Khutbah
Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعِهِ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ
عِبَادَ
اللهِ اِتَّقُوْا
اللهَ
تَعَالَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ
تَقْوَى
اللهِ جَلَّ وَعَلَا
هِيَ أَسَاسُ
الفَلَاحِ
وَعُنْوَانُ
السَعَادَةِ
فِي
الدُنْيَا
وَالآخِرَةِ،
وَتَقْوَى
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا أَنْ
يَعْمَلَ
العَبْدُ
بِطَاعَةِ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ
يَرْجُوْ
ثَوَابَ
اللهِ، وَأَنْ
يَتْرُكَ
مَعْصِيَةَ
اللهِ عَلَى
نُوْرٍ مِنَ
اللهِ يَخَافُ
عِقَابَ
اللهِ.
Kaum
muslimin rahimani warahimakumullah,
Suatu
komponen bangsa yang tidak bisa tidak, mesti ada adalah adanya pemimpin dan ada
pula rakyat. Inilah unsur pokok yang membangun suatu bangsa. Pemimpin tidak
akan mampu membangun bangsa dengan baik jika rakyatnya tidak turut serta
memberikan dukungan yang positif dan memiliki perhatian terhadap tanah airnya.
Oleh karena itu, tidak jarang para pemimpin mengkampanyekan slogan-slogan
kebersamaan agar rakyat pun turut sadar sebuah bangsa tidak bisa dibangun oleh
pemimpin seorang diri.
Banyak
rakyat yang hanya menunggu dan menuntut. Pemimpin harus kreatif, tapi mereka
sendiri orang-orang yang pasif. Pemimpin harus berani, tapi rakyat adalah
mereka yang sulit diatur dan diedukasi. Pemimpin harus amanah, tapi ketika
kejujuran ditetapkan, merekalah yang pertama kali protes karena merasa ketat
dan kaku.
Sebuah
komunitas atau lebih besar lagi sebuah negara, akan mengalami kekacauan dan
kerusakan jika tidak ada pemimpin walaupun satu hari saja. Dikatakan oleh
orang-orang terdahulu, meskipun pemimpinnya jahat dan memerintah selama enam
puluh tahun dengan kejahatan, itu masih lebih baik daripada sehari umat hidup
tanpa seorang pemimpin.
Dengan
demikian pemimpin dan rakyat harus memiliki sinergi.
Dalam
hal ini Allah telah mengatur hak dan kewajiban masing-masing dengan firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴿٥٨﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” (QS. An-Nisa: 58-59).
Ibadallah,
Menurut
para ulama, ayat pertama berkaitan dengan kewajiban pemimpin, yaitu harus
menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila mengadili
orang-orang yang dipimpin, harus mengadili dengan adil. Sedangkan ayat kedua
turun berkenaan dengan kewajiban orang-orang yang dipimpin, yaitu mereka harus
menaati perintah serta ketetapan pemimpin, selama perintah atau ketetapan itu
bukan kemaksiatan. Apabila perintah atau ketetapan pemimpin adalah kemaksiatan,
maka kemaksiatan itu tidak boleh di taati. Jika mereka memperselisihkan
sesuatu, maka harus dikembalikan kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun
jika pemimpin tidak melaksanakan tugasnya dengan amanah dan tidak adil, maka
umat tetap mentaati perintah pemimpin yang tidak berbentuk kemaksiatan. Sebab
mentaati pemimpin termasuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Umat harus
tetap menunaikan kewajiban mereka kepada pemimpin sebagaimana diperintahkan
oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Selanjutnya,
pada kondisi tertentu, suatu bangsa akan mengalami kendala-kendala internal.
Kondisi ini secara umum menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah terbagi
menjadi 4 kondisi:
Pertama: Kondisi prima, yaitu pada saat
benteng keimanan umat (rakyat) serta ketahanan kekuasaan dalam keadaan kuat.
Ini merupaan kondisi ideal. Sebab semuanya akan berjalan sesuai dengan hak dan
kewajiban masing-masing.
