Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ))، ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً))، ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً*يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً)). أَمَّا بَعْدُ :
فَإِنَّ
خَيْرَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرَ
الْهَدْيِ
هَدْيُ
مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ.
Ma’asyiral
mukminin,
Allah
Jalla wa ‘Ala
berfirman mengabarkan tentang keadaan Firaun dan kaumnya:
فَإِذَا
جَاءَتْهُمُ
الْحَسَنَةُ
قَالُوا
لَنَا هَٰذِهِ
ۖ وَإِنْ
تُصِبْهُمْ
سَيِّئَةٌ
يَطَّيَّرُوا
بِمُوسَىٰ
وَمَنْ
مَعَهُ ۗ
أَلَا
إِنَّمَا
طَائِرُهُمْ
عِنْدَ اللَّهِ
وَلَٰكِنَّ
أَكْثَرَهُمْ
لَا
يَعْلَمُونَ
Kemudian
apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah
karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan
sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah,
sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Al-A’raf: 131).
Agama
Islam adalah agama yang memotivasi agar pemeluknya menjadi seorang yang
optimis. Agama Islam adalah agama kegembiraan dan kebahagiaan. Kebahagiaan
tersebut terwujud dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berserah diri
kepada-Nya. Kepada-Nya lah berserah diri orang-orang yang bertawakkal. Dan
kepada-Nya orang-orang bertakwa mengusahakan amal ibadah mereka.
Sebelum
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam diutus, manusia hidup dalam kejahiliyahan
yang fanatik dan kesesatan yang buta. Suara burung dapat menghalangi mereka
dari sesuatu, karena anggapan sial. Mereka hidup dalam khurofat dan hawa nafsu
yang mungkar. Dan di antara kebiasaan jahiliyah tersebut yang dilarang oleh
Islam adalah sifat pesimis karena anggapan sial.
Pesimis
dan merasal sial adalah lawan dari anugerah dan keberkahan. Anggapan sial
adalah sebuah sikap yang menunjukkan prasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sedangkan optimis artinya berprasangka baik kepada-Nya. Dan seorang mukmin
adalah orang yang berprasangka baik kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan.
Syariat
Islam datang dengan melarang tathayyur.
Karena hal ini termasuk bentuk pesimis yang disebabkan melihat atau mendengar
sesuatu. Dan ini juga merupakan bentuk keyakinan yang lemah dari orang-orang
yang berbuat syirik. Mereka tidak bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Tathayyur adalah anggapan sial karena melihat
atau mendengar bunyi burung, kijang, bintang, atau selainnya. Apa yang mereka
lihat dan dengar menghalangi mereka dari aktivitas yang mereka niatkan. Maka
syariat Islam datang menghapuskan hal ini. Islam menekankan bahwa yang demikian
sama sekali tidak berdampak dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Yang
demikian hanyalah keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar sama sekali.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman,
أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُون
“Ketahuilah,
sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).
Dalam
ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjelaskan bahwa tathayyur adalah amalannya
orang-orang musyrikin. Dan perbuatan itu dicela oleh syariat. Dahulu, kaum Firaun
apabila mereka ditimpa pacek kelik dan kemarau panjang, mereka sangka bahwa
musibah dan bala’ itu karena Musa dan kaumnya yang membawa sial.
Sebagaimana dalam firman Allah,
وَإِن
تُصِبْهُمْ
سَيِّئَةٌ
يَطَّيَّرُواْ
بِمُوسَى
وَمَن
مَّعَهُ
“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab
kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS.
Al-A’raf: 131).
Maka
Allah bantah mereka dengan firman-Nya,
أَلا
إِنَّمَا
طَائِرُهُمْ
عِندَ اللّهُ
وَلَـكِنَّ
أَكْثَرَهُمْ
لاَ
يَعْلَمُون
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah
ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(QS. Al-A’raf: 131).
Yakni
musibah yang menimpa mereka merupakan qadha dan qadar yang telah Allah tetapkan
disebabkan kekufuran, dosa, dan pengingkaran mereka terhadap risalah yang
dibawa Nabi Musa ‘alaihissalam.
Setelah itu Allah sifati mayoritas mereka sebagai orang-orang yang bodoh.
Musa
‘alaihissalam
adalah utusan Rabb semesta alam. Ia datang dengan membawa kebaikan, keberkahan,
dan kemenangan bagi siapa yang beriman dan mengikutinya.
