepada Allah, sihir,
membunuh jiwa yagng diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang haq, memakan
harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan perang, dan menuduh
perempuan-perempuan terhormat berzina dari kalangan kaum wanita mukmin.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Bagaimana
Caranya Agar Kita Selamat Dari Gangguan Jin?
Pertama
adalah dengan menghafal Ayat Kursi dan membacanya pada setiap selesai Shalat
Fardhu, pagi dan sore hari, serta ketika hendak tidur, sebagaimana telah kita
sebutkan pada awal bahasan kita ini tentang kisah Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu .
Termasuk
pula membaca dzikir dan doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam berbagai aktifitas, kesempatan dan keadaan. Seperti doa pagi-sore, doa
ketka masuk WC, doa ketika membuka baju, doa ketika memasuki daerah baru dsb.
Silakan lihat berbagai doa dan dzikir tersebut dalam kitab-kitab doa yang telah
ditulis oleh para Ulama kita.
Kedua
adalah dengan menghindari sebab-sebab yang mengundang jin untuk berbuat jahat
pada kita. Seperti, suka melamun dan kebiasaan-kebiasaan sejenis, serta
menjauhi sikap yang berlebihan dalam bergembira, dalam bersedih, atau terlalu
marah dan terlalu lapar. Karena pada kondisi-kondisi yang kurang stabil
tersebut membuat kita kehilangan konsentrasi sehingga sangat mudah bagi jin
untuk masuk mempengaruhi sikap dan perasaan kita.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا وَلإِخَوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالإِيْمَانِ
وَلاَ
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلاًّ
لِلَّذِيْنَ
آمَنُواْ
رَبَّنَا إِنَّكّ
رَؤُوْفٌ
رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ
افْتَحْ
بَيْنَنَا
وَبَيْنَ
قَوْمِنَا
بِالْحَقِّ
وَأَنْتَ
خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ
عِلْمًا
نًافِعًا
وَرِزْقًا
طَيِّبًا
وَعَمَلاً
مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا آتِنَا
فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ. وَصَلَّى
اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانِ
إِلَى يِوْمِ
الدِّيْنِ
وَآَخِرُ
دَعْوَانَا
أَنِ
الْحَمْدُ
للهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ.
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, MA
di majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1434H/2013M).
www.KhotbahJumat.com