Kedua: Saat benteng keimanan umat serta
ketahanan kekuasaan dalam keadaan lemah semuanya. Ini adalah kondisi paling
parah dan paling berbahaya bagi bangsa; bagi pemimpin dan bagi umat yang
dipimpin. Sebab jika hal itu terjadi maka kekacauan akan merajalela. Rakyat
tidak memiliki keimanan hingga berbuat tanpa kendali syariat, sedangkan
kekuasaan tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan tindakan rakyat.
Katiga: Pada saat benteng keimanan rakyat
lemah, tetapi ketahanan kekuasaan dalam keadaan kuat. Ini merupakan kondisi
pertengahan. Sebab bila ketahanan kekuasaan kuat, maka hal itu secara lahiriah
akan lebih baik bagi umat. Jika kekuatan kekuasaan hilang pada kondisi ini,
maka umat akan terpuruk dalam instabilitas dan kejahatan.
Keempat: Ketika ketahanan keimanan rakyat
kuat, tetapi kekuatan kekuasaan dalam keadaan lemah, maka kondisi secara
lahiriah lebih rendah daripada kondisi ketiga. Tetapi dalam hubungan antar
seorang manusia dengan Allah, akan lebih baik dan lebih sempurna daripada
kondisi ketiga.
Dengan
demikian jika kondisi prima, paling ideal dan paling sempurna suatu bangsa
tidak dapat dicapai secara utuh, maka tidak berarti mengabaikan sisi-sisi
tertentu, misalnya membangun keimanan umat kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
supaya tindakan umat yang dipimpin dapat membantu terciptanya kondisi negeri
yang lebih baik.
Artinya,
jika kondisi suatu negeri tidak memiliki wibawa penuh karena kekuasaan
dikendalikan oleh orang-orang yang kurang memiliki ketaqwaan, maka paling tidak
harus tercipta kondisi masyarakat yang beriman. Dan itu adalah tugas para
da’i dan orang-orang ‘alim dalam ilmu-ilmu syar’i untuk
membawa masyarakat kembali pada ajaran Islam yang benar. Dengan memahami ajaran
Islam yang benar, mereka akan tetap berusaha menjaga kewibawaan para pengendali
dan penguasa negeri, serta mentaatinya dalam hal-hal yang tidak menyimpang dari
syariat. Masyarakat tidak berebut adu suara keras melakukan kritik-kritik
bebas, baik melalui media cetak, media elektronik, situs-situs internet, unjuk
rasa maupun mimbar-mimbar yang sebenarnya justeru tidak banyak memecahkan
masalah. Keimanan yang benar kepada Allah akan mencegah masyarakat melakukan
tindakan yang kontra produktif.
Meskipun
negeri tidak berada pada puncak Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri
yang gemah ripah, adil, makmur dan selalu dalam naungan ampunan Allah) tetapi
paling tidak, tetap tidak keluar dari lingkaran keamanan dan kesejahteraan,
karena warganya adalah warga yang beriman, mengerti hak-hak serta kewajibannya
dan tidak pernah menuntut apa yang bukan haknya. Tidak menjadi negeri yang
penduduknya suka main hakim sendiri, tanpa sopan santun, tanpa syukur
ni’mat yang justeru menyebabkan negeri menjadi makin kacau.
فَنَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ بِأَسْمَائِهِ الحُسْنَى وَصِفَاتِهِ العُلْىَ أَنْ يَحْفَظَ نِسَاءَنَا وَنِسَاءَ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَبَلَاءٍ وَأَنْ يَجْنِبْهُنَّ الفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَنْ يَرُدَّ كَيْدَ مَنْ أَرَادَ بِهِنَّ شَرّاً فِي نَحْرِهِ إِنَّهُ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ
عَظِيْمِ
الإِحْسَانِ،
وَاسِعِ
الْفَضْلِ
وَالْجُوْدِ
وَالْاِمْتِنَانِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلَهَ
إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ؛
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً
كَثِيْرًا .