Allah
‘Azza wa Jalla
berfirman,
قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ
Mereka
menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan
orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi
Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”.
(QS. An-Naml: 47).
Allah
Subhanahu wa Ta’ala
juga menjelaskan keadaan orang-orang musyrik di selain zaman Nabi Musa. Ketika
mereka ditimpa musibah, maka mereka merasa pesimis dan menyangka bahwa sebab
musibah tersebut datangnya dari para rasul.
قَالُوا
إِنَّا
تَطَيَّرْنَا
بِكُمْ
“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang
karena kamu.” (QS. Yasin: 18).
Allah
bantah mereka dengan mengatakan,
قَالُوا
طَائِرُكُمْ
مَعَكُمْ
Rasul-rasul
itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri”. (QS.
Yasin: 19).
Tidaklah
orang-orang musyrik itu ditimpa musibah yang telah Allah tetapkan dengan qadha
dan qadar-Nya, kecuali dikarenakan dosa-dosa mereka. Para rasul datang dengan
kebaikan dan keberkahan bagi orang-orang yang mengikuti mereka.
Dalam
sebuah hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
عَدْوَى
وَلاَ
طِيَرَةَ
وَلاَ
هَامَةَ وَلاَ
صَفَرَ
“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak
ada tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar),
tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan
tidak ada kesialan di bulan shafar” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam
riwayat Imam Muslim ada tambahan lafadz,
لاَ
نَوْءَ وَلاَ
غُوْلَ
“Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula
mempercayai hantu.”
Kehidupan
pada masa jahiliyah, dipenuhi dengan hal-hal yang berbau klenik dan khurofat.
Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam membuang jauh-jauh keyakinan demikian
dengan sabdanya “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya)”.
Penyakit
itu tidak menular dengan sendirinya, akan tetapi ia menular atas takdir dan
ketetapan dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Hadits yang menjelaskan bahwa penyakit tidak
menular dengan sendirinya ini, tidak bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang lain. Semisal sabda beliau,
وَفِرَّ
مِنَ
الْمَجْذُومِ
كَمَا
تَفِرُّ مِنَ
الأَسَدِ
“Menjauhlah (menghindarlah) dari penyakit kusta
sebagaimana engkau menjauh dari singa.”(HR. al-Bukhari dan yang lainnya).
Hadits
ini menjelaskan agar seseorang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan cara berusaha menjauhi musibah tersebut. Dan Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman,
وَلاَ
تُلْقُواْ
بِأَيْدِيكُمْ
إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195).
Dan
di antara bentuk khurofat lainnya yang terjadi di masa jahiliyah adalah pesimis
dengan sesuatu yang mereka dengar di suatu tempat. Jika ada bunyi burung
tertentu di sebuah rumah, maka penghuni rumah itu merasa akan ditimpa kesialan
dan musibah. Mereka berkeyakinan salah seorang di antara mereka penghuni rumah
akan meninggal. Dan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menepis keyakinan ini dengan mengatakan,
وَلاَ
طِيَرَةَ
وَلاَ
هَامَةَ
“Tidak ada tiyarah (mengkaitkan nasib buruk dengan apa
yang dilihat atau didengar) dan tidak ada burung yang menunjukkan akan ada
anggota keluarga yang mati.”
Burung
adalah ciptaan Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang tidak memiliki campur tangan dalam urusan
ketetapan takdir-Nya. Suatu ketika ada burung tertentu yang lewat lalu
berkicau, maka seseorang berkata akan datang kebaikan dan kebaikan. Abdullah
bin Abbas radhiallahu
‘anhuma berkata, “Tidak ada keberuntungan (karena
burung itu) dan tidak juga keburukan.” Beliau mengingkari keyakinan
demikian.
Di
antara bentuk pesimis dan anggapan sial yang lainnya adalah anggapan sial
dengan angka. Biasanya angka 13 dijadikan angka sial. Inilah keyakinan
orang-orang Nasrani. Ada lagi anggapan sial pada hari tertentu. Kemudian juga
anggapan sial atau tidak beruntung ketika orang menyatukan jari-jari tangan
kanan dan jari-jari tangan kiri (tasybiq).
Atau benda tertentu pecah. Atau tanggal pernikahan. Dll.