أَمَّا
بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ
أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى
اللهِ
تَعَالَى،
فَإِنَّ
تَقْوَى الله
جَلَّ
وَعَلَا هِيَ
خَيْرُ زَادِ
يُبَلِّغُ
إِلَى
رِضْوَانِ
اللهِ،
وَهِيَ وَصِيَّةُ
اللهِ
لِلْأَوَّلِيْنَ
وَالآخِرِيْنَ
مِنْ
خَلْقِهِ،
وَهِيَ
وَصِيَةُ
الرَّسُوْلِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِأُمَّتِهِ،
وَهِيَ
وَصِيَة
ُالسَّلَفِ الصَالِحِ
فِيْمَا
بَيْنَهُمْ،
وَنَسْأَلُ
اللهَ جَلَّ
وَعَلَا أَنْ
يَجْعَلَنَا
جَمِيْعًا
مِنْ أَهْلِ
التَّقْوَى
وَأَنْ يُوَفِقَنَا
لِتَحْقِيْقِهَا
.
Ibadallah,
Negara
–dalam hal ini pemimpin- memang berkewajiban menjamin pendidikan, agama,
pekerjaan, dan hak-hak lainnya dari para rakyat. Namun jangan lupa rakyat pun
memiliki kewajiban terhadap pemimpinnya. Kaidah umum yang sudah disepakati
bersama adalah kewajiban lebih didahulukan daripada menuntut hak.
Cobalah
kita renungkan, sudahkan kita melakukan kewajiban terhadap pemimpin-pemimpin
kita sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka berhak diberikan
loyalitas. Bahkan salah satu rahasia kesuksesan dan jayanya negeri-negeri Islam
di zaman dahulu adalah rakyatnya mendoakan kebaikan kepada pemimpin mereka.
Rakyatnya memohonkan kepada Allah agar pemimpinnya diberikan petunjuk dan
bimbingan dalam kebenaran. Namun di zaman sekarang, pemimpin-pemimpin malah
dicela di mimbar-mimbar. Nas’alullah at-taufiq..
Ibadallah,
Di
antara kita ada yang cinta buta kepada pemimpin sehingga mereka melihat
kesalahan pada pemimpin adalah sebuah kebenaran pula. Dan yang lain ada yang
yang begitu benci kepada pemimpin sehingga segala yang dilakukan pemimpin semua
salah di matanya. Lalu mereka menyebarkan aibnya di mana-mana.
Kaum
muslimin, renungkanlah. Pemimpin kita tidak butuh pembenaran atas semua yang ia
lakukan. Karena mereka butuh nasihat dengan cara yang hikmah. Mereka juga tidka
butuh celaan yang brutal. Karena mereka butuh doa. Kita saja, para kepala
keluarga, butuh doa dari istri dan anak kita agar bisa memimpin bahtera rumah
tangga dengan baik. Agar bisa bermuamalah dengan istri dan anak dengan cara
yang penuh kasih. Agar bisa memenuhi kebutuhan mereka semua. Itu sekala kecil,
rumah tangga. Tentu mengurus negara butuh doa yang lebih besar dan lebih banyak
dari rakyatnya.
Oleh
karena itulah kaum muslimin, kita perlua pula memperbaiki diri kita agar
masyarakat semakin baik. Jika masyarakat baik, maka negara pun akan menjadi
baik, stabil, dan maju. Kemudian kita juga harus mendoakan pemimpin-pemimpin
kita. Jika mereka mendapat petunjuk, yang menikmati kepemimpinannya juga kita
sebagai rakyat.
وَصَلُّوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ
اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ
أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَارْضَ
اللَّهُمَّ
عَنِ
الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ،
وَعَنِ
التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ
تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ،
وَعَنَّا
مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ
وَكَرَمِكَ
وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ
الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ
وَأَذِلَّ
الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
اَللَّهُمَّ
احْمِ
حَوْزَةَ
الدِّيْنِ
يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
للَّهُمَّ
وَآمِنَّا
فِي
أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ
أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ
أُمُوْرِنَا،
اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ
وَلِيَ أَمْرِنَا
لِهُدَاكَ
وَاجْعَلْ
عَمَلَهُ فِي
رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ
نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا،
زَكِّهَا
أَنْتَ
خَيْرَ مَنْ
زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا،
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ
اَلْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِيْ
الآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
)عِبَادَ
اللهِ:
اُذْكُرُوْا
اللهَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.(
وَلَذِكْرُ
اللَّهِ
أَكْبَرُ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا
تَصْنَعُونَ
،
Oleh
tim KhotbahJumat.com
Artikel
www.KhotbahJumat.com