Bentuk
anggapan sial lainnya adalah anggapan sial kepada seseorang. Seperti perkataan:
Fulan wajahnya membawa sial. Atau juga anggapan sial pada warna. Seperti warna
hitam karena dianggap warna kesedihan dan duka cita.
Demikian
juga orang-orang yang membuka Alquran saat mereka akan berdagang atau bersafar.
Mereka berkeyakinan akan mendapatkan keberuntungan. Apabila saat membuka
Alquran, mereka langsung menemukan ayat-ayat yang bercerita tentang surga, maka
mereka yakin akan dapat keberuntungan. Mereka pun dengan percaya diri dan
optimis melakukan aktivitasnya. Namun apabila berjumpa dengan ayat-ayat tentang
neraka, mereka pun tidak berani melanjutkan atau mengurungkan safarnya.
Ini
sama persis dengan amalan orang-orang jahiliyah yang mengundi nasib dengan anak
panah.
Di
antara bentuk khurofat orang-orang jahiliyah juga adalah anggapan sial pada
bulan-bulan tertentu seperti bulan Shafar. Orang-orang jahiliyah juga tidak
mengadakan resepsi pernikahan di bulan-bulan tertentu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memberantas keyakinan demikian dengan sabda beliau yang telah khatib sebutkan
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
“Tidak
ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada tiyaroh (mengkaitkan
nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak ada burung yang
menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak ada kesialan di
bulan shofar” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bulan
Shafar itu sama dengan bulan-bulan lainnya. Tidak memiliki pengaruh terhadap
ketetapan takdir Allah.
Orang-orang
jahiliyah juga memiliki keyakinan yang menyimpang tentang bintang-bintang.
Mereka berkeyakinan letak-letak bintang atau bintang tertentu menentukan
datangnya hujan. Mereka juga berkeyakinan kalau ada hantu yang bisa
mencelakakan mereka. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan demikian dengan
sabdanya,
لاَ
نَوْءَ وَلاَ
غُوْلَ
“Tidak benar juga meyakini bintang, dan tidak pula
mempercayai hantu.”
Bintang
tidak berpengaruh sama sekali pada turunnya hujan. Bintang dan juga setan atau
hantu tidak akan mampu menyesatkan dan mencelakakan seseorang kecuali atas izin
Allah. Dan seorang muslim disyariatkan untuk berlindung dari kejelekannya.
للَّهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
فِي مَقَامِنَا
هَذَا أَنْ
تَوْفِقَنَا
لِلْقِيَامِ
بِمَا
أَوْجَبْتَ
عَلَيْنَا
وَأَنْ
نَكُوْنَ مِنْ
عِبَادِكَ
المُخْبِتِيْنَ
الصَّادِقِيْنَ
البَارِيْنَ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ
إِنَّكَ
جَوَادٌ
كَرِيْمٌ
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ
رَبِّ
العَالَمِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ
عَلَى
نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ
الدِّيْنَ .
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
حَمْدًا
كَثِيْرًا طَيِّبًا
مُبَارَكًا
فِيْهِ
وَأَشْهَدُ
اَلَّا
اِلَهَ
اِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ
شَهَادَةً
نَرْجُوْ
بِهَا النَجَاةَ
يَوْمَ
نَلْقَاهُ
وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
Ibadallah,
Wajib
bagi kaum muslimin menjauhkan dan menjaga diri dari keyakinan-keyakinan batil
seperti yang telah khotib sebutkan. Kaum muslimin wajib bertawakal hanya kepada
Allah dan bersandar kepada-Nya. Di tangan Allah lah segala ketentuan yang
terjadi. Tidak ada yang bisa menangkalnya.
Ma’asyiral
mukminin,
Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas radhiallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ
“Tidak
dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan
Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al-fa’lu
membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu
al-fa’lu?” beliau bersabda,“Kalimat yang baik thayyib.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Anggapan
sial hanya memandang jelek dan pesimis. Misalnya seseorang berkeinginan untuk
menikah atau bersafar, kemudian dia melihat atau mendengar sesuatu yang
membuatnya khawatir atau benci, ia pun membatalkan keinginannya tadi. Hukum
yang demikian adalah syirik. Karena yang demikian sama saja berburuk sangka
kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Hal seperti ini hanyalah was-was dan khayalan. Dimana
hati bersandar kepada selain Allah ‘Azza
wa Jalla.
Adapun
al-fa’lu yakni kalimat-kalimat yang baik, terjadi karena adanya sifat
optimis dan merasa lapang. Ia merasa mudah dan kuat rasa harapnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seperti seorang yang menderita sakit, kemudian ia mendengar seseorang berkata
kepadanya “wahai orang yang sehat”, maka di hatinya akan tertanam
energi positif. Ia yakin akan sembuh dari sakitnya.
Dan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam takjub dengan orang yang memiliki sifat
al-fa’lu. Karena ia memasukkan kebahagiaan kepada hati seseorang tanpa
bersandar kepada dirinya. Yang demikian dianjurkan dalam agama kita karena
menanamkan prasangka baik kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرا
“Dan
barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya
dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 5).
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ خَيْرَ
الْحَدِيْثِ
كِتَابُ
اللهِ
وَخَيْرَ
الُهَدْيِ
هَدْيُ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى آلِهِ
وَسَلَّمَ
وَشَرَّ
الأُمُوْرِ
مُحْدَثاَتُهَا
وَكُلَّ
مُحْدَثَةٍ
فِي
الدِّيْنِ
بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ
فَعَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ
اِجْتَمِعُوْا
وَلَا
تَتَفَرَّقُوْا
اِجْتَمِعُوْا
عَلَى دِيْنِ
اللهِ
اِجْتَمِعُوْا
عَلَى مَا
فِيْهِ
الصَّلَاحُ
فِي
دِيْنِكُمْ
وَدُنْيَاكُمْ
فَإِنَّ يَدَ
اللهِ عَلَى
الْجَمَاعَةِ
وَمَنْ
شَذَّ، شَذَّ
فِي النَّارِ
وَأَكْثِرُوْا
مِنَ
الصَّلَاةِ
وَالسَّلَامِ
عَلَى
النَّبِي
مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
فَإِنَّ مَنْ
صَلَّى
عَلَيْهِ
مَرَّةً
وَاحِدَةً
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
بِهَا
عَشْرًا
اَللَّهُمَّ
صَلِّي
وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ
مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ
ارْزُقْنَا
مَحَبَّتَهُ
وَاتِّبَاعَهُ
ظَاهِرًا
وَبَاطِنًا
اَللَّهُمَّ
تَوَفَّنَا
عَلَى
مِلَّتَهُ
اَللَّهُمَّ
احْشُرْنَا
فِي
زَمْرَتِهِ
اَللَّهُمَّ
اسْقِنَا
مِنْ
حَوْضِهِ
اَللَّهُمَّ
أَدْخِلْنَا
فِي
شَفَاعَتِهِ
اَللَّهُمَّ
اجْمَعْنَا
بِهِ فِي
جَنَّاتٍ النَّعِيْمٍ
مَعَ
الَّذِيْنَ
أَنْعَمْتَ
عَلَيْهِمْ
مِنَ
النَّبِيِّيْنَ
وَالصِّدِّيْقِيْنَ
وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
ارْضَى عَنْ
خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ
وَعَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ
عَنِ
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ
رَبَّنَا
اغْفِرْ
لَنَا
وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا
بِالْإِيْمَانِ
وَلَا
تَجْعَلْ فِي
قُلُوْبِنَا غَلًّا
لِلَّذِيْنَ
آمَنُوْا
رَبَّنَا إِنَّكَ
الرَؤُوْفُ
الرَحِيْمُ
أَمَّا بَعْدُ.
فَقَدْ
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
(يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
اتَّقُوا
اللَّهَ
وَقُولُوا
قَوْلًا سَدِيدًا.يُصْلِحْ
لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ ۗ
وَمَنْ
يُطِعِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا
عَظِيمًا
(إِنَّا
عَرَضْنَا
الْأَمَانَةَ
عَلَى السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ
أَنْ
يَحْمِلْنَهَا
وَأَشْفَقْنَ
مِنْهَا
وَحَمَلَهَا
الْإِنْسَانُ
ۖ إِنَّهُ
كَانَ
ظَلُومًا
جَهُولًا
لِيُعَذِّبَ
اللَّهُ
الْمُنَافِقِينَ
وَالْمُنَافِقَاتِ
وَالْمُشْرِكِينَ
وَالْمُشْرِكَاتِ
وَيَتُوبَ
اللَّهُ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
ۗ وَكَانَ
اللَّهُ
غَفُورًا
رَحِيمًا
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Sulthan bin Abdurrah al-Id dengan judul (at-Tafa-ul
wa Tasya-um)
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com